Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 120


__ADS_3

Lisa POV.


Dana memacu kecepatan mobilnya dengan santai, dengan alunan musik yang terdengar dari audio dashboard yang ada dalam mobilnya ini. Aku juga mendengar suara senandungnya yang mengikuti irama musik. Dapat kurasakan sebuah kedamaian saat mendengar lantunannya itu. Tidak mencerminkan apa yang sedang terjadi sekarang. Dana sudah berubah, ia menjadi seseorang yang sama sekali tidak aku kenal. Dengan posisiku saat ini, sepertinya tidak akan ada satu orang pun yang akan menyelamatkanku.


Mengapa semua orang harus menyayangi Tika?


Padahal jika dibandingkan denganku, aku lebih terpuruk. Dia masih memiliki semua yang tidak aku miliki. Dia masih bisa bahagia dengan apa yang sekarang ada disekitarnya, tanpa harus berjuang mati-matian sepertiku.


Semuanya harus aku sendiri yang mempertahankan, harus aku sendiri yang memikirkan. Bahkan untuk bercerita dan berkeluh kesah saja harus aku lakukan pada batu nisan kedua orangtuaku. Lalu untuk apa aku hidup, jika hanya kesengsaraan yang aku dapatkan?


Dari posisiku yang tengkurap saat ini, aku bisa melihat wajah Dana dari samping, tapi hanya sedikit. Lalu tanpa terasa mataku meneteskan air, yang lama kelamaan menjadi semakin banyak. Tidak dapat aku kendalikan lagi.


"Hei, kenapa nangis, Babe?" tegurnya yang mungkin mendengar isak tangisku. Dia mengulurkan tangannya lalu menyentuh daguku, aku menepisnya dengan menggerakkan wajahku lalu berpaling. Dia tertawa. "Hahaha, bentar lagi kita sampai. Setelah itu kita bisa dengan bebas bermain apa aja yang kamu mau. Aku turuti." Gelak tawanya semakin nyaring, membuatku memejamkan mata, menahan ketakutan dan membayangkan apa yang selanjutnya akan terjadi.


Cukup lama waktu berselang setelah itu, hingga aku merasakan Dana membelokkan setirnya, masuk ke dalam sebuah ruangan yang kemungkinan itu adalah sebuah garasi. Mesin berhenti berbunyi, mungkin kami telah sampai di tempat tujuan yang ia maksud.


Brak, bruk!!


Kudengar suara pintu mobil yang terbuka dan tertutup. Lalu tiba-tiba saja kakiku ditarik paksa, hingga menyebabkan pisau yang ku sembunyikan sekali lagi menggores permukaan kulitku di dalam sana. Aku meringis. Saat aku menoleh ke bawah, ternyata Dana sedang memotong kabel zip yang sebelumnya ia ikat di pergelangan kakiku. Kemudian ia menyuruhku untuk turun dari mobil.


Dia menyuruhku berjalan lebih dulu di depannya, dengan tangannya yang mencengkram erat bahuku. Sedangkan kedua tanganku masih terikat kuat dan di mulutku juga masih melekat potongan duct tape agar aku tidak berteriak. Kami memasuki sebuah ruangan gelap yang tidak berpenghuni. Ia menyuruhku untuk menaiki sebuah tangga, lalu mendesakku masuk ke dalam sebuah ruangan.


Aku terbelalak melihat isi ruangan itu. Berbeda jauh dengan ruangan lain yang aku lewati, bahkan tangga tadi juga tidak layak untuk mengantarkanku ke dalam ruangan ini. Begitu nyaman dan begitu bersih. Semua tampak bersih karena warna putih yang mendominasi ruangan ini. Lalu secara spontan kali ini Dana mendorong tubuhku hingga aku tersungkur di atas ranjang berukuran king size yang berlapiskan dengan sprei berwarna putih. Aku membalikkan tubuhku dengan cepat, sebab lagi-lagi pisau itu menggores kulitku di dalam sana. Aku takut kalau saja ada bercak darah yang mengotori sprei ini.


"Tunggulah, setelah ini kita akan bersenang-senang seperti dulu," ucapnya dengan lembut saat menyentuh daguku lalu melepaskannya.


—————


Alex POV.


Sudah cukup lama aku dan Max melakukan perjalanan, bahkan sudah beberapa kali pula ponselnya berbunyi. Tidak ada sepatah kata pun yang Max katakan padaku selama perjalanan ini. Dia hanya sibuk dengan setir mobil dan ponselnya. Sikap kakak pertama Tika ini sungguh membuat jantungku berdegup kencang tak beraturan.


"Gua denger lu mau nikahin Lisa, bener?" tanta Max seketika, membuatku spontan menoleh padanya, ia hanya menoleh sebentar lalu memandang lurus ke depan, kembali mencoba fokus pada setirnya.

__ADS_1


"Iya, rencananya dua bulan lagi." Aku hanya menjawab seadanya. Sebab ini pertama kalinya aku berbicara berdua dengan kakak pertama dari Tika ini. Dulu pernah, saat Lisa dipanggil olehnya untuk ke rumah Haikal, tapi aku hanya sebentar berbicara dengannya, selebihnya aku hanya beberapa kali melihatnya dari kejauhan.


"Kerja apa?" tanyanya lagi, kali ini dia tidak menoleh sedikitpun. Aku merasa terintimidasi.


"Usaha keluarga."


"Dibidang?"


"Textile."


"Oh." Hanya jawaban yang semakin singkat itu yang aku dapatkan darinya.


Setelah dia menjawab itu, tidak ada lagi pertanyaan lanjutan atau bahkan basa-basi lainnya agar suasana di dalam mobil ini tidak terlalu mencekam. Dan aku pun sangat tidak pandai dalam hal ini, sungguh.


Tak berapa lama kemudian kami sampai pada sebuah persimpangan jalan. Max memarkirkan mobilnya tepat di belakang sebuah mobil mini van. Lalu ia keluar dari mobil dan aku mengikutinya.


Teng!


Ada dua orang di dalam sana lalu orang tersebut langsung menjelaskan situasi dari sebuah tempat yang mereka pantau. Tempat tersebut kini terlihat berada dalam beberapa layar kaca yang juga ada di dalam van ini. Mataku segera mengecek satu per satu, mencari keberadaan Lisa. Hingga aku mendapatkannya.


"Look, mobil ini baru masuk!" Aku berseru memberitahukan mereka lalu memperhatikan sebuah layar kaca yang kutunjuk.


Aku tidak mendengar begitu jelas dengan apa yang Max katakan pada rekannya itu, sebab aku hanya terfokus pada apa yang aku lihat. Tak berapa lama setelah itu, mobil yang tadinya masuk kini kembali keluar dan meninggalkan tempat yang lebih mirip jika dikatakan sebagai rumah, tapi entahlah, aku tidak peduli. Setelah itu, mereka memutuskan untuk segera berangkat menuju ke tempat di mana Lisa disekap.


Max kembali memacu mobilnya, kali ini dengan kecepatan tinggi. Alu tidak lagi berkata apa-apa, hanya diam dan memerhatikan. Hingga akhirnya kami sampai ke sebuah tempat yang jauh dari pemukiman. Dari jauh terlihat hanya ada sebuah rumah tua yang berdiri megah tepat di tengah hutan.


"Pelan-pelan, jangan berisik." Max memberitahuku. Kami turun dari mobil dan aku mengikutinya, membontelnya di belakang, mirip anak ayam yang mengikuti induknya. Sampai kami bertemu puluhan manusia yang entah sejak kapan mereka ada di sekitar sana.


"Sore, Pak! Semua sudah siap. Kami juga sudah memantau," ucap salah seorang yang berdiri di dekat Max. Aku tertegun melihat persiapan Max yang seperti ini. Seperti bukan dirinya yang selama ini aku lihat.


"Biarkan saya yang masuk lebih dulu, kepung terus wilayah ini. Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam sana. Dan jika kalian mendengar suara tembakan, barulah kalian bergerak masuk." Max dengan lantang mengatakan rencananya, kemudian dia merogoh bagian punggungnya lalu mengeluarkan sebuah pistol!


Aku sempat menganga melihat itu, yang ternyata disadari olehnya. "Di dunia bisnis yang gua jalani saat ini, gak ada yang namanya kejujuran dan bersih dari masalah. Hanya sedikit orang yang bisa bermain seperti itu." Max menyerahkan pistol itu pada salah seorang lainnya, kemudian tak lama senjata api tersebut kembali ke tangan Max.

__ADS_1


Max juga memberi kode pada mereka untuk memberikanku sebuah senjata, tapi aku menolaknya. Aku tidak ingin menyentuh benda-benda semacam itu. Cukup berjalan di belakangnya dan jika perlu aku akan menggunakan kepalan tanganku untuk melumpuhkan lelaki sialan itu!


—————


Tika POV.


Jefri memutuskan untuk mandi sedangkan aku setengah berbaring di atas ranjang sambil menonton televisi. Hari sudah semakin sore, langit sudah melukiskan warna oranye dan keemasan yang saling menyatu, menghasilkan keindahan yang begitu luar biasa.


Aku memutuskan untuk bangun dari tempat tidur dan beranjak menuju balkon, untuk menikmati udara sore sambil menyaksikan langit yang memikat mataku. Baru saja aku mengembuskan napas merasakan sejuknya udara, tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Aku menoleh dan dengan perlahan kembali menuju ke kamar untuk melihat siapa yang menelponku. Sebab aku menantikan kabar dari Max


Aku meraih ponselku dari atas meja dan melihat nama Lisa yang muncul di layar ponselku, sontak aku terkejut dan segera menerima panggilan telepon itu. "Hai, Babe!"


Deg!!


Detak jantungku spontan berdebar dengan kuatnya, mendengar bukan suara Lisa di seberang sana, melainkan suara Dana. Amarahku seketika muncul, bercampur dengan rasa takut yang selama ini aku simpan. Tapi anehnya, lidahku seakan kelu, bibirku tertutup dengan rapat dan dari situbaku bisa mendengarkan suara gemerak gigiku yang menahan geram padanya.


"Aku rindu sama kamu, sudah saatnya kita ketemu. Atau ... kamu mau aku kirimin videoku bersenang-senang sama dia?" Suara tawanya sungguh terdengar seperti mengejekku saat ini.


Tapi aku tetap bergeming. Mencoba untuk mengontrol emosiku sendiri, sebab Jefri sempat mengatakan jika aku harus bisa mengatur emosiku, mengatur perasaanku agar tidak verdampak buruk pada kedua bayi kembar yang sekarang masih di dalam perutku.


Namun Dana terus saja meracau, mengatakan hal-hal yang tidak penting bagiku sampai pada akhirnya ia memintaku untuk menemuinya. Dan ia akan memberikan sebuah alamat yang harus aku datangi sendiri, hanya sendiri. Setelah ia memutuskan sambungan telepon, sebuah pesan singkat yang berisikan alamat sudah berhasil aku terima.


Aku menoleh ke arah pintu kamar mandi, lalu perasaan bimbang kembali menyelimuti jiwaku. Apa yang harus aku lakukan?


Aku memejamkan mataku mencoba untuk menjernihkan pikiranku. Berkali-kali aku menarik serta mengembuskan napas. Dan dengan keyakinan yang kuat, aku berjalan meraih kunci mobil Jefri yang ia letakkan di atas meja riasku. Kemudian keluar dari kamar dan segera menuju mobil.


Kandunganku saat ini sudah memasuki minggu yang ke tiga puluh enam. Dan itu artinya perutku sudah semakin membesar. Dan seharusnya aku sudah tidak bopeh lagi terlalu banyak aktivitas. Tapi kali ini aku tidak bisa tinggal diam di rumah dan menunggu kabar dari Max. Sebab kali ini sepertinya harus aku sendiri yang menghadapi lelaki itu. Aku yang harus menaklukkannya sendiri.


Sesaat setelah qkutmasuk ke dalam mobil, aku segera menyalakan mesinnya, meletakkan ponselku pada dashboard tengah lalu menatap ke bawah, menengok perutku.


"Maafkan bunda, Nak! Tante Lisa juga penting buat bunda. Dia hidup hanya sendiri di sini," ucapku sambil mengelus perutku sendiri. Kemudian tanpa ragu lagi, aku langsung menginjak pedal gas lalu melesat pergi dengan kecepatan mobil yang cukup tinggi.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2