
Tika POV.
"Kata Mama, lusa kalian pergi ke Bali, bener?" tanya Papa saat kami makan malam di rumahnya.
"Iya Pa, Tika ada kerjaan disana, tapi besok nya balik kok, cuman semalaman aja." jawab Jefri santai.
"Trus kerjaan kamu?" tanya Papa lagi.
"Aku izin Pa."
"Kenapa Tika gak berangkat sendiri aja?"
Jefri menoleh padaku. Tatapan kami bertemu, cepat cepat aku menoleh ke lain.
"Dul kayak nya gak bisa jauh dari Tika Pa.. Udahlah.." sela Mama santai.
Aku hanya tersenyum menoleh pada Mama.
FLASHBACK ON.
"Loh jadi Bos kamu gak kasih tau tu cowo kalo kamu udah nikah? Udah ada yang punya?" sewot Jefri saat aku menceritakan meeting dikantor beberapa hari lalu.
"Aku ga tau kenapa Bos begitu, entah dia tau ato enggak aku dulu punya masa lalu sama dia. Yang jelas bos aku ngotot nyuruh aku selese in job ini." jelasku.
"Tau gitu, kemaren-kemaren waktu aku jemputin kamu di kantor, aku langsung aja ngenalin diri sebagai suami kamu!"
"Maksudnya?"
"Ya aku ketemu tu cowo di lobby depan lagi ngobrol sama bos kamu."
Aku mendekatinya, ku rangkul tubuhnya dari belakang, "Aku kepingin project ini cepet kelar, biar aku bisa fokus sama project lainnya..."
"Artinya kamu harus pergi ke bali, ketemu dia, ngebahas kerjaan berdua sama dia, trus besok nya balik? Kamu pikir sesimple itu?"
"Sayaaangg...."
"Sebelum hari pernikahan kita aja, dia ngirimin kamu mawar merah gede banget. Trus sekarang apa lagi? Ini salah satu cara dia jua buat dapetin kamu lagi, tau? Kalo gak dikasih liat mana mungkin dia bakalan percaya.." omel Jefri membelakangiku.
Aku semakin mengeratkan pelukkanku, "Dia yang nyentuh aku pertama kali." lirihku di punggungnya.
Sontak Jefri membalikkan badannya, mencengkram kedua lengan atas ku, aku menundukkan wajahku. Ku tahan agar airmataku tidak jatuh, aku tidak ingin menangisi pria macam Dana, batinku.
"Apa kata kamu?" sambil mengguncang tubuhku sesekali.
Ku naikkan wajahku, ku pandangi wajahnya, ku tatap tajam bola matanya yang coklat gelap.
"Keperawananku." lirihku pelan.
"Oh jadi dia orangnya? Trus ngapain lagi dia balik? Mau minta maaf? Atau berniat mau memperbaiki segalanya? Atau......"
"Aku sudah pernah bilang ke dia, aku terima masa lalu itu. Dan aku juga udah bilang ke dia kalo aku disini mau professional kerja. Tapi aku ga tau kenapa sekarang malah kayak gini." jelasku lagi.
Jefri melepaskan cengkramannya, kembali berbalik membelakangi ku, "Kamu masih ada rasa buat dia? Kamu masih...ngarepin dia?" lirih Jefri pelan menghadap jendela kamar, melihat langit gelap yang tanpa bintang.
Sekali lagi aku memeluknya dari belakang, ku hembuskan perlahan nafasku melalui hidung, "Sebelum kamu hadir, aku merelakannya. Sebelum kita nikah, aku berusaha menjauhinya. Sekarang, dia bukan siapa-siapa buat aku."
Jefri berbalik, tangannya menyentuh daguku, mengangkatnya hingga mata kami bertemu.
"Kalo gitu aku ikut ke Bali. Biar aku beli tiket sendiri. Kamu gak usah bilang ke bos kamu kalo aku ikut. Kita lihat, penyambutan macam apa yang diberikan lelaki itu untuk wanita masa lalu nya." ucapnya penuh arti.
FLASHBACK OFF.
Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk segera pulang ke rumah Mamah Ida.
Ya rumah kami belum selesai. Kemungkinan seminggu lagi baru selesai dan bisa kami tempati. Dan itu pada saat kami pulang dari Bali.
"Dia ada ngehubungin kamu?" tanya Jefri saat memasuki kamar tidur.
"Siapa?"
"Cowok itu lah, aku rasa nya gak sanggup nyebutin nama nya."
Aku langsung paham begitu Jefri mengucapkan kalimat itu.
"Ngapain juga ngehubungin aku? Nomer nya udah aku block sejak kamu ngelamar aku." jawabku santai sambil melepas pakaianku.
__ADS_1
Aku terbiasa mandi sebelum tidur dan Jefri sudah hafal dengan kebiasaan ku itu.
Kemudian Jefri mendekati ku, "Serius nomernya kamu block?"
Aku menoleh padanya, "Serius. Waktu itu aku kepingin tenang. Lagian udah ada kamu, ngapain aku mesti peduli sama pria lain?" sambil memasang bathrobe ku.
Jefri menarik tali bathrobe ku, membukanya dan menyisipkan kedua tangannya menyentuh pinggangku yang polos. Tangannya yang hangat mampu membuat ku mengembangkan senyumku melihatnya.
"Kamu gak malu punya suami kayak aku? Cuman seorang karyawan, gak punya usaha apa-apa..."
"Kamu bikin aku bahagia disetiap nafas aku, itu lebih dari cukup buat aku." ku kecup bibirnya kilas.
"Tapi dia punya perusahaan sendiri kan? Villa sendiri. Pasti lebih bahagia kalo disamping dia."
Aku tertawa, "Kalo gitu, kamu aja yang jadi pasangan dia, kan itu definisi bahagia buat kamu." jawabku sambil mengedipkan sebelah mataku.
Kami tertawa bersama, dia memelukku erat.
"Kalo suatu saat aku ga punya apa-apa gimana?" lirihnya saat memelukku.
"Yang penting kita punya rumah sendiri, selanjutnya bisa kita pikirin sama-sama."
"Kalo aku minta kamu buat berhenti kerja, kamu mau gak?"
Aku kaget mendengar pertanyaan randomnya, "Kenapa minta aku berhenti kerja?"
"Ya kalo kita punya anak. Aku mau nya kamu fokus ke anak-anak aja. Urusan financial biar aku yang cari."
"Yakin? Susu sama diapers itu mahal loh? Belum lagi yang lainnya.." aku mendongakkan wajahku melihat wajahnya.
Dia terlihat berpikir. Aku tersenyum, "Nanti aja mikirin itu ya? Mending dari sekarang kita nabung dulu sama-sama, gimana?" usulku.
Dia menatapku yang masih dalam dekapan dada nya, "Do you love me?"
Aku tersenyum, "Aku cinta kamu melebihi aku cinta diri aku sendiri." aku berjinjit lalu ku kecup bibirnya kilas.
"Aku ikut kamu mandi ya? Boleh?" bisiknya.
Ku gigit bibir bawahku saat mendengar ucapannya lalu tersenyum. Ku selipkan kedua tanganku masuk ke dalam baju kaosnya, meraba punggungnya. Lalu ku dongakkan kembali kepalaku menatap nya.
"Mau rendaman lama-lama juga ga papa. Asal jangan tiduran di bathup aja."
Kami tertawa bersama lalu memasuki kamar mandi.
-------------------
Pagi ini kami akan berangkat ke Bali. Perjalanan akan di tempuh dalam waktu 4 jam karena akan melakukan transit satu kali. Sengaja kami hanya berangkat berdua menuju bandara. Tidak diantar oleh siapapun. Mobil pun akan Jefri titipkan di parkir inap bandara.
"Sudah gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Jefri saat diperjalanan menuju bandara.
"Apaan sih? Besok juga udah balik."
"Hebat juga ya dia, ngasih kamu tiket business class. Aku pikir tiket economy aja."
"Yang penting kita dipesawat yang sama kan?" tanyaku santai sambil menatapnya kilas.
Kami pun sampai di bandara. Dia membantuku untuk check-in dan memberika boarding pass ku. Kami melangkah bersama menuju ruang tunggu hingga masuk ke dalam pesawat. Setelah didalam pesawat. Jefri berjalan mendahuluiku menuju tempat duduknya dan meninggalkanku di area business class. Sengaja aku tidak menduduki kursi ku, ku biarkan beberapa penumpang untuk melewatiku lalu aku kembali dalam barisan pejalan menuju economy class.
"Loh kamu ngapain kesini?" tanya Jefri kaget saat melihatku menghampirinya.
Aku melihat seorang wanita remaja duduk di sebelahnya. Dari style nya seperti anak kuliahan.
Aku mencolek lengannya, "Hei, mau tuker seat gak?" ucapku sedikit misterius, "Business class, kapan lagi bisa ngerasain meal nya, gimana?" tawarku sambil mengangkat sebelah alisku.
Remaja wanita itu manatap ku dan Jefri secara bergantian, "Emang boleh?"
"Boleh, asal ga ketahuan sama pramugari nya. Kalo ada yang tanya, bilang aja tiketnya kado ultah dari orangtua. Gimana? Deal?" tawarku lagi.
Aku merogoh saku celana jeans ku untuk mengambil uang 2 lembar berwarna merah yang rencana nya ku gunakan untuk membeli coffee begitu nanti landing di Bali.
Ku selipkan uang itu di belakang boarding pass yang ku tawarkan pada remaja wanita itu, matanya terlihat berbinar, lalu dia melepaskan safety belt nya dan segera merebut kertas di tanganku itu lalu berdiri dari kursinya.
"Kalo sampe ketahuan pramugari, gua bakalan bilang kalo lu yang nyuruh." bisiknya sambil memberikan boarding pass nya lalu berjalan melalui ku menuju business class.
Aku tersenyum sombong pada suamiku yang sedari tadi hanya diam saja melihat tingkahku.
__ADS_1
"Kamu nakal banget!" ucapnya tersenyum.
Aku duduk dan memasang safety belt ku, "Kan nakalnya cuman sama kamu."
"Siapa yang ngajarin kamu nyogok gitu? Ga baik loh, ntar sewaktu-waktu dia praktekin itu gimana?" sewotnya.
"Kalo dia lakuin itu pasti dalam keadaan terdesak dan terpaksa, ga ada jalan lain, sama kayak yang aku lakuin sekarang." jelasku sambil merangkul lengan suamiku ini.
"Udah ga usah bawel, aku mana sanggup duduk lama sendirian didepan sana. Kalo sepesawat sama suami ngapain duduk sendiri sih!" tegasku tak mau kalah.
Akhirnya Jefri tersenyum lebar menatapku, lalu mengecup keningku kilas. Aku mengeratkan dekapanku pada lengannya. Kami menikmati penerbangan itu dengan canda tawa. Serasa baru berpacaran kemarin! Pikirku.
Sesampainya di Bandara Bali, Jefri segera mengangkat tas kami. Kami hanya membawa satu tas yang isinya milik kami berdua. Lagi pula isinya tidak banyak, karena besok sore kami sudah kembali lagi untuk pulang.
Begitu keluar dari pintu bandara, tiba-tiba aku melihat sebuah papan bertuliskan nama ku. Kami menghampiri orang yang membawa papan nama ku.
"Maaf ibu Tika?" ucapnya.
"Iya, saya Tika."
"Mari silahkan ikuti saya, sini biar tas nya saya bawakan." diambilnya tas yang sedang dalam genggaman Jefri lalu ia berjalan didepan kami.
"Sebentar tunggu disini saya ambil mobilnya dulu, lalu kita akan langsung menuju Villa Pak Dana, karena beliau sudah menunggu disana." lelaki itu berlalu.
Sesampainya di villa Dana. Kami di arahkan untuk menuju sebuah villa yang memang dipersiapkan khusus untukku. Bagaimana tidak khusus, baru saja aku menginjakkan kaki ku di pintu depan kamar villa, bunga mawar merah lagi-lagi bertebaran disepanjang jalan menuju kamar tidur. Jefri tertawa geli melihat itu.
"Kenapa malah ketawa? Ini freak tau." sewotku setelah lelaki yang mengantarkan kami pergi meninggalkan kami.
"Dia tau gak sih kalo kamu udah nikah? Bikin kamar kamu beginian. Ato jangan-jangan dia terobsesi banget pingin nikah sama kamu?" ledek Jefri.
"Ya kali!! Kamu aja sana yang nikah sama dia. Aku ga papa deh di duain."
Begitu mendengar ucapan ku Jefri langsung mendekatiku, menciumku, ******* bibirku hingga aku kehilangan oksigen berkali-kali.
"Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi. Aku ga mau denger apa pun alasannya." tegasnya saat melepaskan bibirnya dari bibirku.
Antara kaget speechless, takut dan kepingin ketawa begitu aku denger kalimat yang diucapkannya. Entahlah perasaan ku kacau begitu melihat isi kamar villa yang terlalu romantis untuk ukuran sebatas rekan kerja.
Ku raih gagang telepon yang berada di bawah televisi. Ku lihat nomer yang tertera di sebuah kertas disampingnya.
Tuutt..
Tuutt..
"Hallo Receptions. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya dari villa bungalow, bisa kirimkan roomboy atau roomgirl? Saya mau kelopak mawar yang ada disini semuanya di bersihkan. Saya alergi dengan mawar merah." jelasku tegas.
"Oh ibu Tika, maaf bu, kami akan segera kirimkan roomboy tebaik kami, dan maaf ada satu pesan untuk ibu dari Pak Dana. Kata beliau, ibu di minta untuk istirahat sejenak, satu jam lagi beliau akan ke sana."
"Oh oke, makasih, tolong roomboy nya lebih cepet ke sini." ku tutup setelah itu sambungan telepon nya.
Begitu aku membalikkan tubuhku ternyata Jefri sudah aktif kesana kemari memoto kelopak mawar yang berhamburan itu. Sampai-sampai ke dalam kamar juga.
"Sayaaaanggg.. Yaangggg.." teriaknya dibalik kamar tidur.
Aku segera berlari, "Apa siiih?" gumamku menghampirinya.
"Look!" seru nya.
Aku kaget. Ternyata didalam kamar lebih penuh lagi kelopak bunga mawarnya, bahkan sampai di atas ranjangpun ada, berukirkan bentuk love yang besar kemudian diatasnya ada dua angsa kembar yang berciuman. Mirip dengan pelayanan kamar hotel untuk pasangan honeymoon.
Seharusnya aku senang mendapat kamar dengan nuansa seperti ini, karena aku memang berniat untuk menganggap trip ini sebagai honeymoon kedua, walaupun hanya 2 hari. Tapi entah mengapa aku malah merasa jijik melihat segalanya. Merasa mual melihat kelopak bunga mawar dimana-mana.
Ku singkirkan kelopak mawar yang ada diatas ranjang, ku biarkan berjatuhan di lantai. Aku ingin merebahkan tubuhku. Otak ku serasa terlalu lelah memikirkan kegilaan ini.
Jefri pun ikut merebahkan tubuhnya disampingku. Bahkan kini dengan kejahilannya, jemarinya mulai mengelus-elus lengan ku. Ku pejamkan kedua mataku. Aku perlu refresh! Batinku.
Tak berapa lama tiba-tiba kepala Jefri sudah tersemat di tengkuk leherku. Lidahnya sudah menjulur menjilati leherku.
"Emmhhhh.." lenguhku.
Kemudian jemarinya dengan lihai membuka kancing baju ku. Jilatan lidahnya turun ke atas payudaraku. ******* salah satu bagian sintal di tubuhku. Meninggalkan bekas ruam kemerahan disana.
Aku menikmatinya.
__ADS_1