Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 71


__ADS_3

Tika POV.


Aku memutuskan untuk menyimpan kertas itu kemudian kembali mengerjakan pekerjaanku, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Waktunya pulang di hari Sabtu.


Aku segera menelpon Jefri, untuk memberitahukannya agar tidak usah menjemputku, karena aku ingin berencana ke rumah Lisa untuk melihat kondisinya. Tentu saja aku pergi dengan Metta, dia yang akan mengantarkanku, karena arah Metta menuju pulang melalui kawasan rumah Lisa.


Jefri sempat tidak mengizinkan di awal, karena ia sendiri hari ini libur bekerja dan sedang senggang. Saat ini pun dia sedang berada di rumah orangtuanya. Namun setelah ku jelaskan, ia mengerti dan akan menyusulku ke rumah Lisa nanti di saat sore hari.


'Beruntunglah aku memiliki suami pengertian sepertinya,' pikirku sambil tersenyum tipis.


Kami mengakhiri sambungan telepon kami dengan sebuah kecupan, sebagai tanda saja. Entahlah tanda apa, seperti anak abege saja. Aku terkekeh geli, setelah sambungan telepon kami terputus. Lalu aku segera merapikan meja kerjaku, sebelum Metta datang menghampiriku dengan sebuah kotak kecil ditangannya.


"Nih, kata Rossi ada kiriman buat lu." Metta menyodorkan sebuah kotak yang tadi dipegangnya.


Belum lagi aku mengetehui siapa pengirimnya, aku sudah jengah melihat kotak itu. Aku sambut kotak putih berukuran sedang yang disodorkan Metta itu lalu membukanya. Kali ini aku sudah tidak kaget lagi melihat apa isinya, satu set perhiasan gelang bermerk Catrairr bertengger manja dalam kotak itu, dengan balutan kain bulu halus yang membuat perhiasan itu semakin terlihat 'wah'. Ya, akan terlihat semegah itu bagi orang yang tidak biasa melihat hal-hal berkelas macam ini.



Aku menghela napas, lalu mengambil secarik kertas yang terselip di samping gelang dan membacanya.


For my everything, my love.


From Dana.


Aku mengeryitkan alis membaca isi kertas itu. Secepat kilat aku membuang kertas itu ke bak sampah, sedangkan Metta, sibuk mengagumi isi kotak itu.


"Buat gua aja kalo lu gak mau, ya?" pintanya.


"No!" sanggahku sambil menutup kotak itu lalu memasukkannya dalam tasku.


"Lu tau aja barang mana yang lebih cepet jadi duit!" Aku hanya tersenyum miring mendengar celotehan Metta itu.


Setelah meja kerjaku rapi, aku dan Metta segera pergi untuk mengantarkanku ke rumah Lisa. Di sepanjang perjalanan aku banyak menanyakan seputar kehamilan pada Metta. Bukan tanpa alasan, Metta lebih berpengalaman soal ini dan aku tidak ingin merasakan yang namanya 'ngidam' yang berlebihan, aku harus tau bagaimana cara mengatasinya.


Tak terasa kami sampai di depan halaman rumah Lisa, aku segera merogoh ponselku yang ada di dalam tas lalu menghubungi Lisa. Ia menyahut teleponku lalu aku katakan jika aku sudah berada di depan rumahnya, Lisa keluar dari rumahnya sambil menempelkan ponselnya di telinga lalu melambaikan tangannya. Segera ku matikan sambungan telepon kami lalu berpamitan kepada Metta karena sudah mau mengantarkanku.


***


Aku dan Lisa memesan makanan melalui aplikasi Go-Foodies. Kami makan siang bersama di meja kitchennya sambil membicarakan banyak hal. Lisa sudah kembali terlihat seperti Lisa yang aku kenal selama ini. Dia bahkan mengatakan ingin mencari pekerjaan kantoran agar waktunya terjadwal kembali. Aku mendukung keinginannya itu.


Kami juga membahas tentang hubungannya dengan Alex untuk ke depannya. Sekali lagi, Lisa ingin mencoba mencari tahu apakah dirinya benar mencintai Alex atau hanya pelampiasan hasratnya saja dalam mengisi kekosongan. 'Entahlah, biarkan Lisa mencari tahunya sendiri dengan caranya,' batinku.


Tak terasa kami bercerita hingga sore menjelang. Berpindah duduk dari meja kitchen kini di sofa depan televisi. Aku juga menceritakan tentang kondisiku saat ini, bahwa aku sedang mengandung. Lisa terpekik kaget membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Ia melonjak kegirangan, menanyakan berkali-kali hanya untuk memastikan.

__ADS_1


Kami benar-benar melupakan kejadian beberapa hari yang lalu. Bukan, bukan melupakan, tapi lebih tepatnya menjadikan semua itu sebagai pelajaran. Pengalaman hidup yang tidak bisa kami lupakan. Lisa bersalah, aku pun bersalah telah menamparnya. Lisa menjadi korban, aku malah dengan tega menamparnya, hanya karena berdalih untuk menyadarkannya. Padahal masih banyak cara lain untuk menyadarkan seorang Lisa.


Teetttt ...


Teetttt ...


Bel rumah Lisa berbunyi, "Pasti itu Jefri," tebakku.


Lisa menyuruhku untuk tetap duduk sedangkan ia beranjak untuk membukakan pintu rumahnya. Tiba-tiba bunyi notifikasi pesan dari ponselku berbunyi. Segera ku raih ponselku yang segaja kuletakkan di atas meja tadi. Lalu menggeser kunci layar dan membuka isi pesan itu. Ternyata dari grup 'Siblings' isinya hanya bertiga, aku, Max dan Haikal.


Haikal : Kalian ada acara apa malam ini?


Aku sempat berpikir lalu segera menjawab,


Me : Gak ada, emang kenapa?


Max : Free, why?


Lama aku menunggu balasan dari Haikal, hingga kuletakkan kembali ponselku di atas meja. Jefri muncul mendekatiku lalu mengecup keningku. Lisa meringis kesal melihat kemesraan yang Jefri perlihatkan, aku hanya terkekeh geli.


Ting ...


Ting ...


Ting ...


Ting ...


Haikal : Kita makan malam bareng. Aku bakalan pesan tempatnya. Kalian berdandan yang rapi, full course meal. Oke?


'Wih, tumben kakak satu ini mau makan macam begini,' batinku.


Me : Oke.


Max : Boleh ajak istri? Anak?


Haikal : Kayaknya istri atau suami aja deh, kalo anak ntar dia teriak-teriak.


Max : Oke.


Me : Boleh ajak Lisa?


Lama tak ada balasan dari Haikal, sedang aku terus menatap layar ponsel sambil sesekali memperhatikan Lisa yang sedang membuatkan minuman untuk Jefri di dapur.

__ADS_1


Ting ...


Ting ...


Aku segera melirik ke layar ponselku lagi.


Haikal : Ya, ajak aja, gak papa. Nanti aku kirim alamatnya rumah makannya.


Kedua sudut bibirku tertarik mengembang, aku senang bisa mengajak Lisa untuk makan malam bersama keluargaku. Tidak lagi aku membalas pesan itu. Lalu dengan semangat aku memberitahukan kabar itu pada Jefri dan Lisa.


"Kita malam ini table manner sekeluarga." Aku menepuk paha Jefri untuk meminta perhatiannya. Jefri menoleh kaget.


"Oh ya? Kok mendadak?"


"Kamu udah ada janji?" tanyaku.


"Gak ada sih,"


"Ya udah kalo gitu. Lu juga ikut, Lis!" seruku memberitahu Lisa yang akan membawakan segelas minuman itu untuk Jefri.


Lisa duduk di depanku, "Gua ikut?" tanyanya memastikan.


Aku mengangguk cepat, namun Lisa malah mengelak, menolak untuk ikut. Aku membujuknya lalu mengatakan bahwa aku sudah meminta izin akan mengajaknya. Barulah Lisa mengalah dan bersedia untuk ikut.


Dari dulu Lisa selalu seperti ini, mengelak jika diajak makan malam oleh keluargaku. Padahal mamah dan kakakku selalu senang jika Lisa ikut bergabung bersama kami. Apalagi semenjak orangtuanya meninggal, mamah selalu ingin Lisa tinggal bersama kami, menemaniku. Tapi keinginan Lisa lebih kuat, hingga ia memutuskan untuk ke luar negeri. Begitu dia kembali ke sini, kamipun kembali merasa bahagia, terutama aku.


Tak lama setelah itu, aku dan Jefri memutuskan untuk segera pulang dan bersiap. Begitupun dengan Lisa yang juga harus bersiap.


"Nanti aku kirimin alamatnya, awas gak dateng!" ancamku sesudah memeluknya untuk berpamitan pulang.


Lisa tersenyum sambil mengiyakan ancamanku.


Di sepanjang perjalanan pulang, aku dan Jefri banyak membicarakan tentang Lisa. Ia sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya dan semoga saja hubungannya dengan Alex pun segera membaik. Entah itu membaik untuk meneruskan rencana pernikahan mereka atau membaik hanya untuk sekedar berteman. Yang jelas aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk hidup Lisa.


Disaat yang bersamaan, aku teringat akan hadiah yang kembali dikirimkan Dana ke kantorku. Aku meraih handbag-ku yang tadi ku letakkan di kursi jok belakang, lalu merogoh isinya.


"Apa itu?" pekik Jefri yang ternyata memperhatikan aku yang mengambil kotak itu dari dalam tas.


Aku tidak berkata apa-apa, hanya langsung membuka penutup kotak itu dan memperlihatkan isinya pada Jefri. Seketika Jefri menebak siapa pemilik kotak perhiasan itu dan tebakkannya benar, Dana.


"Taruh di sana aja." Jefri menunjuk laci dashboard dengan mulutnya. Aku segera menutup kembali kotak itu lalu meletakkannya di dalam laci dashboard.


"Kamu masih sanggup 'kan kerja di sana? Aku baru bisa bergerak kalo aku sudah pegang jabatan papa." Jefri kembali membuka suara, aku mengangguk dengan pasti.

__ADS_1


Jefri juga sudah menyusun rencana untuk menghadapi Dana, namun selama Dana masih bermain lembut dengan cara seperti ini, kami sepakat untuk membiarkan sampai sejauh mana permainan ini berlangsung.


Bersambung ...


__ADS_2