Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 139


__ADS_3

Tika POV.


Aku menarik tangan Jefri sesaat kami akan masuk ke ruangan Lisa. Pintunya terbuka sedikit. Aku dapat mendengar sayup-sayup suara orang dari dalam sana. Saat aku menengok dari jendela pintu, ternyata ada sosok Max di sana. Berdiri menghadap brankar Lisa.


Semua kalimat demi kalimat yang mereka lontarkan berdua, dapat aku dengar secara jelas di telingaku. Aku berbalik dari pintu itu, masuk ke dalam dekapan suamiku saat mendengar Lisa yang mengatakan iri padaku. Bahwa selama ini dia selalu merasa berbeda derajat denganku.


Padahal tidak pernah sedikitpun aku menyinggungnya soal status sosial ataupun perbedaan dari kami berdua. Malah yang ada, aku yang iri dengannya dahulu. Hidup bebas tanpa larangan. Kuliah di luar negeri dengan otaknya yang pintar. Punya pacar yang dulu sangat mencintainya dan membiayai hidupnya. Diperlakukan layaknya seorang ratu oleh pacarnya. Sedangkan aku? Setelah keperawananku hilang, aku malah dicampakkan.


Lalu apa yang pantas dari diriku untuk dicemburui?


Aku yang seharusnya cemburu pada hidupnya. Dia punya segalanya dengan jerih payahnya. Bagaimanapun caranya mendapatkan semua itu, jujur aku bangga. Dia kuat, bahkan terlalu kuat. Dengan jalan pintasnya, dia masih bisa berdiri di kakinya sendiri. Sedangkan aku?


Lalu mengapa harus iri dengan apa yang aku miliki? Aku punya apa?


Rumah? Itu rumah Jefri.


Mobil? Itu aku beli dengan setengah uang Max.


Banyak wanita di luaran sana yang memberikan mahkotanya secara gratis, bebas tanpa syarat. Tapi tidak dengan Lisa. Lalu mana yang lebih kotor? Mana yang lebih pantas dianggap sebagai 'murahan'?


Katakan lah seorang pela*ur, aku lebih menghargai orang itu. Karena mahkotanya ditukar dengan harta, bukan dengan rasa cinta semu semata.


Aku menangis dalam diam di balik pintu, mendengarkan Max yang terus saja mencerca Lisa. Hingga akhirnya Lisa mengatakan jika dia mencintai Max hingga detik ini.


Betapa terkejutnya aku, saat penuturan demi penuturan yang Lisa ucapkan tentang isi hatinya pada Max, sejak sebelum kepergiannya ke London hingga saat menerima undangan pernikahan Max dengan Shilla dan menghadiri acara itu.


Aku benar-benar tidak menyangka, jika saat Max menikah, Lisa memendam perasaan itu yang akhirnya membawanya bertemu dengan Dana dan menjadi tidak terkendali. Aku mendongakkan kepalaku menatap Jefri yang juga sedang mendengarkan semuanya.


"Sampai detik ini Max, rasa itu mungkin berkurang, tapi gak pernah bisa hilang." Lisa meraung di dalam sana mengatakan itu.


"Kenapa aku selalu jatuh cinta dengan orang-orang di sekeliling Tika? Kamu, Dana dan sekarang Alex. Apa takdir aku buat nerima orang-orang yang cinta dia?" tambah Lisa diikuti dengan isak tangisnya yang tersedu-sedu.


"Aku menganggap kamu sebagai adik aku sejak kepulanganku dari London waktu itu. Saat aku tahu, kalau kamu sudah punya seorang lelaki yang jauh lebih kaya dari aku. Yang bisa menghidupi kamu selama di sana, memperlakukan kamu bak putri raja. Karena aku tahu diri, aku gak bisa seperti itu." Max dengan lantang pula menjelaskan pada Lisa sebab-akibat yang merka lakukan.


Saat ini aku mengerti satu hal. Lisa dan Max saat itu saling memiliki perasaan. Tapi keduanya saling menjaga karena ada aku di antara mereka. Hubungan seorang sahabat dan hubungan seorang kakak. Lalu mereka memilih menyimpan rasa itu daripada harus merusak salah satu hubungan yang menyangkut padaku.


Seketika itu pula aku merasa bersalah akan diriku sendiri. Mengapa aku harus menjadi penghalang di antara perasaan hati mereka? Dan mengapa mereka diam saja jika rasa itu memang saling tumbuh di hati mereka?


"Alex mencintai kamu dengan tulus, gak peduli dia pernah deketin Tika atau engga. Cintai dia dan kamu akan temukan kebahagiaan kamu sendiri," ucap Max pelan.


"Lalu kamu? Kamu mencintai siapaa?" Sayup-sayup aku kembali mendengar lirihan suara Lisa.


"Jelas aku mencintai Shilla. Dia ibu dari kedua anakku." Suara Max yang terdengar semakin jelas.


Lalu tiba-tiba pintu terbuka, Max keluar dari ruangan itu dan terhenti saat melihatku dengan Jefri ada di depan pintu. Tidak ada kalimat yang Max ucapkan, bola matanya berkaca-kaca, ujung hidungnya sudah terlihat merah. Kemudian dia melangkah pergi. Berlalu begitu saja meninggalkan aku dan Jefri di sini.


Aku kembali memeluk Jefri, sambil mengembuskan napasku yang seketika sesak di dada ini. Ia memelukku dengan erat, menopang tubuhku yang sudah hampir lemas larena pengakuan Lisa.


Jefri mengecup keningku, lalu mengajakku untuk pulang. "Kita pulang aja ya?" ajaknya padaku. Yang akhirnya kami mengurungkan niat untuk menjenguk Lisa saat ini.


***


Selama dalam perjalanan pulang menuju rumah, aku hanya diam saja. Rasanya aku masih terlalu syok mendengar semuanya tadi. Dan rasanya aku belum sanggup untuk menerima semua kenyataan itu. Untung saja sebelum menuju kamar Lisa tadi, aku dan Jefri lebih dulu untuk ke ruangan anak kami dan mengambil beberapa gambar. Bahkan Haikal pun tidak mengetahui kedatangan kami ke sana.


"Aku gak tahu harus ngomong apa lagi, yang jelas, semua ini bukan salah kamu." Jefri meraih tanganku lalu mengecupnya.

__ADS_1


"Lisa hanya berpikir terlalu sempit. Dia coba buat menghubungkan semuanya dengan rasa kesal yang dia miliki. Kalau sudah gitu, apapun yang kamu lakukan, mau itu niat baik dan tulus sekalipun, pasti tetap akan terlihat buruk di matanya." Jefri kembali menambahi. Dia terus menggenggam tanganku.


Sedangkan aku kini kembali membuang arah pandanganku keluar jendela mobil. Menatapi langit biru yang berpadu mesra dengan awan putih, membuat perbedaan di atasnya terlihat sangat indah.


Ya, benar apa kata suamiku, jika seseorang sudah merasa iri, benci atau bahkan dengki sekali pun, pasti akan bersikap sepertu itu. Kalaupun aku mencoba untuk mendekati atau membantunya, dia pasti akan tetap merasa bahwa aku yang salah. Dan meskipun sesuatu yang terjadi pada hidupnya, dia pasti akan terus-terusan menyalahkan aku juga sebagai penyebabnya.


Ini yang disebut dengan playing victim. Orang yang selalu menempatkan diri sebagai korban dalam suatu permasalahan. Orang yang melakukannya untuk mendapatkan simpati, rasa kasihan dari orang lain, bahkan ada yang untuk lari dari tanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Lalu menyalahkan orang lain atas perbuatannya.


Aku masih tidak habis pikir dengan apa yang telah Lisa lakukab selama ini. Aku begitu tulus menjalin hubungan pertemanan ini, bahkan aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri.


Dia selalu ada dalam acara penting di hidupku. Bahkan saat makan malam di acara penting keluargapun, dia selalu aku ajak, meskipun acara itu milik Max atau Haikal. Tapi mengapa jadi begini akhirnya?


Aku masih kurang mengerti di mana letak salahku. Apa pemicunya hingga sebenci ini dia denganku. Lalu kapan aku pernah menindasnya? Jahat padanya? Atau bahkan berkata kasar padanya?


Tega. Hanya satu kata ini yang saat ini pantas untuk aku ucapkan pada Lisa. Setelah sekian lama kami menjalin hubungan ini. Setelah sekian lama kami saling mengenal berbagi duka. Tidak aku sangka dia menyembunyikan semua ini dengan begitu rapat, begitu rapi dan tidak tercium.


Aku kembali mengembuskan napasku berkali-kali. Kemudian kembali menghirupnya dengan rakus, serakus-rakusnya. Rasanya airmata ini sudah terlalu banyak aku keluarkan untuknya. Jatuh berlinang tidak berkesudahan. Terasa percuma, sia-sia.


Sesampainya di rumah, aku langsung naik ke kamarku, tak kuhiraukan lagi Jefri yang memanggilku untuk menyuruhku makan.


"Sayang, makan dulu. Sayang!!!" serunya di belakangku, sedangkan aku terus saja menaiki anak tangga dengan langkah yang lesu.


Kurebahkan tubuhku dengan sangat perlahan di tepi tempat tidur, menyamping. Menatapi fotoku berdua dengan Lisa saat hari pernikahanku. Hanya dia yang aku izinkan untuk mengenakan gaun putih di hari itu, saat semua tamu yang hadir kuminta untuk mengenakan dress code berwarna gelap.


Saat itu aku merasa bahagia sekali melakukan foto ini berdua dengannya. Kami berdansa bersama, menaiki meja makan. Setelah sehari sebelumnya aku habiskan waktu untuk menangis dengannya, berjanji bahwa aku tidak akan melupakannya setelah aku menikah nanti. Kami akan tetap memiliki waktu khusus untuk berdua. Ladies time.


Tidak terasa airmataku langsung jatuh bebas mengalir, membasahi bantalan yang aku gunakan untuk menyangga kepalaku. Seperti ini kah rasanya disakiti oleh sahabat sendiri?


Seseorang menyentuh bahuku, membuatku berbalik dan mendapati Jefri yang duduk di atas tempat tidur. Aku memindahkan letak kepalaku pada pangkuannya, lalu kembali menangis keras-kerasnya. Dan jefri hanya membiarkanku saja. Menumpahkan rasa kesal yang ada dalam dadaku dengan sebuah tangisan. Jefri paham betul dengan itu.


"Aku gak gak berhak buat judge orang, sekalipun itu sahabat istri aku sendiri. Kamu yang paling tahu maunya hati kamu gimana."


"Tapi kenapa dia tega?" Aku tetap bersikeras.


"Semua pasti ada alasan."


—————


Max POV.


Aku terkejut melihat Tika dan Jefri berdiri dari balik pintu. Tidak dapat lagi aku berkata apa-apa. Mereka berdua pasti sudah mendengar semuanya. Entah dari awal hingga akhir atau hanya akhirnya saja. Yang jelas, aku sudah tidak bisa lagi menutupi apapun dari mereka.


Napasku terasa sesak. Lidahku terasa sudah dicabut. Aku butuh udara segar!


Tanpa menunggu lama, aku segera pergi berlalu dari hadapan mereka. Melangkahkan kakiku untuk segera menuju ke mobil.


Sesampainya di mobil, kuhempaskan kepalan kedua tanganku ke atas setir kemudi.


BRUUK!!


Aku meluapkan emosiku yang sejak tadi kutahan. Seharusnya dari awal aku tahu jika akan seperti ini jadinya. Napasku kini tersengal, tidak karuan, seiring dengan detak jantungku yang kian memompa aliran darah dalam nadiku.


Tadinya niatku hanya ingin mengetahui kebenarannya, walaupun harus berujung dengan kalimat yang menyakitkan yang terlontar dari mulutku. Bagaimanapun juga, Shilla yang menemaniku sedari awal dan aku tidak akan pernah menggantikan posisinya dalam hati ini. Dia ratuku. Dan tidak akan ada selir dan sejenisnya bagiku!


Kusangga kepala yang pusing ini dengan jari jemariku yang menyelip pada rambutku dan mencengkramnya. Mencoba mengatur napasku, menghentikan gerakan bahuku yang naik dan turun, mengikuti embusan napasku.

__ADS_1


Aku kesal sekali melihat wajahnya yang tidak tahu malu. Merasa tidak bersalah bahkan ia merasa seperti tidak melakukan sebuah dosa besar!


Kini aku tahu bagaimana rasanya perasaan lelaki yang kubunuh beberapa minggu lalu. Bagaimana rasa amarahnya yang meledak. Rasa kecewanya yang bercampur dengan sedihnya. Karena itu yang aku rasakan sekarang.


Bedanya, lelaki itu tidak tahu bagaimana rasa menyesalnya aku karena sudah menciptakan lingkungan yang seperti ini untuk Lisa. Entah dari sudut pandang yang mana ia mempelajari hal itu. Menjadi seorang korban dalan setiap masalah.


Lalu apa dosaku hingga seperti ini jadinya?


Bukan kah beberapa tahun yang lalu aku menghentikan niatku untuk menikmatinya? Bukan kah aku menepis hasrat dan nafsuku untuk menjamahnya?


Apa semua ini salahku?


Entahlah, aku tidak bisa untuk berpikir jernih saat ini. Lalu aku segera menyalakan mesin mobilku dan bersiap untuk segera pergi dari rumah sakit itu. Melesat menyusuri kota ini. Mencari udara segar.


***


Aku memutuskan untuk pergi menjauh dari rumah dan dari keluargaku. Untuk menenangkan diri. Aku juga tidak bisa jika harus menenangkan diri di kantor. Akhirnya aku putuskan untuk mengendarai mobil ke arah pantai. Mungkin dengan melihat dan mendengar desiran ombak akan membuatku pikiran dan perasaanku menjadi lebih tenang.


Dengan kecepatan sedang aku mengendarai mobilku. Butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di dekat pantai. Kuparkirkan mobilku pada tempat parkir yang tersedia di sana. Lalu aku turun dari mobil dengan bagian bawah celana yang sudah kugulung dan bertelanjang kaki.


Membiarkan pasir pantai masuk ke dalam sela-sela jari di kakiku, menggelitik hangat telapak kakiku. Akibat sinar matahari yang membuat butiran pasir itu seperti terpanggang. Hingga langkah kaki ini sampai membawaku berdiri di bibir pantai. Pada kokohnya kesatuan pasir yang padat karena menyerap air laut. Perlahan, ombak menyapu kakiku, hingga membasahi bagian bawah celanaku yang tergulung. Aku membiarkannya.


Mataku sibuk menatap hamparan lautan yang tak berujung. Seakan terlihat menyatu dengan langit di ujung seberang sana. Jauh sangat jauh


Deburan ombak yang menghempas pada batu karang, seakan menjadi sebuah amarah yang meledak dengan tiba-tiba. Kemudian perlahan tenang, hanyut hingga menyentuh kakiku. Pasir dan kerikil yang tersapu akibat desiran ombak seolah menjadi penghapus amarah yang berubah menjadi sebuah kelembutan yang menyerap dan menghisap kakiku masuk ke dalam relung kejujuran.


Setidaknya, aku merasa lega sudah mengatakan isi hatiku pada Lisa. Setidaknya, aku tidak perlu lagi menjelaskan apapun kepadanya. Sudah cukup jelas dengan apa yang aku ucapkan tadi. Sudah terlalu lama juga aku bimbang selama ini. Aku rasa tadi adalah keputusanku yang paling tepat.


Aku hanya akan menganggapnya sebagai seorang adik. Seorang anak dari sahabat papah yang nyawa kedua orangtuanya melayang akibat menggantikan posisi papah untuk mengurusi perusahaan papah saat itu. Dan aku akan menanggung itu.


Hanya saja, apa Tika akan mengerti dengan semua ini?


Aku melupakan hati adikku yang lemah itu. Tika yang selalu bersikap tegar sebenarnya tidak sekuat yang terlihat. Dia sangat rapuh semenjak kepergian papah. Aku tahu itu.


Apa ia bisa menerima perlakuan sahabat satu-satunya itu?


Lalu apa dia juga akan mengerti akan semua ini?


Mengerti pada alasan sahabatnya itu?


Aku menyulut sebatang rokok yang sejak tadi kotaknya memang berada dalam genggaman tanganku, lengkap dengan pemantiknya. Membakar ujung gulungan tembakau di sisi sebelahnya, lalu menghisap sedikit asapnya, kemudian aku buang ke udara. Sambil memikirkan langkah apa yang akan aku ambil selanjutnya.


Haruskah aku menemui adikku sendiri untuk menjelaskan semua ini?


Atau membiarkannya terkikis oleh waktu yang suatu saat bisa saja kembali muncul ke permukaan seperti bom waktu?


Bersambung ...


—————


Happy fasting ...


And happy reading ...


Jangan lupa subsrek (love, like, kasih ratting trus tinggalin komentar)

__ADS_1


#salambucin! 💋


__ADS_2