Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 112


__ADS_3

Jefri POV.


Aku terbangun dengan pakaian yang masih lengkap. Kepalaku pusing. Sangat sangat pusing. Aku mengerjabkan mataku berkali-kali. Begitu penglihatanku terasa sempurna, aku baru menyadari jika aku berada di kamar tidurku, di rumahku. Kulemparkan tanganku untuk meraba bagian sampingku lalu menoleh, Tika tidak ada.


Kemana dia?


Apa dia sudah bangun?


Aku mencoba duduk dengan kepalaku yang masih terasa berat. Beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan bersiap pergi ke kantor.


'Apa Tika marah denganku karena aku mendorongnya kemarin?' pikirku saat aku selesai berpakaian.


Aku memang keterlaluan. Semestinya aku tidak sekasar itu pada istriku sendiri. Bahkan ia sedang mengandung anakku sekarang, anak kembarku. Seharusnya semua masalah kami bicarakan dahulu, bukan seperti kemarin. Aku kalap.


Dengan tergesa aku menuruni tangga setelah sebelumnya meraih ponselku, lalu mengecek penampilanku di depan cermin. Aku harus rapi, sebab pagi ini akan ada rapat lanjutan bersama beberapa karyawan.


Saat di tengah tangga aku mendengar pintu kamar di bawah, di samping dapur yang berdecit. Disaat itu aku melihat istriku yang muncul dari balik pintu. Menatapku, mata kami saling beradu. Namun entah mengapa aku malah melanjutkan langkah kakiku menuju keluar rumah.


Bruuk!!


Aku menghempaskan tanganku pada setir mobil, melampiaskan amarahku. Bukan kesal pada Tika. Namun aku kesal pada diriku sendiri.


"Kenapa tadi aku gak datengin dia trus bilang minta maaf sih?!" kesalku, kali ini aku menjambak kasar rambutku yang tadinya sudah rapi kusisir.


"Bodoh! Bodoh!" seruku lalu menggebrak setir mobil lagi berkali-kali.


Aku mencoba mengatur napasku yang memburu, sambil membayangkan perasaan Tika yang terluka karena ulahku kemarin malam hingga barusan. Aku yakin dia pasti sangat membenciku hingga ia lebih memilih untuk tidur di kamar bawah sendirian.


Setelah napasku mulai stabil, aku memutuskan untuk segera pergi ke kantor. Sebab aku harus segera menerima tawaran akuisisi dari Max untuk menyelamatkan perusahaan papa.


Sepanjang hari saat di kantor, aku benar-benar tidak bisa fokus pada pekerjaan yang ada di depan mataku. Banyak dokumen yang harus aku periksa. Bahkan pak Hardi tidak membiarkanku untuk bersantai sejenak, walaupun hanya untuk menyentuh ponselku.


Aku dapat mengerti, sebab begitu banyak yang harus segera aku benahi di perusahaan ini.


Belum lagi sebagian karyawan yang harus terpaksa kena PHK. Sungguh membuat suasana hatiku semakin hari semakin tidak terkendali.


Setiap hari aku lalui dengan kesibukkan yang begitu menyita waktuku di perusahaan ini. Jadwal rapat yang selalu ada setiap hari. Apa lagi saat proyek akuisisi yang dijanjikan oleh Max mulai berjalan. Membuat aku lupa dengan semua kebiasaan yang pernah aku lakukan dengan istriku. Bahkan akhirnya membuatku terbiasa dengan kondisi yang seperti ini. Pergi tergesa-gesa, tanpa mengabari, tanpa makan siang bersama dan membuatku tidur lebih cepat dari biasanya.


Hari demi hari kami lalui tanpa ada perubahan. Aku menyadari, kami memang memiliki satu sifat yang sama, yaitu minder.


Aku ataupun Tika sering merasa tidak lebih baik daripada satu sama lain. Apalagi jika disaat keadaan seperti ini. Aku akui, rasa ini tentu saja tidak baik untuk perkembangan mental kami. Membuat kami menjadi merasa terasingkan hingga saling merasa diacuhkan. Padahal semua itu hanya ada dalam perasaan kami saja. Tidak lebih.

__ADS_1


Begitulah aku dan Tika. Selalu berharap yang terbaik, tapi pada kenyataannya kami seperti ini. Saling ragu untuk memulai dan saling membatasi diri masing-masing.


Berbulan-bulan kami lewati, semakin hari aku semakin jengah. Aku tidak sanggup jika harus seperti ini terus-menerus. Aku ingin membelai perutnya, mengajak anak kembarku untuk saling berbicara. Aku ingin menempelkan telingaku pada perutnya untuk mendengarkan kedua anakku, sedang apa mereka di dalam sana.


Aku ingin seperti calon ayah lainnya. Menemani istriku sendiri untuk melewati masa kehamilannya. Tapi apa dia masih mau memaafkanku?


Aku dan dia memang masih tidur serumah dan seranjang. Setiap pagi aku selalu bangun terlambat, hingga harus melewatkan sarapan bersama dengannya.


"Sayang ... kamu gak sarapan dulu?" sapanya saat aku sudah berhasil menuruni tangga, aku hanya bisa menoleh padanya saat itu. Terkejut karena ia mau menyapaku.


Entah mengapa lidahku seakan kelu, tidak mampu menjawab ucapannya itu. Hingga seketika tubuhku membawaku berbalik dan langsung menuju mobil. Kali ini aku kembali menyesal dengan sikapku.


Kulayangkan tanganku untuk mendarat pada pipiku sendiri. Plaak!! Aku menampar wajahku sendiri.


Mengapa aku tidak menghampirinya tadi saat ia menyapaku? Mengapa aku sia-siakan kesempatan ini? Bodoh!


Bahkan untuk menjaganya selama di rumah saja, aku harus meminta bantuan kakaknya, Max.


Benar, aku meminta bantuan Max untuk mengerahkan anak buahnya untuk mengawasi Tika, selama di rumah. Sebab aku masih merasa was-was dengan teror Dana, yang entah masih diterima istriku atau tidak.


Begitu juga yang terjadi saat beberapa hari yang lalu. Aku agak sedikit tenang saat salah satu anak buah Max mengabari jika istriku sedang ditemani oleh temannya di rumah seharian. Pasalnya, hari itu aku pulang terlalu larut, sekitar jam 9 malam. Akibat rapat bersama jajaran tertinggi di perusahaan.


Sesampainya di rumah, aku melihat mobil Alex yang terparkir di pinggir jalan. Di depan pekarangan rumah kami. Aku mengembuskan napas lega. Setidaknya Tika tidak merasa kesepian dan sering ditemani oleh mereka, Alex dan Lisa. Sebab aku yakin, Alex pasti demgan Lisa. Tidak mungkin ia berani sendirian ke rumahku.


Namun, lagi-lagi aku tidak menyapa mereka. Aku hanya melemparkan senyumanku lalu langsung pergi menuju ke kamarku. Aku memutuskan untuk membersihkan tubuhku terlebih dahulu. Tapi sialnya, aku malah tertidur di dalam bath tub untuk beberapa saat.


Setelah sadar aku segera membilas tubuhku lalu merutuki kelakuanku yang terlalu konyol itu. Tapi siapa sangka, saat aku keluar dari kamar mandi, aku malah menemukan istriku yang sudah tertidur lelap di balik selimut lembutnya.


Aku menyesal.


Perlahan aku mendekatinya, memandangi wajahnya yang sudah lama tidak aku sayangi. Kuselipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Sengaja aku menyentuh pipinya, mengelus lembut hingga ku majukan tubuhku, ku condongkan sedikit agar bibirku dapat meraih bibirnya.


Aku mengecupnya pelan agar ia tidak terbangun dari tidurnya. Matanya sembab, mungkin ia habis menangisiku, membenci sikapku yang mengacuhkannya.


Hingga tatapanku beralih pada selimutnya yang terbuka, menampilkan perutnya yang membuncit di balik baju tidurnya. Sesekali aku meliriknya, dengan tanganku yang mencoba meraih permukaan kandungannya. Sekali lagi aku mencondongkan tubuhku untuk mengecup perutnya itu.


Dia menggerakkan tubuhnya, melenguh lalu berbalik. Aku hanya bisa menarikkan selimut itu dan kembali menutupi tubuhnya. Barulah setelah itu aku beranjak untuk menempati posisi tidurku di sampingnya.


Semalaman aku tidur menyamping, menatapi wajahnya yang masih aku cintai hingga saat ini. Tapi semakin jauh arah langkah kaki kami menjalani pernikahan ini, membuatku semakin sulit untuk menyatakan isi hatiku. Tidak seperti dahulu.


***

__ADS_1


Siang ini aku menerima pesan singkat dari Tika. Sebuah pesan yang isinya memintaku untuk menemaninya memeriksakan kandungannya. Yah, jika dihitung-hitung kandungannya memang sudah sangat besar dan memang sudah waktunya untuk kembali diperiksa.


Tokk ...


Tokk ...


"Masuk," sahutku saat pintu ruanganku yang terbuka di ketuk.


Aku melihat sosok pak Hardi yang berdiri di ambang pintu, lalu melangkah masuk mendekatiku. Duduk di depan meja kerjaku. Aku menatap beliau, menyingkirkan sejenak pesan singkat dari istriku serta beberapa dokumen yang sebelumnya sedang aku pelajari.


"Ada apa Pak?" tanyaku singkat.


"Kapan kamu akan mempekerjakan sekretaris baru? Kami sudah mendapatkan yang tepat." Pak Hardi dengan semangat mengatakan itu padaku.


'Tunggu dulu, sekretaris baru?' batinku.


Aku mengernyitkan dahiku dan menatap seorang lelaki paruh baya yang kini juga sedang menatapku. Sebelumnya aku memang sudah mengatakan padanya, jika jangan memanggilku 'bapak' jika sedang berdua saja denganku.


"Saya gak pernah minta sekertaris." Aku menggelengkan kepalaku.


"Tapi kamu memerlukannya, untuk mengatur semua jadwal yang akan kamu lalui nanti. Apa lagi jika perusahaan sudah stabil. Akan semakin banyak jadwal yang tidak akan mungkin bisa kamu ingat dan kamu catat di ponsel kamu itu," ucapnya sambil mengangkat sebelah bahunya. Sambil mendelik ke arah ponselku di atas meja.


Aku ikut melirik benda tipis yang ku letakkan di atas meja, di samping siku tanganku.


Aku masih mencoba mencerna setiap kata demi kata yang tadi diucapkan oleh pak Hardi. Memang benar, saat perusahaan kembali stabil akan semakin banyak jadwal meeting yang terjadi dan aku akan semakin sibuk. Tidak mungkin jika aku bisa memgingat semua jadwal itu, sedangkan aku harus mempelajari beberapa hal sebelum meeting berlangsung. Tapi ...


"Saya gak perlu seorang sekretaris. Saya bisa atasi semuanya sendiri dulu." Aku menegaskan pada beliau.


Pak Hardi hanya menatapku dengan gamang. Dia seakan tidak berani lagi menyahuti perkataanku yang begitu tegas.


Aku tahu, pak Hardi memang orang kepercayaan papa. Sudah sejak lama beliau bekerja membantu papa menjalankan perusahaan ini. Hanya saja, aku merasa kali ini beliau mencoba mengaturku. Dan aku tidak menyukai itu.


"Apa masih ada lagi yang perlu kita bicarakan?" Aku mencoba untuk tetap sopan, tapi sepertinya tidak bisa.


Perkataanku itu membuat pak Hardi langsung berdiri dari kursinya, setelah sebelumnya sempat mengetuk meja kacaku dengan ujung jari telunjuknya. Lalu pergi berlalu, keluar dari ruanganku.


Aku mengembuskan napasku dengan lega. Rasanya seperti sedang diintimidasi. Beberapa hari terakhir pak Hardi memang seperti itu. Bahkan beberapa kali aku memergoki beliau yang sedang menguping saat aku menerima telepon dari Max.


Ya, aku memang tidak memberitahukan pada siapapun di perusahaan ini tentang siapa yang membantu anak perusahan papa itu. Yang berdampak besar pada kepulihan perusahaan utama. Termasuk pak Hardi, karena aku dan Max sepakat untuk melakukan ini.


Aku menyenderkan punggungku pada kursi kerjaku, memijit pangkal hidungku yang terasa nyeri. Lalu kembali mengerjakan beberapa dokumen lagi, sebelum waktunya untuk pulang.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2