
Aku tetap melanjutkan cerita ini ya guys, dengan judul episode yang terus saja aku sambung. Tidak ada perbedaan, karena jujur saja, aku tidak pantai dalam memberi judul episode π₯°
Jangan lupa terus berikan VOTE POIN dan KOIN agar aku semangat untuk menulis dan update setiap harinya lagi π€£
Happy reading ...
βββββ
Lisa POV.
Semua rangkaian acara telah selesai. Aku resmi bertunangan dengan Alex. Seorang lelaki yang berjuang untuk mendapatkan hatiku. Dan hari ini dia berhasil merebutnya dari dalam tubuhku.
Memukauku dengan caranya membimbingku. Menyentuhku dengan caranya memperlakukanku. Serta mencintaiku dengan caranya menerima masa laluku. Sungguh sempurna bukan?
Caraku yang salah dalam memandang kehidupan, membuat masa lalu kelam yang memang pantas untuk aku sesali. Dan sekuat apapun aku mencoba menutupi semua itu, tidak ada gunanya. Tapi setidaknya biarkan aku memperbaiki masa depanku.
"Sana, aku mau ngerokok dulu sama Jefri," usir Alex saat kukatakan padanya jika aku ingin menemui Max yang sedang duduk, memerhatikan anaknya yang sedang bermain.
Mula-mula aku menarik napasku terlebih dahulu, lalu sambil berjalan mengarah padanya, aku embuskan perlahan melalui mulutku. Dan itu aku ulangi berkali-kali, untuk mengatasi kegugupanku.
"Makasih sudah bersedia datang. Makasih juga buat catering-nya," ucapku saat berdiri di samping anaknya yang bermain balon tiup.
Max mengangkat wajahnya lalu menatapku, kemudian ia menegakkan tubuhnya lalu tersenyum sembari menepuk-nepukkan tangannya di atas sofa di sampingnya.
Aku senang dia menyuruhku duduk di sana. Senang dia masih mau menerima kehadiranku saat ini. Bukan senang dalam artian lainnya, karena hati ini sekarang milik Alex.
Perlahan aku melangkahkan kakiku untuk menghampirinya, lalu duduk di sampingnya. Aku sandarkan tubuhku pada sandaran sofa agar merasa lebih rileks. Sudah aku katakan bukan? Aku memang sedang gugup.
Dan sekali lagi aku katakan, bukan gugup karena masa laluku yang selalu menyebut namanya. Melainkan karena aku malu dengan sikapku yang membuat susah keluarganya.
"Aku pingin cepet punya anak sama Alex. Biar bisa ngerasain suka-dukanya ngurus anak. Kayak Tika sama Shilla." Aku mengucapkan khayalanku secara tiba-tiba saja pada Max.
Dia menoleh lalu beberapa detik kemudian dia sama-sama menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, sambil menatap anaknya.
"Berbahagialah semampu kamu dan dengan cara kamu sendiri," ucap Max. Kalimat itu sontak membuat kepalaku menoleh padanya.
"Makasih, Max. Kamu ngajarin aku banyak hal untuk hidup ini. Walaupun gak mudah buat lupain apa yang pernah terjadi di antara kita, tapi setidaknya itu bisa jadi pelajaran yang sangat berharga," lirihku kemudian terkekeh geli saat mengingat semua itu.
"Semuanya buat dikenang, tapi bukan buat diulang." Max tersenyum melihatku, lalu anaknya berlari menghampirinya. Masuk ke dalam pelukan daddy-nya.
Melihat Max begitu menyayangi anaknya, membuatku teringat akan kasih sayang kedua orangtuaku, yang sudah lama tidak aku rasakan. Aku merindukan mereka.
Kemudian dari kejauhan Alex berjalan mengarah pada kami, disusul dengan Jefri yang juga mendekat. Dan sekali lagi, aku merasa beruntung tetap memiliki mereka semua dalam hidupku. Mereka yang mencintaiku ada apanya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Keluarga besar Alex, keluarga besar kedua orangtuaku serta keluarga besar Tika masih berkumpul di rumah ini. Sebagian para lelaki sudah menanggalkan jas mereka untik menikmati suasana santai. Lalu sebagian para wanitanya sudah melepaskan high heels yang membelenggu pergelangan kaki mereka.
Aku masih terduduk di tempat yang sama, tetapi kali ini dengan Alex yang menemaniku. Sambil kusandarkan kepalaku di bahunya lalu menyelipkan tanganku untuk merangkul lengannya. Kami asik memandangi om Reza-ku yang berjoget mengikuti musik bersama Jefri dan beberapa lelaki lainnya, dari kejauhan.
Berkali-kali aku tertawa melihat sikap mereka itu. Terlebih lagi om Reza, aku tidak menyangka dia sekocak itu. Sedangkan beberapa wanitanya ada sebagian yang juga mengikuti pesta danda itu. Namun ada pula wanita berumur lainnya yang memilih untuk duduk di dalam rumah. Bercengkrama. Seperti tante Ida dengan mamahnya Alex.
"Kamu bahagia hari ini?" tanya Alex yang begitu tiba-tiba.
"Makasih," sahutku. Aku tidak tahu lagi harus mengucapkan kalimat apa.
"Aku akan buat kamu bahagia, di setiap harinya." Alex mengucapkan itu seraya mengecup pipiku.
Aku tersenyum, "Memang bisa setiap hari? Mampu?"
"Semoga." Kami perlahan saling menyesap, merekatkan tautan kami. Kali ini aku menjatuhkan hati pada pria yang tepat!
Tak lama setelah itu tiba-tiba Haikal dan Max muncul dari pintu samping. Membawa alat panggangan dan juga beberapa kantong belanja. Dari nama kantong yang mereka bawa, aku sudah bisa menebak jika mereka menghilang tadi untuk pergi ke HORE, berbelanja.
__ADS_1
Haikal langsung memasang tempat panggangan itu, sedangkan Max menghamburkan isi kantong belanjanya ke atas meja bekas catering makanan saat acara tadi.
"Woh, kalian dari mana?" seru Alex yang tidak percaya dengan apa yang mereka bawa.
"Barbeque time!!!!" teriak om Reza yang disambut meriah dengan yang lainnya. Aku hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat semua keramaian itu.
Alex berdiri dari duduknya kemudian beranjak menghampiri Haikal, untuk membantu menyalakan alat panggangan itu. Sekilas aku menatap pada Max yang sedang asik membuka botol bir dengan pinggiran meja. Lalu tiba-tiba mata kami bertabrakan.
Aku ucapkan 'thank you' padanya melalui gerakan bibirku, yang dibalasnya mengangkat botol bir yang berhasil dibukanya. Lalu aku beranjak berdiri dari dudukku, hendak masuk ke dalam rumah.
Tiba-tiba aku terkejut melihat Shilla yang ternyata sudah berdiri tak jauh dariku, saat aku berbalik. Sekilas dia melontarkan senyuman tipisnya. Sangat tipis, hampir tidak terlihat. Kemudian melangkahkan kakinya, berlalu dari hadapanku.
Ada apa dengannya?
Bukankah beberapa saat yang lalu dia baik-baik saja dan bersikap sangat baik padaku?
Bahkan ia bersikap seperti layaknya seorang kakak untukku. Lalu barusan, tatapannya mengapa berubah?
Aku menoleh untuk melihat kemana langkah kaki Shilla membawanya, ternyata benar dugaanku. Dia mendatangi Max lalu mengecup Max di pinggiran kerumunan anggota keluarga yang lainnya yang tercampur berbaur. Namun entahlah, aku hiraukan semua itu. Toh aku sudah memiliki Alex.
βββββ
Tika POV.
Sesaat aku hendak melintasi dapur di rumah Lisa, ingin pergi keluar menuju taman. Namun terhenti akibat melihat Shilla yang seakan terpaku diam membisu, dengan pandangan yang kosong.
Perlahan aku mendekatinya, lalu menyentuh pundaknya. "Ssssttt!" Geraknya dengan jari telunjuk di depan bibirnya. Mengisyaratkan jika aku jangan bersuara. Aku menuruti permintaannya.
Sayup-sayup telingaku mendengar sebuah percakapan. Tidak salah lagi, ini percakapan antara Lisa dan Max. Spontan aku menutup mulutku dengan salah satu telapak tangan. Sedangkan Shilla, wajahnya semakin memucat kemudian ia berbalik menatapku.
Aku dapat melihat ekspresi keterkejutannya pada apa yang telah ia dengar barusan. Kedua bola matanya berkaca-kaca. Kemudian ia menepis tanganku yang mencoba meraih lengannya dan ia beranjak pergi menuju kamar Lisa, mendatangi Feli yang sedang tertidur pulas di sana.
Sengaja aku tidak mengejarnya. Membiarkannya menenangkan diringa sendiri. Aku memang tidak terlalu mengenalnya. Sebab dulunya Max jarang mendekatkan dia padaku. Baru-baru ini saja kami tinggal serumah.
Ceklek!
Aku sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi. Semua terjadi begitu cepat dan rapi. Hingga aku tidak bisa lagi untuk mencegahnya. Ya benar, mencegah Shilla mendengar semua itu salah satunya. Sebab setahu aku, yang mengetahui masa lalu Lisa dan Max hanya kami bertiga, ditambah dengan Haikal dan Jefri. Itupun Lisa tidak tahu jika aku, Haikal dan Jefri mengetahui masa lalunya.
Kemudian aku putuskan untuk melangkahkan kakiku menuju kamar, menyusul Shila dengan membawa Icel dalam gendonganku. Begitu aku membuka pintu, suara isak tangis Shilla sudah terdengar. Sekilas ia menatapku kemudian bangkit dari tempat tidur itu lalu menyodorkan kedua tangannya, dengan cepat Icel berpindah ke dalam dekapannya.
Masih dalam isak tangisnya, ia mencoba merebahkan Icel tepat di sebelah Feli, menidurkan sambil memeluk anaknya itu. Kini Shilla juga ikut berbaring dengan kedua anaknya. Menepuk-nepuk pelan bokong Icel, agar ia mau tertidur.
Setelah itu, aku meninggalkannya keluar sekaligus untuk mengecek kedua anakku yang sedang bersama mamah dan juga yang lainnya di ruang tengah rumah ini. Setelah memastikan anakku baik-baik saja dan masih terlelao setelah sebelumnya kuberikan asi, aku kembali lagi ke dalam kamar. Duduk di atas tempat tidur. Menatapi Shilla yang berhasil membuat kedua anaknya tertidur, sedangkan matanya masih meneteskan air mata.
Tidak ada kata-kata yang mampu aku ucapkan. Aku hanya bisa mengelus tangannya di atas tubuh anaknya. Lalu memberikannya senyuman tipis di wajahku. Mulutku seakan terkantup rapat.
Setelah beberapa saat, Shilla menghapus bekas sisa air matanya lalu duduk. "Max gak pernah cerita tentang semua itu."
Aku tertegun mendengar ucapannya. Dan aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku tidak ingin membuka suara atau menanggapi apapun dari hal itu. Aku hanya ingin membiarkan Shilla mengeluarkan isi hatinya. Menjadi pendengar yang baik dan berusaha tidak memihak siapapun, hingga akhirnya Shilla menjadi sedikit lebih tenang.
βββββ
Max POV.
Shilla menghampiriku di saat aku sedang mengangkat sebuah botol bir untuk kuminum.
"Mau sampai jam berapa di sini?" tanyanya.
Aku langsung meraihnya, membawanya ke dalam dekapanku lalu mengecup pipinya. Dan mengatakan padanya jika sebentar lagi kami akan pulang. Entah mengapa dia tiba-tiba saja bersikap seperti itu.
Setelah beberapa waktu kemudian aku dan Shilla akhirnya memutuskan untuk segera pulang. Dengan alasan Shilla yang tidak enak badan, sedangkan mamah dan yang lainnya masih tetap berada di rumah Lisa.
Sebelum langit berubah menjadi gelap, aku dan Shilla sudah berada dalam perjalanan pulang menuju ke rumah mamah. Dia dan anak-anak memang sengaja duduk di belakang. Sebab aku memang tidak mengizinkannya untuk memangku anak kecil di kursi depan, demi alasan keselamatan.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan Shilla hanya diam, tidak ada sepatah kata pun yang ia ucapkan padaku. Bahkan untuk melirikku melalui kaca spion saja tidak. Padahal awalnya ia biasa saja, tetapi saat ini seakan tidak biasanya.
Apa aku melakukan kesalahan?
Berkali-kali aku meliriknya melalui pantulan kaca spion di atasku, ia bergeming. Tetap pada arah pandangannya keluar jendela. Raut wajahnya yang sendu, semakin membuatku mati akal. Aku tidak mengerti dengan semua ini.
***
"Apa aku punya salah? Kenapa semenjak pulang tadi kamu bersikap aneh?" tanyaku meraih tangannya saat ia selesai meletakkan Feli dalam tempat tidurnya. Sedangkan Icel sudah kurebahkan di tengah tempat tidur kami.
Shilla menatapku sebentar kemudian menarik lengannya dan segera masuk ke dalam kamar mandinya. Aku tidak mengerti dengan semua ini, sungguh!
Untuk beberapa saat aku menunggunya keluar dari kamar mandi. Tidak bisa aku merasa tenang jika ia aku belum mendapatkan jawabannya. Kuputuskan untuk duduk di atas ranjang, lalu meremat rambut di kepalaku.
Seketika pikiranku kacau, sebab tidak pernah sebelumnya Shilla bersikap seperti ini padaku. Sudah dua orang kami memiliki anak, biasanya jika aku melakukan sebuah kesalahan, Shilla akan langsung menegurku. Dan selalu menceritakan padaku jika ada satu hal yang mengganggu pikirannya.
Kudengar suara pancuran air yang menyala dari dalam kamar mandi. Mungkin ia membersihkan tubuhnya, setelah seharian kami berada di rumah Lisa untuk memeriahkan acara lamarannya.
Aku menghela napas. Mencoba menebak apa yang ada dalam pikiran istriku itu. Sambil kembali mengingat apa yang sudah aku lakukan, yang berkemungkinan membuat suasana hatinya berubah begitu drastis.
Ceklek!
Shilla keluar dari dalam kamar mandi dengan rambutnya yang setengah basah. Setelah hampir satu jam aku duduk menunggunya. Tatapan mata kami sempat bertabrakan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memarik selembar dasternya dari dalam lemari. Kemudian memasangnya di depanku.
"Kamu kenapa? Kenapa dari tadi diem aja?" tanyaku saat mendekatinya dan mencoba merengkuh tubuhnya dari belakang. Namun dengan cepat ia menepis tanganku, bergerak memungut handuknya lalu meletakkannya di gantungan handuk yang menempel di pintu depan kamar mandi.
Aku sempat kaget melihat reaksinya itu, tetapi segera kembali kutepis pemikiranku yang tidak masuk akal. Dan tanpa menunggu lama, Shilla langsung menuju tempat tidur, merebahkan dirinya, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan memeluk Icel.
Terperangah, sungguh!
Shilla tidak pernah bersikap seperti ini selama kami menikah bertahan-tahun. Otakku kembali mencoba berpikir keras, kesalahan apa yang telah aku lakukan?
Astaga, ini benar-benar membuatku frustasi.
Perlahan aku mendekatinya, duduk di sisinya yang membelakangiku. Kemudian kukatakan padanya jika aku mencintainya, apapun kondisinya. "Apapun yang terjadi, aku mencintai kamu. Bukan hanya karena kita sudah memiliki anak, tapi karena aku memang ingin hidup menua sama kamu."
Setelah mengatakan itu, aku beranjak berdiri lalu menundukkan tubuhku untuk mengecup kepalanya. Lalu aku katakan sekali lagi jika aku hanya mencintai dirinya. Satu-satunya.
"Only you I have loved so far," bisiku seraya mengusap kepalanya lalu aku kembali berdiri. Beranjak berjalan keluar kamar dengan membawa sekotak bungkus rokokku dari atas buffet.
Sebelum aku membuka pintu kamar, aku sempat menoleh melihatnya. Lalu memadamkan lampu yang secara otomatis menghidupkan lampu tidur di atas meja di samping tempat tidur kami. Kemudian aku keluar dari kamar.
Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku berjalan, melangkah gontai ke halaman belakang rumah. Meraih sebuah asbak dari atas meja lalu duduk di pinggiran kolam renang. Menceburkan kedua kakiku tanpa menggulung terlebih dahulu celana yang aku gunakan.
Dingin. Air kolam renang ini sudah berubah menjadi dingin, sejak langit juga sudah berubah menjadi gelap. Memberikan hawa sejuk yang mampu merasuk hingga ke tulang. Lagi-lagi aku mengembuskan napas beratku melalui mulut.
Menatap dasar kolam yang terlihat sangat dalam, membuat perasaanku menjadi sedikit lebih tenang. Aku memulai menyulut rokokku, menikmati setiap hisapannya yang dapat membuat otakku juga semakin lebih tenang. Mungkin malam ini aku akan membiarkannya untuk istirahat terlebih dahulu. Lalu besok akan aku tanyakan kembali tentang malam ini.
Kuletakkan sebatang rokokku yang masih menyala itu ke dalam asbak rokok. Lalu aku menceburkan diriku ke dalam kolam renang. Tanpa melepas celana dan kemeja yang aku gunakan.
Bersambung ...
βββββ
Jangan lupa subsrek (love, like, kasih ratting trus tinggalin komentar)
Kasih vote poin sama koin juga jangan lupa yaa π
Silakan bergabung dalam Grup Chat NovelToon
Folow my Instagram @bossytika
With love,
__ADS_1
#salambucin! π