Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 201


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Haikal POV.


“Aku tahu Clara dan dia tahu kalau aku begini. Dan untuk belanja di sini ... dia juga sudah tahu.” Aku menjawab Tika dengan cepat.


Sebenarnya semua ini hanya alasanku saja, agar aku tidak merasa insecure untuk sementara waktu. Walaupun sejujurnya aku memang merasakan hal itu sejak lama.


Setelah selesai berbelanja, kami memutuskan untuk makan siang bersama di sebuah restoran yang ada di mall tersebut. Sedari tadi, aku hanya bisa diam sambil sesekali mencuri pandang pada Clara, memerhatikan caranya melayaniku makan dan cara makannya sendiri.


Selama acara makan berlangsung semua terlihat gembira ria dan sangat menikmatinya. Sesekali Jefri terdengar menggoda Tika dan bahkan dia sering melontarkan jokes-nya, membuat semuanya tertawa. Bahkan Clara pun ikut tertawa.


Ya, Jefri memang sempurna dan Tika cocok bersama dengannya. Sedangkan aku dan Clara?


Ah, lagi-lagi aku berpikiran seperti ini. Mengapa hati aku terlalu lemah menjadi seorang lelaki? Mengapa juga otak ini selalu insecurity.


Cepat-cepat aku menepis perasaan itu, membuang segala pemikiran jelek yang muncul dalam benakku dan menikmati kembali siang ini bersama dengan mereka. Aku harus kuat dan menerima Clara apa adanya, karena itu memang kemauanku.


Karena aku mencintainya, biarkan aku mengenalnya lebih dalam seiring dengan bertambahnya waktu nanti.


Saat ini, tidak boleh ada lagi yang membuatku berpikir ulang untuk menikahinya. Dia satu-satunya pilihanku.


Makan siang kali ini tentunya terasa berbeda karena adanya sosok mamah. Beliau begitu berarti untuk aku dan juga Tika. Dan bagiku karena dorongan dari mamahlah yang membuatku bisa seperti sekarang. Entah dalam hal pekerjaan maupun percintaan.


Dan jika kembali mengingat beberapa waktu yang lalu, saat aku kembali melamar Clara di depan kedua orang tuanya dan di depan seluruh keluargaku, rasanya itu seperti bukan diriku sendiri.


Apalagi jika melihat cincin yang saat ini melingkar indah di jari manisnya. Entah dia mengingat itu atau tidak. Yang jelas, cincin itu adalah benda pertama yang aku beli saat memintanya menemaniku pergi ke mall dan itu pun adalah pilihan darinya.


Selesai makan siang, mamah memutuskan untuk ikut Tika dan Jefri pulang. Sedangkan aku dan Clara masih harus mencari beberapa barang lagi.


“Ya udah, kalian hati-hati ya?” ucap mamah padaku dan juga Clara.


“Kalau udah kelar langsung pulang. Kalian perlu istirahat menuju raja dan ratu sehari,” goda Tika pada kami.


“Iya iya. Kalian juga hati-hati bawa si kembar sama mamah.” Aku membalas pesan mereka.

__ADS_1


Kami berpisah tepat di depan restoran. Lalu aku dan Clara kembali memasuki mall. Berkeliling di sana sambil merangkul Clara di setiap langkah kaki. Aku juga bertanya banyak hal padanya, salah satunya tentang kesukaannya.


“Kamu suka gak sih sebenarnya kalo jalan-jalan di mall kayak gini?” Sambil sekilas menoleh padanya.


“Tergantung.”


“Tergantung apa?”


“Ya kalau jalannya sama kamu sih, suka aja. Mau jalan di kuburan juga gak apa-apa asal sama kamu.”


Tiba-tiba saja aku tertawa terbahak-bahak begitu mendengar ucapannya. “Ya enggak mungkin juga kali, aku ngajak kamu puter-puter jalan di kuburan. Kecuali kita lagi nyekar. Tapi enggak muterin semua makam juga.”


“Aku kangen bunda,” celetuk Clara.


Aku kembali menoleh melihatnya. “Kamu mau nyekar?” tawarku.


Clara membalas tatapanku dan mengangguk. Aku mengabulkan permintaannya. Tanpa berjalan lebih jauh lagi, aku langsung membawa Clara melangkah menuju parkiran mobil, di mana mobil berada dan kami langsung meluncur menuju pemakaman bundanya.


“Kamu tunggu di sini aja ya? Aku mau ....”


“Iya, aku ngerti. Aku tunggu di sini dan jangan buru-buru,” lirihku sembari mencubit pipinya.


Pasti berat baginya saat ini. Harus menikah denganku tetapi dalam kondisi yang berduka. Harus terlihat bahagia saat di depanku tetapi saat sendiri dia harus menangis. Apa aku sangat egois kali ini? Apa aku merampas kebebasannya?


Lima belas menit telah berlalu dan Clara masih duduk di samping makam bundanya membelakangi arah pandangan mataku. Kepalanya masih menunduk, seolah memerhatikan batu nisan bundanya.


Aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan mematikan mesinnya. Mengambil sebungkus rokokku dari dalam dashboard. Lalu menyulutnya sembari bersandar pada pintu mobil. Kedua mataku masih melekat menatapnya dari kejauhan sambil aku menikmati hirupan asap rokok yang tersemat pada kedua bibirku.


Aku tahu rokok ini dapat membunuhku secara perlahan. Dan aku tahu seorang dokter semestinya tidak merokok. Tapi bagiku, jika Clara yang meninggalkanku atau dia yang menghilang, maka hal itulah yang akan membunuhku secara cepat. Dan pemikiran itu datang begitu saja. Aku merasa seolah dia akan pergi meninggalkanku tanpa sebab dan alasan yang pasti.


Dengan cepat aku membuang batang rokok yang masih tersisa setengah itu lalu menginjaknya di tanah. Namun, di saat aku hendak melangkahkan kaki menyusulnya tiba-tiba saja Clara berdiri dari duduknya. Lalu berpaling, melangkah menuju ke arahku. Ada perasaan lega saat melihatnya yang berjalan kembali ke arahku.


Matanya melirik ke arah bawah, di mana ada seputung rokok yang aku matikan tadi. “Kamu masih ngerokok?”


“Kalau pikiran lagi kacau aja,” sahutku sambil meraih jemarinya.


“Apa yang lagi kamu pikirin sekarang?”

__ADS_1


“Gak ada.”


“Katanya kalau pikiran kacau ngerokok. Tadi ngerokok, 'kan?” Clara memang pintar berkata-kata.


Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Malu karena ketahuan mengelak. “Aku mikirin kamu.”


“Aku kenapa? Aku kacau?” Clara kembali memastikan.


“Aku yang kacau kalau ngeliat kamu sedih tapi di depan aku, kamu harus terpaksa buat tersenyum.” Akhirnya aku melontarkan kalimat kejujuran itu padanya.


Clara melepaskan genggaman tanganku, lalu kedua tangannya menangkup sempurna pada kedua pipiku. Mata indahnya yang begitu cerah memandang jauh ke dalam mataku, seakan sedang mencari jati diriku di sana. Mencari jiwaku yang lainnya.


“Aku memang sedih. Tapi aku juga bahagia. Gak ada yang bisa mencegah kehendak Tuhan untuk sebuah kematian. Tapi aku bisa mencegah hati ini biar gak tenggelam dalam kesedihan itu. Dan kamu menarik aku dari dalamnya lubang itu.”


Lagi-lagi aku tersentuh mendengar ucapannya, sepertinya dia semakin dewasa dalam berpikir. Dan sepertinya malah pola pikirku yang berubah menjadi kekanak-kanakan.


“Aku takut kehilangan kamu,” lirihku pada akhirnya bersamaan dengan jatuhnya air mataku.


Aku tahu air mata ini terasa tidak wajar jika muncul dari seorang lelaki. Tapi ini benar-benar murni dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku benar-benar takut kehilangannya. Takut kehilangan wanita yang aku cintai dengan segenap hati ini. Takut jika hati ini sampai kehilangan arahnya untuk kembali.


Clara langsung melepaskan tangannya pada pipiku dan menarikku masuk ke dalam pelukannya. Cukup lama hingga aku bisa kembali mengontrol perasaanku sendiri. Sampai akhirnya dia berkata, “Aku mencintai kamu melebihi apa pun. Jadi tolong, jangan pernah berpikir untuk ditinggalkan ataupun meninggalkan. Karena jika itu terjadi semasa umur kita masih berjalan, itu akan lebih menyakitkan daripada sebuah kematian.”


Seketika itu, kedua tanganku membalas pelukannya. Aku juga mencintainya melebihi aku mencintai diriku sendiri. Dan semua usaha akanbaku lakukan hanya untuk membahagiakannya. Setiap hari yang dia lalui dengan kesedihan di masa kemarin, akan aku tebus dengan sebuah kebahagiaan di setiap dia bersama denganku.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya, cukup dengan memberikan like serta komen pada setiap episode ini ya.


Jangan lupa juga buat vote 😂


#salambucin


Babay ...

__ADS_1


@bossytika 💋


__ADS_2