Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 147


__ADS_3

Still Max POV.


Aku langsung menyalakan mesin mobil dan segera meluncur menuju ke pasar besar. Dengan kecepatan penuh dan rasa khawatir yang tidak dapat ku bendung lagi.


Begitu sampai di pasar besar, aku segera memarkirkan mobil setelah sekali berputar karena tidak bisa menemukan mobil yang di pakai istri, anak dan mamahku.


Di sisi yang satunya aku sudah bertemu dengan Igo yang membawa serta pasukannya untuk memasuki pasar, mencari keberadaan lelaki psikopat itu.


"Kenapa ke sini? Kita ngabarin bukan berartu kamu juga hsrus ke sini langsung." Igo menegurku karena aku ikut muncul di pasar ini.


"Mamah, Shilla sama anak aku tadi pamit pergi ke pasar ini juga katanya," ucapku dengan mata yang terus melihat-lihat ke sekeliling.


"Yang bener kamu?"


Aku mengangguk menanggapi pertanyaan dari Igo tanpa menatap kepadanya. Kemudian Igo dengan spontan menghubungi rekannya melalui sebuah alat, meminta temannya itu untuk segera keluar dari dalam pasar.


Namun tiba-tiba saja ponselku kembali berdering.


🎢


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


🎢


Aku segera merogoh, mengambil benda tipis itu dari kantong celanaku lalu melihat nama istriku muncul di layar, lalu menerima panggilan itu.


"Hallo sayang kamu di mana?" tanyaku panik.


Kemudian di seberang sana Shilla menjawab dengan santainya, jika ia dan mamah tidak jadi pergi ke pasar besar melainkan ke supermarket. Sebab saat sudah sampai di pasar, tiba-tiba saja Icel menangis karena tidak tahan dengan aroma pasar besar yang lumayan menyengat hidung.


Begitu mendengar semua itu, rasanya aku dapat bernapas dengan sangat lega. Jantungku terasa seakan bisa kembali normal berdetak. Lalu aku segera menyuruh Shilla pulang jika ia sudah selesai berbelanja.


"Gimana?" tanya Igo setelah aku selesai memutuskan sambungan telepon dengan Shilla.


"Mereka ternyata gak jadi ke sini, sekarang lagi di supermarket deket rumah," ucapku sambil memegani bahu Igo yang kemudian dia menepuk-nepuk pundakku.


"Pulanglah, biar ini jadi urusanku." Igo berkata dengan lantangnya, membuatku semakin menatap tajam padanya. "Aku pastikan untuk menangkapnya."


Begitu mendengar semua itu terucap dari mulut Igo, baru lah aku dapat bernapas dengan sangat lega. Dia memang orang nomer satu kepercayaan Reza. Apapun yang Reza tugaskan padanya selalu tepat dan tuntas. Bahkan Reza berani membayar mahal untuk kinerjanya dalam dunia hitam.


Namun tidak hanya itu. Cara Igo melakukan semuanya terbilang sangat tertata dan rapi. Hingga membuat titik akurasi pada setiap misi yang di kerjakannya tepat dengan sasaran.


Kemudian Igo menerima kabar dari anak buahnya lalu segera berpamitan padaku. "Pulanglah, nanti aku kabari untuk perkembangannya."


Igo berlari masuk ke dalam pasar besar itu lalu menghilang di tengah kerumunan manusia lain yang sedang melakukan aktifitas jual-belinya.

__ADS_1


Sedangkan aku kini dapat mengembuskan napas panjang lalu melangkah kembali ke dalam mobil ku. Menyalakan mesin mobil lalu pergi keluar dari area pasar itu. Meninggalkan Igo beserta anak buahnya di dapam pasar itu.


Aku mengurungkan niatku untuk pergi ke kantor pagi ini, setelah lama aku berpikir akhirnya aku memutuskan untuk meliburkan diri. Segera ku kirimi sebuah pesan singkat yang aku tujukan kepada resepsionis kantorku. Untuk memberitahukan ketidakhadiranku di kantor hari ini.


Sejak Reza pergi ke London dan menetap di sana untuk mengurusi perusahaan di sana, aku tidak pernah lagi memiliki seorang sekretaris. Aku hanya bisa percaya pada insting-ku sendiri, untuk melakukan semua pekerjaanku. Sesekali Reza membantuku dari sana. Jarak tidak pernah kami jadi kan alasan untuk tidak bisa saling membantu. Oleh sebab itu, untuk jadwal meeting dan lainnya, aku serahkan pada resepsionis kantor.


Begitu sampai di rumah, aku kembali dikejutkan oleh sebuah mobil yang bertengger terparkir di depan rumah. Bukan mobil yang Shilla gunakan, melainkan sebuah mobil seseorang yang aku pikir tadinya dia tidak akan berani untuk datang ke rumah ini.


Ya, siapa lagi kalau bukan mobil Alex yang otomatis akan ada Lisa. Dan benar saja, begitu aku memasuki rumah, Alex sudah duduk di dalam di ruang tengah. Aku menyapanya.


"Hai, apa kabar? Lama gak keliatan," ucapku berbasa-basi.


"Iya, maaf baru bisa ke sini." Alex menyambut tanganku yang menyaliminya. Kemudian aku duduk di sampingnya. Aku sempat menoleh ke arah halaman belakang dan benar saja aku melihat punggung Lisa yang sedang duduk di samping Tika.


β€”β€”β€”β€”β€”


Tika POV.


Pagi ini begitu cerah. Terik matahari seakan malu-malu menampakkan dirinya. Tetapi aku tetap saja bersikeras membawa kedua anakku untuk berjemur. Ditemani dengan anak kedua Max, Feli. Sebab tadi maminya menitipkannya padaku. Ya, Shilla ingin pergi ke pasar bersama mamah dan juga Icel.


Jefri juga sudah pergi berangkat ke kantornya setelah selesai sarapan bersama denganku tadi. Begitu pula dengan Max, kami sempat mengobrol sebentar, sebelum akhirnya dia juga memutuskan untuk pergi berangkat ke kantornya.


Aku memang sudah lama tidak menegurnya. Lebih tepatnya lagi sejak aku tinggal di rumah mamah ini. Bukan karena aku marah padanya, bukan pula karena kecewa padanya. Tapi karena diriku sendiri.


Aku merasa bersalah padanya. Walaupun itu hanya masa lalunya. Tapi tetap saja, aku adalah penghalang perasaan mereka. Hingga menyebabkan Lisa memiliki sifat seperti itu.


Di saat aku semakin larut dalam pola pikirku sendiri. Tiba-tiba bi Mince datang membuyarkan semua lamunanku. Kemudian memberikan segelas sussu untukku. Minuman wajib yang aku konsumsi dua jam setelah makan.


Tingtong!


Bi Mince segera berjalan menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang. Meninggalkanku yang sedang meminum sussu tadi. Setelah minuman itu habis, aku kembali memeriksa keadaan ketiga anak di depanku, di dalam kereta dorongnya masing-masing. Mereka masih tertidur dengan lelapnya.


Aku mulai mengambil kembali buku novel seri Sherlock Holmes yang masih belum selesai kubaca. Untuk menemaniku menjaga mereka bertiga pagi ini.


Tiba-tiba suara seorang wanita yang aku kenali memanggil namaku. Pelan, bahkan terkesan sangat menyayat hati. Bagaimana tidak, suara yang ia keluarkan diikuti oleh sebuah isakan tangis.


"Tik ...."


Kemudian mendadak kedua tangannya merangkulku dari samping.


Sampai batas ini, aku sebenarnya sudah tahu siapa wanita itu. Hanya saja, rasanya mataku enggan untuk melihatnya, apalagi hanya sekedar untuk memastikan kebenaran siapa pemilik suara itu.


Namun lagi-lagi mataku ini tidak bisa berbohong. Kuletakkan buku novel yang tadi kubaca di sampingku. Dengan sedikit campuran perasaan yang melibatkanku untuk melakukan itu. Aku melihat wajahnya yang bersandar di pundakku.


"Maaf, aku gak tahu kalo kamu kecelakaan malam itu. Dan maaf, aku gak pernah muncul jengukin kamu selama di rumah sakit," ucapku pelan.


Wanita itu adalah Lisa. Dia memelukku semakin erat, lengkap dengan isak tangis yang mengiringi setiap embusan napasnya.


Aku bukannya ingin menjadi seorang malaikat ataupun sejenisnya yang maha pemaaf. Tapi bukan berarti aku tidak boleh bermurah hati bukan?


Aku juga tidak ingin menganggap diriku sendiri adalah orang yang selalu benar. Tapi setidaknya aku bisa mengakui jika aku memiliki kesalahan bukan?

__ADS_1


Bagiku, kisah kami sudah terlalu rumit. Terlalu sulit untuk dijabarkan, mencari akar ataupun asal muasal persoalan ini bukanlah perkara mudah.


Tapi percaya lah akan satu hal. Sahabat sejati, bukan lah seorang sahabat yang selalu ada bersama kita tanpa masalah. Melainkan dia tetap memilih kita untuk melewati masalahnya.


"Aku yang seharusnya minta maaf. Gak sepantasnya aku hidup seperti ini. Rasa iri yang membutakan hati aku. Kamu korbankan nyawa kamu buat aku. Aku minta maaf."


Berlinang air mataku mendengar ia mengucapkan kalimat demi kalimat yang bergetar akibat tangisannya. Sebelumnya, Lisa tidak pernah mengucapkan kalimat maaf setulus ini.


Bahkan dulu saat aku menamparnya, ia memaafkanku. Saat aku memiliki kesalah pahaman dengan suamiku, ia menolongku. Ia juga selalu menemaniku, di saat aku memiliki jadwal untuk check-up kandungan. Lantas saat ini, apa pantas aku tidak memaafkannya?


Lagi pula, aku hanya memiliki dirinya yang pantas untuk menjadi sahabatku.


Aku mengelus tangannya yang memelukku dengan erat. "Gak mau coba gendong keponakan kamu? Mereka udah lama loh nunggu onty-nya datang," bisikku.


Lisa melepaskan dekapannya lalu mengangkat wajahnya untuk menatapku. Kini terlihat jika wajah polosnya telah basah akibat air mata yang ia keluarkan tadi. Sisa isakan tangisnya juga masih terdengar sesekali. Aku tersenyum lalu mengambilkan tempat tissu yang ada di bawah kereta anakku dan memberikannya padanya.


"Jelek tahu kalo udah nangis gitu," godaku mengejeknya.


Seketika Lisa kembali menghamburkan pelukannya padaku. Kini bahkan lebih erat dari sebelumnya. Aku membalas dekapannya. Lalu meletakkan daguku di atas pundaknya, sambil mengelus punggungnya.


Jujur saja, aku merindukan pelukan seorang sahabat sepertinya. Dari kehidupannya, aku dapat belajar banyak hal. Mungkin dia tidak bisa belajar dari hidupnya sendiri, tapi aku bisa. Mungkin dia tidak bisa mensyukuri kehidupannya, tapi aku bisa. Dan karena semua itu aku memaafkannya.


"Udah jangan nangis lagi." Aku mencoba menenangkannya kembali, sebab tiba-tiba saja aku mendengarnya yang kembali terisak.


"Maaf yaa, jangan tinggalin aku sendiri," pinta Lisa.


Lalu tiba-tiba air mataku jatuh mendengar ia mengatakan kalimat itu. Memintaku untuk tidak meninggalkannya. Mungkin aku sudah tidak sekuat dulu untuk menyembunyikan perasaanku sendiri.


"Kamu bisa dapetin kebahagiaan kamu, kalau kamu gak jahat sama diri sendiri. Kamu gak perlu minta maaf sama siapapun. Minta maaflah sama diri kamu sendiri," lirihku yang semakin memeluknya saat aku merasakan dia mengangguk-anggukan kepalanya.


Rasanya lega bisa kembali bersama Lisa melewati hariku. Karena aku tahu, ada maaf yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata. Ada pula maaf yang akan hilang sendirinya dengan berlalunya waktu. Ada juga maaf yang mungkin bisa hilang hanya dengan senyuman dan air mata.


Bersambung ...


β€”β€”β€”β€”β€”


Hallo lohhaa ...


Terima kasih sudah mau menungguku untuk menulis dan update cerita ini.


Jangan lupa subsrek (love, like, kasih ratting trus tinggalin komentar)


Udah update tiap hari masa gak ada yg mau kasih vote sih πŸ™„πŸ€”


Padahal cuman vote loh πŸ˜‚


Silakan bergabung dalam Grup Chat NovelToon


Folow my Instagram @bossytika


With love,

__ADS_1


#salambucin πŸ’‹


__ADS_2