
Author POV.
———————
Acara mewah itu telah usai tepat di jam dua belas malam. Sebagian tamu yang berhadir pun, satu per satu telah berpamitan, meninggalkan sebuah ballroom megah yang dapat menampung ribuan tamu undangan pernikahan dari dr. Haikal Grissham dan Clara Laura Amelia.
Wajar saja jika pesta itu sangat terlihat eksklusif dan meriah, sebab mereka berasal dari keluarga yang terpandang. Bahkan tidak tanggung-tanggung, beberapa pejabat negara pun terlihat menghadiri acara tersebut.
Kini, tertinggal sebagian keluarga, saudara, bahkan kerabat terdekat yang masih berada pada beberapa meja makan di ruangan VVIP. Termasuk kedua mempelai.
“Saya atas nama keluarga saya dan juga keluarga istri saya, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kalian semua yang sudah mau terlibat. Terima kasih telah membantu saya mendapatkan gadis ini,” ucap Haikal lantang sambil mengedipkan sebelah matanya lalu mengangkat segelas wine di tangannya. Sebagai tanda jika dia menutup semua rangkaian acara malam itu.
Satu per satu dari mereka mulai membubarkan diri, setelah sebelumnya berpamitan dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai sekali lagi. Bahkan ada di antaranya yang menggoda keduanya. Kini yang tersisa hanya keluarga inti saja.
“Ayah pulang dulu ya?” pamit ayah Clara, lalu mengecup kening anak perempuan, anak satu-satunya yang akan tetap menjadi gadis kecil di matanya.
Seketika Clara terlihat meneteskan air matanya, tetapi hanya sebentar. Karena sang ayah kembali mengusap air mata itu dan mendekapnya erat.
“Sudah, sekarang sudah punya suami, kenapa masih menangis?”
“Menangis gak ada hubungannya sama punya suami, Yah,” tegas Clara yang membuat ayahnya tertawa terbahak-bahak. Begitu pun dengan yang lainnya yang ikut menyaksikan, semuanya tertawa.
**
Haikal dan Clara sudah memasuki kamar pengantin mereka, yaitu kamar hotel yang menjadi tempat menginap keduanya di malam yang sebelumnya dan kamar itu adalah kamar yang Haikal tempati. Semua isinya telah ditata ulang dan dihiasi dengan beberapa benda khas kamar pengantin pada umumnya.
(Hiasan kamar pengantin dapat dilihat pada aplikasi instagram saya, dengan nama akun @bossytika, terima kasih.)
Kelopak bunga mawar bertebaran di segala sudut penting ruangan itu. Bahkan sepasang angsa yang terbuat dari handuk pun seakan ikut menjadi bagian dari semua yang ada di dalam kamar itu.
Tak lupa, salah satu sudut ruangan menyajikan sebuah meja makan yang juga lengkap dengan beberapa camilan dan hiasan lainnya yang di dominasi dengan warna merah. Cerah menyala.
“Aku ingin mandi,” ucap Clara begitu usai mengagumi hiasan kamar itu.
“Apa mau aku temani?” sahut Haikal spontan.
Clara langsung mendelik, merasa aneh dengan sahutan lelaki itu. Ya, lelaki, sepertinya dia melupakan jika mereka berdua sebenarnya sudah resmi menjadi suami-istri. Dan jika Haikal ingin menemaninya mandi, bukankah itu hal yang wajar? Tapi tidak menurut Clara.
“Ngapain nemenin? Kek anak kecil aja.” Clara melepaskan beberapa jepit hiasan rambutnya di depan cermin di dalam kamar mandi.
Mendengar sahutan Clara itu, mengundang Haikal untuk mendekat dan menggoda istrinya itu. Entah sejak kapan Haikal menjadi lelaki jahil seperti itu. Padahal sebelumnya, selalu dia yang menahan hasrat dan menghentikan Clara jika menggodanya.
Haikal memasuki kamar mandi yang pintunya memang masih terbuka, lalu mendekap tubuh Clara dari belakang. Menghirup aroma wangi tubuh istrinya sepuas-puasnya, hingga membuat Clara tersipu malu dan salah tingkah.
__ADS_1
“Apa mau aku bantu melepaskan zipper-nya?” tanya Haikal dengan tatapan dinginnya, sedingin kulkas dua pintu. *lol.
Clara hanya mengangguk pelan dengan pejaman matanya sekilas dan begitu pelan, macam slow motion di film action. *lol.
Keduanya terlihat sama-sama menahan napas saat jemari Haikal mulai menarik kepala zipper secara perlahan, takut merusak kain tile yang menjadi bahan dasar gaun yang Clara kenakan itu. Kedua mata Clara terus memerhatikan wajah Haikal pada pantulan cermin di depannya, sedangkan yang di tatap sibuk memandangi ke arah lain. Ke mana lagi kalau bukan ke punggung mulus Clara yang kini berada di depannya.
Dengan berani, Haikal mengarahkan jemarinya untuk membelai punggung putih sempurna itu. Terasa begitu lembut hingga dia merasa ingin melakukan hal yang lebih lagi. Sedangkan Clara sudah mulai memejamkan matanya begitu ujung jari itu menyentuhnya. Tidak lupa, kedua tangan Clara sudah berlipat, mendekap erat gaun itu agar tidak terjatuh melorot begitu saja.
Kedua mata Haikal terus saja menatapi punggung itu, tetapi begitu melihat reaksi yang Clara perlihatkan dari pantulan cermin, membuatnya dengan cepat mengecup punggung itu, berkali-kali sambil mencengkeram kedua lengan istrinya itu, agar tidak bergerak.
Tiba-tiba mulut Clara melepaskan lenguhan pertama yang didengar oleh telinga Haikal, yang kembali memacunya untuk melakukan kecupan di segala sisi punggung itu. Hingga akhirnya Clara berucap disela lenguhan itu, “Stop! Biarkan aku mandi dulu.” Clara membuka matanya dengan napas sedikit tersengal, sambil menatap mata suaminya yang terlihat sudah tidak tahan lagi.
Sedangkan Haikal, lelaki itu benar-benar tersengal kuat, seperti baru saja melakukan marathon 100 kilometer. Benar-benar menggebu dengan napas yang terputus-putus, itu terlihat dari kedua pundaknya yang bergerak naik-turun seirama walaupun terlihat tipis di mata Clara. Tetapi suara embusan napasnya tidak bisa mendustai telinga Clara yang dapat mendengar dengan begitu jelas.
“Izinkan aku bersiap terlebih dahulu.” Clara seakan paham bahwa suaminya saat ini sedang menuntut hak pertamanya sebagai pemilik dirinya kini. Dia ingin semuanya yang pertama menjadi yang paling spesial walaupun dia menyadari, jika Haikal memang bukan cinta pertamanya.
Setelah adu pandangan yang lumayan lama terjadi itu, Haikal akhirnya mengalah saat napasnya sudah kembali terdengar normal di telinga Clara. Cengkeramannya di lengan Clara juga sudah mulai melembut, tidak seperti tadi, erat tetapi tidak menyakiti.
Pada awalnya, Haikal berniat masuk ke dalam kamar mandi hanya untuk menggoda istrinya itu, tetapi tidak disangka, malah dirinya sendiri yang tergoda dan terlihat tidak bisa menahan diri.
“Aku tunggu kamu di luar, kapan pun kamu siap.” Haikal melangkah keluar dari kamar mandi setelah mengembangkan senyuman hangatnya pada seorang gadis yang saat ini telah berhasil dia jaga dan dia miliki.
Clara langsung menutup pintu kamar mandi dan menempelkan keningnya di sana sambil memejamkan mata. Dia merasa gugup saat ini, jantungnya berdetak cepat bahkan kini tangannya sudah berada pada dadanya, untuk ikut merasakan degupan itu.
Cukup lama Clara menghabiskan waktu di dalam kamar mandi, hingga membuat Haikal mulai sedikit cemas. Bukan, bukan cemas tetapi tidak sabar. Ya, lelaki itu sudah tidak sabar untuk melakukan semuanya setelah bertahun-tahun dia sendiri hingga akhirnya dapat menemukan Clara. Dan bodohnya, dia menunggu berbulan-bulan lebih untuk hari ini. Ini bukan perkara mudah baginya yang menjadi seorang dokter, di mana setiap hari melihat beberapa bagian tubuh pasiennya.
Haikal sudah melepaskan dasi yang mengikat lehernya lumayan kencang seharian ini. Jas untuk perayaan resepsi tadi juga sudah menyangkut pada badan sebuah kursi. Kini dia melepaskan kancing lengan kemejanya dan menyingsing hingga mencapai siku. Dan di saat itulah Clara keluar dari kamar mandinya, membuat Haikal menoleh, lagi-lagi dengan gerakan slow motion. *lol
Clara keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi dan gelungan handuk di atas kepalanya. Wajahnya masih tetap sama, cantik di mata Haikal. Entah itu menggunakan riasan ataupun natural seperti sekarang. Hingga mampu membuatnya menelan saliva dengan susah payah.
Haikal merasakan hatinya yang bergejolak, jiwanya yang meronta, begitu melihat istrinya seperti itu di depan sana. Belum pernah dia melihat seorang wanita yang seperti Clara. Walaupun dia sendiri sering melihat tubuh orang lain yang menjadi pasiennya di rumah sakit. Tetapi, dia tidak bisa mendustai perasaannya ... baru kali ini dia merasakan semua ini.
Perlahan Haikal melangkahkan kakinya mendekati sang istri, sedangkan si istri langsung menundukan kepalanya, mungkin malu, karena baginya, ini adalah yang pertama kalinya berada dalam sebuah kamar dengan lawan jenis, berpakaian jubah mandi seperti ini.
“Aku juga akan mandi, biar adil.” Haikal berbisik di depan Clara yang masih menundukan wajah, mematung berdiri.
Begitu Haikal memasuki kamar mandi dan menutup pintunya, barulah Clara mengembuskan napasnya. Cepat-cepat dia segera melangkah menuju lemari. Dia mengingat ucapan Tika, adik iparnya, jika Tika sudah menyiapkan beberapa pakaian untuknya tidur malam ini dan beberapa perlengkapan lainnya di sana.
Namun, begitu dia membuka lemari berapa terkejutnya dengan apa yang dilihatnya. Adik iparnya itu menyiapkan beberapa pasang lingerie dengan warna yang berbeda-beda. Dengan cepat dia melangkah ke arah meja rias dan mengambil poselnya yang tergeletak di sana, beserta dengan ponsel suaminya dan perlengkapan lainnya.
Clara menekan sebuah nomer, lalu menempelkan benda elektronik itu ke telinganya, sambil kembali melangkah ke depan pintu lemari dan memandangi isinya. “Hallo, Tika?! Ini kenapa baju tidur beginian? Gak ada yang lebih warasan apa?”
Di seberang telepon, Tika nampak melipat kedua bibirnya menahan tawa, dia merasa senang bisa mengerjai kakak ipar barunya itu lalu berkata, “Setelah menikah, jenis baju tidurnya memang seperti itu, bahkan bisa juga gak pake sama sekali. Jadi kamu tinggal pilih, mau pakai itu atau polosan aja. Oh iya, buat baju pulang, ada aku sisipkan satu set di dalam laci di bawahnya. Selamat menikmati.” Tika memutuskan sambungan teleponnya lalu tertawa dan ternyata Tika sedang berkumpul di rumah orang tuanya, lalu memutuskan untuk menginap di sana, menemani mamahnya beserta Max dan juga Shilla.
__ADS_1
Sedangkan di kamar hotel, Clara akhirnya pasrah, menarik satu set baju tidur berwarna maroon lalu mengenakannya dan melemparkan jubahnya ke atas sebuah meja kecil di samping lemari. Kemudian melangkah cepat untuk menyingkirkan sepasang handuk angsa dan juga seperangkat wine yang tersaji di atas tempat tidurnya.
Setelah itu Clara juga cepat-cepat melepaskan selembar handuk yang membungkus rambut di atas kepalanya lalu melemparkannya ke sebuah kursi, yang mana di kursi itu sudah ada sebuah jas suaminya yang tergantung. Kemudian berlari memasuki selimutnya di atas tempat tidur.
Clara menarik selimut itu hingga menutupi seluruh tubuhnya dan menyisakan bagian kepalanya saja, lalu tiba-tiba pikirannya melayang begitu saja. Memikirkan hal yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan, bahkan tidak berani untuk membayangkannya.
Di saat Clara sedang mengembuskan napas dan memejamkan matanya, suara pintu kamar mandi yang terbuka membuatnya menoleh dan menemukan sosok lelaki di sana. Keluar dengan mengenakan selembar handuk yang membelit di pinggangnya dan kedua tangan yang terangkat sedang menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.
Melihat pemandangan itu, sontak membuat Clara terkejut lalu segera membalikkan tubuhnya menyamping dengan detak jantungnya yang semakin berpacu kencang. Degupan jantungnya itu mampu membuat napasnya kembali memburu. Clara membulatkan matanya sejak beberapa saat lalu, tidak menyangka akan melihat kembali tubuh atletis lelaki yang beberapa bulan lalu menjadi kekasihnya.
Berbeda dengan Haikal yang tersenyum tipis menanggapi reaksi tidak biasa dari pujaan hatinya itu. “Sayang?” panggil Haikal dengan lembut, tetapi tidak menggoda.
“Hm?!” Clara hanya menjawabnya dengan sekali dehaman, sambil masih terus menggerakkan matanya ke sana-kemari, dengan pemikiran yang bertambah liar.
'Bodoh! Apa yang aku pikirkan? Sangat kotor!' Clara merutuki dirinya sendiri dalam hati.
“Aku mau teh hangat,” ucap Haikal pelan.
“Bukannya kamu bisa bikin sendiri?” jawab Clara heran. Dia merasa bingung dengan permintaan suaminya itu, tengah malam seperti ini meminta dibuatkan secangkir teh, mengapa tidak langsung tidur saja?
“Aku ini sekarang suami kamu, masa kamu—”
“Iya iya, aku bikinkan.” Clara tidak bisa mendengar jika alasannya menyinggung tugasnya sebagai istri. Dia langsung menyibak selimutnya lalu memasukan kakinya pada sendal dan berjalan menuju mini bar. Di sana sudah tersedia lengkap beberapa alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat teh, kopi atau bahkan cokelat panas, lengkap dengan teko listriknya.
Clara melupakan pakaian yang ia kenakan saat ini dan terus menuangkan air ke dalam teko lalu menyalakan pengaturan tekonya, agar segera mendidihkan air di dalamnya. Kemudian jemarinya kembali menyiapkan bahan yang ia perlukan untuk membuat secangkir teh hangat pertama yang akan diminum oleh suaminya.
Haikal terkejut melihat pemandangan itu, kali ini dia sampai menganga melihat sang istri dengan pakaian yang membungkus kulit mulusnya itu. Lagi-lagi dia yang merasa kalah, berniat ingin menggoda malah dia yang tergoda. Imannya sungguh lemah jika berhadapan dengan wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.
Perlahan Haikal menelan salivanya, menurunkan tangannya yang sempat membeku beberapa detik tadi, lalu melemparkan handuk basah pengering rambutnya ke atas tempat tidur. Kakinya melangkah bergerak menuju di mana Clara berdiri dan saat wanita itu hendak menuangkan air pada teko ke dalam cangkir, Haikal mencegahnya.
Clara terkejut, entah terkejut karena aktivitasnya di hentikan atau terkejut dengan Haikal yang kini berada di belakangnya sembari melingkarkan sebelah tangannya pada perut ratanya. Yang jelas detak jantungnya yang semula santai, kembali berdegup kencang, lalu kembali menelan salivanya.
Jemari Haikal langsung mengambil alih teko dan meletakkannya, mencabut kabel listrik yang menancap lalu meraih tangan wanitanya itu, membawanya untuk mendekap tubuhnya sendiri. Dari belakang tubuh Clara, dia kembali dapat menghirup wangi rambut istrinya lalu dia menyibakan rambut itu ke salah satu pundak Clara dan dengan cepat menempelkan dagunya di sisi sebelahnya lagi.
“Ssstt, teh hangatnya bisa menunggu, sedangkan aku yang kedinginan tidak bisa menunggu,” desis Haikal tepat di telinga Clara saat wanita itu hendak bergerak menyingkir.
Bibir Haikal mulai dengan perlahan mengelus telinga Clara, mengecup pelan lalu turun ke lehernya sambil menghirup aroma tubuh wanitanya, yang mana gerakan itu membuat Clara merinding kegelian. Tubuhnya bergetar dalam dekapan lelaki yang kini resmi menjadi suaminya, membuat matanya seketika terkatup sempurna.
Clara sudah tidak bisa menghindar lagi, dia sudah terjebak dalam dekapan Haikal. Terjebak dalam kelemahan dan kelembutan hati seorang lelaki yang menjaganya dan menikmatinya hingga waktu yang tepat. Membuatnya merasa menjadi wanita yang paling bahagia di muka bumi ini. Menjadi wanita yang paling pantas untuk menghasilkan keturunan dari lelaki yang kini selalu hadir dalam setiap embusan napasnya.
Tidak hanya sampai di sana, Haikal menggiring Clara yang masih dengan erat dia dekap untuk melangkah menuju tempat tidur. Tempat di mana hangat dan dingin bercampur menjadi satu. Tempat di mana tawa dan tangis melebur bersama. Tempat di mana semua kisah akan segera di mulai dan di akhiri di sana. Tempat yang selalu menjadi sebuah saksi dari cinta kasih mereka berdua yang membara.
Bersambung ...
__ADS_1