Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 92


__ADS_3

Tika POV.


Pagi ini aku memang agak telat untuk pergi ke kantor. Bukan karena sengaja, melainkan karena Jefri yang tiba-tiba saja selalu meminta 'jatah' di pagi hari. Bahkan akhir-akhir ini dia seperti bermanja padaku. Selalu bergelanyutan jika sedang berdua di rumah.


Aku sedikit terkekeh jika mengingatnya.


Rencananya siang ini aku akan pergi meeting bertemu dengan client terakhirku. Mengapa terakhir? Sebab setelah ini aku hanya akan bekerja di kantor sampai perutku membuncit. Tidak lagi turun ke lapangan.


Aku juga telah meminta tolong pada Metta agar dia menemaniku. Dan dengan senang hati dia akan membantuku. Metta sudah kuanggap sebagai saudara sendiri, sebab dia selalu membantuku dalam hal apapun.


🎶


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes


I just had to let you know you're mine


🎶


Ponselku berbunyi, lagi-lagi dari nomer yang tidak dikenal. Aku sudah tahu siapa yang menelpon ini dan sebenarnya aku sudah sangat jengah. Banyak sekali nomer yang tidak dikenal yang sudah berhasil aku blockir akhir-akhir ini.


Terpaksa aku mengangkat sambungan telepon itu, lalu memdengarkan sang pria yang meracau di seberang sana. Siapa lagi pria itu kalau bukan si Dana. Dia selalu saja berhasil membuat hariku rusak. Hanya dengan sekali teleponnya.


Kali ini apa lagi yang akan dia perbuat??


Aku tidak begitu peduli dengan semua yang ia bicarakan, bahkan saat ini ponsel itu sudah ku letakkan di atas meja, tapi masih dalam keadaan tersambung pada teleponnya. Hingga seseorang tiba-tiba datang menghampiriku.


Aku terpana, melihat seorang lelaki lengkap berpakaian seperti kurir atau driver, entahlah ... aku tidak mengenalinya, yang jelas di tangannya ada sebuah girf box ... lagi.


Kemudian sang kurir meletakkan box itu di atas mejaku dan mengatakan, bahwa aku harus tetap menempelkan teleponku pada telingaku, agar aku bisa mengikuti apa ucapan seseorang yang mengirimkan hadiah ini padaku.


Kali ini aku menurut saja. Aku mencoba untuk tidak emosi, sebab aku juga ingin menjaga bayiku. Mengaja kandunganku agar tetap normal.


Kembali kudengarkan Dana berceloteh. Dan lagi-lagi dia mengancam agar aku harus menerima hadiahnya itu. Lalu dia juga mengatakan, bahwa sebentar lagi aku akan bertemu dengannya. Aku hanya mengiyakan semua perkataannya hingga dia menutup teleponnya.


Jujur saja. Jika aku berada di posisi Dana, aku akan berusaha merelakan dan membiarkan orang yang aku cintai untuk bahagia bersama pilihannya. Tapi sepertinya itu semua bukan mencerminkan Dana yang kini arogan. Entah mengapa dia bisa seperti ini.


Dulu, saat terakhir bertemu dengannya di Bali, dia tidak seperti ini. Walaupun sama-sama masih menjengkelkan. Hanya saja dia seakan sudah bisa menerima, jika aku sudah memiliki seorang suami sekarang.


Seketika aku kembali teringat dengan Lisa. Bukankah Dana kembali menggangguku karena perjanjiannya dengan Lisa?


Lalu apakah Lisa juga sudah memberitahukan pada Dana, jika aku sedang hamil?


Ah, tidak mungkin. Aku rasa tidak mungkin jika Lisa memberitahukannya. Sebab Lisa mengetahui kabar itu baru beberapa hari yang lalu, setelah kami selesai bertengkar hebat.


Tapi, bukannya kemarin Dana datang menemuinya di kamar rumah sakit?


Lalu apa Lisa kemarin sudah mengatakan padanya jika aku sedang dalam keadaan mengandung?


Daripada aku sibuk menerka-nerka, lebih baik aku nelepon Lisa dan segera menanyakannya langsung. Agar semua lebih jelas.


Tuuttt ...

__ADS_1


Tuuttt ...


Tuuttt ...


Nada sambung itu terus saja berbunyi, hingga suara operator muncul membalas. Kemudian kuhubungi sekali lagi. Untungnya telepon itu akhirnya di angkat.


Tanpa berlama-lama, aku langsung menanyakan pada Lisa tentang semua itu. Tapi siapa sangka, Lisa kini malah bersikeras tidak mau memberikan informasi itu lagi kepada Dana. Dan menurut pengakuannya, Dana belum mengetahui tentang kehamilanku dan juga tentang di mana alamat rumah kami.


Aku bernapas lega saat mendengar semua itu langsung dari mulut Lisa. Saat sambungan telepon itu masih terhubung, mataku kembali memandangi sebuah kotak pandora yang menggelitik rasa penasaranku.


Langsung kuceritakan pada Lisa. Bahwa Dana kembali mengirimiku sebuah hadiah. Hadiah yang belum aku ketahui apa isinya. Dengan ponsel yang kujepitkan antara telinga dan bahuku, aku membuka kotak itu.


Surpriseee!


Isi kotak itu lagi-lagi sebuah tas bermerk terkenal, lengkap dengan surat-menyurat garansi kepemilikkan. Aku menggelengkan kepalaku.



Rasanya ini tidak penting, sebab aku bisa saja membeli sendiri tas yang kuinginkan, jika perlu. Lagi pula aku bukan wanita yang menggilai merk tas seperti ini.


Aku kembali mengembuskan napas. Membuang rasa kekesalanku. Mengapa Dana selalu saja mengirimiku barang-barang bermerk seperti ini? Apa dia pikir, rasa cintaku bisa dibeli dengan semua hadiah yang telah dia kirimkan itu?


Sungguh pikiran yang dangkal.


***


Kini aku dan Metta sudah berada dalam mobil. Metta mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang stabil. Sesekali dia membunyikan klakson akibat jalanan yang sedikit macet.


Bagaimana tidak macet. Sekarang tepat pukul dua belas siang, waktu yang paling tepat untuk karyawan kantor beristirahat. Hingga jalanan terasa sangat padat.


"Kayaknya kita bakalan telat deh sampe di sana, Tik." Metta mengira-ngira dengan kondisi jalanan yang seperti sekarang.


"Gua udah chat pak bos. Minta sampein sama client-nya kalo kita ada kemungkinan telat." Sekilas aku menoleh pada Metta yang menyetir. Ia juga menoleh padaku sekilas.


"Lu gak minta nomer client-nya langsung sama pak bos?"


Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala, saat dia melirikku. Lalu dia berdecak kesal. Entah kesal dengan kemacetan atau kesal dengan tingkahku. Aku menghiraukannya.


Tiba-tiba aku kembali teringat akan kalimat Dana di telepon tadi pagi. Dia mengatakan bahwa aku akan segera bertemu dengannya. Lalu client yang satu ini adalah client langsung dari pak bos.


Bukankah dulu pak bos dan Dana saling mengenal?


Gelisah. Ya, tiba-tiba saja aku merasa gelisah. Merasa tidak nyaman. Merasa bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.


Apa kali ini Dana akan melakukan hal yang sama? Dengan menggunakan jasa kantorku untuk bertemu dan mengikat kerjasama?


Sejenak aku mencoba menarik napasku lalu mengembuskannya, kemudian kuulangi lagi. Aku harus tenang, aku harus bisa menghadapi Dana sendiri.


Bukankan beberapa hari yang lalu, aku yang menantangnya untuk segera bertemu? Lantas mengapa sekarang aku harus merasa takut?


Tidak, aku bukan takut, aku hanya khawatir. Aku cemas akan kekuatan janinku ini. Masih terlalu dini bagiku untuk membawa janinku melalui masalah ini.


Aku khawatir, jika saat bertemu dengannya ternyata dia bersikap di luar akal sehat, apa yang harus aku lakukan?


Sedangkan saat ini hanya ada Metta yang menemaniku. Metta yang aku pandangi sedari tadi sibuk dengan klaksonnya.

__ADS_1


"Mett, lu jangan jauh-jauh ya?" lirihku dengan wajah yang sengaja kubuat mengiba.


Metta menoleh sesekali padaku dengan kerutan di dahinya. "Bukannya ini kita udah deketan?


"Aish!! Bukan itu maksud gua. Ntar di sana lu jangan ninggalin gua sendiri. Gua curiga ini client-nya mantan gua yang kemaren."


Mata Metta membelalak sempurna, ia terkejut dengan apa yang aku ucapkan.


***


Sesampainya di restoran yang sudah menjadi tempat janji temu. Seorang pelayan langsung menghampiri aku dan Metta. Dia menyebutkan nama perusahaan dimana aku bekerja. Kemudian mempersilakan aku dan Metta untuk mengikuti langkah kakinya. Kami menyetujuinya lalu mengikutinya dari belakang.


Berbagai macam pemikiran muncul dalam otakku saat ini. Dan semua pemikiran itu rata-rata tentang pikiran negative-ku terhadap Dana.


Dia bukan Dana yang aku kenal dulu.


Dia sudah berubah.


Pelayan restoran itu membawa kami hingga berhenti di depan salah satu ruangan tertutup, dengan pintu yang pastinya juga tertutup rapat. Saat aku tanyakan padanya, ujarnya di dalam adalah ruang metting tapi juga bisa digunakan sebagai ruang makan private.


Setelah pelayan itu pergi, aku dan Metta saling berpandangan. Kemudian saling menggenggamkan tangan.


Perlahan aku mendorong pintu yang berderit itu, lalu aku menoleh ke sekeliling ruangan, tidak ada siapa-siapa. Aku dan Metta sudah masuk ke dalam ruangan.


Lalu siapa client yang ingin bertemu denganku?


Bagaimana rupanya?


Sialan!!


Ini susahnya jika client yang aku dapatkan itu dari orang lain. Aku akan sesusahan untuk mengenalinya. Belum lagi jika salah orang.


Dan ini pula yang membuatku semakin muak dengan tingkah laku bos-ku yang semena-mena itu. Sembarangan saja memberikan client yang tidak jelas seperti ini.


Namun, seketika rasa kesalku berubah menjadi bingung. Mengapa? Sebab secara tiba-tiba saja beberapa pelayan memasuki ruangan ini. Lengkap dengan beberapa hidangan makan siang yang sengaja mereka sajikan di atas meja.


Tak hanya sampai di situ saja. Dalam ruangan ini seketika terdengar suara lantunan lagu yang bergitu merdu. Aku dan Meta kembali berpandangan.


Sebelum akhirnya tangan Metta mencengkram salah satu tangan pelayan itu dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi percuma saja, pelayan itu lebih memilih untuk diam kemudian pergi berlalu.


Kini di atas meja makan panjang itu sudah penuh dengan berbagai macam hidangan yang ... rasanya tidak akan cukup jika hanya di makan oleh empat atau bahkan lima orang saja.


Aku dan Meta masih sesekali saling berpandangan. Kami sama-sama tidak mengerti dengan apa yang terjadi ini.


Bruukk!!


"Surprise!!!" Suara beberapa rekan kantorku memasuki ruangan ini, penuh. Mereka semua secara bergantian memelukku, mengucapkan selamat atas kehamilanku dan masih banyak yang lainnya. Yang jelas mereka yang ada sekarang ini adalah mereka yang selalu bekerja sama denganku selama aku bekerja di perusahaan ini.


Aku terkejut tapi juga tidak percaya. Hingga akhirnya mataku mengeluarkan tetesan air yang seakan sudah lama aku simpan. Jangankan aku, Metta saja dari tadi hanya melongo tidak percaya.


Dari banyaknya kerumunan manusia kantor yang berhadir, muncul seorang pimpinan kantorku, pak bos. Beliau lah yang menurutku merencanakan ini semua.


Saat beliau mendekatiku, aku mengatakan rasa ketidakpercayaanku padanya. Beliau sungguh sukses membuat otak dan hatiku berspekulasi yang beragam. Lalu betapa kerennya beliau membuatkan acara seperti ini untukku, untuk karyawan kantornya.


Namun, pada kenyataannya, semua ini bukanlah ulah bos-ku. Beliau menyangkalnya habis-habisan. Dan ini membuatku semakin bingung.

__ADS_1


Lalu siapa yang membuat pesta makan siang seperti ini??


Bersambung ...


__ADS_2