Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 69


__ADS_3

Still Jefri POV.


Aku duduk di kursi santai pinggir kolam, menikmati rokokku hingga beberapa batang.


Tiba-tiba Tika muncul diambang pintu kaca yang membatasi antara ruang dalam rumah dengan kolam renang. Dengan berbalut sprei yang menutupi tubuhnya, ia berjalan perlaham mendekatiku. Sebagian kain sprei menyapu pada lantai. Kemudian duduk di pangkuanku.


"Gak bisa tidur?" tanyanya sambil bergelanyutan padaku.


Aku hanya mengangguk tersenyum padanya lalu membuang asap rokok yang ku hirup ke arah yang berlawanan padanya. Tika menenggelamkan wajahnya di dada polosku saat aku mematikan putung rokok yang belum selesai itu pada asbak.


"Dana yang nelpon setelah kamu tadi sore. Trus udah selama dua hari ini, setiap pagi dia ngirimin hadiah." Tika mulai menceritakan apa yang terjadi padanya.


"Trus dia bilang apa?"


Tika terlihat sedang berpikir, mungkin memilih kata untuk menyampaikannya padaku. Aku menunggu jawabannya sambil terus mendekapnya. Tika menghembuskan napasnya dengan berat. Memulai ceritanya lagi secara detail.


Sekarang aku mengerti, mengapa Tika sampai bersikap seperti tadi. Wanita mana yang tidak takut jika diperlakukan seperti itu. Ditelepon dengan menggunakan private number, lalu memberikan hadiah-hadiah bermerk bernilai tinggi, setelah itu dengan gampangnya mengatakan secara detail pakaian yang dikenakan saat itu lalu berkata tidak senonoh.


Aku mengecup kening Tika, berlama-lama hingga aku dapat merasakan kedua tangannya yang semakin erat memelukku.


"Udah, jangan dipikirin. Aku gak mau ini berpengaruh sama kondisi anak kita. Kandungan kamu masih terlalu muda." Ku ingatkan kembali padanya yang sedang mengandung.


Kami saling mendekap erat, kemudian dia mengajakku untuk kembali ke kamar, menemaninya tidur. Baru saja dia bergerak melepas rangkulannya dari leherku, dengan jahil aku kembali memeluknya. Kali ini aku yang membenamkan wajahku di dadanya. Lama.


Tika mengelus belakang kepalaku, mengusap lembut sela-sela rambutku. Lalu dengan gemasnya, aku berdiri sambil mengangkat tubuhnya, kemudian membawanya kembali ke kamar, menaiki tangga dengan perlahan.


------------------------


Lisa POV.


Aku kembali ke rumahku setelah selesai sarapan dengan Tika dan Jefri di rumahnya, sebelum mereka berangkat ke kantor masing-masing. Aku memarkirkan mobil di halaman samping rumah kemudian turun dan segera masuk ke dalam rumah, menuju kamar tidur.


Mengunci kembali pintu rumah lalu segera masuk ke kamar, menghempaskan tubuhku di tengah ranjang. Menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Aku mencoba untuk memejamkan mataku kembali, beristirahat.


***


Sayup-sayup aku mendengar suara nada dering ponselku.


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?

__ADS_1


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you ...


🎶


Aku menggeliatkan tubuhku, meregangkan otot-otot. Dengan setengah kesadaran aku menyipitkan sebelah mataku, mencoba melihat sekeliling, mencari letak tasku.


Dengan susah payah aku mencoba beranjak dari ranjangku yang nyaman ini. Mencoba mengambil tas dan merogoh isinya, namun aku yidak menemukan ponselku di dalam sana. Mataku kembali kini sengaja aku bukakan keduanya, untuk mencari letak ponsel itu.


Ternyata ponsel itu berada di atas meja rias, sepaket dengan kunci mobil. Dengan sempoyongan aku berjalan untuk mengambilnya, mengarah ke meja rias. Belum sampai, tersisa beberapa langkah lagi, nada deringnya lenyap. Serasa seakan sia-sia aku berdiri untuk segera mengangkatnya.


Tetap aku mengambil ponsel itu lalu membawanya bersamaku kembali ke ranjang, kembali merebahkan diri sambil melihat siapa yang menelpon barusan. Tidak disangka ternyata gang menelpon ku adalah Dana.


Aku langsung membelalakkan mataku. Rasa kantuk yang tadinya masih merajalela, kini dalam sekejap menghilang. Aku langsung merasa panik. Apa yang harus aku katakan nanti jika ia menelpon kembali dan menanyakan sesuatu tentang Tika lagi.


Kutinggalkan ponsel itu di atas ranjang lalu aku beranjak pergi ke kamar mandi. Baru setengah perjalanan, ponsel itu kembali berdering. Dengan sigap bercampur rasa gugup aku kembali meraih ponsel itu lalu mengangkat sambungan teleponnya.


"Ha-hallo?" sapaku.


Benar saja yang menelpon kali ini masih Dana. Dia langsung menanyakan alamat rumah Tika padaku. Dengan berbelit aku mengatakan, bahwa aku tidak memgetahui dimana alamatnya sekarang. Dana terdengar marah dan membentakku, namun sekali lagi aku juga memiliki jawaban yang masuk akal untuknya.


Kukatakan saja bahwa aku baru sampai di kota ini, sedangkan Tika pindah rumah di saat aku terlalu lama berliburan. Aku juga mengatakan bahwa aku belum menghubungi Tika.


Tanpa basa-basi lagi, Dana langsung mematikan sambungan telepon. Aku menghirup napas lega. Kini aku memiliki sebuah alasan kuat untuk tidak memberikan informasi apa-apa lagi tentang Tika pada Dana. Dan seharusnya seperti itulah aku bersikap sejak minggu lalu.


***


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you ...


🎶


Dengan tergesa-gesa aku melilitkan handuk pada tubuhku kemudian setengah berlari, meraih ponsel yang aku tinggalkan tergeletak di atas ranjang.


Alex calling.


Tanganku gemetar, tubuhku seakan membeku. Aku tidak berani mengangkat sambungan telepon itu. Sepersekian detik berikutnya aku melemahkan tubuhku, duduk di atas ranjang sambil tersandar pada sandaran kepala ranjang. Menatap layar ponsel terus-menerus hingga nada dering dari panggilan itu kembali senyap.


Rasa bersalahku kembali muncul.

__ADS_1


Perlahan kedua sudut mataku memunculkan bulir airmata yang semakin lama semakin membanyak, hingga akhirnya menetes membasahi kedua pipiku. Kulepaskan ponsel itu, lalu dengan cepat aku langsung menutupi wajahku menggunakan kedua telapak tanganku. Aku menangis tersedu.


Aku baru menyadari atas keegoisanku itu. Hanya demi melupakan rasa kesalku pada Alex, aku sampai tega menghianatinya rasa cintanya lalu membiarkan tubuhku dinikmati oleh pria lain. Kemudian karena tergiur akan harta kekayaannya, aku menjadi kembali gelap mata.


Menikmati hubungan tanpa status apapun dengan bebas demi sebuah materi.


Aku kembali merutuki kebodohanku. Kesalahan yang aku perbuat sungguh tidak bisa dimaafkan oleh orang-orang yang telah aku khianati.


Dahulu aku memang sering melakukan 'one night stand' saat berada di luar negeri. Bukan tanpa alasan, aku melakukan itu karena aku merasa kesepian dan aku melakukannya dengan menggunakan pengaman. Hanya saja itu tanpa didasari oleh apapun, hanya nafsu semata karena alkohol yang aku minum hingga mabuk.


Namun yang kemarin aku lakukan?


Tanpa aku sadari, aku tiba-tiba kembali mengingat perlakuan baik dari lelaki itu, lelaki yang menemaniku selama di Bali. Aku juga masih dapat mengingatnya dengan begitu jelas, bagaimana perlakuannya padaku selama permainan berlangsung. Bergelut dan saling menindih di atas ranjang.


Menikmati sentuhan demi sentuhan dan segalanya. Namum seketika itu pula aku kembali merasa jijik. Merasa kotor. Ya, tubuhku terlalu kotor, tidak pantas rasanya jika seorang Alex menjadikanku sebagai tambatan hatinya, sebagai teman hidupnya menuju hari tua.


Aku langsung beranjak dari ranjang, berlari kecil menuju kamar mandi, lalu kembali membasahi tubuhku. Berjam-jam aku menangisi kebodohanku di bawah air shower. Meratapi bagaimana kehidupanku selanjutnya.


--------------------


Tika POV.


Pagi ini aku membuka mataku dengan semangat yang baru. Aku merasa plong sudah menceritakan apa yang telah aku alami kemarin pada suamiku. Dan benar katanya, aku harus kuat demi kandunganku, demi anak kami.


Aku pandangi wajah Jefri di balik sinar mentari pagi yang terselip masuk melalui celah gorden kamar kami. Dengan perlahan tanganku menyentuh dada bidangnya yang sedang berbaring terlentang. Baru saja aku berniat menjahilinya, seketika tangan Jefri menangkap tanganku, membuat aku terkaget setengah mati. Dia langsung membuka matanya lalu menatapku. Tersenyum manis.


"Hayo mau ngapain?" tegurnya.


Aku terkekeh geli. Jefri langsung menyampingkan tubuhnya lalu mengecup keningku. Membelit pinggangku dengan tangannya sambil mengelus di sana.


Kami beradu pandang. Aku memajukan tubuhku untuk sekedar mengecup bibirnya. Kemudian tangannya menahan tubuhku agar tidak melepaskan kecupan itu. Lidahnya menyelip masuk, aku sempat terkekeh lalu kembali menikmati permainannya.


***


Seperti biasanya, pagi ini Jefri kembali mengantarku untuk bekerja. Kami berdua juga sudah mendiskusikan bahwa kami sepakat, aku harus masih bertahan di kantor itu beberapa saat agar Jefri juga bisa sambil menyelidiki tentang Dana.


"Trus rencana liburan kita gimana?" tanyaku saat di perjalanan menuju kantorku.


Jefri terlihat berpikir, ia memang sedang merencanakan liburan kami selama tiga hari. Tepatnya setelah ia resmi resign dari kantornga sekarang. Sebelum ia masuk dan memimpin perusahaan papanya.


"Nanti aku pikirin lagi gimana caranya kamu biar dapet izin dari bos kamu." Jefri memandangku kilas kemudian kembali fokus pada setir mobilnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2