Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 70


__ADS_3

Still Tika POV.


Sesampainya di kantor, aku langsung turun dari mobil setelah berhasil mengecup bibir Jefri sekilas, hingga membuatnya terkekeh geli. Aku menyapa seluruh karyawan yang berpapasan padaku, tanpa kecuali, sampai akhirnya aku berhasil duduk di kursi kerjaku.


Hari ini hari sabtu. Sebenarnya semenjak aku menikah dan mengandung, pekerjaanku agak sedikit berkurang. Kini lebih banyak Metta yang mengatasi pekerjaan di lapangan, sedangkan aku yang membuat laporannya di kantor berdasarkan laporan Metta. Hanya saja aku mulai merasa bosan selalu berada di kantor.


Ditambah lagi dengan hadiah yang selalu kuterima selama dua hari belakangan ini dari Dana, si peneror handal. Namun bersyukurlah aku di pagi hari ini tidak menemukan sebuah kotak mencurigakan di atas meja kerjaku. Aku menghembuskan napas lega.


Aku mulai menyalakan komputerku, lalu mengecek beberapa email masuk dari suppliers untuk bahan dekorasi acara yang akan dilaksanakan minggu depan. Hingga akhirnya fokusku terbuyarkan karena suara seseorang yang memanggil namaku.


Aku mencoba mencari sumber suara itu yang ternyata berasal dari samping kananku, lumayan jauh. Ya, bos ku memanggilku dan mengisyaratkan untuk masuk ke ruangannya. Aku segera mengangguk lalu mengunci tampilan layar komputerku. Kemudian beranjak menuju ruangan bosku.


"Permisi, Bos." Aku mengetuk pintunya lalu masuk. Dia mempersilakanku untuk duduk di kursi depan meja kerjanya.


Tanpa basa-basi, pak bos langsung membahas sebuah pekerjaan padaku. Tadinya aku pikir ini pekerjaan lanjutan dari project yang pernah aku kerjakan sebelumnya, tapi nyatanya ini adalah project baru. Tidak banyak informasi yang pak bos berikan padaku. Hanya saja, ia sudah mengaturkan jadwal pertemuanku dengan client tersebut.


Setelah itu aku keluar dari ruangannya, membawa selembar kertas yang bertuliskan sebuah alamat. Sebuah janji temu yang dijadwalkan pak bos untukku tadi.


Aku kembali menghempaskan bokongku pada kursi kerjaku, menyenderkan punggungku pada sandaran kursi lalu sambil memikirkan project baru ini. Secara, tumben pak bos mengizinkanku kembali untuk meng-handle pekerjaan lapangan.


'Sepertinya ada yang aneh!' batinku.


----------------------


Haikal POV.


Pagi ini aku masih berada di rumah sakit, setelah semalaman bergelut di ruang UGD untuk menyelamatkan beberapa pasien yang masuk. Ranti dan Adam juga selalu standby membantu dalam menangani ke-hectic-an di sana. Tidak hanya itu, mereka berdua juga sama gilanya denganku jika sudah menyangkut masalah pekerjaan, masalah sebuah nyawa manusia.


Mereka juga sama seringnya denganku untuk berada di rumah sakit ini. Kadang bahkan istirahat di sini, tidur di sini sampai mandipun juga di sini, sama denganku.


"Dam, sore ini kalian handle bisa 'kan?"


"Lu mau kemana emang?" tanya balik Adam disela aktivitasnya mencatat hasil periksa pasiennya.


"Gua ada urusan, mungkin tengah malem baru bisa stay di sini lagi."


"Boleh, berarti lu gantiin gua sampe pagi ya? Gua kurang tidur."


"Beres. Eh, Ranti mana?" Aku mencari-cari sosoknya. Dia hanya sempat istirahat tidur sebentar di ruanganku tadi, hanya beberapa jam.


"Entahlah." Adam masih fokus dengan pekerjaannya.


Aku kembali memeriksa perkembangan pasien UGD satu persatu, hingga akhirnya selesai. Lalu aku kembali mengurusi berkas yang ada di ruang kerjaku hingga akhirnya ponselku berbunyi.


🎶


I could fall, or I could fly

__ADS_1


Here in your aeroplane


And I could live, I could die


Hanging on the words you say


And I've been known to give my all


And jumping in harder than


Ten thousand rocks on the lake


🎶


Aku beranjak dari kursi kerjaku, merogoh ponsel yang sebelumnya aku letakkan di kantong jasku.


Mamah calling.


"Hallo? Iya kenapa, Mah? Enggak sih, tapi aku malem udah ada janji ... iya gak papa kalo mau sore aja, soalnya aku izin dari sore. Ya udah, bye!"


Aku putuskan sambungan telepon. Mamah mengajakku untuk menemaninya berkunjung ke makam papah. Ia rindu dengan papa. Ya, aku juga begitu.


Semenjak Tika menikah dan hidup terpisah, mamah seperti kesepian. Tidak seperti dulu dan itu semakin membuatku mengkhawatirkan kondisi kesehatannya. Kadang aku juga lebih memilih untuk pulang ke rumah mamah daripada ke rumahku sendiri, walaupun jarak yang jauh.


Aku selesaikan pekerjaanku lebih cepat dari sebelumnya, agar aku bisa memulai meeting siang ini dengan para dokter spesialis. Ya, hari ini memang jadwal untuk briefing bulanan rumah sakit ini bersama para dokter.


Tokk ...


Tokk ...


Tokk ...


Pintu itu terbuka, Ranti muncul di balik pintu, laly masuk dan duduk di kursi di depan meja kerjaku. Sedangkan aku kembali memfokuskan pandanganku ke arah layar komputer. Ranti menanyakan jam berapa tepatnya untuk menghadiri briefing siang ini, lalu aku menjawab pertanyaannya dengan singkat.


Tak hanya sampai di situ, Ranti kembali menanyakan kabar tentang keizinanku malam ini. Aku menoleh padanya, mengernyitkan alisku. Menatapnya dengan curiga.


"Tau dari mana malam ini gua izin?"


"Kata Adam." Jawaban santai itu semakin membuatku curiga namun segera aku menghilangkan rasa curigaku itu.


Aku hanya menganggukkan kepalaku untuk merespon jawabannya. Lalu aku kembali melanjutan pekerjaanku, mengecek data anggaran bulan ini. Namun aku merasa ada yang aneh, Ranti tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya, membuatku penasaran, apakah dia masih memiliki pertanyaan yang ingin ia ajukan padaku, sehingga membuatnya tetap berada disana.


"Masih ada pertanyaan?" ucapku pelan.


Ranti dengan spontan langsung menggelengkan kepalanya lalu segera keluar dari ruanganku tanpa permisi. Aku hanya menggeleng melihat tingkahnya yang mulai aneh akhir-akhir ini.


***

__ADS_1


Selesai sudah pekerjaanku, briefing juga sudah selesai. Kini waktunya aku untuk segera pulang, menemani mamah yang ingin berkunjung ke makam papah.


Segera aku melepaskan jas putihku, menggantungnya di sandaran kursi kerjaku. Lalu aku langsung meraih kunci mobilku dan pergi menuju rumah mamah.


Di sepanjang perjalanan, pikiranku kembali melayang, hanya memikirkan apa yang harus aku katakan jika orangtua Clara bertanya berbagai macam pertanyaan padaku nanti. Hingga akhirnya ponselku berbunyi dan membuyarkan beberapa ide yang sudah aku pikirkan tadi.


🎶


I could fall, or I could fly


Here in your aeroplane


And I could live, I could die


Hanging on the words you say


And I've been known to give my all


And jumping in harder than


Ten thousand rocks on the lake


🎶


Mamah calling.


"Ada apa lagi, Mah?" jawabku agak malas.


Ternyata mamah hanya menanyakan kapan tepatnya aku akan menjemputnya untuk pergi, agar mamah bisa bersiap sebelumnya.


"Ini aku udah dijalan, paling sekitar lima belas menit lagi nyampe. Iya, enggak ngebut kok, ini jalan tiga puluh." Aku dengan santai menanggapi kekhawatirab mamah yang berlebihan.


Setelah itu mamah memutuskan sambungan telepon, tanpa mengucapkan apapun. Aku heran dengan perlakuannya yang seperti ini.


Begitu mobilku sampai di halaman depan garasi rumah mamah, aku melihat mamah yang sudah siap di depan pintu, yang langsung berjalan mendekatiku dan masuk ke dalam mobil.


"Lama banget," protes mamah.


"Katanya tadi jangan ngebut di jalan, ini malah protes kelamaan, gimana sih?" sahutku tak kalah sewot. Mamah hanya diam.


Aku segera memutarkan arah mobil lalu kembali meninjak gas, melaju menuju ke makan papah. Selama di perjalanan, ku setelkan musik dari audio yang ada di dashboard mobilku, pelan. Sesekali ku lirik mamah yang sedang duduk di sampingku. Pandangannya mengarah jauh ke luar jendela mobil, namun terlihat jelas, pandangannya seakan kosong.


"Mamah udah makan tadi?" Aku berusaha memecah kesunyian.


"Udah tadi siang." Mamah tetap memandang keluar tanpa menoleh padaku.


Melihat mamah yang bersikap biasa itu membuat aku semakin mengkhawatirkan kondisinya. Mungkin merindukan papah menjadi salah satu obat untuknya, tapi tidak bagiku yang melihatnya secara langsung ini.

__ADS_1


Dengan perlahan aku merogoh saku celanaku, mengambil ponselku untuk mengirimkan sebuah pesan singkat, whatsapp, di grup yang isinya aku, Max dan Tika.


Bersambung ...


__ADS_2