Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 176


__ADS_3

Oh iya, selamat lebaran untuk kalian semua para umat muslim sedunia.


Jangan lupa untuk tetap #dirumahaja dengan silaturahmi melalui video call. Ingat, jangan mudik ataupun keluar rumah untuk menyayangi orang-orang di sekitaran Anda. Jangan bersikap egois dengan alasan ingin bermaaf-maafan, sebab masih banyak cara yang bisa kita lakukan pada saat kondisi dunia kita seperti ini 🙏


Sekali lagi,


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H.


Minal Aidin Wal Faizin.


Mohon Maaf Lahir dan Batin.


Selamat membaca ...


—————


Jefri POV.


Beberapa minggu sudah berlalu setelah aku dan Max mengetahui tempat persembunyian Dana. Setiap hari kami semua semakin menjadi lebih waspada terhadap apa pun. Max semakin ketat menjaga keluarganya, begitu pun dengan aku di sini yang menjaga Tika dan kedua buah hati kami.


Untungnya kedua orang tuaku memahami hal ini. Mereka membantuku untuk menjaga keluarga kecilku saat aku tidak ada di sisi mereka. Begitu juga dengan adik iparku, Nita, yang sesekali datang untuk membantu. Dan sejak kami tinggal di sini, dia jadi lebih sering datang karena merasa ada Tika yang bisa dijadikannya sebagai teman untuk bersantai bersama.


Seperti siang ini, saat aku pulang ke rumah untuk makan siang, ternyata Nita dan Jerry juga ada.


"Hai ... kalian makan di sini lagi?" ceplosku tak terkontrol, Tika menepuk lenganku.


Siang ini, Tika yang memasak semua hidangannya, sebab mamaku sedang tidak enak badan. Kami melewati siang itu dengan damai dan penuh dengan canda tawa. Seperti biasanya. Apalagi begitu melihat kedua anakku kini sudah mulai ikut duduk bersama kami di meja makan dengan menggunakan kursi khusus untuk mereka.


Nathan dan Naila tumbuh dengan begitu sehat, bahkan sekarang berat badan mereka sudah sama dan seimbang. Tika sungguh pintar merawat kedua buah hati kami. Aku tersenyum menatapnya, saat dia menyuapi Nathan dan Naila secara bergantian.


"Kamu juga makan dong," pintaku padanya.


"Iya, ini bisa sambil makan kok!"


Kuelus lengannya saat itu dan tersenyum kemudian aku kembali fokus dengan makanan di depanku. Setelah makan siang selesai, tiba-tiba papa mengajakku untuk berbicara empat mata di halaman belakang. Kami duduk pada sebuah gazebo di salah satu sudut halaman.


"Beberapa hari yang lalu pak Hardi temuin papa. Dia datang ke sini. Rencananya dia mau temuin kamu buat minta maaf. Waktu itu kamu lagi ke supermarket sama Tika." Papa melirikku begitu pun sebaliknya.


Aku menghela napasku. "Sebelum kecelakaan beliau terjadi, aku sudah memaafkannya, Pa."


"Ngomongin yang lain aja, Pa," tambahku. Aku benar-benar malas membahas tentang semua itu.


Papa mengembuskan napasnya lalu berkata, "Kalian punya mantan gak ada yang beres." Kemudian beliau tertawa pelan. Aku pun begitu, tertawa membenarkan.


Tak lama berselang, ponselku berbunyi.


🎶


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Talk about where we're goin'


Before we get lost

__ADS_1


Let me out first


Can't get what we want without knowin'


I've never felt like this before


I apologize if I'm movin' too far


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Figure out where we're growin'


🎶


Aku merogoh saku celanaku dan mendapati nama Alex tertera di layar depan. Aku mengernyitkan keningku dan langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan telepon itu.


"Hallo?"


Alex berkata di seberang sana bahwa dia memintaku untuk menemaninya mencoba pakaian untuk acara pernikahannya dengan Lisa. Dan dia juga memintaku untuk menjadi pendampingnya. Tentu saja aku menerimanya dengan senang hati.


"Okay, I'll see you there in a few minutes," sahutku padanya kemudian kuputuskan sambungan teleponnya.


Lalu sejenak aku menatap papa yang sedang menyesap secangkir teh hangatnya. Lalu beliau juga membalas menatapku seraya meletakkan kembali cangkir itu.


"Pergilah, sesekali kamu juga butuh waktu untuk diri santai." Papa tertawa miring menatap lurus ke depan.


Tanpa sepatah kata, aku pun segera berdiri lalu melangkahkan kakiku untuk segera meninggalkannya. Namun, tiba-tiba saja papa kembali berucap jauh di belakangku, "Jangan lupa buat minta izin terlebih dahulu dengan istri kamu. Semua harus dilakukan dengan izin." Beliau berseru yang sontak membuatku berbalik, menoleh padanya lalu mengangkat tanganku untuk mengacungkan jempolku pada beliau lalu kembali melangkah menuju kamarku, untuk menemui istri tercintaku.


Aku memutar setir kemudi mobil dan memasuki tempat parkir dari sebuah gedung pakaian brand ternama. Lalu mematikan mesin mobilku kemudian turun dari mobil. Aku sempat mengedarkan pandangan mataku ke sekeliling lalu menemukan mobil Alex terparkir tidak jauh dari posisiku berdiri.


Kemudian aku langsung melangkahkan kaki memasuki lantai dasar gedung itu. Sesampainya di dalam, aku belum menemukan sosok Alex. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk duduk pada salah satu sofa yang tersedia. Setelah sebelumnya aku katakan pada pegawai di tempat ini jika aku sedang menunggu seseorang.


Tadinya aku berniat hendak menghubungi Alex melalui ponselku tetapi tiba-tiba saja, di depanku muncul sosok Lisa. Aku sedikit terkejut, sebab tadinya Alex mengatakan bahwa ini akan menjadi waktu kami berdua.


"Mana Alex?" tanya Lisa padaku.


"Maybe di dalam. Gua juga baru dateng, belum ketemu dia. Baru mau ngehubungin dia." kuperlihatkan ponselku padanya.


Lisa langsung membuka tasnya dan mengambil ponselnya, mungkin dia juga hendak menghubungi Alex. Sambil berdiri, Lisa sudah berhasil menempelkan benda pintarnya itu pada telinganya. Kemudian terdengar dia sedang berbicara pada ponselnya lalu berjalan menjauh dariku.


Tak berapa lama kemudian, Alex muncul dari dalam dengan setelan tuxedo-nya. Untuk beberapa detik aku terperangah, tetapi dengan cepat aku segera mengembalikan kesadaranku.


"Nice." Aku mengatakan pendapatku.


"Seriously?" Alex kembali bertanya.


Aku menjawabnya dengan anggukan kepalaku. Kemudian Lisa kembali muncul di antara kami dan membuat Alex terlihat terkejut dengan kehadiran calon istrinya itu. "Kamu kok ada di sini? Bukannya mau ngurusin katering?" Alex terlihat bingung lalu menatapku dan Lisa secara bergantian.


Begitu pula dengan Lisa yang tidak kalah herannya. Lalu menatap padaku sambil mengerutkan keningnya, seolah menuduhku. "Udah gua bilang, kalo gua baru dateng, 'kan?" Tatapku pada mereka. Merasa menjadi tersangka.


"Kamu tadi nelpon aku, trus ngirimin aku pesan." Lisa memeriksa ponselnya lalu memperlihatkan ponselnya pada Alex.


Kepala Alex menggeleng pelan, nyaris tak terlihat. Tangannya merogoh saku celananya, tetapi tidak menghasilkan apa pun hingga dia berbisik pada salah satu karyawan di tempat ini. "Ponsel itu aku tinggal di ruang ganti dan aku dari tadi ada di ruang showing buat ukur ulang tuxedo ini," ucap Alex pelan sambil menatap Lisa.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, sang karyawan yang tadinya pergi, kembali datang dengan membawakan ponsel Alex dan menyerahkannya. Lalu Alex mulai mengecek ponselnya. "Aku bener-bener gak ada hubungin kamu, kirim pesan juga enggak."


"Lalu ini?" sanggah Lisa.


Aku berdiri dari dudukku lalu menghampiri mereka. "Sudah ... sudah. Mungkin lu lupa, Lex. Oke, gimana kalau kita bertiga hangout aja? Atau berempat, biar gua jemput Tika dulu. Gimana? Kalian butuh fresh, karena dulu gua sama Tika hampir kayak kalian sekarang, banyak selisih paham buat nyiapin semuanya." Aku memberi saran.


Alex dan Lisa saling menatap kemudian menyetujui saranku dengan catatan, aku harus menjemput Tika terlebih dahulu dan bertemu di sebuah resto yang mereka berdua pilih. Aku menganggukkan kepala kemudian segera pergi dari sana setelah semua urusan Alex dan mencocokan pakaianku sebagai pendampingnya selesai.


Dalam perjalanan pulang ke rumahku, tiba-tiba ponselku kembali berdering. Kali ini nama Max yang muncul pada layar. Kugunakan speaker untuk menerima panggilan darinya. "Hallo?"


Max menanyakan posisiku saat ini kemudian dia juga menjawabnya sendiri, sebelum aku sempat untuk menjawabnya. Bahkan dengan detail Max mengatakan, jika dia juga melihat Alex dan Lisa.


"Kamu ada di sekitar sini?" tanyaku saat antri keluar parkir dari kawasan ini.


Namun siapa sangka, Max mengatakan bahwa ternyata dia melihat kami melalui CCTV yang dia juga mengatakan bahwa beberapa saat sebelum aku masuk ke dalam toko, dia melihat Dana. Seketika aku terdiam sampai akhirnya suara klakson mobil di belakangku kembali menyadarkanku dan membuatku memajukan mobil dari antrian keluar parkir.


Kemudian Max juga mengatakan bahwa dia dan yang lainnya sedang mengikuti gerak-gerik Dana. Lalu, apa Dana sedang mengikutiku? Entahlah, aku mencoba untuk tidak memikirkan itu tetapi nyatanya aku tidak bisa. Otak ini terus saja memikirkan hal itu.


Setelah panggilan telepon dengan Max berakhir, aku segera menelpon Jerry, memintanya untuk membawa Tika keluar dari rumah dan menemuiku di suatu tempat. Agar Dana tidak mengetahui di mana rumahku. Itu pun jika benar Dana sedang membuntutiku.


Aku langsung menuju ke tempat yang sudah dijanjikan oleh Alex dan Lisa sambil menunggu Tika datang. Baru beberapa menit aku duduk di salah satu sudut meja. Tiba-tiba sosok Dana muncul dari pintu depan restoran itu, perlahan dia melangkah ke arahku, membuatku secara tidak sadar menegakkan punggungku yang tadi bersandar pada kursi. Dia tersenyum miring kemudian duduk di depanku.


"Apa kabar?" sapanya padaku dengan begitu santai.


Aku lumayan merasa terkejut dengan kehadirannya, akan tetapi dengan cepat aku segera membuat responku seolah normal dan sesantai mungkin. "Baik," sahutku singkat, kemudian aku menawarinya segelas wine yang memang sudah aku pesan sebelumnya, "do you want?"


"Please ...," balasnya dengan gerakan mencibir.


Kedua mataku terus menatapnya dengan tajam, sedangkan tangan kananku bergerak menyodorkan sebuah gelas lalu menuangkan isi dalam botol wine itu padanya dengan perlahan.


"Nikmatilah kebersamaan kalian untuk sementara ini," ucap lelaki itu sambil mengambil gelas wine-nya lalu meneguk isinya hanya dengan sekali angkat. Lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, dia kembali berdiri dan berbaik pergi meninggalkan aku yang merasa heran dengan tingkahnya itu.


Lelaki itu pergi begitu saja melewati pintu depan restoran hingga akhirnya menghilang dari pandanganku. Aku sungguh tidak menyangka lelaki itu berani memunculkan dirinya di hadapanku. Kemudian, seperti dihipnotis, aku baru tersadar, lalu segera menghubungi orang sewaanku untuk menangkapnya. Aku juga menghubungi Max untuk menangkap lelaki itu.


Tak berapa lama kemudian, Tika dan Jerry datang memasuki restoran bersamaan dengan Alex dan Lisa. Mereka langsung menghampiriku. Mengambil posisi dudujnya masing-masing. Begitu pun dengan Jerry yang memutuskan untuk bergabung bersama kami siang ini.


"Kalian gak ketemu Dana di luar?" heranku saat melihat wajah mereka semua yang terlihat sangat santai.


Mereka semua saling bertatapan untuk beberapa detik, sebelum akhirnya tujuan tatapan mereka berhenti saat menoleh padaku.


"Maksud kamu?" Tika bertanya balik dengan pelan.


"Tadi dia baru dari sini, duduk di depanku. Di kursi elu itu, Lex," jelasku memandangi Tika sampai akhirnya aku memandangi Alex.


Tika meraih wajahku lalu mengusap kedua pipiku dengan kedua telapak tangannya saat dia menatapku. Kedua sudut bibirnya tertarik lalu berkata, "Sayang ... kayaknya kamu perlu istirahat. Jangan terlalu memaksa pikiran kamu sendiri."


"Maksud kamu, aku berhalusinasi gitu?" tebakku pada sangkaannya. Menatapnya dengan begitu tajam.


Aku benar-benar tidak menyangka, jika istriku sendiri akan menganggapku sedang berkhayal saat ini. "Bukan gitu, Sayang. Wajah kamu benar-benar keliatan kurang fit. Trus kalau kamu sakit, yang lindungin aku sama anak-anak siapa?" ucapnya manja. Seakan panik mengkhawatirkanku.


Aku tersenyum menatapnya. Lalu kami melanjutkan acara dengan santai. Aku mencoba melupakan pertemuan singkat dengan Dana tadi, yang tidak berarti sama sekali. Entah apa maksud lelaki itu hingga berani muncul di hadapanku.


Sejenak, aku mengembuskan napasku, mengulangi berulang kali. Mencoba untuk tidak berpikiran yang aneh-aneh.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2