
Clara POV.
Hari ini hari Sabtu. Pagi ini aku bangun dengan penuh semangat, lebih semangat dari pagi-pagi sebelumnya. Mungkin karena telepon tadi malam, entahlah aku tidak tahu. Perasaan ini muncul begitu saja, selama di kamar mandipun, aku terus saja bersenandung. Menyanyikan lagu Love Story dari Taylor Swift.
Romeo, take me somewhere we can be alone
I'll be waiting, all there's left to do is run
You'll be the prince and I'll be the princess
It's a love story baby just say "Yes"
Aku terus saja bersenandung menyanyikan lagu-lagu lainnya yang sering aku dengar. Lalu bersiap turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama ayah dan bunda. Ya, walaupun hari libur, kami tetap berusaha untuk sarapan bersama sebab ini kewajiban menurut keluargaku.
"Waduh anak ayah kayaknya lagi seneng ini," sapa ayah padaku.
Aku hanya tersenyum sumringah sambil menarik kursiku lalu duduk dan menerima piring dari bunda. Seperti biasanya kami makan sambil membicarakan hal-hal ringan. Pagi ini bunda dan ayah membahas tentang salah satu sistem bank yang beberapa hari lalu sempat bermasalah. Aku hanya mendengarkan.
Saat aku sedang asik mengunyah suapan makanan terakhirku, bunda tiba-tiba menanyakan kembali tentang siapa lelaki yang tidak sengaja bertemu denganku kemarin di depan kantornya.
"Bunda, nanya itu mulu ih! Kan udah aku bilang cuman temen." sanggahku manja.
"Loh, kan bunda cuman nanya aja, kok sewot."
Seketika ayah langsung tertawa diiringi dengan tawa bunda, mereka menggodaku!
"Trus kenapa pagi ini anak ayah sama bunda keliatan ceria?"
"Biasa aja, Yah! Oh iya, nanti siang aku pinjem mobil boleh, Yah?" tanyaku penuh harap.
Ayah mengizinkanku untuk memakai mobilnya dengan satu syarat, yaitu mengisi bahan bakarnya. Aku tertawa mendengar persyaratan itu, seperti anak remaja saja.
***
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, aku selesai bersiap untuk pergi. Aku segera turun ke lantai bawah sambil mencari keberadaan ayah dan bunda, ternyata mereka sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.
"Yah, mana kuncinya?" tanyaku dengan menampilkan wajah yang sengaja aku imut-imutkan.
"Oh, jadi kamu mau jalan?" Tangan ayah sambil menunjuk meja televisi dan aku segera mengarahkan pandanganku ke sana, lalu menemukan kunci mobilnya yang tergeletak.
"Jadi dong! Tapi bentar aja, soalnya nanti malam mau jalan lagi. Aku berangkat ya?" Aku meminta izin sambil mengecup pipi ayah dan bunda secara bergantian.
Aku melangkah dengan senang menuju mobil, masuk lalu memanaskan mesinnya sebentar, menyalakan audio lalu memilih lagu yang bertempo musik pop yang menyenangkan. Cocok dengan suasana hatiku saat ini.
Sambil ikut menyanyikan lagu She Will Be Loved dari Maroon 5 yang sengaja kupilih, aku memundurkan mobil dengan perlahan, lalu menginjakkan pedal gas melaju menuju ke tempat tujuanku.
Di perjalanan tiba-tiba saja aku memikirkan lelaki tampan yang sudah merebut sebagian isi otakku ini, siapa lagi jika bukan Dokter Haikal. Aku tertawa geli jika mengingat bagaimana awal pertemuan kami. Aku terlalu ceroboh dan dia sangat kaku, terlalu dingin juga, cool. Tapi aku tidak menyangka jika akan begini. Dia yang mengajakku untuk makan malam.
Tanpa terasa aku telah sampai di suatu pusat perbelanjaan terdekat dari rumahku. Aku memarkir mobil ini dengan hati-hati, lalu aku matikan mesin mobilnya. Saat hendak turun, tiba-tiba aku menjadi bimbang, kututup kembali pintu mobil yang tadinya sempat kubuka. Aku kembali berpikir dan memantapkan hati.
Aku menghela napas sambil berpikir, lalu kembali membuka pintu mobil dan keluar, beranjak untuk memasuki mall ini menuju ke tempat yang ingin sekali kudatangi saat ini, yaitu salon.
Baru saja aku melangkahkan kaki memasuki tempat perawatan untuk memanjakan diri ini, seorang karyawan wanita sudah menghampiriku. Menawarkan beberapa paket peremajaan tubuh, aku hanya mesam-mesem menanggapi tawaran itu. Dan jujur saja, ini pertama kalinya aku pergi ke salon!
Dia tersenyum simpul lalu mengangguk, kemudian membawaku untuk segera membersihkan rambutku terlebih dahulu. Semua proses dilakukan dengan sangat cekatan dan aku benar-benar melihat keahlian tangan terampil karyawan wanita itu. Dia juga membantuku untuk berdandan sesederhana mungkin.
"Gimana, Mba? Suka?" tanya karyawan wanita itu padaku saat pekerjaannya selesai. Aku menyentuh rambutku berkali-kali sambil bercermin, melihat hasil dari tangannya yang membuatku semakin fresh dan cantik. Aku mengangguk sambil meliriknya dari pantulan cermin di hadapan kami, sebagai tanda menyukai hasilnya. Kemudian aku selesaikan pembayaran untuk perawatanku di salon itu dan bergegas pergi dari sana.
"Aku perlu membeli dress," gumamku disela pemandangan mata yang sedang mencari toko yang menjual dress formal.
Ya, Haikal sudah memberitahukanku, bahwa malam ini kami berdua akan makan malam di restoran ternama. Tempat di mana cara penyajian makanannya sesuai dengan aturan makan malam ala bangsa barat. Oleh karena itu, aku juga harus menggunakan pakaian yang formal, seperti dress atau gaun.
Kutemukan sebuah toko yang memamerkan beberapa pakaian yang aku maksudkan, aku memasuki toko. Banyak gaun dan dress cantik yang terpampang di beberapa manekin di dalam toko. Membuat aku terperangah melihatnya, namun ada satu dress yang menarik perhatianku setelah beberapa detik aku memasuki toko itu, berkeliling melihat-lihat.
Sebuah dress di atas lutut, berwarna biru dongker dengan kain satin yang berpadu dengan kain brukat yang dilapisi beberapa payet di bagian tertentu, semakin membuat dress itu terlihat anggun. Bagian kerah sanghai-nya semakin bisa mempertegas jenjang leher yang memakainya. Kemudian di bagian pinggang terdapat seutas ikatan dari kain satin yang menjadi pembatas dress itu agar bagian roknya terlihat lebih elegan. Aku menyukainya, sangat!
__ADS_1
Aku segera memanggil pramuniaga toko itu untuk menanyakan, apakah dress itu bisa dicoba terlebih dahulu atau tidak. Kemudian dengan ramah ia mempersilakanku untuk mencobanya di fitting room.
Aku mencobanya, aku terpesona melihat pantulan bayangan diriku sendiri dari cermin. Dress itu terlihat sangat pas dan cocok di tubuhku. Lengan panjang dari brukatnya membuat kulitku semakin bersinar. Potongan bagian dadanya pun membuat tubuhku semakin seksi. Aku sungguh menyukai dress ini, aku jatuh hati.
'Gimana tanggepan Haikal kalo ngeliat penampilan gua gini malam ini ya?' batinku.
Setelah selesai mencoba dress itu, akhirnya aku langsung memutuskan untuk membelinya. Dengan terus tersenyum aku keluar dari toko itu, siap dengan sebuah paperbag dari dress tadi. Saking girangnya aku berjalan sambil melirik jam tanganku, tiba-tiba aku tertabrak sesuatu.
Bruuk!!!
Lalu aku terjatuh, terjerembab. Secepat kilat aku menoleh ke atas, menengadahkan kepalaku untuk melihat apa yang telah aku tabrak tadi. Ternyata seorang wanita muda seumuranku. Dia juga hampir terjatuh, untungnya seorang lelaki yang menemaninya menolongnya hingga ia tidak sempat untuk merasakan bokong yang sakit sepertiku.
'Tunggu, tunggu dulu! Aku seperti mengenali wajah lelaki itu,' batinku.
"Maaf, aku gak liat!! Maaf ya?" Wanita itu langsung menyodorkan tangannya untuk membantuku berdiri.
Aku segera meraih tangannya untuk berdiri dan memungut paperbag yang sempat terlepas dari tanganku tadi. Lalu aku tetap memandang lelaki itu sambil terus mengenalinya. Sampai akhirnya aku mengingatnya. Ya, dia adalah seorang pemilik perusahaan yang beberapa hari lalu datang ke kantorku untuk mengurus perpanjangan kerjasamanya asuransi karyawan di perusahaannya.
"Pak Max?" pekikku.
Lelaki itu menganga. Sepersekian detik kemudian ia tersenyum begitupun dengan wanita yang bertabrakkan denganku tadi. Pak Max langsung menjelaskan siapa aku kepada wanita itu, lalu dia mengenalkanku, mengatakan bahwa wanita itu adalah istrinya.
Setelah berbincang-bincang sebentar, aku segera berpamitan untuk undur diri sebab ada acara yang perlu aku persiapkan lagi.
Bersambung ...
-------------------------
Hallo lohha 🤭
Jangan lupa untuk like, komen dan vote poin untuk judul ini yaa, itu pun jika berkenan 😌
Jika tidak, cukup dibaca saja berulang kali 😜
__ADS_1
Babay!!
#salambucin💋