
Happy fasting ...
And happy reading ...
—————
Jefri POV.
Aku sedang asyik menggendong anak perempuan kami, di saat Tika sedang memberikan asi pada anak laki-laki kami.
"Kenapa ditutupin begitu sih? Ntar kalo dia susah napas gimana?" protesku asal. Tika hanya mendelik padaku, kemudian ia kembali memerhatikan anak itu.
"Kenapa harus ditutupin?" tanyaku lagi.
"Biar kamu gak kepingin!" tegasnya tanpa menoleh dan menatapku sedikit pun. Aku hanya tertawa pelan sambil cengar-cengir.
Tokk tokk tokk!
Suara pintu kamar kami diketuk. Aku perlahan berjalan ke arah pintu, kemudian meraih kenop pintunya dengan menggunakan sebelah tanganku.
"Eh, mamah. Ada apa, Mah?"
"Ini, sussu buat Tika. Ooh, masuk aja, Mah." Aku mempersilakan mamah masuk langsung, mendatangi Tika yang juga masih belum tidur.
Setelah mamah memberikan sussu itu pada Tika dan mengecup cucu laki-lakinya, kini giliran cucu perempuannya yang mendapatkan ciuman selamat malam dari oma-nya. Aku tersenyum melihat beliau seperti itu. Kemudian beliau menepuk-nepuk pundakku dan segera kembali keluar kamar. Pergi berlalu menuju kamar beliau di samping kamar inii.
Aku menutup kembali pintu kamar lalu berjalan mendekati Tika yang sudah selesai memberikan asi-nya, kemudian Tika meletakkan bayi laki-laki kami di tengah tempat tidur dan aku memberikan bayi perempuan kami kepadanya.
Tika mendekatkan jarinya ke bibir bayinya terlihat bibirnya begerak, yang artinya dia kehausan. Lalu Tika kembali membelikan asi-nya lagi. Dan aku mengambil posisi untuk rebahan di samping bayi laki-laki kami itu. Sambil terus menatapnya. Menatap Tika yang telaten mengurusi kedua bayi kembar ini, anak kami.
"Sayang?" panggilku. Tika hanya menjawab dengan dehaman tanpa menoleh melihatku.
"Makasih ya, kamu mau bertahan," ucapku lagi yang sontak membuatnya menoleh padaku.
Tika tersenyum, lalu memajukan wajahnya, meraih pipiku lalu mengecup bibirku. "Aku yang makasih."
Malam itu kami lalui dengan penuh cinta dan tentunya terberat. Sebab secara tiba-tiba kedua anak kami menangis pada tengah malam beberapa kali. Hingga membuatku terpaksa bangun untuk menepuk-nepuknya, menimangnya selama yang satunya sedang mendapatkan asi dari bundanya.
Ya, sepertinya aku menginginkan mereka berdua untuk memanggilku ayah dan memanggil Tika dengan sebutan bunda.
Aku juga melihat mata Tika yang sambil terpejam masih dengan sabar melayani kedua anak kami. Dan entah mengapa saat melihat itu membuat hatiku terenyuh. Dan untungnya dia juga terlihat seakan melupakan tentang masalah Dana yang meneror hingga ke rumah kami.
Ya, aku juga yakin jika itu perbuatan Dana. Sebab tidak ada orang lain yang sampai sebegitu terobsesinya pada Tika. Hingga berani mengirimkan berbagai macam benda, hanya untuk sekedar dianggap ada kehadirannya.
Tiba-tiba aku teringat akan perkataan Max, yang menceritakan tentang Dana yang memiliki penyakit mental layaknya seorang psikopat. Dan jika kembali mengingat semua itu, cukup membuat bulu kudukku berdiri.
Tidak hanya malam itu, malam-malam berikutnya pun kami lalui dengan kegiatan yang sama. Mengurusi si bayi kembar dengan penuh kasih sayang dan cinta. Bahkan Tika dengan cepat bisa mengingat apa saja yang diajari oleh mamah dan juga Shilla.
Sebab Shilla dan mamah juga membantu Tika mengurusi si kembar pada siang hari. Jika aku tidak ada di rumah. Sedang bekerja pergi ke kantor. Seperti hari ini, saat aku pulang untuk melakukan istirahat siang. Aku mendapati Tika yang tertidur pulas di kamarnya.
Sedangkan kedua anak kami sedang di bawah di dalam kamar Max, bersama mamah dan juga Shilla. Terkadang Tika juga bangun di tengah malam bahkan di setiap jam, hanya untuk melakukan pumping. Pasti sangat lelah menjadi seorang ibu di masa seperti ini.
Tapi tidak pernah sedikit pun aku melihatnya mengeluh atau mengatakan letih padaku. Tika menjalani semuanya dengan penuh kebahagiaan yang memang sejak lama ia impikan. Ya, menjalani proses ini memang merupakan impiannya.
"Sayang ... bangun," ucapku sambil mengelus pipinya lalu mengelus perutnya.
Tidak butuh lama untuk membangunkan istriku ini, dia segera mengerjabkan kedua matanya berkali-kali. Kemudian menoleh padaku. "Aku berangkat kerja dulu."
"Loh, kamu udah sarapan?" tanyanya seraya bangkit dari tidurnya untuk segera duduk lalu berdiri bersamaku.
Aku mengusap keningnya sekaligus mengusap puncak kepalanya dengan lembut. "Udah, aku udah sarapan. Nanti biar aku minta bi Mince buat bawain sarapan kamu ke kamar."
"Gak usah, biar aku aja yang ke bawah."
"Ya udah." Aku mengecup keningnya.
"Jangan lupa beli baby monitor ya?" pesannya padaku. Aku hanya mengangguk lalu meraih dagunya, mengangkat wajahnya untuk mengecup bibirnya.
Namun entah mengapa, pagi ini aku merasakan hal yang berbeda. Sudah lama aku tidak mececapnya. Kuselipkan sebentar lidahku untuk menyesap nikmatnya bibir ranumnya. Yang di balas dengan pukulan kecil di dadaku. Aku tekekeh geli.
"Sisa berapa hari lagi?" Aku merangkul pinggangnya, menempelkannya pada tubuhku.
"Apaan sih?"
Aku hujani wajahnya dengan kecupan-kecupan singkat hingga dia tiba-tiba melenguh dan meloloskan desahannya. "Tuh kan kamu aja kepingin. Jadi sisa berapa lama lagi aku mesti nahan?"
"Mana aku ngitungin," lirihnya.
Sejenak aku berpikir untuk menghitung sudah berapa jumlah hari yang kami lalui. Pasca dia melahirkan buah hati kami.
"Memang kamu kepingin?" tanyanya polos.
"Ya iya lah, masa gak kepingin."
"Tapi mereka belum gede loh."
Aku tertawa kencang, tidak sadar yang kemudian telapak tangan Tika segera membungkam mulutku. Aku menariknya perlahan dengan tawaku yang mereda. "Kan bisa gak usah bikin anak."
Seketika raut wajah Tika bersemu, merah merona. Yang kemudian ia sembunyikan dalam dadaku. Aku mengecup puncak kepalanya.
__ADS_1
"Udah sana kerja, nanti telat," ucapnya sayup-sayup, masih dalam posisi yang sama.
"Kan kantor punya aku, atasan telat itu wajar. Yang gak wajar itu kamu, nyuruh aku kerja tapi meluknya erat banget." Aku menjahilinya.
Buk!
Lagi-lagi Tika memukul dadaku. Aku menyukainya yang tidak berubah saat aku mencoba menggodanya. Kemudian aku kembali menyelipkan jemariku pada tengkuk lehernya lalu mencecap bibirnya, menyelipkan lidaku untuk menyesapnya. Menyapu sedikit rasa rinduku pada sentuhan yang biasa aku lakukan. Kemudian barulah aku berpamitan.
"Udah, gak usah anter aku ke bawah juga gak apa-apa." Kemudian aku segera beranjak pergi meninggalkannya, menuju ke kantor.
***
Setelah dua jam aku habiskan untuk memeriksa kembali dokumen laporan keuangan yang janggal menurutku, akhirnya aku menemukan di mana letak kejanggalan itu. Dan tak berapa lama setelah itu tiba-tiba ponselku berbunyi.
🎶
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Talk about where we're goin'
Before we get lost
Let me out first
Can't get what we want without knowin'
I've never felt like this before
I apologize if I'm movin' too far
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Figure out where we're growin'
🎶
Tadinya aku ingin mengabaikan nada dering berjudul Talk dari seorang penyanyi bernama Khalid itu. Tapi sepertinya tidak bisa setelah melihat nama siapa yang muncul di layar depan. Papa calling.
Aku segera meraih benda tipis itu, lalu menggeserkan tombol hijau pada layarnya untuk menerima panggilan telepon itu. Dan menempelkan ujung benda itu pada telingaku.
"Hallo?"
Suara papah menggema dari seberang sana. Beliau mengatakan bahwa beliau juga menemukan kejanggalan yang terdapat pada file yang aku kirimkan tadi pagi. Dan beliau sama sekali tidak pernah melakukan beberapa penarikan uang pada bulan yang di maksudkan. Aku terkejut mendengar penuturan itu.
Kemudian papa kembali menjelaskan padaku. Jika saat itu papa sedang sibuk mengurusi anak perusahaan barunya. Memang di beberapa tanggal papa ada melakukan penarikan tapi itu dilakukan dua minggu sekali, bukan seminggu sekali seperti yang tertera.
"Trus yang melakukan penarikan di tanggal 12 April tahun lalu ini siapa?"
Papa hanya mengatakan bahwa beliau tidak melakukan penarikan sejumlah uang tersebut di tanggal yang tadi aku sebutkan. Hanya saja dua hari setelah tanggal itu, baru lah benar papa yang melakukannya.
Lagi-lagi aku tercengang mendengar penuturan papa. Setelah aku mengakhiri sambungan teleponku dengan beliau.
Aku segera meraih gagang telepon internal kantor. Lalu menekan nomer ekstension kantor untuk menghubungi bagian finansial dan keuangan kantor. Setelah menunggu lama, akhirnya ada yang menerima teleponku.
"Hallo? Tolong berikan laporan keuangan dua tahun terakhir ini ya? Saya tunggu di ruangan saya sekarang." Tanpa menunggu jawaban dari orang tersebut, aku langsung memutuskan sambungan telepon itu.
Setelah menunggu beberapa saat dengan perasaan gelisah, akhirnya kepala divisi keuangan itu mengetuk pintu ruanganku lalu aku mempersilakannya untuk masuk. Dia memberikan sebuah map padaku yang isinya beberapa lembar kertas dengan berbagai macam angka yang tercetak di atasnya.
"Tolong kamu juga kirimkan email ke saya secara terperinci tentang nota atau apapun yang menjadi bukti transaksi dari pengeluaran serta pemasukan perusahaan." Dengan tegas aku meminta semua laporan itu. Untungnya, kepala divisi keuangan perusahaan ini adalah seorang lelaki. Jadi tidak mungkin jika dia menangis saat aku memintanya dengan tegas seperti ini.
"Apa itu termasuk dengan slip rincian gaji karyawan, Pak?"
"Iya, semuanya selama dua tahun terakhir ini," tegasku sekali lagi sambil menjunjuk dokumen tadi di atas meja.
"Baik, Pak, segera saya kirimkan."
Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutku saat ini. Aku hanya menyuruhnya untuk keluar dari ruanganku dengan cara menggunakan isyarat tanganku yang mengebas beberapa kali.
"Baik, permisi, Pak."
***
Cukup lama aku kembali menelusuri data demi data, mundur dari bulan ke bulan sebelumnya. Hanya untuk mencari sejak kapan ada penarikan uang yang tidak jelas ini. Nominalnya memang sedikit, tetapi selalu ada di setiap bulannya.
Aku kembali meraih gagang telepon dan menekan lagi nomer ekstension ke bagian divisi keuangan.
"Hallo, saya minta laporan dua tahun sebelumnya lagi dari yang saya minta tadi. Lewat email aja. Saya tunggu." Aku kembali menutup teleponnya.
Semua sudah jelas jika penarikan itu dilakukan selama dua tahun terakhir ini. Aku hanya ingin mengecek lagi di tahun-tahun sebelumnya. Sampai aku menemukan sejak kapan penarikan illegal itu di lakukan.
Setelah data kembali masuk dan aku kembali memeriksanya. Ternyata sudah selama tiga puluh dua bulan penarikan itu berlangsung. Dan bayangkan saja, setiap bulannya nominalnya selalu sama, yaitu Rp. 12.500.000,-
Aku tercengang, menganga lebar menerima kenyataan ini. Dan janggalnya lagi, semua bukti memgarah pada orangtuaku sendiri. Aku meremat rambutku. Dan tanpa berpikir panjang lagi, aku segera mematikan komputerku lalu merapikan berkas yang berserakan di atas mejaku. Lalu aku segera pergi dari kantor.
Dengan amarah aku menutup pintu mobil lalu langsung menyalakan mesin mobilku dan menginjak pedal gas, melesat pergi menuju ke rumah orangtuaku.
__ADS_1
Pikiranku sungguh kacau. Bagaimana tidak?
Papa mengatakan bahwa beliau tidak mengetahui transaksi penarikan itu, sedangkan bukti yang berada di tanganku ini, semua mengarah kepadanya.
Kalau sudah begini, jelas saja kemarin perusahaan hampir bangkrut. Di satu sisi, ada uang yang ternyata menghilang tanpa jejak. Lalu di sisi lainnya, papa juga berinvestasi kepada anak perusahaannya yang menghabiskan lumayan banyak biaya.
Dengan kecepatan penuh aku menginjak pedal gas. Ingin rasanya segera sampaibke rumah papa.
Butuh waktu sekitar tujuh belas menit yang kutempuh untuk sampai ke rumah papa. Lalu aku membawa serta merta beberapa dokumen yang aku miliki tadi dari divisi keuangan kantor.
"Paaa ... Papa!" seruku begitu membuka pintu rumah depan.
Aku langsung berjalan menuju ke ruang tengah dan ku temukan mama yang sedang duduk di sana, menonton televisi.
"Loh, Dul, kok kamu di sini? Tika gimana kabarnya?" Terlihat raut wajah bingung mama yang melihatku datang ke rumah ini.
"Baik, Ma. Papa mana?"
"Tuh, di belakang. Lagi ngobrol sama pak Hardi." Mama mengarahkan jari telunjuknya ke arah belakang.
"Apa? Ngapain pak Hardi ke sini?" Seketika rasa amarahku memuncak.
"Hust, kamu gak boleh ngomong gitu! Kalau kedengeran pak Hardi kan gak enak." Mama menegurku karena perkataanky yang kurang sopan tadi.
Aku hanya mengerucutkan mulutku. Napasku perlahan mulai sesak. Kulihat ada segelas minuman mama tergeletak di atas meja di depannya. Aku putuskan untuk mengambil gelas itu lalu menengak habis isinya dengan sekali angkat. Sebelum akhirnya aku melangkahkan kakiku menuju ke halaman belakang. Untuk menemui oapa dan pak Hardu di sana. Yang entah hal apa yang mereka bahas!
'Semoga saja papa tidak bercerita tentang apa yang sedang aku selidiki saat ini,' batinku.
Kembali aku letakkan gelas minum tadi ke atas meja di depan mama, di iringi dengan pukulan keras yang aku dapatkan dari mama.
PAAK!!
Mama memukul keras pundakku hingga aku meringis kesakitan. Lalu mengelus kasar pundakku sendiri dengan telapak tanganku yang satunya.
"Aw!! Sakit, Ma!!" seruku tak tertahankan.
Dengan wajah datarnya, mama menjawab, "Jangan jadi anak durhaka! Ambil minum sendiri sana di belakang. Sudah punya anak kelakuan gak berubah."
Aku langsung meninggalkan mama di ruang tengah lalu bergegas melangkahkan kaki menuju ke halaman belakang. Sambil membawa serta-merta dokumen yang tadi.
Belum sampai langkah kakiku di ambang pintu yang mengarah ke halaman belakang, ku dengar jika pak Hardi sedang membicarakan tentang usulan seorang sekretaris untukku. Sebab sudah berkali-kali aku melewatkan jadwal rapatku.
Kuletakkan semua dokumen ku tadi di atas meja di samping pintu. Kemudian aku menarik napas dengan rakus kemudian mengembuskannya lalu dengan pasti melangkah keluar menghampiri mereka.
"Eh, ada pak Hardi toh di sini." Aku menegurnya sambil mengecup salah satu pipi papa. Lalu menghempaskan bokongku duduk di sebelah papa. Di atas sofa ganda. Sedangkan oak Hardi duduk di atas sofa tunggal di sisi papa yang satunya lagi.
"Ngapain, Pak? Jengukin papa ya?" tanyaku sok tahu sok akrab.
Dapat aku lihat raut wajah beliau yang nampak sedikit berubah. Menjadi sedikit lebih tegang. Tidak seluwes dan sebebas tadi saat aku belum muncul. Akunjuga melihat beliaubyang beberapa kali membenarkan posisi duduknya. Rasa tidak nyaman layaknya wanita yang sedang di tambal bawahnya. Gelisah!
"Emm, anu, iya, ini jengukin. Udah lama juga gak ke sini. Selalu sibuk sama urusan kantor." Awalnya beliau tergagap mengatakan kalimatnya tetapi setelah itu dia kembali terbiasa. Tapi tetap saja aku dapat menangkap gelagatnya itu.
Papa menepuk pahaku, "Ini loh, pak Hardi bilang kamu sering ngelewatin jadwal rapat. Jadi kamu butuh sekretaris. Bener loh apa kata pak Hardi."
Aku mengernyitkan sebelah alisku. Mendengar papa mengatakan itu aku hanya bisa tersenyum tipis.
"Biar nanti kerjaan yang sekarang kamu lalukan itu, sekretaris kamu yang kerjakan. Kamu cukup hadirin rapat-rapat penting. Trus buat urusan yang lain biar pak Hardi yang bantu. Betul begitu kan, Pak?" tanya papa.
'Huh! Bantu apanya? Awas aja kalo sampai ternyata penggelapan itu dia yang lakuin,' batinku kesal.
"Kan papa sendiri tahu, aku selama ini kalau bolos gak ke mana-mana. Aku ngurusin keluarga aku sendiri. Bukan ngurusin keluarga orang," ucapku penuh penekanan di bagian akhir kalimatku. Menyindir bapak tua itu.
"Ya sudah kalau begitu, saran dari pak Hardi kamu terima aja. Lagian kamu gak perlu capek cari sekretaris. Semua serahkan sama pak Hardi. Kamu terima beres. Kan enak?" ucap papa lagi seraya tertawa.
Aku hanya tersenyum kecut. 'Iya terima bersih, saking bersihnya semuanya di ambil alih ntar sama dia,' decak kesalku dalam hati.
"Nanti dulu deh, Pa! Aku perlu mikir. Baru beberapa bulan lalu pecat-pecatin karyawan yang gak berguna. Masa sekarang terima sekretaris sih?!" Aku tetap bersikeras mengelak semuanya, menyangkal saran dari pak Hardi itu.
Namun sialnya aku adalah anak papa dan mewarisi sebelas dua belas sifat yang sama dengannya. Jadilah papa yang juga tetap keukeuh dengan setujunya sarak pak Hardi itu. Papa tetap saja keras, memaksaku untuk menerima sekretaris yang sudah di pilihkan pak Hardu untukku.
"Pa, udah ya. Gak usah bahas ini. Ada hal yang lebih penting yang wajib di bahas. Sedangkan hal ini bisa menyusul nanti," kataku dengan sangat tegas, kemudian berdiri, meninggalkan papa dan pak Hardi tanpa pamit.
Aku segera melangkahkan kakiku, mengambil kembali beberapa berkas yang tadi kuletakkan di meja di samping pintu. Kemudian berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarku. Mengunci pintunya, mengurung diri di sana lalu menelpon istriku.
Bersambung ...
—————
Hallo lohhaa ...
Terima kasih sudah mau menungguku untuk menulis dan update cerita ini.
Jangan lupa subsrek (love, like, kasih ratting trus tinggalin komentar)
Aku juga mau minta kalian buat VOTE POIN/KOIN di judul novel ini. Semoga saja ada dari kalian yang berbaik hati mau melakukannya ya?
Silakan bergabung dalam Grup Chat NovelToon
Folow my Instagram @bossytika
__ADS_1
With love,
#salambucin! 💋