Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S3 - Eps 163


__ADS_3

Happy reading ...


—————


Jefri POV.


Kriing ... kriing ... kriing ...


Suara telepon intercom di atas meja kerjaku berbunyi. Awalnya aku sengaja mengabaikan telepon itu, sebab saat ini aku sedang ingin fokus memeriksa beberapa berkas penting untuk kelanjutan kerja sama perusahaanku dengan perusahaan Max.


Aku terpaksa meninjau kembali semua file itu. Karena biaya yang akan Max setorkan sebagai pembelian 5% saham perusahaan ini baru bisa di cairkan seminggu lagi. Sedangkan saat ini keuangan perusahaanku sudah mulai menipis. Semua itu disebabkan karena aku sudah mengeluarkan seluruh gaji karyawan di perusahaan ini. Tidak ada lagi sistem pembayaran gaji seperti yang sebelum-sebelumnya. Entah itu keterlambatan, pembayaran setengah atau bahkan rapel.


Aku ingin menghapus peraturan itu, tapi ternyata semua ini berdampak besar penarikan rutin yang dilakukan oleh pak Hardi. Dan hari ini, aku kehilangan batas kesabaranku padanya.


Sudah sejak dua jam yang lalu beliau selalu menghubungiku melalui telepon di atas meja kerja ini. Kenapa aku bisa tahu? Karena awalnya aku menerima panggilan telepon itu, tapi begitu mendengar suara beliau di seberang sana, tiba-tiba aku menjadi malas serta emosi. Dan aku akhirnya langsung menutup gagang telepon itu tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Hampir setiap tiga puluh menit sekali telepon itu selalu berdering. Yang aku tebak penelponnya masih sama, yaitu pak Hardi. Dan kali ini entah mengapa aku merasa benar-benar jengah mendengar suara benda itu. Aku menariknya lalu melepaskan kabel sambungan telepon itu. Dan akhirnya deringnya berhenti terdengar. Aku mengembuskan napas lega, lalu kembali fokus berkutat dengan pekerjaanku tadi.


Selang beberapa jam kemudian, ponselku berdering.


🎶


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Talk about where we're goin'


Before we get lost


Let me out first


Can't get what we want without knowin'


I've never felt like this before


I apologize if I'm movin' too far


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Figure out where we're growin'


🎶


Sebuah nomer yang tidak aku kenal menelpon ke ponselku. Untuk beberapa detik, aku tersentak. Pikiranku langsung melayang, mencoba menerka-nerka nomer siapa ini. Karena aku merasa familiar dengan nomer ini, rasa-rasanya nomer ini pernah menghubungiku dan berbicara padaku. Tapi aku meragukannya.


Aku semakin membiarkan ponselku terus berdering. Entah mengapa semenjak pernah mendapatkan sebuah telepon misterius beberapa waktu lalu, aku menjadi ragu jika menerima panggilan telepon dari nomer yang tidak pernah tersimpan dalam buku telepon di ponselku. Aku letakkan ponsel itu di atas meja, sedikit jarak antara tanganku dengan benda tipis itu.


Tiba-tiba dering itu berhenti, panggilan telepon telah terputus. Aku sejenak bernapas lega. Meloloskan beberapa karbon dioksida dari hidungku dengan sekali embusan. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Mengalihkan pikiranku.


Namun beberapa saat kemudian, benda tipis itu kembali berdering. Membuat gerakan jariku di atas keyboard mendadak terhenti, bola mataku langsung melirik benda itu. Pikiranku kembali terpecah dan napasku seketika bergumul dalam rongga hidungku yang entah sampai kapan aku mampu menahannya. Aku terlalu paranoid.


Beberapa detik kemudian akhirnya aku memutuskan untuk meraih benda tipis itu. Menggeserkan tombol hijau pada layar depan setelah sebelumnya kembali aku bebaskan embusan napasku, kali ini melalui mulutku. "Hallo?"

__ADS_1


Terdengar suara lembut dari seberang sana, ia menyapaku, seakan mengenali diriku untuk waktu yang lama. Dia juga menanyakan, bagaimana kabarku akhir-akhir ini? Aku ragu untuk menjawabnya.


"Hei, gua nanyain kabar lu, Dude!" serunya di seberang sana.


Saat mendengar dengan seksama kalimat kedua yang dia lontarkan, aku baru menyadari jika itu adalah suara seorang lelaki, bukan wanita seperti pikiranku selama ini. Dan ... wait a minute ... lelaki?


Aku jauhkan ponselku dari telingaku, kuamati sekali lagi susunan angka yang tertera di layar ponselku dan kali ini aku mengenali nomer itu. Ya, tidak salah lagi, inilah nomernya!


Aku berdecih, "Lupa pakai setting private number ya? Biar misterius," ejekku padanya.


Kemudian dia tertawa di seberang sana, nyaring, bahkan aku sempat menjauhkan speaker ponselku itu dari daun telingaku. Dia mengatakan jika dia sudah tidak ingin lagi melakukan hide and seek, petak umpet dalam mengabulkan keinginannya. Meskipun dengan cara yang tidak manusiawi. Dan lelaki yang menghubungiku ini adalah Dana.


Rasa paranoid yang tadi hinggap pada otak dan tubuhku menjadi hilang seketika. Berganti dengan desiran amarah yang mengalir, menjalar ke seluruh tubuhku.


"Lu tahu? Semestinya waktu itu gua bukan mencumbu wanita sialan itu. Harusnya bini lu yang gua cicipin, sekaligus mengingat masa lalu kami saat berseng*amaa." Tawanya kembali pecah. Membuat aku tidak sadar sudah mengepalkan tangan kiriku sejak lama.


"Bukankah sensasinya berbeda saat menyetu*buhi wanita hamil? Apalagi wanita seksi macam Tika. Ah, sayang sekali!" sesalnya di sana.


Aku sontak bangkit dari kursiku, geram dengan apa yang dia ucapkan. Namun aku mencoba bersabar, menahan lidahkubuntuk tidak berkata apa-apa terlebih dahulu. Tangan kiriku yang tadi mengepal kini sudah menempel sempurna pada kaca meja kerjaku. Kata demi kata yang dilontarkannya begitu menyayat hatiku. Melecehkan istriku di setiap ucapannya.


"Sekarang setelah melahirkan, apa dia masih bisa memuaskan hasrat lu?" tanyanya dengan nada meremehkan.


Mungkin jika sudah seperti ini, memang aku yang harus memancingnya untuk keluar dari persembunyiannya. Karena aku sangat yakin jika dia akan terus-menerus melakukan ini, merusak mentalku tanpa aku sadari. Perlahan tapi pasti.


Aku mulai paham dengan alur permainannya ini. Dan aku harus mengikutinya.


"Sampai kapan pun, dia yang terbaik. Bahkan lu gak akan pernah bisa merasakan gimana rasanya jadi lelaki seutuhnya. Jadi apa gunanya?" Aku sengaja melemahkan nada suaraku. Berusaha mengejeknya dengan cara yang lebih terhormat.


Tak berapa lama telepon terputus. Dia mematikan secara sepihak. Aku tersenyum tipis. Mungkin aku akan memakai cara ini untuk memancingnya. Lagi pula aku yakin, dia tidak akan bertahan lama untuk bersembunyi. Seperti katanya tadi.


Kembali aku menjatuhkan tubuhku ke atas kursi kerjaku. Lalu kembali mencoba fokus untuk menyelesaikan pekerjaanku dengan suasana hatiku yang senang kali ini. Bagaimana tidak senang?


***


Hari ini aku sudah meminta izin Tika untuk tidak pulang ke rumah saat makan siang. Sebab aku benar-benar harus sesegera mungkin untuk menyelesaikan laporan proyek dengan Max ini. Agar aku tidak salah perhitungan. Tapi tiba-tiba ...


Tok tok tok!


Suara pintu ruanganku yang diketuk membuatku refleks menoleh ke arah sana. Ternyata itu adalah salah satu karyawan resepsionis kantor ini.


"Maaf permisi, Pak, ada tamu yang ingin bertemu," ucap salah satu karyawan resepsionisku yang berdiri di ambang pintu.


Saat itu aku baru menyadari, jika aku merepotkan pekerjaannya akibat kabel telepon intercom yang sengaja aku lepaskan. Aku benar-benar merasa bersalah. "Maaf merepotkan, biarkan tamu saya masuk."


Dan sepersekian detik kemudian, betapa terkejutnya aku begitu melihat siapa tamu yang datang ke kantorku ini. Dia adalah istriku sendiri, Tika. Spontan aku berdiri dari dudukku dan segera berjalan menghampirinya.


"Saya permisi dulu, Pak, Bu." Karyawanku itu segera berpamitan saat aku menyambut istriku dengan sebuah kecupan pada bibirnya yang menggoda.


Aku menghujani bibir Tika dengan kecupan yang tertubi-tubi, hingga kami berdua terkekeh kegelian. Kemudian dari tangannya, ia mengangkat sebuah wadah kotak makanan, aku terkejut. Ternyata ia membawakanku sebuah makan siang.


Kami duduk di sofa ruang tamu dalam ruangan ini. Mata Tika mengarah ke sana dan kemari memerhatikan ke sekelilingnya. Setelah ia membukakan kotak makanan itu dan menyerahkannya padaku.


Ini adalah kali pertamanya ia berkunjung ke kantorku. Sambil makan aku sambil memerhatikannya pula. "Kamu tadi ke sini gak sendirian, kan?" tanyaku di sela makanku saat ia berdiri berjalan menuju meja kerjaku.


"Enggak kok, aku dianterin sama Hans. Dia nunggu di mobil." Tika terus saja menyusuri ruanganku ini. Sesekali ia menoleh menatapku. Aku membiarkannya melakukan itu.

__ADS_1


Tidak perlu lagi aku tanyakan kedua buah hati kami di mana, sebab pasti dengan Shilla dan mamah di rumah. Aku selesaikan makan siangku kali ini. Lalu setelah selesai aku berdiri untuk mengambil gelas minumku yang ada di meja kerjaku. Sedangkan Tika saat ini sedang duduk di kursi kerjaku sambil menatapku.


Selesai minum, aku langsung memasang kembali kabel telepon intercom di atas meja. Aku menawari Tika minum yang kemudian di balasnya hanya dengan sebuah anggukan kepala olehnya. Lalu aku menghubungi bagian pantry dan meminta mereka untuk membuatkan es teh manis untuk Tika dan segelas air putih untukku.


"Kenapa tadi kabel teleponnya kamu cabut?" Nada suara bertanyanya seakan sedang curiga padaku.


Aku tersenyum, lalu aku mengurungnya dalam kursi itu dengan menggenggam kedua sandaran tangan dari kursi tersebut. Perlahan mendekatkan wajahku padanya lalu berkata, "Aku lagi ngerjain laporan keuangan proyek yang sama Max itu. Jadi aku butuh konsentrasi." Kemudian kukecup bibirnya.


Tika mendorong tubuhku, ia berdiri tapi dengan cepat aku kembali mengunci pergerakannya. Hingga bokongnya menempel pada tepi meja kerjaku. Kudekatkan tubuhku padanya untuk mengikis jarak di antara kami. Kedua bola mata kami saling menatap. Salah satu tanganku kini menyentuh pinggangnya, lalu sengaja kutelusupkan ke dalam blouse yang ia kenakan. Menyentuh punggung atasnya.


Sedangkan kedua tangannya kini menempal pada meja kerjaku, menopang tubuhnya yang hampir terbaring di atas meja.


Tok tok tok!


"Permisi, Pak, astaga!" pekik suara orang di depan pintuku.


Aku menoleh, ternyata karyawan office boy mengantarkan pesanan minumanku tadi. "Bawa kemari," ucapku seraya mengecup bibir istriku kilas.


"Kamu apaan sih. Malu." Tika berusaha mendorongku, tapi percuma, tenaganya terlalu lemah saat ini. Sedangkan tenagaku sudah kembali kuat akibat asupan makanan yang ia berikan tadi. Aku terkekeh.


"Pul, kenalin ini istri saya." Kukenalkan Tika pada Saipul, salah satu pekerja office boy di kantor ini.


"Oh, iya, Pak, senang berkenalan dengan Anda, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu." Dengan sopan dia berpamitan pada kami berdua setelah Tika menyodorkan tangannya pada pada Saipul untuk bersalaman.


"Selamat menikmati, Pak, Bu," ucap Saipul menggoda kami. Aku terkekeh.


"Tolong tutupkan pintunya."


"Baik, Pak." Saipul berbalik dan melangkah, sebelumnya aku melihat wajahnya yang ikut tertawa kecil.


Tangan serta posisi aku dan Tika tidak berubah sejak tadi, masih dalam keadaan yang sebelumnya. "Kamu apa-apaan?" protes Tika sambil mencoba menarik tanganku yang menelusup ke dalam pakaiannya.


Aku senang melihat wajahnya yang malu-malu saat ini, ditambah lagi saat ada Saipul tadi. Pipinya berubah warna, merah merekah. Begitu menggoda. Kudekatkan mulutku pada telinganya lalu berbisik, "Aku mau di sini, sekarang."


Buk!


Tika menepuk pundakku kemudian dia mulai mengomel untuk menolaknya, bahkan ia sempat mengatakan jika permintaanku ini terlalu ekstrem baginya.


"Kamu gila ya? Ini kantor, kalau sampai ada yang liat gimana?" protesnya.


"Kan sama istri sendiri." Kukecup lehernya.


Tubuhnya sudah setengah terdorong ke bawah, hampir menyentuh meja kerjaku, karena aku memang mencondongkan tubuhku padanya. "Lagian, kita belum pernah nyoba di atas meja, kan?" godaku padanya.


Tika kembali memukul pundakku tapi kali ini diikuti dengan senyuman tipis di sudut bibirnya. Yang menurutku sebagai tanda lampu hijau darinya.


Perlahan aku lepaskan tanganku, sampai akhirnya punggung Tika mekekat sempurna di atas tumpukan dokumen yang tadi aku periksa. Sementara aku mengacuhkan dokumen penting itu karena yang aku hadapi sekarang lebih penting dari segalanya.


Dengan perlahan aku mengecupi bagian lehernya, membuka seluruh kancing blouse-nya. Sayup-sayup aku mendengar suara desahan yang lolos dari mulutnya. Pelan, seperti ditahan olehnya sendiri.


Entah mengapa siang ini aku merasakan berbagai macam rasa dalam otak dan diriku sendiri. Ada hasrat dan amarah yang bercampur sekaligus menjadi satu. Namun begitu melihat kehadiran Tika, amarah itu langsung menghilang, apalagi saat melihatnya tersenyum.


Sungguh cinta itu menakjubkan!


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2