Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 102


__ADS_3

Still Tika POV.


Siangnya, aku mencoba untuk menghubungi Max. Secara tiba-tiba aku kembali teringat dengan cerita Lisa dan aku harus meminta bantuan Max untuk melindungi sahabatku satu-satunya itu. Dia sudah seperti sayapku. Tanpanya, aku tidak akan bisa serasional ini dalam berpikir dan bertindak.


Berkali-kali kukatakan, bahwa Lisa adalah sahabar terbaikku. Dia adalah orang yang paling jujur dalam menegurku jika aku melakukan kesalahan. Dia segalanya bagiku.


Aku berbicara panjang lebar dengan Max dan mamah di telepon, aku terkejut Max bersama mamah sesiang ini. Ya benar mamah, betapa terkejutnya aku jika mamah sudah pergi berjalan-jalan dengan Max. Sepertinya mamah dan Max baru selesai mengganggu jam-jam besuk Clara di sana.


Lalu, setelah selesai berbicara dengan mamah di telepon, aku dan Jefri memutuskan untuk berenang di lantai bawah penginapan kami yang memberikan fasilitas langsung ke pinggiran pantai.


Penginapan ini sungguh membuatku tersepona eh, terpesona maksudku. Aku begitu terpesona melihat keindahan tempat ini karena jujur saja, aku tidak pernah melihat secara langsung dengan mata kepalaku sendiri. Belum lagi segala fasilitas yang diberikan oleh penginapan ini. Berkat Alex dan Lisa, akhirnya aku bisa merasakan ke-hedon-an hidup ini.


Terkadang aku termenung. Bersyukur. Begitu sempurnanya hidupku saat ini, saat aku memiliki suami dan yang saat ini pula aku sudah mengandung anaknya. Tidak pernah terlintas sedikitpun di otakku untuk bercita-cita menjadi seperti ini. Menjadi salah satu wanita yang paling beruntung dapat merasakan segalanya di satu waktu.


Keluarga yang begitu mencintaiku, sahabatku yang selalu menyayangiku, mertua serta ipar yang selaly merangkulku dan kini suami yang selalu siaga melindungiku. Entah apa lagi yang esok hari akan aku dapatkan dari mereka semua. Belum lagi akan hadirnya seorang bayi yang semakin akan melengkapi hidup kami.


Mungkin ini yang dinamakan kesempurnaan cinta. Kebahagiaan yang tak kunjung reda. Selalu bertubi-tubi datang menghampiriku, walaupun dengan sebongkah permasalahan yang juga tak kunjung usai.


Kupandangi Jefri yang baru naik dari renangnya. Dengan dada bidangnya yang kekar. Tubuhnya yang sempurna di mataku. Ia tersenyum saat melihatku yang duduk di atas kursi jemur sambil membaca sebuah novel. Novel yang juga tentang romansa berjudul Milik Wanita Lain terbitan dari Novel Toon Publisher. Kututup lembaran novel itu, lalu meletakkannya di atas meja di sampingku.


Dia menghampiriku, mencium keningku. Lalu mengecap beberapa kali bibir merahku, dengan tangannya yang mengelus permukaan perutku.


"Ayo berenang."


Kalimat sederhana yang keluar dari mulutnya itu seakan menghipnotisku, saat dia mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya.


Semenjak kami tinggal di rumah sendiri, aku tidak pernah lagi berenang. Dulu saat sendiri aku selalu menyempatkan waktuku untuk berenang. Walaupun hanya dua atau bahkan empat menit memutari kolam renang di rumah mamah. Kini tak ada lagi waktu untuk itu. Banyak yang harus aku lakukan untuk melayani suamiku.


Begitu Jefri membawaku menceburkan diri ke laut, genggaman tangannya seakan tak mau lepas, terus mencengkram di sela-sela jemariku. Di angkatnya kacamataku ke atas, ia menatapi mataku lekat-lekat kemudian kembali mencumbuku. Mengecap bibirku mesra sambil melingkarkan tangannya pada pinggangku. Mendekapku.


Dari awal bertemu dan kenal, dia selalu mengaku bahwa dirinya tidak bisa bersikap romantis. Tapi yang aku rasakan berbeda, dari awal bertemu dia selalu bersikap romantis hingga membuat hatiku meleleh. Dan bersikap logis hingga membuatku lupa diri. Mabuk dan terlena. Begitupun setelah menikah, level keromantisannya setiap hari semakin meningkat tanpa ia sadari.


———————————————


Haikal POV.


Pagi ini tidak ada lagi wanita yang mestinya aku jenguk, dia sudah pulang. Ada sedikit rasa bahagia, tapi ada pula sedikit rasa sedih. Kuhempaskan tubuhku pada sofa yang ada dalam ruang kerjaku. Otakku hanya memikirkan Clara. Aku gila akan dirinya.


Kuputuskan untuk mengambil ponselku dan menghubunginya. Yang kudengarkan hanya nada sambung, cukup lama. Hingga akhirnya hanya suara operator yang menyahut. Kuulangi sekali lagi untuk meneleponnya. Sama, tidak ada jawaban. Aku jadi merasa sangat mengkhawatirkannya.


Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke ruang UGD. Bekerja kembali di luar jam kerjaku agar pikiranku teralihkan dari rasa cemasku.


"Loh, Kal? Kok balik lagi? Gak mau istirahat lu?" tegur Adam padaku.

__ADS_1


Aku hanya meliriknya kemudian berlalu mengacuhkannya. Hati dan otakku benar-benar kacau saat ini, hanya karena Clara yang tidak mengangkat teleponku. Dalam otakku sudah bisa menebak, pasti hari ini dia memutuskan untuk pergi ke kantornya dan bekerja.


"Anak nakal," gumamku.


Aku kembali mengerjakan laporan harian yang ada di table center UGD ini, mengecek beberapa berkas yang sudah dikerjakan oleh perawat shift malam. Sekilas aku mendengar Adam yang sedang berbisik-bisik. Aku mendongakkan kepalaku, benar saja, dia sedang berbisik dengan Ranti.


"Ngomongin gua pasti!" tebakku.


Ranti dan Adam sontak kaget tapi sekian detik kemudian mereka terkekeh.


"Lu kenapa sih? Badmood? Atau kurang tidur? Atau ... gak bisa tidur?" tebak Ranti dan Adam bergantian.


"Cewek tuh kalo ngambek, gak mau ya angkat telepon?" ucapku spontan yang membuat Ranti, Adam serta beberapa perawat lainnya menjadi serempak tertawa geli.


Aku menoleh melihat mereka semua yang tertawa di sekitarku. 'Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?' batinku. Aku hanya pura-pura batuk untuk menghentikan gelak tawa mereka.


Uhuuk ...


Uhuum ...


Serempak pula mereka menghentikan cekikikannya, lalu kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing.


Begitulah para penghuni UGD ini terkadang untuk mengisi jenuh mereka suka menggosip, membicarakan apa aktris Ibukota yang entah sampai kapan akan berakhir. Atau sekedar membicarakan para karyawan lainnya yang ada di gedung rumah sakit ini.


Atau jika mereka lebih banyal memiliki waktu senggang mereka akan beramai-ramai untuk menonton Drama Korea. Menangis bersama, tertawa bersama dan mencibir bersama untuk sekedar mengomentari alur cerita yang mereka tonton itu.


——————————————


Max POV.


Tidak perlu menunggu lama, sesaat setelah pulang dari rumah sakit, aku sudah mendapatkan info tentang Dana.


Dia adalah salah satu dari sekian banyaknya broker sukses di Jakarta. Usahanya tidak hanya dalam bidang property saja, tapi banyak jenis lainnya yang ia geluti. Akan tetapi yang lebih menonjol memang hanya bisnis property-nya.


Di sini dia tidak banyak memiliki property untuk bisnisnya, hanya saja di daerah Bali dan London menjadi pusat jarahannya. Bahkan di kedua kota itu dia memiliki tempat tinggalnya. Semua alamat dan denah lokasi asset-nya telah aku miliki berkat bantuan asisten pribadiku.


Saat ini, aku hanya tinggal menunggu bagaimana gerak-geriknya. Aku tidak ingin gegabah dalam menghadapi seorang psikopat.


Sebab psikopat merupakan penyakit kejiwaan yang dicirikan oleh tindakan yang bersifat egosentris dan antisosial. Jadi, oarang yang psikopat tak sama dengan orang gila, karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Bahkan pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental.


🎶


My location unknown tryna find a way back home to you again

__ADS_1


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


🎶


Tiba-tiba ponselku berdering, tepat saat keluar dari gedung rumah sakit. Aku merogoh saku celanaku, melihat siapa yang meneleponku. Tika calling.


"Siapa?" tanya mamah yang berjalan di sampingku.


"Tika, Mah," sahutku.


Kemudian aku langsung menggeser tanda hijau pada layar dan mengangkat sambungan telepon itu. Aku sempat melirik jam tanganku, waktu menunjukkan pukul dua siang di sini, artinya di Maldives berkurang dua jam dari waktu saat ini.


"Hallo?" sahutku sambil terus melangkah menuju mobilku bersama dengan mamah.


Di telepon, Tika mengatakan jika kemarin ia menghubungi Lisa dan menceritakan mimpi yang dialami Lisa sesaat setelah bertemu denganku. Tika mengkhawatirkan keselamatan Lisa dan aku bisa mengerti akan hal itu. Lisa adalah teman satu-satunya yang selalu berada dalam hidupnya dari kecil hingga sekarang. Aku sangat mengerti bagaimana perasaan adikku yang satu ini.


Tujuannya menelponku hanya satu, yaitu meminta bantuanku untuk melindungi Lisa.


"Sebelum kamu minta, aku sudah lakukan itu. Tenang aja ... nikmati liburan kamu. Jangan mikirin yang lain. Oke? Iya, mamah baik kok. Mau ngomong sama mamah? Ada ini." Kuberikan ponselku pada mamah agar Tika bisa berbicara pada mamah sedangkan aku mulai menyetir mobil.


Terlihat jelas dari rauh wajah mamah jika mamah memang sangat merindukan Tika. Sebab setelah aku menikah dan memutuskan untuk keluar dari rumah mamah, hanya Tika yang bertahan di sana. Haikal juga memutuskan untuk hidup di rumahnya sendiri.


Bertahun-tahun mamah hidup hanya berdua dengan Tika. Kadang aku dan Haikal memang menjenguk mamah, tapi kami paham, hati mamah memang terlihat separuh menghilang saat Tika memutuskan untuk tinggal bersama Jefri di rumah mereka. Dan kerinduan itu semakin terlihat jelas sekarang.


Sesekali aku melirik mamah, hanya untuk memastikan raut wajahnya. Dan benar saja, ia meneteskan air matanya namun tetap membuat nada suaranya terdengar biasa saja di telinga Tika. Hingga akhirnya mamah yang menyerah dan mengatakan bahwa sedang di jalan. Dan sebentar lagi memasuki kawasan e-tilang menggunakan kamera pengawas. Aku terkekeh geli mendengar alasan mamah itu. Kemudian mereka memutuskan sambungan teleponnya.


"Kok gitu sih, Mah?" tanyaku sambil melirik mamah kilas, yang sambil meletakkan ponselku di dashboard tengah di antara kami.


"Mamah gak tahan, kalo lama-lama ngomong sama adik kamu yang satu itu," ucap mamah yang kembali meneteskan air matanya.


Dengan sigap aku menarik tissu di dashboard dan memberikannya pada mamah, lalu kuelus tangan mamah saat itu, beliau menangis tersedu.


Aku bisa memahami perasaan mamah. Tak lama berselang, mamah menceritakan padaku bagaimana ini hatinya tentang Tika. Anak perempuan semata wayangnya yang tidak ia sangka sebentar lagi akan memberikannya cucu. Anak kesayangan papah yang selalu dilindungi saat ia dan Tika beradu mulut, akibat kenakalan Tika yang sering bolos sekolah.


"Andai papah kalian masih ada, dia pasti bahagia sekali, melihat kalian semua sudah menikah, memiliki pasangan untuk di akhirat kelak. Belum lagi melihat putri kecilnya yang sebentar lagi akan memberikannya cucu. Mamah merasa lega. Tugas mamah dan papah sudah selesai hingga nanti saat Haikal mengucapkan Ijab Kabul-nya untuk Clara."


Tak terasa, air mataku jatuh berlinang membasahi pipiku, begitu mendengar perkataan mamah. Perkataan yang keluar dari hatinya. Aku kembali meraih tangan mamah dan menciumnya, mengucapkan terima kasih yang bertubi atas semua usahanya dan pengorbanannya dalam merawat kami anaknya, serta membesarkan kami hingga kami bisa berdiri di kaki kami sendiri. Sampai akhirnya aku harus menghentikan mobil di pinggir jalan, hanya untuk sekedar memeluknya.


Rasanya selama aku hidup, aku belum pernah mengucapkan rasa terima kasihku untuknya atas semua itu. Aku belum pernah membahagiakannya dan membuatnya bangga karena telah melahirkanku.

__ADS_1


Dan sepertinya, tidak ada satu katapun yang bisa menggambarkan perasaanku untuk mamah.


Bersambung ...


__ADS_2