
Clara POV.
Aku kembali ke dalam ruangan ICCU saat ayah sedang mengajak bunda untuk mengobrol, lalu aku memilih untuk sejenak memperhatikan mereka dari kejauhan, membiarkan mereka yang terlihat serius berdiskusi. Bunda menatap ayah dengan kelembutan sedangkan ayah, masih setia menggenggam tangan bunda dan menempelkan tangan bunda itu di pipi kanannya. Mereka tertawa bersama. Entah apa yang menjadi pokok pembahasan di antata mereka saat ini, yang jelas setahuku ayah begitu mencintai bunda.
Namun saat melihat mereka yang seperti itu, masih tetap bahkan sangat mesra di mataku, membuat aku semakin berpikir kembali tentang perasaanku ini pada Haikal. Pasalnya Haikal telah menciumku dan telah memelukku kemarin. Begitupun dengan aku yang telah membiarkannya mengecap bibirku, menikmati setiap balasan pelukkanku. Walaupun dalam kondisi seperti ini.
Entahlah, aku tidak bisa membedakan perasaan ini untuk sekarang. Pasalnya, saat ini pikiranku sedang kalut, begitupun dengan perasaanku. Hanya saja, aku kurang mengerti dengan gaya bahasanya beberapa waktu terakhir ini, saat mencoba mengobrol denganku. Tidak sedingin biasanya, malah terkesan lebih lembut dan lebih hangat.
Kembali aku memperhatikan ayah dan bunda, melihat kebersamaan mereka yang sungguh membuatku iri. Masa suka dan duka mereka lalui bersama hingga tahap ini.
'Aku ingin seperti mereka, kelak,' batinku.
Perlahan aku melangkahkan kakiku mendekati mereka, berdiri di kursi belakang ayah, menyentuh bahunya lalu ia membalas memegang tanganku. Bunda tersenyum simpul.
***
Siang harinya aku memutuskan untuk pulang ke rumah, sekaligus untuk mengganti pakaianku, sebab saat ini aku masih menggunakan gaun makan malam yang ku tutupi dengan jaket pinjaman Haikal. Baru saja aku keluar dari ruang ICCU, tak jauh setelah berjalan, tiba-tiba saja ada suara seorang lelaki di belakangku yang seketika menghentikan langkahku. "Mau kemana?"
Aku menoleh mencari siapa pemilik suara itu, ternyata Haikal. Ia berdiri tepat berjarak beberapa langkah di belakangku, membuat aku tersentak kaget melihat kehadirannya. Lidahku seakan kelu untuk berucap menjawab pertanyaannya.
"Emm ... ma-mau pu-pulang." Aku tergagap menjawab pertanyaannya.
Haikal menatapku sejenak, mata kami beradu. "Oh ya udah, hati-hati." Dia langsung membuka pintu ruang ICCU yang tepat berada di sebelah kanannya, kemudian masuk ke sana.
Aku melongo melihat tingkahnya yang tiba-tiba kembali seperti di awal pertemuan kami. Biasa saja, tanpa ekspresi dan tanpa kelembutan. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sikapnya tadi pagi. Hanya butuh beberapa jam saja, dia bisa berubah kembali dan itu sungguh membuatku kesal.
"Sialan!!" gumamku.
Aku segera berbalik lalu bergegas keluar dari rumah sakit ini, menuju pangkalan ojek yang berada di depan rumah sakit, di pinggir jalan raya. Tinggal beberapa langkah lagi kakiku sampai menginjaki tempat pangkalan ojek, namun sebuah mobil tiba-tiba berdecit, membuatku terpekik kaget dengan tangan yang menepuk-nepuk pelan bagian dadaku.
"Sialan!! Kalo jalan liat-liat! Jangan ngebut!! Ini jalan rumah sakit, bukan road race, Bambannkk!!" gerutuku nyaring, sambil mengacak pinggang. Sedangkan mobil itu terus saja melaju tanpa ada rasa bersalah.
__ADS_1
Aku kembali melangkahkan kaki menuju pangkalan ojek, kemudian segera pulang menuju rumah dengan diantar mamang ojek.
Sesampainya di rumah aku segera membersihkan tubuhku lalu berberes-beres, membawa beberapa pakaian bersihku dan beberapa pakaian ayah untuknya. Namun seketika aku kembali teringat akan sikap yang Haikal perlihatkan padaku tadi, gara-gara melihat jaket miliknya yang tadi aku kenakan.
Baru diperlakukan seperti itu saja, sudah cukup membuat emosiku terpancing. Aku menghela napas berkali-kali, lalu aku pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih dan meneguknya habis dalam sekali angkat.
Aku berdecak kesal setelah menghabiskan segelas minumku. Ingin sekali rasanya aku berteriak untuk melampiaskan rasa yang tidak aku mengerti ini. Rasanya baru kemarin hatiku berbunga, bermekaran. Namun saat ini hatiku serasa tergores pecahan kaca, perih tapi tidak berdarah.
Napasku tersengal, aku segera berlari menaiki tangga dan mencari inhaler-ku di dalam tas kerjaku. Ya, sudah lumayan lama asmaku ini tidak kambuh semenjak aku keluar dari rumah sakit bulan lalu. Sudah kudapatkan alat bantu itu dan kugunakan secara bertahap hingga napasku kembali normal.
Setelah sejenak duduk sambil mengatur napas tanpa inhaler, aku kembali ke dapur untuk mengambil tas pakaian yang tadi sudah kusiapkan. Lalu mengambil kunci mobil ayah di atas meja ruang telivisi dan segera kembali menuju rumah sakit.
***
"Oooh iya, Om inget. Dulu kita pernah ketemu 'kan ya? Waktu Clara beresin berkas gegara kecerobohannya." Ayah melepaskan gelak tawanya saat aku membuka pintu ruang rawat inap bunda.
Aku sempat bingung saat kembali menuju ruang ICCU karena tidak mendapati keberadaan ayah dan bunda di sana. Hingga akhirnya seorang perawat mendatangiku dan mengatakan jika bundaku telah dipindahkan ke ruang rawat inap di lantai empat kamar Anggrek nomer sebelas.
"Iya, Om, Tante. Clara menabrak beberapa tumpukkan berkas hingga membuatnya berantakkan. Jadi saya juga yang memintanya untuk bertanggung jawab. Maaf."
"Gak papa, om senang jika Clara mau bertanggung jawab." Ayah menyahuti obrolan Haikal.
Aku masih berada di ambang pintu, terdiam. Hingga bunda melihat aku yang masih mematung mendengarkan cerita mereka. Melihat semua itu, hatiku kembali meragu dengan sikap yang telah Haikal berikan padaku. Sikap ramahnya saat makan malam bersama keluarganya, sikap lembutnya saat berdua denganku, jiwa pelindungnya membantu bunda dan rasa care-nya padalu tadi pagi, semua itu membuatku semakin ragu.
Belum lagi ia bersikap seolah berpura-pura bahwa pelukkan pagi tadi tidak pernah ada. Kecupan di keningku seakan itu hanyalah mimpi. Digantikan dengan sikap dinginnya atau semua ini hanya perasaanku saja? Hanya penilaianku semata?? Seakan berbanding terbalik dengan apa yang kulihat saat ini, ia akrab dengan kedua orantuaku. Bahkan saat bunda memanggilku, ia ikut menoleh dan tersenyum kembali padaku. Senyuman yang tadi pagi sempat aku dapatkan dari bibirnya.
Aku hanya mencoba untuk menampilkan senyuman palsu, senyum terpaksa.
---------------
Jefri POV.
__ADS_1
Aku menyelinap keluar dari ruangan Lisa dengan membawa serta ponselku, sedangkan di dalam ruangan mereka semua sedang berbincang ringan pada Lisa. Biasa, menanyakan bagaimana perasaannya sekarang ini.
Aku menekan nomer seseorang untuk kuhubungi. Bukan tanpa alasan, aku hanya ingin membuatnya menjadi lebih tenang dan membuatku juga jadi tenang. Sebab, orang ini selalu saja mengganggu waktu luangku. Kadang dia mengirimkan curahan hatinya melalui untaian kata-kata yang ... entahlah! Kalimat itu membuatku pusing dan tidak mengerti apa maksudnya dengan begitu jelas.
"Hallo, lu dimana? Oh, ya udah kalo gak sibuk mending ke sini deh, ke rumah sakit Haikal. Ada yang mau gua omongin. Ya ke sini aja bawel!! Ribet ah lu. Awal lu, gua tungguin!!" Kugeser tombol merah yang tertera di layar ponselku lalu kembali kumasukkan ke dalam saku celanaku.
Aku tersenyum lebar.
Entah cara ini akan berhasil atau tidak, aku hanya ingin mereka bertemu. Mungkin rencana ini terdengar egois tapi aku hanya mempercepat proses pertemuan mereka sebab pada akhirnya mereka juga tetap akan bertemu suatu saat nanti. Tapi menurutku, inilah waktu yang tepat.
Entah apapun nanti keputusan akhir dari hubungan mereka, yang jelas semuanya harus diselesaikan dengan baik-baik saja, karena mereka bertemu juga dengan keadaan yang baik-baik saja.
Namun mungkin, aku dan Tika akan sangat menyayangkan hubungan mereka. Sepasang insan yang saling melengkapi kekurangan diri mereka masing-masing, hingga menjadikan kekurangan mereka terlihat bagaikan kelebihan istimewa yang mereka miliki jika bersama.
Bersambung ...
-------------------------------
Jangan lupa vote guyss π
Malam ini terakhir jam 23.59 waktu setempat π
Aku berdoa semoga kalian mau memberikan poin kalian yang banyak untuk judul ini. Karena tanpa kalian, cerita ini bukanlah apa-apa. Dan tanpa antusias kalian pula, otakku takkan berjalan dengan lancar π
Jika judul ini masuk ranking 20 besar, akan aku berikan 'hottest extra part' untuk kalian semua πππ
#salamotakmee ... Gak jadi!!!
#salambucin aja ππ€£
Babay!
__ADS_1