
Jefri POV.
Setelah makan malam selesai, aku bersama papa pindah ke ruang televisi. Sedangkan mama dan Tika, tentu saja mereka segera berberes-beres didapur.
Papa mulai menanyakan bagaimana kondisi kesehatan Tika akhir-akhir ini serta bagaimana kondisi calon bayi kami. Ku jelaskan pada papa, jika kami akan mengecek kembali kondisi bayi itu saat usia kandungan memasuki minggu ke tiga belas. Lalu papa membahas hal lain padaku, menceritakan masa-masa dahulu saat mama mengandungku. Papa memceritakannya dengan semangat. Beliau terlihat bahagia sekali saat ini. Kesehatan papa pun terlihat baik saat ini, aku senang terlihat lebih fresh dan lebih segar dari sebelumnya.
"Jadi mulai hari apa kamu akan memimpin perusahaan?" tanya papa random.
Aku sedikit kaget mendengar pertanyaan itu. Di satu sisi, pekerjaanku saat ini masih ada 60% lagi yang belum selesai dan wajib aku selesaikan. Tapi disisi yang lain, pekerjaan diperusahaan papa juga sudah menanti, banyak yang harus aku benahi dan sialnya aku belum terlalu mengerti untuk kondisi ini.
"Mungkin minggu depan, Pa. Aku masih harus belajar," sahutku singkat.
Papa menatapku sekilas lalu menghembuskan napasnya. Ada semburat rasa kecewa dari wajahnya. Aku melihat jelas raut wajah itu. Kemudian papa mulai menceritakan sedikit tentang pekerjaan Pak Hardi, asistennya yang sangat ia percayai.
Pak Hardi memang telah bekerja dengan papa selama berpuluh tahun, dari umurku yang masih kecil hingga saat ini. Umurnya tak jauh berbeda dengan papa, hanya bertaut beberapa tahun lebih muda saja. Dulu saat aku masih kecil, Pak Hardi juga sering membantu papa untuk menemaniku bermain. Jadi secara tidak langsung aku juga telah menganggap beliau sebagai orangtua keduaku.
Selama papa di rumah sakit beberapa minggu pun, Pak Hardi selalu menyempatkan untuk menjenguk papa, bahkan membahas tentang perusahaan dengan mama. Hingga akhirnya beberapa hari yang lalu, beliau menghubungiku. Menanyakan apakah aku sudah membaca beberapa dokumen penting yang ia berikan itu.
Sebagian memang sudah aku baca dan kupelajari. Bahkan dibeberapa bagian, aku juga meminta pertolongan pada Jerry untuk memahaminya. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah kejanggalan didokumen itu.
"Oleh karena itu, papa minta tolong sama kamu, Dul, bantu papa untuk kembali menstabilkan kondisi perusahaan," ucap papa yang memandang lurus ke arah televisi.
"Aku coba ya, Pa? Tapi aku juga gak berani janji karena aku baru memasuki dunia ini," jawabku tegas.
Tak berapa lama, Tika dan mama datang menghampiri kami. Mama membawakan segelas air putih dan obat-obatan untuk papa lalu membantu papa dalam menengak satu persatu obat berjenis tablet itu hingga habis. Sedangkan Tika langsung duduk di sofa, mengambil posisi tepat di sebelahku.
"Kalian gak pulang?" tanya mama yang sambil meletakkan gelas kosong bekas papa minum tadi di atas meja.
Secara spontan aku langsung menoleh pada Tika kilas lalu kembali memandang mama dan berkata, "Pulang kok, Ma, bentar lagi."
"Kasian itu Tika, mukanya udah keliatan lelah."
__ADS_1
"Enggak kok, Ma, aku gak papa," sanggah Tika cepat.
Kemudian aku kembali menatap istriku ini. Wajahnya memang terlihat letih, beberapa kali aku melihat matanya yang mengerjab dan sudut matanya yang terlihat sayu. Tanpa menunggu lama, aku memutuskan untuk mengakhiri perbincangan ku dengan papa lalu memutuskan untuk segera pulang ke rumah kami.
--------------
Lisa POV.
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam ini. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah Tika setelah selesai bergumul dengan pemikiranku sendiri. Dengan baju piyama yang ku kenakan, aku meraih jaketku yang menggantung, menggunakannya kemudian segera keluar rumah dan mengunci pintunya. Tak lupa ku bawa kunci mobil serta tas yang menyimpan ponsel serta dompetku. Beranjak menuju mobil lalu melesat pergi.
Disepanjang perjalanan tidak henti-hentinya aku memikirkan kalimat per kalimat yang nanti akan aku sampaikan pada Tika. Serta mengakui kebodohanku melakukan hal itu hanya demi sebuah materi.
Namun sekali lagi aku merasa bimbang dengan apa yang telah membuat sahabatku satu-satunya ini menjadi marah padaku. Entah apa karena aku yang telah semaunya saja menjual informasi tentang dirinya atau karena dia yang tidak menyukai aku kembali dekat dengan Dana?
Tak berapa lama akupun sampai di depan halaman rumah Tika dan Jefri. Dari luar terlihat lenggang, lampu dari dalam rumah pun tak terlihat ada satupun yang menyala. Aku turun dari mobil dan berjalan menuju pintu depan. Berkali-kali ku tekan saklar bel di samping pintu, namun tidak ada jawaban.
Segera ku raih tasku untuk mencari ponsel, mencoba menelpon Tika. Namun sialnya batrai ponselku ternyata lowbatt, sudah tidak bisa melakukan panggilan lagi. Bahkan hanya berselang beberapa detik, ponselku langsung mati.
Kembali ku tekan saklar bel sambil menyerukan nama Tika dan Jefri, tapi tetap saja tidak ada jawaban. 'Apa mungkin mereka sudah terlelap?' batinku.
Entah mengapa hatiku merasa enggan untuk meninggalkan rumah ini. Ku hembuskan napas kasar, kemudian duduk di lantai depan tangga rumahnya. Sejenak beristirahat dari penatnya kehidupan.
Selang beberapa menit, muncul cahaya yang berasal dari sebuah mobil, yang mengarah masuk ke halaman parkir rumah Tika. Cahaya dari lampu mobil itu sempat menyilaukan mataku untuk beberapa saat, hingga aku menyadari bahwa itu mobil Jefri.
"Udah lama lu disana, Lis?" tegur Jefri begitu keluar dari mobil.
"Gak juga, baru aja. Gua pikir kalian udah tidur."
"Kenapa gak nelpon?" tanya Jefri lagi. Tika berjalan mengarah padaku tanpa bertanya sepatah katapun.
"Batre hape gua lowbatt. Tadinya udah mau pulang, tapi berasa ragu," sahutku.
__ADS_1
Tika berhasil membuka pintu rumahnya dengan anak kunci, lalu masuk tanpa menawariku. Malah Jefri yang mempersilakan ku masuk ke dalam rumahnya. Mereka mulai menyalakan lampu, hingga dapat ku lohat seluruh perabotan rumah mereka.
Mataku menangkap takjub. Rumah ini terlihat elegan. Perabotan yang terlapiskan woody menjadi konsep utama, dengan ruangan tanpa sekat antara ruang televisi dan dapur. Rumah ini juga tidak memiliki ruang tamu yang semakin membuat kesan friendly pada isinya.
"Lu mau minum apa?" tawar Jefri sambil mempersilakan ku duduk.
"Apa aja, Jeff."
Kemudian aku duduk di sofa yang berada di depan televisi theater-nya, lalu Tika datang membawakan minuman panas dan meletakkannya di atas meja di depanku.
Jefri keluar ke halaman samping rumahnya, sepertinya dia memutuskan untuk merokok diluar sana. Sedangkan Tika yang berdiri di depanku langsung mengambil posisi duduk di sebelahku, namun agak sedikit jauh lalu berkata, "Ada perlu apa lu kesini?"
Aku tersontak mendengar kalimat singkat yang terlontar dari mulutnya itu. Sebelumnya aku tidak pernah mendengar Tika mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang menurutku terlalu kasar jika Tika yang mengucapkannya.
"Jadi gua gak boleh ke sini buat ketemu lu lagi?" tanyaku sambil berpaling menghadapnya, memajukan dudukku untuk lebih dekat dengannya.
Kami saling menatap. Tika menghembuskan napasnya dengan kasar. "Lu marah kenapa sih sama gua?
----------
Loohaaa para pembaca semuanya 🤗
Jumpa lagi, dengan aku disini 🤭
Jangan lupa untuk dukung karya ku terus yaa, caranya cukup dengan selalu membaca berulang kali naskah cerita ini kok 😁
Jika ada kritik dan saran bisa kalian sampaikan langsung padaku melalui Instagram dengan nama akun @bossytika 🥳
Jangan lupa di follow, like, komen dan subscribe 😳🤭
Babay, i love u all 😍
__ADS_1
#salambucin💋