
Jangan lupa jempolnya di arahin buat pencet love, like dan kasih komen.
Kalau berkenan kasih vote koin atau poin juga boleh.
Selamat membaca ...
—————
Jefri POV.
Aku membuka mata akibat sinar matahari yang menyinari kelopak mataku. Menyelip dari tirai jendela yang sudah terbuka dengan rapi. Udara sejuk juga mulai masuk dan mengisi kamar ini dengan semilir angin yang masih terasa menusuk tulang. Kulihat jam saat ini menunjukkan pukul enam pagi lewat beberapa menit.
Di samping tempat tidurku sudah kosong, Tika sudah bangun dari tidurnya dan entah di mana dua berada sekarang. Aku menggeliatkan tubuhku guna meregangkan semua otot persendian di tubuhku ini. Akhir-akhir ini aku terlalu banyak duduk di kantor dan jarang berolahraga. Membuat beberapa bagian di tubuhku terasa pegal.
Setelah itu, aku memutuskan untuk bangkit dari tidurku, meninggalkan bantal empuk yang selalu melayaniku setiap malamnya. Sekali lagi aku meregangkan tubuhku di saat aku sudah berhasil berdiri tegap lalu melangkah untuk melihat keadaan kedua anakku.
Mereka masih tertidur lelap. Kupandangi wajah mereka secara bergantian dan rata-rata memang banyak yang Tika wariskan pada mereka. Sedangkan aku hanya mewariskan beberapa bagian saja. Aku mendengus sambil tersenyum. Mungkin lain kali, aku harus lebih banyak berperan dalam permainan itu, agar anakku mirip denganku. Yah, setidaknya ada beberapa bagian yang mewarisi mirip denganku. Aku terkekeh geli membayangkan semua itu.
Perlahan aku menciumi pipi, bibir dan kening mereka satu per satu secara bergantian hingga akhirnya sang ibu datang dari balik pintu kamar. "Morning, baru bangun?" sapa Tika dengan dua botol sussu di tangannya. Dia berjalan mendekatiku dan mengecup bibirku kilas. Lalu memberikan botol sussu itu pada masing-masing buah hati kami.
Aku merengkuh tubuhnya, melilitkan kedua tanganku tepat pada perutnya yang sudah kembali rata. Bahkan tubuhnya pun sudah mulai kembali ke bentuknya semula. Lalu kutempelkan bibirku pada tengkuk lehernya. Tika mengelak kegelian, tetapi juga membiarkanku melakukan itu. Ya, dia menyukainya.
Setelah dia memastikan kedua anak kami sudah menghabiskan asupan gizinya, Tika kembali menarik botol itu dari mulut mereka. Lalu meletakkannya di sisi tempat tidur dan ia memilih untuk membalikkan tubuhnya menghadap padaku. Membuat kecupanku pada lehernya terlepas begitu saja.
"Nakal ya, pagi-pagi!" Tika menjepit hidungku dengan kedua jarinya. Aku terkekeh.
"Cuman sama kamu!" Kembali aku mengecupnya, kali ini di pipinya.
"Udah-udah, mandi sana! Aku siapin pakaian kerja kamu." Tika langsung mengelak, mendorong tubuhku dengan kekuatannya, aku melepaskannya.
"Mandiin dong," rengekku padanya yang spontan membuatnya melayangkan cubitan kecil pada bagian pinggangku. Kami tertawa bersama.
Setelah aku selesai mandi dan mengenakan pakaianku serts bersiap-siap, aku sempat melihat isi ranjang kedua anakku yang sudah kosong. Itu artinya mereka sudah bangun dan sudah berada di lantai bawah bersama Tika.
__ADS_1
Aku meraih ponselku dan memasukannya ke dalam saku celanaku lalu bergegas keluar kamar untuk menuju ke ruang makan. Sarapan bersama dengan yang lainnya.
***
Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan sedang menuju ke arah kantor. Setelah sebelumnya berpamitan pergi bekerja dengan orang rumah. Terutama dengan istri dan kedua anakku.
Sesampainya di kantor, aku langsung menuju ke ruanganku dan betapa terkejutnya aku begitu melihat Brandy yang sudah ada di balik layar komputernya. Aku pun menghampirinya.
"Cepet banget udah datang?" Aku menyapanya.
Brandy mengangkat wajahnya menatapku lalu berkata, "Persyaratan nomer satu, kita harus profesional jika di dalam lingkungan kerja. Entah itu di dalam kantor atau pada saat perjalanan dinas. Termasuk meeting dan bertemu klien di luar kantor. Ingat, Pak?" tegasnya.
Dan sayangnya aku melupakan hal itu. Lalu sebagai hukumannya aku harus memberikan selembar uang kertas berwarna merah padanya, saat itu juga.
'Sialan!' rutukku dalam hati sambil mengeluarkan selembar uang itu dari dalam dompetku lalu memberikan padanya.
Begitulah kesepakatan yang kami buat di luar surat kontrak kerja perusahaan. Sebab Brandy adalah orang yang tegas, smart dan juga professional dalam pekerjaan. Dia termasuk orang yang tidak mau mencampurkan urusan pribadinya dengan urusan kantor. Meskipun dalam keadaan terdesak sekali pun.
"Oke, tolong ikut saya ke ruangan dan bacakan jadwal saya hari ini," ucapku berusaha mematuhi peraturan yang kami berdua buat sendiri.
Setelah aku duduk di kursi singgasanaku, dengan perlahan Brandy membacakan jadwal meeting yang akan aku jalani hari ini. Untungnya meeting itu bertempat di kantorku sendiri.
"Jam berapa tadi yang pertama?" tanyaku sambil menyalakan komputerku.
"Jam sebelas, Pak. Kemungkinan hanya akan berlangsung selama satu jam, sebab hanya akan melakukan penanda tanganan kerja sama saja," jelas Brandy.
Tok tok tok!
"Permisi, Pak." Jessy mengetuk pintu ruanganku yang terbuka kemudian aku mempersilakannya untuk masuk.
(Author note: Kalian masih ingat siapa Jessy?)
"Iya, ada apa?" tanyaku padanya.
__ADS_1
Jessy menatapku dan Brandy secara bergantian lalu dia menarik napasnya dalam-dalam. Semua terlihat begitu jelas saat bahunya menaik dan menurun secara perlahan. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan padaku. Namun terkesan ragu. Aku membulatkan kedua mataku menunggunya untuk berbicara.
"Emm, begini, Pak. Amplop ini ada di atas meja saya. Tadinya saya pikir untuk saya, ternyata ini untuk Bapak. Jadi mohon maaf jika sudah saya buka." Jessy menyodorkan sebuah amplop putih di atas mejaku.
Aku meraih amplop itu lalu membukanya. Ternyata isinya adalah selembar surat resign dari pak Hardi dan juga beberapa lembar surat lainnya. Aku membaca isi surat itu yang isinya adalah surat permohonan maaf dengan berbagai penjelasan. Bahkan di sana juga tertulis alasan beliau melakukan korupsi tersebut.
Lumayan panjang isi surat itu. Berkali-kali aku menghela napasku begitu selesai membaca satu paragraf. Beliau takut untuk bertemu denganku lagi, bahkan beliau juga mengaku malu untuk bertemu dengan kedua orang tuaku.
Dan dengan segala kerendahan hatiku, beliau meminta agar aku tidak menyangkut-pautkan permasalahan ini pada anaknya, Paula. Sebab anaknya tidak tahu apa-apa. Semua murni karena beliau yang merehasiakannya. Bahkan beliau juga menjelaskan jika Paula sering menerima tindak kekerasan dalam rumah tangganya bersama Pablo.
Oleh sebab itu, sejak dahulu, Paula tidak ingin menikahi Pablo. Dan masih banyak tulisan lagi tentang anaknya itu, yang mana aku malas untuk meneruskan membacanya.
"Terima kasih, kamu boleh kembali ke ruangan kamu," perintahku halus pada Jessy agar dia segera kembali ke ruangannya.
Sedangkan aku mengembuskan napasku lalu kembali melipat kertas di tanganku itu dan memasukannya ke dalam amplop. Tempatnya semula.
Tak lama berselang tiba-tiba ponsel Brandy berbunyi. Lalu ia meminta izinku untuk menerima sambungan telepon itu. "Apa? Jangan bercanda! Dibawa ke mana? Ok, makasih." Brandy melepaskan benda tipis itu dari telinganya.
Sebenarnya aku sedikit terkejut saat dia meninggikan nada suaranya saat menerima telepon itu. Tetapi saat dia mengatakan bahwa pak Hardi kecelakaan di jalan tol barusan, membuatku semakin terperangah dibuatnya.
"Dapat kabar dari mana?" pekikku seraya berdiri.
"Anak buah saya, Pak, barusan dia mengabari. Saya lupa untuk memutuskan hubungan kerja dengannya dan ternyata sampai saat ini dia masih mengikuti pak Hardi." Brandy mengatakannya dengan formal.
Kemudian aku memintanya untuk segera membawaku ke rumah sakit yang menjadi rujukan pak Hardi saat ini. Brandy menyanggupinya lalu kami bergegas meninggalkan kantor.
Di sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan kami berdua, aku mengambil ponselku lalu menghubungi papa dan mama untuk mengabari kejadian ini. Dari seberang sambungan telepon sana, papa terdengar tak kalah terkejutnya. Beliau terdengar shock hingga akhirnya suara mamah yang menggantikan papa untuk berbicara padaku. Lalu kami sama-sama mengakhiri sambungan telepon itu.
Sungguh tidak disangka hal ini bisa terjadi.
"Kata anak buah saya, pak Hardi menabrakan mobilnya dengan sengaja ke arah persimpangan jalan, Pak." Brandy memegang kemudi mobilnya sambil memeriksa ponselnya.
"Lu mau kita nyusul masuk rumah sakit juga?! Perhatiin jalan lu di depan!" seruku yang terkejut melihat cara menyetirnya. Sungguh ceroboh!
__ADS_1
Setelah mengucapkan kata maaf, Brandy langsung melepaskan ponselnya dan mengemudi dengan benar. Sedangkan aku duduk di sampingnya dengan memerhatikan ruas jalan yang ada di depan dan pikiranku yang melayang entah ke mana.
Bersambung ...