
Selamat membaca ...
——————————
Haikal POV.
Aku cukup bahagia hari ini mendengar semua ucapan yang keluar dari mulutnya. Mungkin ini adalah sebuah jalan baik untuk masa depan kami berdua. Aku lepaskan pelukan kami lalu aku meraih jemarinya dan mengecup punggung tangannya.
“Aku harap kamu bisa bertahan dengan keras kepala ini,” pintanya yang dipenuhi dengan deraian air mata.
Kemudian aku menghapus air matanya dengan kedua jempolku dan mengatakan bahwa, “Aku akan membuat kamu mengerti dan bertahan selamanya, sampai impian kita terwujud.” Kami tersenyum bersama.
Setelah semua drama itu, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pulang ke rumahnya. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi ketidakpastian, semua telah kami tentukan dan menyamai tujuan serta impian kami berdua. Apa pun caranya, aku akan mempertahankannya.
Bukan karena janjiku pada bundanya telah tiada, bukan pula karena rasa bersalahku tidak dapat menolong bundanya. Tetapi karena hati ini sudah berkali-kali ragu dan hanya kembali padanya. Dengan segala kekurangannya begitu pun sebaliknya, semoga saja Clara pun menerima segala kekuranganku, untuk merajut impian bersama selamanya.
**
“Ayo masuk, ayah sudah beli makan siang. Haikal juga makan di sini aja, sama-sama?” tawar ayah Clara, begitu aku mengantarnya pulang sampai ke depan pintu rumahnya.
Aku tergagu menjawabnya, takut Clara tidak mengizinkan. “Em ... aku ....”
“Ayo masuk, kita makan sama-sama.” Clara mengizinkanku untuk begabung dengannya lalu ia segera berbalik menahan pintu depan rumah untuk mempersilakanku masuk. Sedang ayahnya sudah terlebih dahulu berjalan jauh di depan.
Sebuah senyuman aku kembangkan untuknya seraya masuk dan mengikuti langkahnya menuju meja makan. Clara segera menyiapkan makanan itu, memasukannya ke dalam beberapa piring dan juga mangkuk lalu menyajikan ke atas meja. Dia juga menyiapkan beberapa alat makan serta beberapa gelas lalu mengisinya dengan air.
“Ayo makan, Nak Haikal. Maaf tadi ayah cuman beli pakai ojek online.” Beliau bersemangat.
“Padahal 'kan tadi Ayah bisa bilang sama aku.”
“Ayah gak tahu jika kamu bakalan pulang bersama Haikal. Kalau tahu begitu, pasti ayah hubungi.” Beliau kembali menyahut.
Aku hanya terkekeh pelan sambil menundukkan wajah, lalu melanjutkan acara makan siang ini. Mereka berdua terlihat hangat dan memang tidak sehangat sebelumnya. Ya, aku memang pernah makan malam satu kali dengan mereka. Saat kondisi masih lengkap.
Mereka terlihat sangat bahagia dan juga sangat memanjakan Clara. Memanjakan dengan cara mereka sendiri, berbeda dengan kebanyakkan orang. Dan itulah yang aku lihat dari seorang Clara, dia keras kepala dengan caranya sendiri dan aku rasa, aku bisa meruntuhkan semua itu.
Makan siang kali ini begitu tak terencana tetapi cukup berkesan untukku. Seolah menandakan sebuah embusan angin segar untukku. Bahkan semacam pertanda yang mungkin akan bagus untuk di masa yang akan datang.
Selesai semuanya, ayah Clara memintaku untuk menemani beliau bersantai sejenak di ruang televisi. Sedangkan Clara membersihkan dapur dan juga meja makan yang telah kami gunakan.
“Gimana, Clara sudah mau?” bisik beliau pelan, sebab jarak antara ruang televisi dan juga dapur lumayan berdekatan.
__ADS_1
Aku mengangguk pelan. “Iya dia mau, Yah. Nanti biar aku jadwalkan dulu.”
Beliau menghela napasnya, terlihat lega. “Syukurlah kalau begitu. Ayah sudah berkali-kali mencoba membujuknya tapi mungkin harus dengan cara yang pelan.”
“Itulah, mungkin aku kurang sabar dan terkesan terburu-buru jika menyangkut anak Ayah itu,” candaki yang sontak membuat beliau tertaww terbahak-bahak.
“Sekarang kamu tahu cara mengatasinya. Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan kalian?”
“Tetap sesuai rencana, Yah,” sahut Clara yang datang sambil meletakkan secangkir teh hangat di atas meja, “gak apa-apa 'kan, Yah? Aku tahu kita masih dalam suasana berduka.” Aku menatapi Clara, merasa terkejut dengan ucapannya itu. Tidak percaya jika ia akan tetap meneruskan tanggal pernikahan yang sudah aku tentukan itu.
“Ayah gak masalah, selama kamu mau dan memang itu keputusan kamu.” Kemudian ayahnya memandangiku, aku hanya bisa tersenyum tipis.
Mata ini terus memandangi Clara dalam senyuman sambil sesekali menyetujui perkataan ayahnya yang menasihatinya di depanku. Sebenarnya, aku tidak menuntut banyak padanya begitu ia sah menjadi istriku. Aku hanya ingin ditemani selama mungkin dengannya.
“Berarti nanti kamu harus belajar masak. Jangan sampai Haikal makan di luar.”
“Gak apa-apa, Yah. Itu bisa sambil jalan, gak perlu dipaksakan.” Aku menimpali.
“Lalu apa aku boleh terus bekerja? Aku gak mau resign dan hanya di rumah aja seharian,” tanyanya sambil menatapku.
Ayah tertawa kemudian menyuruh kami berdua untuk membicarakan semuanya, membuat perjanjian kami sendiri, sebelum membuat perjanjian yang lebih sakral untuk sehidup semati. “Ya sudah, kalian bicarakan aja dulu. Ayah mau istirahat, dari pagi bersihin gudang. Ayah tinggal ya.” Lalu beliau pergi naik ke lantai atas dan meninggalkan aku berdua dengan Clara.
Mulanya, aku menggeserkan duduk untuk mendekat padanya yang duduk di sofa tunggal. Lalu menatapnya secara dekat. “Kamu boleh tetap bekerja, sampai kamu merasa bosan untuk melakukan itu.”
Terkekeh pelan sambil meraih kedua tangannya. “Kalau aku sudah menikah, jam kerjaku akan berubah. Sebab ada seorang istri yang menungguku di rumah.”
“Apa aku harus pindah dan tinggal ke rumah kamu?” tanyanya lagi.
Ada sebuah rasa khawatir yang terpancar dalam mata cokelatnya dan itu ... terlihat sangat jelas. Raut wajahnya pun mengisyaratkan hal yang sama. Sepertinya aku tahu mengapa sebabnya.
Kembali aku menggenggam erat tangannya, mencondongkan tubuhku menatap kedua bola matanya. “Jika kamu mengkhawatirkan ayah yang hidup sendiri, aku tidak keberatan jika harus tinggal di sini. Asalkan ayah kamu mengizinkan.”
“Biarkan aku yang bicara dengan ayah nanti.”
“Anything for you,” lirihku sembari mengecup punggung tangannya, “kayaknya aku harus pulang, aku sudah berhari-hari aku belum ketemu mamah. Gak apa-apa 'kan aku tinggal?”
Clara menggelengkan kepalanya, lalu ia mengantarkanku hingga ke dalam mobil. “Sampai pamitku sama ayah.”
“Iya,” jawabnya singkat.
“Besok aku kemari lagi.”
__ADS_1
“Memang gak kerja?”
“Kerja, tapi aku masih bisa aku tinggalin. Aku pulang, bye.”
Perlahan menginjak pedal gas kemudian kembali menutup kaca jendela. Sesekali memandanginya melalui kaca spion, dia tidak beranjak dari posisinya hingga aku membelokkan setir dan menghilang di persimpangan.
Dengan kecepatan sedang aku melajukan mobil menuju rumah mamah, sebab yang aku dengar terakhir kali saat Max ke rumahku, dia mengatakan jika semuanya berkumpul di rumah mamah. Begitu pun Jefri dan Tika, aku merindukan kedua orang ini. Entah bagaimans saat ini kondisi Jefri pasca keluar dari rumah sakit.
Tak butuh waktu lama untuk menuju rumah, sebab jalanab di siang hari ini cukup lenggang. Para pekerja telah kembali ke pekerjaan mereka karena jam istirahat telah selesai. Membuatku bisa melintas dengan lancar.
Sesampainya di rumah, aku melihat ada tiga buah mobil yang terparkir rapi di halaman depan. Siapa lagi jika bukan mobil Alex, kedua orang tua Jefri dan juga kedua orang tua Shilla.
Ramai. Begitu kondisi rumah saat aku melewati pintu depan. Mereka semua berkumpul di ruag tengah, bercanda tawa serta bersantai ria. Aku menyapa mereka semua dengan sopan. Jefri terlihat sehat dan baik-baik saja seperti biasanya. Begitu pula Tika yang selalu tersenyum menghiasi wajahnya. Dalam hati, aku bersyukur untuk kebahagiaan mereka, untuk ujian hidup mereka yang telah berakhir. Setidaknya, mereka dapat hidup tenang saat ini dan selanjutnya.
Melihat Max yang berdamai dengan hatinya. Memeluk Shilla—istrinya—yang juga menerima masa lalu Lisa. Bahkan mereka berdua bisa duduk berdampingan. Bercerita satu sama lain.
Lalu aku bisa melihat mamah yang tetap hadir di tengah-tengah kami. Dan beliau bisa melihatku menikah, melihatku bahagia dengan pilihanku.
“Em ... aku ada sedikit pengumuman. Karena sepertinya ... aku akan butuhkan pertolongan dari kalian semua.”
“Apa kami gak diajak?” Tiba-tiba Reza muncul, bersama Igo dan juga Brandy—sekretaris Jefri.
Aku tertawa pelan. “Tentu, aku juga membutuhkan sistem pengamanan dari kalian.”
Semua sontak tertawa, karena ketiga orang ini sudah terkenal dengan cara kerjanya yang terbilang rapi. Ya, lumayan untuk pengamanan acara pernikahanku nanti. Aku berniat dalam hati.
“Jadi jenis bantuan apa yang perlu kami berikan?” seru Jefri membuat yang lainnya memandanginya sekilas kemudian semua kembali menatapku.
Aku tersenyum tipis. “Pernikahanku tetap akan dilaksanakan tanggal 11 Juli bulan depan.” Mereka semua berseru dan kembali ramai.
“Jadi aku minta bantuan kalian untuk mempersiapkan ataupun mengatakan padaku, apa saja yang harus aku lakukan mulai hari ini dan seterusnya. Sebab aku akan kembali bekerja besok, tetapi dengan jam kerja normalku.”
Semua menyetujui untuk membantuku, mereka kembali berbincang. Menanyakan hal apa saja yang sudah aku persiapkan sejauh ini dan apa yang belum aku lakukan. Aku merasa beruntung memiliki mereka semua. Aku merasa beruntung dilahirkan dalam keluarga yang seperti ini.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya, cukup dengan memberikan like serta komen pada setiap episode ini.
__ADS_1
Terima kasih 💋
@bossytika