Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 141


__ADS_3

Haikal. POV.


Aku menyelipkan jari jemariku ke rambutku sendiri lalu merematnya. Kenapa semuanya jadi serumit ini?


Berkali-kali aku mengembuskan napasku dengan kasar melalui mulut. Lalu aku putuskan untuk segera menghubungi Clara. Ya, untuk saat ini hanya dia yang bisa membuatku tenang.


Entah mengapa, jika ada dia, aku selalu bisa mengatasi rasa emosionalku. Aku menekan nomer teleponnya dan menempelkan benda tipis itu pada telingaku. Kudengarkan nada sambung yang menghubungkan ke ponselnya.


"Hallo?" Suara di seberang sana.


"Kamu masih di kantor ya?" tanyaku tanpa basa-basi, karena aku memang tidak pandai untuk melakukan hal itu.


Kemudian aku memintanya untuk menemaniku makan di luar, tetapi dengan waktu yang lebih banyak. Clara menyanggupinya, dia bisa menyediakan waktu extend hingga dua jam untuk istirahat makan siang hari ini.


Dan tanpa menunggu lama, aku segera memutuskan panggilan teleponku padanya setelah memintanya untuk bersiap-siap sekarang. Sebab aku yang akan menjemputnya.


Segera aku berdiri dari dudukku lalu mengganti pakaian seragam operasiku tadi dengan pakaian lain yang memang aku miliki dari dalam lemari. Sebuah kemeja dengan celana kain berwarna hitam menjadi pilihanku.


Setelah selesai mengganti pakaian dan juga bersiap , memantaskan diri di depan cermin di dalam kamar mandi, aku segera keluar dari sana. Dan betapa terkejutnya aku saat keluar dari kamar mandi mendapati Ranti sedang duduk di kursi di depan meja kerjaku.


"Ranti?! Udah lama?" tanyaku terbata akibat terkejut.


Ranti tersenyum, "Baru aja, aku pikir tadi kamu keluar. Tapi begitu dengar suara dari dalam sana, aku putuskan buat nunggu."


"Oh iya gak apa-apa kok. Kenapa?"


"Kamu mau keluar ya?


"Iya, aku mau makan siang di luar."


"Sama Clara?"


Aku mengangguk sambil memasukkan dompet serta memasang kembali jam tanganku yang sempat kulepas sebelumnya. "Kenapa?"


Ranti tiba-tiba tersenyum, "Gak apa-apa, nanya aja."


Kemudian dia berdiri dan pergi berlalu meninggalkan ruangan ini.


Aku mengernyitkan keningku, terasa aneh. "Kenapa dia?" gumamku.


Segera kutepis rasa aneh melihat tingkah Ranti itu. Lalu kembali melanjutkan planning-ku sebelumnya. Kuraih kunci mobilku dan segera pergi dari sana, melangkahkan kaki menuju parkiran basemen. Lalu segera meluncur menuju kantor Clara untuk menjemputnya.


Jam sekarang menunjukkan pukul dua siang. Jalanan menuju ke kantor Clara sudah mulai lenggang kembali, sebab jam istirahat para karyawan kantor lain telah berakhir. Hanya butuh waktu sekitar ±15 menit, agar aku bisa dengan mudah untuk sampai ke tempat tujuanku.


Clara sudah menunggu berdiri di pinggiran lobby, aku segera menuju ke arahnya dan menghentikan mobilku tepat di depannya. Lalu kubuka kaca jendelaku. "Hai," sapaku yang membuat wajahnya mengembang tersenyum lebar.


Tanpa menjawab sapaanku, ia langsung membuka sisi pintu mobil di depannya sendiri, lalu masuk dan duduk di kursi depan di sampingku. Clara tidak membawa tasnya, ia hanya memakai coat-nya.


"No bag?" tanyaku heran. Karena biasanya wanita tidak bisa lepas dengan benda satu itu jika keluar dari rumah.


"Aku cuman bawa hape sama dompet." Sambil memperlihatkan kedua benda itu, yang ia keluarkan dari kantong mantelnya.


Aku merasa heran, "Why?"


"Kalau aku bawa tas, nanti dikirain aku keluar sekalian pulang. Kalo kayak gini kan gak mungkin," alasannya. Aku tertawa, benar juga! Aku tidak salah pilih pasangan. Dia smart!


Tanpa ajuan pertanyaan lagi, aku langsung kembali menginjak pedal gas mobil dan meluncur menuju mall. Ya, aku akan membawanya ke mall. Sebab hanya tempat itu yang selalu di sukai oleh wanita. Dan untuk makan, banyak pilihan yang terdapat di sana. Jadi tidak ada lagi kata 'terserah' jika sedang menanyakan pilihan makanan pada wanita.

__ADS_1


***


Kini aku dan Clara sudah duduk di salah satu sudut meja makan sebuah restoran khas jepang. Aku dan Clara memesan beberapa menu sushi dan juga sashimi lalu menikmatinya sambil mengobrol berdua. Saling membicarakan pekerjaan masing-masing.


"Trus gimana kondisi Tika sekarang?" tanya Clara di sela suapan sushi ke dalam mulutnya.


"Baik," jawabku berbohong. Ya, aku tidak tahu jelas bagaimana kondisinya saat ini akibat apa yang sudah terjadi sebelumnya, sesuai kabar dari Jefri. Hanya saja, aku juga tidak mungkin untuk menceritakan permasalahan keluargaku pada Clara saat ini.


Bukannya aku tidak percaya, hanya saja aku merasa kurang etis untuk mengumbar masalah pada orang lain. Meskipun dengan Clara yang notaben-nya juga adalah pasanganku sendiri saat ini. Tunanganku.


"Beneran gak apa-apa?" tanya Clara sekali lagi padaku. Aku menatapnya yang duduk di sampingku. Lalu mengangguk mantap saat ia juga menatapku.


"Mulai saat ini, kamu bisa cerita ke aku kalo lagi ada masalah. Jangan di simpan sendiri." Clara lagi-lagi berucap. Sedangkan aku terus saja memakan makananku dan bermain dengan sumpitku.


"Daripada kamu simpan sendiri 'kan? Lagian aku gak bakalan bocorin ke siapa-siapa. Ngapain juga." Clara kembali menambahi.


"Iya, aku percaya kok sama kamu," sahutku pada akhirnya.


Lumayan lama kami menghabiskan waktu berdua. Bahkan setelah makan, aku juga mengajaknya untuk mengelilingi mall ini berdua. Menggenggam tangannya bahkan sesekali aku merangkulnya dari samping.


Setidaknya saat bersamanya, aku dapat melupakan masalahku, walaupun hanya sejenak saja. Tidak masalah.


—————


Tika POV.


Aku terbangun dari tidur sembabku bertepatan pada saat alarm dari ponselku berbunyi. Alarm tepat jam enam petang. Saat langit biru sudah tidak mampu lagi melukiskan keindahannya dalam terang. Aku meraih ponselku itu yang berada dalam tas untuk mematikan alarm-nya.


Lalu duduk di tepi tempat tidur. Kulemparkan ponselku ke tengah tempat tidur lalu aku beranjak pergi menuju kamar mandi untuk membasuh wajahku. Kulihat mataku masih saja sembab, akibat tangisan yang aku bawa hingga aku tertidur.


Setelah itu aku kembali keluar kamar mandi dan meraih ponselku lalu membawanya untuk turun ke lantai bawah.


Saat menuruni anak tangga, aroma masakan yang bi Mince masak sungguh wangi. Aku merasa seakan sedang berada di rumah mamah. Perlahan aku berjalan menuju dapur.


"Bi, masak apa? Wangi banget." Aku menyapanya.


"Ini, Non, bikin capcay aja. Non Tika harus banyak makan sayur-sayuran," ucap bi Mince sambil melirikku yang menarik kursi di meja bar. "Astaga, Non! Matanya kenapa?" pekik beliau.


Aku yang setengah terkejut mendapatkan pekikan dari bi Mince itu. Kemudian kembali pada sikap sempurnaku, seolah tak terjadi apapun. Sedangkan bi Mince langsung mematikan gas kemudian menyiapkan alat kompres.


"Udah gak apa-apa, Bi. Paling bentaran juga ilang." Aku mengelak, tetapi bi Mince terlalu sigap hingga tak berapa lama kompresan itu sudah siap di depanku.


"Sementara bibi masak, enon kompres pakai handuk itu matanya sambil merem," saran bi Mince. Aku melakukan apa yang bi Mince suruh, sembari menunggu beliau selesai memasak.


Baru sebentar aku mengompres mataku, tiba-tiba saja aku teringat lagi dengan kalimat per kalimat yang Lisa ucapkan tadi siang pada Max dan berkali-kali juga aku menggelengkan. Mengembuskan napas yang selalu membuat dadaku sesak.


Untuk saat ini, otakku benar-benar tidak bisa mencerna mengapa Lisa bisa setega itu. Hanya karena iri pada hidupku, lantas ia membuat sengsara semua orang. Bagaimana tidak? Dengan caranya itu ia tidak hanya membuat aku yang sengsara tapi juga membuat dirinya sendiri merasakan akibat dari ulahnya.


Tadinya aku ingin bersikap 'bodoh amat' dengan semua ini, tapi tenyata tidak bisa. Aku tidak bisa membohongi hatiku yang telah tergores. Lisa benar-benar menggores hatiku dengan cukup dalam. Bukan menggunakan silet tajam tapi menggunakan sebuah belati.


Jika saja setelah ini, aku bisa kembali pada titik awal kehidupan dan memilih untuk dilahirkan, aku ingin mencoba hidup di posisinya. Dan dia di posisiku. Agar dia tahu, bahwa kebahagian itu tidak ada yang sempurna.


Akan selalu ada rintangan dan halangan untuk mencapai kebahagiaan itu sendiri. Dan letak kebahagiaan bukan pada orang lain, melainkan pada diri sendiri. Karena setahuku, jika diri kita sendiri merasa bahagia, maka sekeliling kita pun akan merasakan aura itu.


Tapi lagi-lagi terlintas kalimat dari suamiku. Benar katanya, sekuat apapun aku mencoba untuk berbuat tulus, jika dalam hati Lisa hanya ada kebencian yang tersimpan untukku, maka semua akan percuma.


Kembali aku mengembuskan napasku. Aku ingin melupakan itu. Aku ingin fokus membesarkan kedua anakku. Ya, mungkin aku hanya perlu waktu dan perlu kesibukan untuk melupakan sikap Lisa.

__ADS_1


—————


Jefri POV.


Perlahan aku melangkahkan kakiku, masuk ke dalam ruangan kantorku menuju ke meja kerja. Lalu saat aku meletakkan beberapa dokumenku di atas meja, baru lah sang wanita itu menutup koran yang tadi dibentangkannya. Seketika aku terperangah, melihat siapa wanita itu. Dia tersenyum padaku.


"Apa kabar, Jeff?" sapanya.


Mataku terbelalak, membulat sempurna. Napasku tertahan, seakan tiba-tiba merasa sesak. "Nadine?!"


Ya, Nadine adalah salah seorang temanku saat kuliah dulu tetapi hanya beberapa tahun, setelahnya ia pindah ke luar negeri. Kami saling tersenyum, kemudian dia menghampiriku dan menyodorkannya tubuhnya condong ke arahku, seakan ingin 'bercipika-cipiki' denganku. Dengan sigap aku mengangkat kedua tangankubdan memperlihatkan kedua telapak tanganku padanya, menolak untuk melakukan itu.


"Whoa whoa whoa! Itu cara menyapa di luar negeri dan itu gak cocok buat gua. Lagi pula gua sudah nikah!" Aku mengangkat jariku dan memperlihatkan cincin yang melingkar pada jari manisku.


"Oh oke, no problem." Nadine tidak mengambil hati.


Aku berputar melihatnya sambil berjalan ke tempat dudukku. Dan aku menyuruhnya untuk duduk di kursi tamu di depan mejaku. Bukan di kursiku. Lalu aku langsung membuka laci di lemari belakang kursiku, mengambil sesuatu dari sana. Kemudian melemparkannya pada Nadine.


"Apa ini?" tanya Nadine saat menangkap benda yang masih tergulung rapi itu.


"Itu jaket hadiah dari salah satu provider. Mending lu pakai itu daripada ntar banyak mata serigala yang haus liat lu." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Tidak habis pikir dengan pakian yang di kenakan oleh Nadine.


Bagaimana tidak?


Rok mini, very mini dan juga sebuah blouse yang kainnya sangat tipis juga berkerah V yang memperlihatkan sebagian dari dua gundukan itu. Benar-benar menguji akal sehat.


Sedangkan Nadine hanya tertawa menanggapi sindiran sarkas-ku. Tapi Nadine tetap menuruti perkataanku, dia membuka jaket itu lalu mengenakannya.


"Gua tadi ke rumah lu, trus kata nyokab, lu sekarang udah ambil alih ini kantor." Sambil memasang jaket itu.


"Emang ada apaan nyari gua? Tumben, kan bisa lewat telepon ato kirim pesan," ucapku heran. Aku menyandarkan punggungku pada kursiku, dengan kedua tanganku yang melipat, bersedekap di dada.


"Gua pikir lu masih di perusahaan batubara yang kemaren. Gua nyari kerjaan." Nadine mengatakan maksud dan tujuannya untuk menemuiku.


Nadine juga mengatakan bahwa ia memerlukan sebuah pekerjaan yang berorientasi pada oekerjaan di lapangan, bukan di dalam kantor di depan layar komputer setiap harinya.


"Gua gak ada jenis pekerjaan kayak gitu."


Setelah lumayan lama berbincang, akhirnya dia memutuskan untuk berpamitan. Ingin mencoba mendatangi Brandy. Teman ku saat di perusahaan batubara sebelumnya, yang mana Brandy juga mengenal dirinya.


"Ya udah, ntar kalo perusahaan gua butuh yang begitu gua kabarin."


"Makasih ya, bye."


Selepas kepergian Nadine. Aku kembali memulai pekerjaanku yang tertunda.


Hari semakin larut, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Seharusnya setengah jam yang lalu aku sudah dalam perjalanan menuju pulang. Tetapi aku malah masih berkutat di belakang layar komputer.


Masih sibuk dengan laporan serta lampuran surat-surat milih papah sebelumnya. Dan semakin lama aku memeriksa semua dokumen ini, aku semakin menemukan kejanggalan-kejanggalan nominal yang tertulis untuk pengeluaran perusahaan.


Bersambung ...


—————


Happy fasting ...


And happy reading ...

__ADS_1


Jangan lupa subsrek (love, like, kasih ratting trus tinggalin komentar)


#salambucin! 💋


__ADS_2