
Still Tika POV.
Sesampainya disebuah restoran, aku, Mamah dan Jefri segera memilih sebuah meja persegi panjang yang letaknya paling pojok, dengan jumlah kursi yang lumayan banyak. Sebenarnya aku yang memilih meja ini, karena selain letaknya di ujung, yang jarang di lalui oleh orang banyak, pemandangan di sekitar sana juga menawan.
Dindingnya yang penuh dengan tanaman hias bunga anggrek, menempel sempurna. Seakan bunga anggrek itu tumbuh merambat pada dinding bangunan. Dan sekali lagi, tentu saja aku memilih meja ini, karena Mamah juga menyukai bunga anggrek. Seperti aku yang menyukainya, karna dengan memandang bunga itu, aku seakan kembali menemukan kilasan wajah Papah disana.
Ya, Papah memang menyukai bunga anggrek. Ratusan spices bunga anggrek berhasil Papa kumpulkan semasa hidupnya. Hingga mungkin saat ini ada sekitar ribuan pot bunga anggrek yang tersebar di seluruh halaman rumah. Namun sayang, begitu Papah meninggal, sebagian anggrek miliknya juga perlahan ikut layu hingga tidak bisa dipertahankan lagi.
Lah, kok malah bahas Papah?
Oke kita kembali dalam situasi dan konsisi didalam restaurant.
"Loh, kenapa enggak yang didepan sana aja?" tanya Mamah.
Aku dan Jefri saling menatap, "Gak papa, Mah, disini aja, biar yang lain kebagian kursi," sahutku.
"Maksudnya?" tanya Mamah, bingung.
Aku menarik sebuah kursi dan duduk, "Yang lain lagi dijalan ke sini juga, Mah."
"Yang lain? Yang lain siapa?" tanya Mamah semakin menggebu.
"Mamah duduk dulu aja. Kita pesen appetizer sama minum dulu ya?" saran Jefri sambil menarikkan kursi disebelahku untuk Mamah duduk.
Mamah mengikuti dan duduk di kursi itu tanpa banyak pertanyaan lagi. Kemudian Jefri memanggil seorang pelayan untuk memesan yang kami butuhkan. Jefri duduk di bagian sebelahku yang satunya lagi. Kami memesan semua jenis makanan yang kami inginkan masing-masing. Mulai dari appetizer, main course, dessert hingga beverage.
"Maaf, tolong beverages dan appetizers dulu, sisanya tunggu tamu saya yang lain," pinta Jefri pada pelayan itu yang lalu disanggupi olehnya.
Tak berapa lama Haikal datang, yang kemudian menyapa dan mencium pipi Mamah. Lalu memilih duduk diseberang Jefri. Kemudian, Max dan Shilla, serta Icel juga datang.
Jefri langsung memanggilkan pelayan kembali, untuk mencatat semua pesanan makan dimeja kami. Serta meminta semuanya di hidangkan secara berurutan. Dengan tak lupa meminta sebuah kursu kecil khusus untuk anak-anak.
"Ini rame-rame memang ada apa?" tanya Mamah yang masih saja bingung.
"Loh, Tika belum bilang apa-apa sama Mamah?" sahut Haikal.
Aku hanya tersenyum tipis.
"Bilang apa?" cerca Mamah yang sambil menyentuh lenganku di atas meja dan menatapku.
"Kalian beneran belum kasih tau Mamah?" tanya Max kembali memastikan.
"Belum, kan ini makan sekalian mau bilang," jawab Jefri.
Aku masih memperhatikan mereka, lalu sesekali melihat Mamah yang semakin tajam menatapku.
"Mah...," ucap Jefri sambil mengambil nafas dalam, sebelum memberitahukan pada Mamah kabar gembira bagi kami ini.
Jefri yang duduk di belakangku, dengan menyentuh kedua lengan atasku, menatapku menyamping.
"Anak Mamah ini, hamil. Mamah bakalan segera dapat cucu dari kami," Jefri mengucapkan dengan lantang.
__ADS_1
Mamah meraih kedua tanganku, menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Sedangkan Jefri langsung mengecup kepala ku bagian samping, lalu melepaskan cengkramannya dari lenganku. Seolah membebaskanku untuk segera memeluk Mamah.
Sebelum aku yang bergerak mendekat, ternyata Mamah lebih bersemangat begitu mendengar kabar ini. Ia menarik tanganku kemudian memelukku erat. Berkali-kali mengecup puncak kepalaku. Hingga ku dengar isak tangisnya. Tak diduga, kedua sudut mataku pun akhirnya mengeluarkan bulir air, kemudian menjadi tumpah ruah, seiring dengan isak tangis Mamah.
Aku tahu, ini adalah hal yang paling ia tunggu dariku. Suatu hal yang selalu ia bahas dulu sebelum aku menikah. Bahkan setelah menikah pun, ia masih saja senang menggodaku dengan hal ini. Hingga aku melihatnya tertidur tadi sore di kamarku. Saat itu aku baru menyadari, ternyata dia sangat mencintaiku. Mamah sangat kesepian tanpa aku dirumahnya.
Semakin ku eratkan pelukanku padanya. Sebelumnya, aku hampir tidak pernah rasanya mengucapkan rasa terimakasihku pada Mamah. Atas semua pengorbanannya untuk merawatku hingga saat ini.
"Makasih ya, Mah, buat semua kesempatan yang Mamah kasih ke aku, buat semua pengorbanan yang Mamah lakukan demi aku," lirihku dengan isak tangisku.
Ku benamkan wajahku pada pundak Mamah, jemarinya yang kuat itu tidak ada hentinya sedari tadi mengelus rambutku, dari kepala hingga ujung rambutku yang terurai. Tak ada jawaban dari Mamah.
"Maaf kalo selama ini, aku pernah bikin Mamah kecewa...,"
"Enggak. Mamah beruntung melahirkan kamu. Melahirkan kalian dari rahim Mamah. Papah pasti bangga liat kalian sudah dewasa, liat kamu yang bakalan kasih kami cucu," ucap Mamah dalam tangis namun tertawa kecil.
Max mengelus puncak kepalaku, lalu memeluk kami sekilas. Hingga akhirnya Haikal memecah suasana itu.
"Mamah terlalu lama meluk Tika, seharusnya meluk aku yang lama, kan aku yang masih sendiri," celetuknya yang membuatku tertawa hingga aku dan Mamah melepaskan pelukkan kami.
Haikal menghampiri Mamah, kemudian memeluk Mamah erat, mengecup kening Mamah.
"Terus kapan kamu mau kenalin cewek kamu itu ke Mamah?" tanya Mamah, membuat Haikal bingung.
"Cewek yang mana, Mah?" sahutnya.
"Itu yang sering nyamperin kamu ke rumah sakit,"
"Jangan bohongin Mamah, kata Tika kalian juga udah hangout bareng kan? Udah nikahin aja, kelamaan kalo mesti pacar-pacaran lagi. Tika udah hamil loh!!!" bawel Max pada Haikal.
Seketika Haikal langsung menatap ke arahku, "Oh kamu cerita ke Mamah sama Max tentang Clara?"
"Nah iya itu, Clara. Jadi kapan kamu ngelamar dia?" seru Max lagi.
Haikal melepaskan pelukannya pada Mamah, "Ya kalo itu aku belum deket, lagian belum terlalu kenal."
"Tapi mau kan?" tanyaku sambil masih mengusap bekas airmataku.
"Mau apa?"
"Kamu masih suka cewekkan?" lirihku pelan menggoda Kakak ku yang satu ini.
"Sembarangan!! Gini-gini aku masih normal," sahutnya lantang yang sontak membuat kami tertawa.
Kemudian denga santainya, Mamah yang kemvali bertanya, "Jadi kapan, Clara mau dikenalin sama Mamah?"
"Mamah apaan sih? Dia bukan siapa-siapanya aku," sangkal Haikal.
"Bukan siapa-siapa tapi kok suap-suapan?" godaku lagi.
"Itu kebetulan aja,"
__ADS_1
"Udah gak usah ngeles!! Kalo kamu gak bisa kenalin ke Mamah ga papa, nanti biar aku yang cari cewek itu, trus aku bawa kenalin ke Mamah," sahut Max menimpali.
Kami kembali cekikikan.
"Kok aku merasa dipojokkan ya? Kayaknya aku kurang beruntung punya saudara kayak mereka, Mah!" ejak Haikal.
Dengan cepat Mamah memukul punggung tangan Haikal, "Hust!! Ga boleg ngomong gitu.
"Habisnya mereka jahat banget, Mah," manja Haikal pada Mamah.
Kami tertawa lagi melihat Haikal yang tidak seperti biasanya itu.
"Trus jadi kapan bisa ngenalinnya?" cerca Max lagi.
Aku dan yang lainnya hanya bisa terdiam saat Max kembali melontarkan pertanyaan itu dengan serius.
"Nantilah, kalo gua udah yakin."
"Emang kalo sekarang belum yakin?" tanya Max lagi.
"Belum, deket banget aja kagak!!"
"Trus?"
"Ya trus sekarang fokusnya jagain Mamah aja."
"Emang selama ini kamu gak jagain Mamah?" Max mulai serius.
"Ya jagain sih!! Tapi maksud aku itu, mulai sekarang udah saatnya kita yang jagain Mamah, jangan kebalik."
"Oohh itu sih ngerti aku, Tika juga ngerti," sahut Max santai.
Kemudian Haikal kembali memeluk Mamah dari belakang, Mamah yang sedang duduk, "Suatu hari aku pasti kenalin ke Mamah calon istri aku, tapi aku minta sama Mamah satu hal."
"Apa?" sahut Mamah.
"Sabar. Anak Mamah yang satu ini juga udah kebelet pingin nikah," lirihnya santai.
Kami serentak kembali tertawa mendengar ucapan, kalimat demi kalimat yang dilontarkan Haikal...
-------------------
Hai hai semua ๐โโ๏ธ
Ketemu lagi pagi ini, apa kabar??
Hihihihii udah berasa kayak lagi chatan sama pacar yang LDR, nanyain kabar pagi-pagi ๐คญ
Oke pagi ini aku ingin kembali melihat cara kalian yang mendukungku, dengan cara VOTE!!! Berbagi koin atau poin untuk judul karya ku ini ๐
Bagi yang belum tau bagaimana caranya vote menggunakan KOIN/POIN bisa menanyakannya langsung dengan ku via chat message di Instagram dengan nama account @bossytika *sekalian promosi Instagram sih sebenernya, biar kalian follow* ๐
__ADS_1
Oke deh gitu aja, ditunggu sumbangsih KOIN dan POINnya, kalau berkenan dan aku tidak memaksa ๐๐