Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 196


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Jefri POV.


Walaupun sebelumnya istriku ini sempat menolak permintaanku untuk mandi bersama dengannya, tapi pada akhirnya dia menyerah juga dan membiarkanku untuk ikut berendam bersamanya. Menggosok punggungnya dengan lembut, sambil sesekali aku berikan kecupan di sana. Membuatnya tertawa pelan akan tingkahku.


Pikiranku masih dapat mengingat dengan jelas, berapa kali kami pernah mandi bersama seperti ini dan itu masih bisa dihitung dengan jari. Sebab selebihnya, kami berdua hanya bercumbu dan melakukannya di tempat yang semestinya. Ya betul, di atas tempat tidur.


Apalagi semenjak Nathan dan juga Naila lahir, hanya beberapa kali kami melakukan hubungan suami-istri dengan tingkat kefokusan yang lumayan tinggi. Maksudku, melakukannya dengan cepat karena suatu dan lain hal.


Belum lagi masalah yang selalu datang menerpa kehidupan rumah tangga kami. Dan semoga saja, ke depannya tidak akan ada lagi masalah berat yang menghampiri. (Biarkan kami hidup dengan tenang, setidaknya hingga cerita ini tamat, iya 'kan guy? *lol)


Selesai menggosok punggungnya, perlahan aku juga mengusapkan bagian depannya. Aku sandarkan tubuhnya pada dadaku lalu aku menyelipkan wajah di atas pundaknya. “Kamu mau aku massage lagi?” bisikku pada telinganya.


“Aku yang seharusnya massage-in kamu,” ucapnya sembari menoleh dan meraih kepalaku lalu mengecup bibirku dengan begitu lembut. Menghasilkan bunyi-bunyian manja saat kami saling bertukar saliva.


“Kalau gitu habis ini kamu wajib massage-in suami kamu ini.” Aku kembali berdesis setelah melepaskan pagutannya. Kedua sudut bibirnya tertarik sempurna, menghasilkan masing-masing dua buah lubang dimples di sana. Begitu cantik dan memesona.


“Akan aku penuhi sesuai keinginan kamu,” balasnya berbisik.


Mendengar ucapannya itu, aku langsung berdiri, menarik handuk dan mengeringkan tubuhku lalu aku menyuruhnya untuk berdiri. “Kenapa?” tanyanya bingung.


“Katanya mau pijitin, 'kan? Jadi sekarang aja, nanti keburu ngantuk.” Aku beralasan.


Senyuman itu kembali muncul dari wajahnya sembari berdiri. Aku membelitkan handuk tadi lalu langsung mengangkat tubuhnya. Dia sempat terpekik kaget tetapi langsung ia tahan sambil terkekeh.


“Ssttt! Nanti anak-anak bangun ...,” lirihku sambil melangkah membawanya masuk ke kamar dan merebahkannya di atas tempat tidur.


Dia masih melingkarkan tangannya pada leherku dan memainkan rambut di bagian belakang kepala ini, membuat hasratku tiba-tiba muncul. Kedua bola mata kami masih saling menatap hingga tiba-tiba suara dering ponselnya berbunyi dari dalam tas.


🎶


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes


I just had to let you know you're mine

__ADS_1


🎶


Nada dering itu terdengar pelan dan sayup-sayup, awalnya Tika ingin bangkit dan segera mengambil tasnya itu, tetapi begitu ia menoleh, lehernya yang jenjang semakin membuatku tergoda untuk tetap mengunci gerakan tubuhnya. Aku mengecupi bagian ceruknya hingga membuatnya tiba-tiba terkekeh pelan.


“Biarin aja teleponnya. Gak sopan nelpon istri aku malam-malam begini,” desisku lalu kembali melanjutkan menyesap ceruknya dan meninggalkan sebuah jejak di sana.


Entah mengapa aku melakukan itu dan Tika juga tidak menolaknya, biasanya dia pasti mengelak karena tidak ingin tubuh bagian luarnya itu terlihat seperti memar. Namun, semakin aku melakukan itu malah membuat mulutnya meloloskan suara nakalnya. Membuatku semakin bergairah.


Bibirku bergerak turun, aku semakin liar saat suara nakalnya sampai di telingaku. Menyapu lembut bagian sensitif lain pada tubuhnya hingga ia menggeliat pelan. Bukan karena menolak tetapi karena ingin meminta lebih. Dan aku pun juga merasakan hal yang sama.


Sejak pertama mengenalnya dan merasakan tubuhnya, aku tidak pernah sedikitpun merasakan bosan. Bahkan yang ada, aku malah merasakan semakin nikmat dan menjadikan candu yang luar biasa dalam diriku. Melihat kemolekan tubuhnya membuat hasratku selalu bergelora, hingga detik ini dan saat ini.


Dan bagiku, Tika adalah sosok istri yang selalu bisa membuatku tidak ingin berpaling darinya. Bukan hanya karena kepandaiannya di atas ranjang, tapi juga karena caranya memperlakukanku, melayaniku dan juga menjaga kesucian cinta kami. Dan untuk itu semua, aku bersumpah dalam hati, bahwa aku akan tetap mencintainya, menjaga hubungan kami walaupun maut memisahkan di suatu hari nanti.


Dan peluh yang timbul serta menetes dari keningku ini adalah sebuah saksi dari rasa nikmatnya yang aku dapatkan darinya malam ini. Malam di mana kami berdua dapat dengan santai menikmati suasana, tanpa kata, hanya mata yang berbicara.


Semua kami curahkan dengan penuh rasa. Tanpa tergesa apalagi rasa terpaksa. Hingga akhirnya aku lemah terjatuh di sampingnya setelah mengecup mesra kening istriku itu dan membawa tubuhnya masuk ke dalam dekapanku.


**


Pagi hari menjelang, kali ini adalah weekend yang terasa sangat sempurna untukku. Bukan karena weekend sebelum-sebelumnya tidak sempurna melainkan karena kali ini aku bangun dengan begitu bersemangat. Rasanya sudah lama aku tidak merasakan sesempurna ini. Mungkin karena kegiatan tadi malam, entahlah ... tiba-tiba aku jadi tersenyum-senyum sendiri jika mengingat tadi malam.


Tika sudah tidak ada di sampingku pagi ini dan aku lihat pintu kamar anak kami sudah terbuka lalu sayup-sayup aku juga mendengar suara celotehan dari kedua anak kami di lantai bawah. Artinya, mereka sudah bangun dan berada di bawah.


“Morniiingg!” Aku mengecupi kedua anakku secara bergantian, bibirnya, keningnya dan juga bibirnya. Hingga menghasilkan suara tawa dari bundanya.


Lalu aku segera beralih mendekati Tika, memeluknya dari belakang dan mengecupi tengkuk lehernya. Mataku juga dapat melihat dengan jelas sebuah tanda yang aku tinggalkan untuknya. Lalu kembali mengecup bagian itu.


“Jangan kelewatan ntar tambah lama ilangnya,” tegurnya pelan sembari meniriskan sayuran yang baru selesai ia cuci. Aku terkekeh mendengar teguran itu.


Kemudian aku masih mengikuti tubuhnya saat bergeser menuju ke depan penggorengan. Sepertinya dia sedang membuat ayam bistek untuk sarapan kami kali ini. Dan juga membuat mashed potato dengan campuran beberapa sayuran lainnya untuk anak kami.


“Ini gimana aku mau selesein masak kalo kamunya bergelanyutan begini?” protesnya lalu aku melepaskan dekapanku padanya.


“Sini cium dulu,” ucapku manja lalu memajukan kedua bibirku pada. Kemudian dia mengecupku.


“Ini tinggal ditekan-tekan aja, 'kan?” tanyaku yang berniat membantunya membuat makanan Nathan dan Naila. Tika menganggukkan kepalanya. Dan aku langsung mengerjakan apa yang bisa aku kerjakan saat ini.


Tidak butuh waktu lama, lima menit kemudian semua pekerjaan di dapur ini telah selesai. Tika menyajikan hidangannya untuk santapan sarapanku dan juga menyediakan segelas air putih. Lalu dia dengan cekatannya menyuapi Nathan dan Naila secara bergantian.


Sesekali aku juga melakukan hal serupa, menyuapinya makan. Setelah aku selesai menyendokkan makanan untuk perutku sendiri.

__ADS_1


“Kemarin pak Hardi datang ke kantor setelah selesai meeting, makanya aku telat datang makan malam.” Aku membuka suara.


Semestinya perihal ini aku ceritakan pada Tika tadi malam, tapi terkendala oleh kegiatan gulat kami di ranjang. *lol


“Ngapain beliau dateng?”


“Dia ceritain alasannya, kenapa dia sampai harus korupsi selama itu dan sebanyak itu.”


“Trus? Apa alasannya?”


“Dia begitu biar bisa ketemu sama Paul, cucunya.”


“Maksudnya?” Tika belum bisa mengerti.


Dan aku mulai menjelaskan pada Tika, menurut pak Hardi, sudah lama beliau ingin bertemu dengan cucunya itu, tapi selalu saja dihalang-halangi oleh mantan istrinya, neneknya Paul.


Sampai akhirnya mantan istrinya itu mengajukan syarat, yang mana jika beliau ingin bertemu dengan cucunya, beliau harus memberikan sejumlah uang terlebih dahulu. Begitu pula dengan Paula yang sepemikiran dengan ibunya. Menyetujui persyaratan dari ibunya itu.


“Jadi cuman buat ketemu cucu sampai rela ngelakuin itu?” Tika tercengang, tidak percaya mendengar penjelasanku.


“Iya. Dan mereka berdua gak mau tahu, bagaimanapun caranya pak Hardi mendapatkan uang. Mereka menganggap uang itu sebagai pengganti biaya kewajiban untuk menafkahi mereka selama beliau bercerai.”


“Astaga ... setega itu? Cara mikirnya gimana sih? Itu lagi si Paula, kok bisa begitu sama bokap sendiri. Trus itu 'kan mantan istri, kok ngajarin begitu sama anaknya? Gendeng emang!”


“Aku juga gak ngerti. Dan menurut beliau juga, semua itu terjadi kalau gak ada Pablo. Selebihnya, biasanya Pablo yang bawa Paul untuk ketemu sama kakeknya,” tuturku.


“Trus beliau datang juga mau minta pekerjaan lagi. Aku bingung ... menurut kamu, aku harus gimana?” Aku mencoba bertanya pada Tika untuk meminta pendapatnya.


Karena jujur saja, dalam hati ini ada sedikit keraguan dan ada pula rasa kebencian pada beliau. Akan tetapi, aku juga tidak bisa membohongi diri, bahwa beliau juga sudah membantu menjaga perusahaan itu. Sedikit banyaknya, papah bersama dengan beliau selalu bertukar pikiran untuk melebarkan sayap hingga nama perusahaan itu dapat terdengar dalam beberapa tender besar.


Aku dilema ....


Bersambung ....


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Jika ingin vote silakan ke judul baru ya, The Hand of Death.

__ADS_1


Terima kasih 💋


@bossytika


__ADS_2