Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S3 - Eps 158


__ADS_3

Selamat berpuasa, bersahur dan berbuka ...


Jangan lupa kasih like dan tinggalkan kritik ataupun saran di kolom komentar ya ...


Pasti aku baca!


Jangan lupa juga buat gabung di Grup Chat-ku yang sudah tersedia di aplikasi ini.


Selamat membaca :)


—————


Still Tika POV.


Akhirnya aku kembali bersiap-siap untuk yang kedua kalinya, karena yang pertama tadi sudah dihancurkan oleh suamiku sendiri. Aku mandi untuk kedua kalinya sekaligus mandi bersama dengannya. Sambil menatapi tubuhku yang penuh dengan tanda ruam. Bukan karena benturan ataupun digigit serangga, melainkan hasil kreasi dari mulut Jefri.


Namun, dari pandangan matanya aku dapat melihat sebuah kepuasan yang ia pancarkan. Dan itu untuk pertama kalinya pula aku melihat pandangan matanya yang seperti itu.


Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri mandiku bersamanya, aku sempat mengecup bibirnya. Lalu melontarkan sebuah rasa penyesalannya untukku, "Maaf, aku terlalu berlebihan. Aku bikin badan kamu ... kayak gini."


Kukalungkan kedua tanganku pada pundaknya lalu jemariku mengelus lembut bagian belakang kepalanya. Sekali lagi kukecup bibir tebalnya itu, lalu kuarahkan mulutku pada telinganya, "I'm yours," desisku tepat di telinganya lalu kukecup kembali pipinya kemudian beranjak pergi mengambil handuk dan mengeringkan tubuhku.


Aku tinggalkan dia sendirian di dalam kamar mandi dan aku segera pergi keluar untuk bersiap-siap. Dia keluar dari kamar mandi lalu langsung masuk ke kamar wardrobe sambil memerhatikan aku berdandan. Dari pantulan cermin aku dapat melihat bayangannya di belakangku yang sedang mengenakan pakaiannya satu per satu.


"Jangan ngeliatin mulu, entar malah kepingin lagi," celetukku asal sambil memoleskan lipstick merah merona yang aku miliki.


Aku memang menyukai lipstick berwarna merah. Beberapa jenis dan merk aku miliki dan rata-rata semua memiliki warna merah. Mulai dari yang terang hingga merah gelap, glossy hingga matte dan hampir semua pula berjeniskan waterproof.


Perlahan Jefri mendekatiku, lalu berdiri di belakangku. Dia sudah mengenakan celana kainnya berwarna navy dengan kemeja berwarna baby blue. Aku sedikit terkejut dengan pilihan pakaiannya saat ini, terlihat formal.


Perlahan dia membungkukkan tubuhnya lalu mendekatkan wajahnya di samping telingaku sambil berbisik, "Kalo kepingin, tinggal goda kamu lagi aja." Sambil mengecup pipiku dan kembali menelusupkan jarinya ke dalam bathrobe-ku dari depan leher lalu menangkupkan tangannya pada salah satu bagian dadaku. "Trus angkat kamu lagi ke ranjang."


Aku tersipu malu mendengar ucapannya. Untuk sepersekian detik kemudian aku kembali teringat akan sebuah pertanyaan yang harus dan wajib aku tanyakan padanya. "Kamu gak salah pakai setelan itu? Emang kita bakalan makan di restoran mewah?" selidikku.


"Iya, kamu mau aku pilihin dress-nya?" tawarnya lagi. Membuatku sontak mengangguk cepat.


Dulu saat belum memiliki anak, dia pernah beberapa kali memilihkan pakaian untukku dan aku menyukainya. Berpenampilan sesuai dengan keinginannya dan mengenakan pakaian yang ia pilihkan. Seleranya dalam memilihkan pakaian untukku juga terbilang sangat bagus. Dia tahu apa yang cocok untuk di kenakan pada tubuhku dan apa yang aku sukai.


Dari pantulan cermin itu aku melihatnya memilih dress di tumpukan lemari pakaianku. Menggeser-geser celah hanger dengan perlahan hingga akhirnya ia menarik sebuah dress di atas lutut. Ia memperlihatkan dress itu ke arah pantulan cermin. Warna yang senada dengan celana navy yang ia gunakan, dengan cepat aku mengangguk setuju.


Dress itu lumayan seksi menurutku, apalagi untuk ukuran seorang ibu-ibu yang sudah beranak dua. Namun sepertinya Jefri menyukai itu dan aku pun tidak akan menolak pilihannya. Ia mengaitkan hanger itu pada kenop lemari lalu berjalan mendekatiku, menarik sedikit bathrobe di pundakku hingga ia bisa mengecupku di sana. "Jangan lama-lama, aku tunggu kamu di bawah," bisiknya.


Samar-samar senyumanku mengembang diperlakukan seperti itu. Layaknya wanita yang rasanya baru kemarin kami menikah. Membuat pipiku merekah merah merona. Kemudian ia keluar dari kamar meninggalkan aku sendirian untuk menyelesaikan dandananku.


Sejak itu, aku terus saja tersenyum sendiri. Menatap binar manis di kedua sudut bibirku melalui pantulan cermin, kemudian aku berdiri dan meraih pakaian pilihan suamiku lalu mengenakannya. Sekali lagi aku mematutkan diri di cermin. Dia memang sangat tahu dengan seleraku. Perfect!


Lagi-lagi bibir ini mengembang tanpa aku sadari. Melengkungkan senyuman yang tiada hentinya. Lalu aku memutuskan untuk mengikat rambutku. Menjepitnya dengan beberapa jepitan rambut agar aku dapat memperlihatkan leher jenjangku. Salah satu titik sensitive-ku dan juga spot kesukaan suamiku.


Setelah selesai aku mengambil handbag dengan warna senada dari lemari tas. Dalam ruangan ini, hampir semua barangku adalah barang lama yang aku miliki saat masih sendiri setahun yang lalu. Sedangkan barang baru hanya ada beberapa, sebab sisanya aku tinggalkan di rumah kami.


Lalu aku melangkahkan kakiku untuk mengambil coat dan sepasang heels yang akan aku kenakan sebelum keluar dari kamar. Memasukkan ponselku ke dalam tas lalu bersiap untuk menemui Jefri di lantai bawah. Dengan kedua anakku yang dijaga oleh Shilla.


"Wah, mau dinner bentaran doang mesti gitu ya?" tegur Max begitu melihatku turun dari tangga, aku mengerucutkan bibirku. Dia selalu saja jahil dalam mengomentari dandananku.


Shilla yang sedang berdiri sambil menggendong Naila langsung menyikut lengan Max yang ada di sampingnya. "Dih, kita kemarin juga gitu. Wajar mereka dandan, 'kan ngerayain hari pernikahan mereka."


Aku langsung menghamburkan pelukanku pada Shilla karena sudah membelaku. "Shilla memang yang terbaik!"


"Sudah siap?" tanya Jefri yang tiba-tiba berdiri dari duduknya. Sejak tadi ia menggendong Nathan lalu menyerahkannya pada mamah. Aku terpukau saat melihatnya menggendong Nathan tadi. Begitu seksi di mataku, melihatnya dengan pakaian formal, tetapi menggendong anaknya. Hot daddy looks!


Seutas senyuman terasa terlukis pada wajahku. Kemudian aku segera mengecup Naila dan Nathan secara bergantian. "Titip anak-anak dulu ya?" pintaku memelas pada mereka bertiga.


"Iya, udah pergi sana ... have fun ya!" seru Max saat aku dan Jefri melangkah keluar rumah menuju mobil.


Sebelum masuk mobil, Jefri membantuku mengenakan coat yang sedari tadi sudah aku bawa. Kemudian ia masih sempat mencuri bibirku untuk dikecupnya. "Hei, malu itu ada Hans sama Roni!" Pukulku manja pada dadanya.


Meskipun aku sudah mengatakan itu, tapi tetap saja Jefri melakukannya lagi. Kali ini ia malah mengunci tubuhku yang sudah menempel pada pintu mobil dan kembali mengecup bibirku lalu berjalan mengecup ceruk leherku. Aku meronta manja padanya, antara ingin menikmati dan juga malu karena kedua penjaga rumah itu sampai membuang pandangannya ke arah lain melihat tingkah Jefri yang sembarangan.


"Aish!!" decakku sesaat setelah Jefri melepaskan pagutannya. Ia hanya terkekeh melihatku yang merona malu. "Udah ah, ayo!" ajakku.

__ADS_1


"Ayo ke mana? Ke kamar lagi?" ledek Jefri yang langsung spontan kuhadiahi dengan tepukan telapak tanganku di dadanya.


"Jangan gila!" semburku padanya yang sontak membuatnya tertawa terbahak-bahak. Dan pada akhirnya itu juga yang membuatku tersipu malu lalu mencubit kecil bagian pinggangnya.


"Aduuh!" ledeknya lagi dengan wajahnya yang menyebalkan.


Kemudian dia membukakan pintu mobilnya agar aku masuk terlebih dahulu. Lalu ia berjalan memutari mobil setelah menutup pintu di sisiku dan ia masuk di sisi lainnya di belakang setir kemudi. "Sudah siap berangkat, Nyonya?" ucapnya ala-ala driver kebangsaan dalam film-film Hollywood.


Lagi-lagi aku menepuknya, kali ini pundaknya yang menjadi korban telapak tanganku. Dan dia pun melakukan hal yang sama, lagi-lagi dia membuat aku tidak mampu untuk menyembunyikan senyumanku.


" Udah ah, jangan ngegombal mulu," hardikku dengan sengaja lalu tersenyum.


Jefri terkekeh geli lalu segera menyalakan mesin mobilnya dan membawaku keluar dari rumah. Selama memiliki anak, aku memang jarang untuk keluar rumah. Bahkan hampir setiap hari aku habiskan untuk berdiam diri di dalam rumah. Menjaga kedua anakku atau bahkan hanya untuk sekedar tidur-tiduran, sebab aku selalu merasa kekurangan waktu untuk tidur. Semua itu dikarenakan kedua anakku yang masih sering terbangun pada malam hari untuk meminta asupan gizinya.


Aku merasa senang akhirnya bisa berjalan-jalan keluar rumah, tapi tetap saja aku selalu mengkhawatirkan kedua anakku. Pikiranku selalu saja mengarah pada mereka, sebab ini adalah kali pertamanya aku meninggalkan mereka, walaupun mungkin hanya untuk beberapa jam ke depan.


Pandangan mataku tidak ada henti-hentinya untuk melihat ke arah luar jendela mobil. Menikmati lampu malam yang terang serta beberapa kehijauan yang menggelap akibat langit yang juga sudah menghitam. Demi untuk mengusir rasa rinduku pada kedua buah hatiku.


Tiba-tiba saja tangan Jefri menggenggam tanganku lalu menariknya untuk ia kecup. Spontan mataku menoleh menatapnya dan sekilas ia juga menatapku.


"Kamu gak apa-apa 'kan?" tanyanya lembut.


"Aku kangen anak-anak," sahutku datar. Dia terkekeh lagi. "Kenapa?" lanjutku.


"Baru juga beberapa menit."


Aku mendelik, "Memang kamu gak kangen mereka?"


"Kangen lah, tapi aku juga butuh berduaan sama kamu. Masa mereka terus?" Nada suara Jefri saat mengucapkannya sungguh membuat aku terkejut. Aku tahu betul jenis nada suara seperti itu.


"Kamu cemburu sama anak sendiri?" ungkapku tidak percaya lalu tertawa kecil.


Jefri hanya membalasku dengan decak kesalnya yang malah semakin membuat tawaku meledak. Dia sungguh lucu jika seperti ini. Merengek layaknya anak kecil yang kalah dalam lomba perebutan gelar juara bertahan. Aku semakin tertawa cukup lama.


"Ini kita mau makan di mana sih sebenarnya, Sayang? Kok dari tadi gak nyampe-nyampe?" Aku memrotes arah tujuan kami yang terasa begitu lama di jalan.


"Ada sebuah dasi di sana," katanya datar.


Aku langsung mencari dasi itu dan menariknya keluar dari sana. Dalam pikiranku, mungkin Jefri ingin mengenakan dasi itu untuk melengkapi penampilannya, tetapi saat Jefri menyalakan lampu tengah di atas di antara kami, aku terkejut melihat warna dasi itu yang begitu kontras dengan warna pakaiannya. Rasanya tidak mungkin jika ia kenakan untuk acara kami ini.


"Warnanya gak cocok ih buat kamu pake. Lagian gak usah pake dasi juga gak apa-apa. Handsome kok!"


Jefri terkekeh mendengar penuturan sekaligus kejujuranku dalam berpendapat. Kemudian ia meraih dasi itu, merebutnya dari tanganku. "Bukan buat aku, tapi buat kamu."


Aku terperanjat saat Jefri mengatakan itu. Untukku? Bagaimana aku akan menggunakannya? Astaga apa dia ingin aku ...


"Kamu mau ngikat kedua tangan aku? Kita ini lagi di mobil loh, di pinggir jalan raya pula. Kalau dulu 'kan kita dalam basement, sepi. Ini rame. Kalo di datangi mobil patroli gimana? Kamu aneh-aneh aja deh, kayak gak punya ranjang sendiri," protesku panjang lebar yang kemudian dibalasnya dengan sebuah colekan pada ujung hidungku. Spontan membuatku mengerjabkan kedua mataku.


"Kamu mikir apa sih? Jangan b*nal deh! Ini dasi buat nutup mata kamu, bukan buat ngiket tangan trus kita main di sini." Dia mendengus dengan sedikit kesal.


Sedangkan aku hanya cengengesan saja mengakui kekotoran cara berpikirku. Lagi pula ini bukan salahku, jika aku berpikiran seperti itu, sebab sedari tadi dia selalu saja berusaha menggodaku. Bahkan beberapa kali ia melakukannya sebelum akhirnya kami memutuskan untuk berangkat 'kan?


Perlahan dia mengikatkan pertengahan dasi itu menutupi kedua mataku. Lalu mengikatnya dengan lumayan kencang, agar tidak mudah terlepas. Kemudian tiba-tiba sebuah kecupan kembali aku rasakan pada bibirku. Dan seperti yang sudah-sudah, ia selalu menyesapnya dan menyelipkan lidahnya, sebelum akhirnya aku membalas cecapan itu.


"Kamu godain aku terus ya!" pekikku saat bibir kami terlepas, kudengar dia kembali terkekeh.


Kemudian perlahan aku merasakan jika mobil ini kembali melaju, entah menuju ke mana. Yang jelas jantungku saat ini seketika berdegup begitu kencang. Di otakku sudah ada ratusan bahkan ribuan terkaan atas apa yang akan terjadi nantinya. Apa yang akan ia lakukan padaku? Ke mana ia akan membawaku?


Aku mengangkat tanganku lalu perlahan mengarahkan padanya, menyentuh lengannya yang sepertinya sedang memegang kemudi setir.


"Kenapa?" ucapnya lembut.


"Aku takut," sahutku sambil merabaa tangannya itu hingga aku menemukan jemarinya lalu menggenggamnya.


Gelak tawanya kembali meledak. "Apaan sih orang aku masih ada di sini. Kamu tuh di rumah kebanyakan nonton film thriller ya begini jadinya."


"Aish!! Masa nonton film drama atau nonton film romance? Gak seru, ntar baper!" elakku.


"Lah ini, nonton thriller juga baper."

__ADS_1


"Udah udah nyetir aja sana," sewotku pada akhirnya.


Selang beberapa detik kemudian aku kembali merasa takut, sebab suasana hening yang tercipta di antara kami. Kemudian aku kembali merengek meminta Jefri agar kembali berbicara. Setidaknya dengan mendengar suaranya aku akan merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya.


Click!


Suara lagu pada audio tiba-tiba berbunyi, melantunkan lagu barat yang memang menjadi kesukaan kami berdua. Tetapi aku malah membenci nada itu malam ini. "Matiin aja, aku gak mau dengerin lagu. Ntar kalo pake lagu, kamu-nya diem lagi, gak ngomong," rengekku yang kembali dipatuhi oleh Jefri.


Tidak ada suara bantahan darinya sedikit pun, malah saat ini dari mulutnya sendiri yang melantunkan sebuah lagu berjudul Best Part dari penyanyi Daniel Caesar. Begitu merdu dan aku baru saja menyadarinya setelah setahun menikahinya. Konyol!


Kedua sudut bibirku tiada hentinya untuk saling tarik, melengkungkan sebuah senyuman di sepanjang perjalanan hingga akhirnya aku merasakan kecepatan mobil yang melambat, berbelok serta berhenti pada suatu tempat. Lagi-lagi aku dibuat penasaran karena tidak bisa mengagumi tempat yang kami tuju ini.


Rasanya memang sudah lama sekali Jefri tidak memberiku sebuah kejutan. Kejutan yang sejenis ini. Sebab bagiku selama ini, setiap hari begitu aku membuka mata, dengan dirinya yang terbaring di sisiku pun adalah sebuah kejutan berharga. Dia yang menjadi ayah dari anak-anakku pun adalah sebuah kejutan yang tidak akan pernah padam di hatiku.


Begitu mobil berhenti, lagu yang ia dendangkan pun ikut berakhir. Begitu tepat dan begitu pas dengan timing yang ada. "Tunggu di sini, aku bukain pintu. Jangan coba-coba buat sentuh dasinya, awas!" ancamnya yang aku jawab dengan dehaman serta anggukan kepala tanda mengerti.


Dari telingaku, aku dapat mendengarnya membuka pintu dan menutup pintunya lalu ketukan jarinya pada bumper mobil yang semakin mendekat. Lalu pintu mobil terbuka. Sebuah tangan meraih jemariku, lalu tangannya yang satu lagi mencoba untuk membuka safety belt-ku, "Tunggu!" Aku mencengkeram tangannya.


Aku memajukan wajahku, terutama hidungku untuk mengendus aroma parfum pada tubuhnya. Setelah aku menghirup aroma parfum itu dan memang benar milik Jefri, barulah aku mengendorkan cengkeraman itu. "Kenapa?" Suara mengudara bertanya padaku. Aku tersenyum.


Semua yang aku lakukan tadi hanya untuk memastikan, apakah benar lelaki yang membawaku turun dari mobil ini adalah suamiku yang asli? Bisa saja 'kan ada suami palsu yang mengaku-ngaku? Atau makhluk lain yang menirukan suara Jefri? Entahlah, pikiranku melayang sampai sejauh itu.


Perlahan Jefri membimbing langkahku. Dia masih tidak membiarkanku untuk menyentuh dasi yang menutupi kedua mataku saat ini. Di bawah sana, aku dapat merasakan dataran keras yang tiba-tiba berubah menjadi lunak. Mungkin dataran semen yang kemudian kakiku melangkah melewati rerumputan lunak. Lalu kembali lagi menjadi keras hingga bunyi ujung heels-ku dapat terdengar sampai ke telingaku.


"Pelan-pelan, kita naik tangga," tuturnya lembut dengan masih memegangi kedua tanganku.


Aku melangkahkan kedua kakiku secara bergantian untuk menaiki tangga itu sambil merabaa dataran alas di bawah sana dengan kakiku.


"Awas naikan dikit," aba-aba dari Jefri.


Kemudian ia membawaku berjalan maju beberapa langkah ke depan. "Stop!" titahnya lagi.


Kini aku berdiri tegap di satu titik yang entah aku tidak tahu berada di mana. Hening. Tidak ada satu pun suara yang aku dengar ada di sekeliling kami. Jefri melepaskan genggamannya lalu membantuku untuk melepaskan coat yang aku kenakan. Kemudian dia meghilang ...


Tangannya tidak lagi ada di sekitarku. Aku melayangkan jemariku di udara. Mencoba mencari posisinya.


"Sayang ...," seruku dengan telinga yang mencoba untuk menajamkan sistem pendengaranku. Tidak ada jawaban.


"Sayang ini gak lucu ya, aku buka nih!" ancamku padanya. Namun tetap saja tidak ada jawaban apa pun.


Sekali lagi aku mencoba untuk mengancamnya. "Sayang ... jangan becanda deh!" Seraya tanganku menarik lilitan dasi yang menutupi kedua mataku. Kemudian suara gemuruh teriakan langsung menggema membuatku terkejut setengah mati.


"SURPRISE!!!!"


Aku mengerjabkan kedua mataku begitu sinar lampu yang begitu terang langsung memancar menyilaukan penglihatanku. Aku terkejut melihat semua orang ada di hadapanku. Mertuaku, mamah, kedua anakku, saudaraku, Shilla, sahabatku, teman-temanku yang lainnya juga tidak ketinggalan suamiku sendiri yang kini mendorong sebuah meja yang menyuguhkan sebuah kue pondan berlapis yang terlihat bertingkat tiga, yang lumayan tinggi menuju ke hadapanku.


Tak terasa butiran bening kini menetes di kedua sudut mataku yang kemudian mengalir begitu saja tanpa mampu aku tahan lagi. Tangisanku kali ini merupakan tangisan bahagia dengan kejutan yang aku dapatkan saat ini. Aku sungguh tidak percaya melihat semuanya berkumpul di tempat ini, yang mana aku baru menyadari jika tempat ini adalah rumah kami, rumahku bersama dengan Jefri.


Spontan aku melompat, menjatuhkan pelukanku pada dada bidang suamiku lalu mengecup bibirnya di hadapan semua orang. Dan tentu saja dengan berlinangnya air mataku yang menjadi sebuah tanda, betapa bersyukurnya aku memilikinya.


Dia begitu sempurna bagiku, entah itu sebagai seorang suami maupun sebagai seorang ayah untuk kedua buah hati kami.


Kuhiraukan semua gemuruh teriakan, siulan atau bahkan tepuk tangan yang seolah menjadi backsound saat aku mengecupnya dan tanpa ragu aku menyelipkan lidahku, menyesapnya, menikmati setiap sentuhan lidahnya. Aku benar-benar tidak tahu malu!


Bersambung ...


—————


Hallo lohha ...


Kasih komennya dong 😂


Kasih vote koin dan poin juga untuk mendukung Tika dan Jefri agar mahligai pernikahannya segera berlalu dari badai yang menerjang.


Jangan lupa follow Instagram-ku @bossytika


Babay,


#salambucin 💋

__ADS_1


__ADS_2