Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 76


__ADS_3

Haikal POV.


Aku ikut sarapan bersama Clara pagi ini. Tidak pernah sebelumnya aku melakukan ini. Terlebih lagi untuk seorang wanita. Menemaninya semalaman, memberikan selimut untuknya dan menjaga tidurnya agar tetap nyenyak.


Aku memperhatikan setiap gerak-geriknya. Masih terlihat jelas rauh wajah kesedihan yang ditutupi dengan senyuman manisnya, setiap kali mata kami bertabrakkan. Entah sejak kapan aku merasakan ini. Perasaan yang selalu bergelora, membara saat berada di sisinya. Perasaan ingin selalu melindunginya dan selalu menikmati sarapan bersama dengannya. Semua itu mengulas simpul senyum kecil di kedua sudut bibirku.


"Lucu ya gua baru bangun udah langsung sarapan." Clara menyenggol lenganku, membuyarkan semua pemikiranku tentangnya.


Aku menoleh menatapnya sambil terkekeh pelan lalu melanjutkan sarapan kami hingga selesai. Tak berapa lama Adam muncul, lalu mendekatiku.


"Sorry ganggu, ada pasien baru masuk dan harus lu check." Adam tersengal mengatakan itu dan terlihat sangat berhati-hati dalam bertutur kata padaku.


Aku mengernyitkan alis lalu melirik jam tanganku, masih pukul tujuh pagi. Dan jam kerja Adam berakhir di pukul delapan, yang mana artinya masih ada satu jam lagi tersisa. 'Lalu mengapa Adam malah memintaku untuk mengecek pasiennya?' pikirku tak masuk akal.


"Harus gua yang check? Bukannya ini ma—"


"Iya, kali ini harus lu yang check sendiri. Double check!" Adam memotong kalimatku lalu menarik tanganku pelan. Aku mengiyakan permintaannya lalu berpamitan pada Clara.


Aku dan Adam berjalan tergesa menyusuri lorong yang menghubungkan antara ruang ICCU dengan ruang UGD. Adam kembali menarik tanganku lalu membawaku masuk ke dalam sebuah bilik yang membuatku terkejut.


Lisa terbaring pingsan di sana. Aku agak panik melihat itu.


"Dia—" ucapku sambil menoleh melirik Adam, memberi isyarat seakan meminta sebuah penjelasan dan Adam mengerti akan maksudku.


"Dia datang ke sini dalam keadaan pingsan dan diantar sama laki-laki. Trus waktu gua periksa dia gak papa, cuman kelelahan biasa," jelas Adam.


Sedangkan aku hanya bisa memandanginya, wajah Lisa memang terlihat pucat. Aku segera merogoh ponsel dalam jas putihku lalu menekan nomer Tika. Menghubunginya untuk mengabarkan jika Lisa ada di sini. Tika pasti terkejut.


***


Aku kembali ke ruang ICCU untuk memeriksa kondisi bundanya Clara, sebab jam kerja Adam sudah berakhir. Aku juga membawa seorang dokter spesialis penyakit dalam untuk memeriksa lebih detail lagi kondisi beliau.


Tak lama setelah di periksa, bundanya Clara mengalami kemajuan yang tak terduga. Beliau sadar dari pingsannya lalu perlahan membuka mata dan menggerakkan kepalanya, menoleh ke arah suaminya dan anak perempuannya.


Mereka tersenyum menyambut kesadaran sang bunda. Ayahnya mencium kening, lalu Clara mencium tangan bundanya. Kuhalangi perawat saat mereka ingin melakukan pemeriksaan. Kugelengkan kepalaku serta kurentangankan tangan kananku.


"Nanti aja, kasih mereka sedikit waktu."


Perawat itu mematuhi permintaanku lalu kembali ke mejanya. Aku tersenyum melihat kebahagiaan mereka, tawa Clara yang begitu tulus.

__ADS_1


Aku beranjak keluar dari ruangan ICCU, kembali menuju ruang UGD untuk menunggu Tika datang. Namun tiba-tiba sesuatu menyentuh bahu kanan ku. Langkahku terhenti, aku menoleh, kudapati sebuah tangan halus yang kukenali siapa pemiliknya, membuat kedua sudut pipiku tertarik lebar.


Aku berbalik dengan sebuah senyuman di wajahku. Menatap wajah pemilik tangan yang kini kugenggam, siapa lagi pemiliknya jika bukan Clara. Ia menatapku dengan sinar matanya yang begitu memesona.


"Makasih." Clara tersenyum mengatakan itu padaku, sambil membalas genggaman tanganku.


"Jangan bilang itu ke aku. Cukup kamu makasih sama Tuhan. Berkat—" Clara meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibirku, membuatku menghentikan perkataanku yang belum berhasil aku selesaikan.


"Makasihnya bukan karena bunda udah sadar, tapi buat ini dan ini," ungkap Clara sambil menunjukkan jaketku yang ia kenakan serta sendal jepitku yang mengalasi kaki mulusnya.


Aku benar-benar terlalu percaya diri dengan ucapan terimakasihnya. Kami saling menatap malu lalu aku mengangguk untuk menjawab rasa terimakasihnya tadi. Seakan saling tak mau melepaskan genggaman tangan, kami saling memainkan jari di sana.


"Come here!!" Aku tarik tangannya lalu menaruhnya di pinggangku, membelai wajahnya hingga mengelus rambutnya.


Tanpa meminta izin darinya, aku memeluknya, membawanya masuk ke dalam dekapanku. Clara membalas pelukkanku dengan erat lalu ku kecup puncak kepalanya. Lumayan lama hingga akhirnya suara ponselku membuat kami harus melepaskan pelukkan manis ini.


🎶


So don't call me baby


Unless you mean it


If you don't believe it


So let me know the truth


Before I dive right into you


🎶


Kurogoh saku celanaku, lalu kuambil. Begitu aku melihat nama yang tertera di layar ponselku, aku segera mengangkatnya.


"Give me a second." Kodeku pada Clara yang masih berdiri di depanku dengan senyumannya.


"Hallo? Iya ... di UGD. Ya udah aku ke sana sekarang, tunggu ya." Kuputuskan sambungan telepon itu lalu memasukkannya kembali ke dalam saku celanaku.


"Siapa?" tanya Clara sambil menggigit bibir bawahnya.


"Tika, temennya masuk UGD barusan. Ya udah, kamu balik ke dalam gih! Nanti aku ke sana lagi."

__ADS_1


"A-aku? Kamu?" Clara mulai mengejek cara bicaraku, aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Aku salah tingkah dibuatnya.


Clara menyeringai kemudian ia kembali masuk ke dalam ruang ICCU, untuk berkumpul kembali dengan keluarganya. Sedangkan aku bergegas pergi kembali ke ruang UGD untuk menemui Tika yang ingin melihat keadaan Lisa.


Tika berdiri di ambang pintu bagian dalam ruangan UGD, begitu melihatku dia langsung berlari ke arahku lalu memelukku erat. Bertanya dimana Lisa. Aku segera menggiringnya membawanya menuju bilik dimana Lisa di rawat.


Tika meraung melihat Lisa terbaring tak berdaya di atas ranjang, dengan bantuan selang oksigen di kedua lubang hidungnya. Sudah sekitar empat jam Lisa berbaring di rumah sakit ini dan belum menunjukkan tanda-tanda akan kesadaran. Tika masih saja meraung memanggil-manggil Lisa dengan lirihnya.


Aku tau, Lisa sangat berarti untuknya. Mereka berdua sudah seperti saudara. Bahkan saat beberapa tahun yang lalu Lisa pergi meninggalkannya ke luar negeri pun, Tika sempat mogok makan dan uring-uringan berada di rumah. Mengurung diri di kamarnya hingga akhirnya Lisa kembali menghubunginya. Selama terpisah pun, mereka terus saja menjaga komunikasi.


Berkali-kali mereka berdua bertengkar, berbeda pendapat, namun berkali-kali pula mereka saling memaafkan dan saling mendukung. Dan kali ini aku melihat hal yang hampir sama saat dulu Tika kecelakaan, Lisa juga sepanik ini. Yang berbeda hanya orang terdekatnya. Tika memiliki dirinya dan kami keluarganya, sedangkan Lisa hanya memiliki kami tapi tidak dengan keluarga.


Aku mencoba untuk menenangkan Tika, membantunya untuk duduk di kursi di samping ranjang Lisa. Mengambilkannya air mineral lalu memyuruhnya untuk minum agar kembali tenang. Namun pandangan tak mau lepas dari wajah polos Lisa, tangannya terus menggenggam tangan Lisa.


Hingga akhirnya aku tinggalkan Tika bersama dengan Lisa berdua di bilik itu. Saat aku menutup tirai dan berbalik, sosok Jefri mengagetkanku.


"Kenapa Lisa?"


Aku berjalan sambil menggiring Jefri ke bangku dinding yang tersedia di dalam ruang UGD. Lalu menceritakan kondisi yang dialami Lisa, mulai dari ia datang ke rumah sakit hingga saat ini.


"Trus yang bawa Lisa ke rumah sakit siapa?" tanya Jefri lagi.


Aku hanya mengangkat kedua bahuku, memberi tanda bahwa aku tidak mengetahui itu. Bahkan aku sempat menanyakan kepada satpam yang menjaga di depan, ujarnya yang mengantar adalah seorang lelaki dengan badan yang cukup kekar. Namun setelah lelaki itu selesai mengantarkan dan memberikan tas Lisa kepada perawat, ia bukannya langsung menuju ke bagian administrasi untuk mendaftarkan Lisa, tapi ia malah memilih untuk segera pergi dari sini tanpa menunggu kabar dari kondisi Lisa.


"Tapi Lisa datang dalam kondisi baik, 'kan?" Jefri semakin mencercaku dengan beberapa pertanyaan lainnya. Hingga akhirnya Ranti datang menghampiriku dan mengatakan bahwa hasil lab Lisa baik-baik saja dan menyarankan agar Lisa segera di pindahkan ke ruangan rawat inap. Aku menyetujuinya.


Bersambung ...


-------------------------


Hollaa lohhaaaa ketemu lagiii 💃


Jangan lupa vote poinnya yahh..


Biar novel JefriTika dan HaikalClara ini bisa masuk ranking 20 besaaarrr 🥳


Trus jangan lupa like tiap episode-nya, kasih rating bintang limanya dan komen sebanyak-banyaknya🤩


See you soon 😘

__ADS_1


#salambucin💋


__ADS_2