
Still Shilla POV.
Kami melepaskan pelukan itu lalu kulihat matanya yang berkaca-kaca. Kuusap pelan dengan kedua ujung jempolku. Lalu sekali lagi kukecup bibirnya kilas. Lalu mengajaknya untuk segera makan, aku lapar.
Max menarikkan kursi untukku, layaknya lelaki gentle yang sedang ingin membawa gadisnya untuk makan malam romantis pada sebuah restoran berkelas. Aku terkejut sekaligus terkekeh geli melihat sikapnya padaku malam ini.
Lalu ia menuangkan isi dalam botol wine itu ke dalam gelasku. Mengajakku untuk mengangkat gelas dan melakukan sebuah dentingan cheers di antara gelas kami yang bertemu.
Ting!
Lalu kami segera mencicipi wine itu dari gelas masing-masing dengan mata yang masih saling menatap. Tertawa kecil bersama. Menikmati makan malam berdua dan berbicara lebih dari hati ke hati.
Hampir 4 jam lebih aku dan Max menghabiskan waktu berdua saja di rumah kami sendiri. Kemudian mencuci bersih kembali peralatan makan dan memasak yang tadi kami gunakan, lalu bersiap untuk segera pulang.
Sesampainya di rumah mamah mertuaku, waktu menunjukkan tepat pada pukul 11 malam. Dengan lebar aku melangkahkan kakiku menuju ke kamar, untuk apa lagi kalau bukan untuk melihat keberadaan anak-anak kami. Tetapi ternyata tidak ada di tempatnya.
"Mereka ada di kamarku," ucap Tika yang muncul di ambang pintu. Diiringi dengan Max di belakangnya yang mengajakku untuk ke kamar Tika. Memberikan 'good night kissing' untuk mereka.
"Ayo kita ke sana, biarkan malam ini mereka tidur di kamar Tika," ajak Max padaku.
Ya, itu lebih baik daripada anak-anak harus terbangun gara-gara Max mengangkat mereka. Perlahan aku dan Max memasuki kamar Tika, lalu melihat Icel yang terbaring di tengah tempat tidur. Sedangkan Feli di dalam box tempat tidurnya.
"Gak ngerepotin kalian apa?" tanyaku sesaat setelah mengecup Feli dalam box tempat tidurnya.
"Gak apa-apa kok, nanti mereka malah kebangun kalau diangkat. Kasian," ucap Jefri seraya berdiri dari tempat tidur, saat Max ingin mengecup Icel.
"Icel tadi nanyain kalian, aku bilang aja kalo kalian lagi suntik ke rumah sakit, dia 'kan paling takut kalo begitu," ucapku seraya tertawa kecil.
"Iya, gak apa-apa kok, Tik. Maaf ya malam ini kalian tidurnya di pisahin sama Icel begitu." Aku menatapi Tika dan Jefri secara bergantian.
"Gak apa-apa, sesekali harus gitu. Biar mereka ngerasain berbagi ranjang sama anaknya nanti," celetuk Max yang kemudian aku dekati dan mencubit kecil perutnya.
***
Keesokan paginya, aku sengaja untuk terbangun lebih pagi dari sebelumnya. Sebab aku tahu betul jika anak pertamaku itu pasti sudah bangun. Kebiasaannya memang karena sering dibangunkan oleh Max, saat dia hendak pergi ke kantor.
Aku segera melangkah cepat menuju kamar Tika di lantai atas. Dan kebetulan, pintu kamar Tika sudah terbuka ketika Tika yang keluar dengan membawa anakku dalam gendongannya.
"Hallo anak mommy, udah bangun ya?" sapaku pada Icel seraya menyodorkan kedua tanganku untuk mengangkatnya dari Tika.
Kemudian Tika mengatakan jika lebih dulu anakku yang bangun tidur daripada dia dan suaminya. Aku hanya terkekeh geli. Lalu tidak kusangka ternyata Max yang sudah siap dengan pakaian kerjanya juga mengikutiku hingga ke depan kamar Tika. Lalu Max menarik Icel dan membawanya ke pelukannya. Sedangkan aku menjemput Feli yang masih terlelap di dalam box tempat tidurnya. Kemudian kami langsung turun bersama-sama.
"Gimana laporan perusahaan kamu, Jeff? Udah ketemu hasilnya?" tanya Max disela sarapannya.
Saat itu aku sedang asik menyuapi Icel makan, sedangkan Tika dan mamah sedang di dapur menyiapkan buah-buahan untuk sarapan mereka. Di saat tinggal satu atap dengan mereka, aku mulai bisa menghafal kebiasaan mereka satu per satu. Menjadi lebih mengenal mereka semua.
"Udah, aku udah tahu siapa pelakunya. Mulai hari ini aku lagi mancing dia buat muncul. Biar aku punya bukti kuat," sahut Jefri.
"Baguslah kalau gitu, soalnya kamu lagi tahap recovery dalam perusahaan. Jangan sampai semua yang kamu kerjain beberaoa bulan ini malah gak ada hasilnya. Percaya sama diri kamu sendiri."
Dari obrolan singkat itu, aku sudah bisa mengambil kesimpulan jika Jefri sedang berusaha kuat untuk membangkitkan kembali perusahaannya. Dan juga beberapa bulan yang lalu, Max pernah menceritakan padaku tentang kondisi perusahaan Jefri. Perusahaan keluarganya yabg sekarang berada di tangannya.
Suasana sarapan pagi ini terasa kembali hangat, ditambah lagi dengan hubunganku dan Max yang kembali normal. Dan mulai detik ini aku akan mencoba untuk kembali percaya padanya.
—————
Tika POV.
Saat sedang mengupas buah-buahan aku mendengar suara tangis dari mesin speaker baby yang sengaja kubawa ke dapur. Suara itu dari dalam kamarku.
"Sini biar mamah yang kupasin." Mamah mengambil alih aktivitasku lalu dengan langkah cepat ake berlari kecil menuju kamar.
Di saat melewati meja makan, tiba-tiba saja Jefri berseru padaku, "Sayang, kenapa?"
Spontan aku menghentikan langkahku dan sekilas menoleh padanya, "Anak-anak nangis." Kemudian aku kembali berlari kecil menaiki tangga dan langsung membuka pintu kamar.
Aku mendapati Naila yang ternyata menangis dengan begitu kencangnya. Dengan lembut aku menggendongnya lalu mencoba menenangkan, agar Nathan tidak ikut terbangun.
Cukup lama aku menenangkannya, kembali menidurkannya hingga akhirnya sebuah bunyi dari nada dering ponsel Jefri melantun pelan.
__ADS_1
🎶
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Talk about where we're goin'
Before we get lost
Let me out first
Can't get what we want without knowin'
I've never felt like this before
I apologize if I'm movin' too far
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Figure out where we're growin'
🎶
Aku menoleh pada meja di samping tempat tidur kami, lalu kuletakkan kembali Naila yang sudah terlelap ke dalam ranjangnya. Kulangkahkan kakiku menuju ke meja itu, untuk melihat nama siapa yang muncul di layar kacanya. Tertulis 'Nadine' calling. Aku mengernyitkan alisku.
Baru saja aku memutarkan tubuhku untuk keluar dari kamar, ternyata sudah ada Jefri yang berdiri di ambang pintu. Bertepatan dengan berhentinya nada dering dari ponselnya itu. Kemudian dia melangkah mendekatiku dan menanyakan siapa yang menghubunginya.
"Siapa?"
"Tulisannya sih Nadine," sahutku seraya duduk di tepi tempat tidur dan memerhatikannya.
Ada rasa penasaran yang bercampur dengan cemburu di dadaku ini. Entah siapa wanita bernama Nadine itu. Jefri belum pernah bercerita tentang wanita itu.
Dengan ponselnya yang sedang menghubungi seseorang, dia berjalan mendekatiku dan duduk di sampingku. Tersenyum menatapku. "Hallo?"
Awalnya aku ingin berdiri dan beranjak pergi, kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatanku, tapi ternyata, Jefri langsung memegang tanganku. Dia lantas menyuruhku tetap duduk dengan sebuah gerakkan dari mulutnya. Aku menurutinya.
Tadinya aku ingin memberikan sebuah privasi untuknya dalam menelepon, siapa tahu itu dari karyawannya di kantor. Tapi nyatanya, berbeda dengan niat Jefri. Entah alasan apa yang akan ia katakan jadi sampai menahanku duduk di sampingnya saat ini.
Cukup lama dia melakukan panggilan telepon itu. Hingga akhirnya ia menyudahinya pun di depanku.
"Ya udah, lu terusin aja dulu. Setahu gua dia tua-tua gak punya pasangan. Ntar gua tanyain bokap deh! Iya, bye." Jefri memutuskan sambungan telepon itu lalu melempar ponselnya ke tengah ranjang.
Masih dengan salah satu tangannya yang memegang tanganku. Mata kami saling menatap, lalu perlahan ia menyentuh pipiku, membelai lembut.
"Itu tadi temen aku waktu kuliah. Aku minta tolong sama dia buat godain pak Hardi. Soalnya setahu aku beliau itu duda." Jefri mulai menjelaskan tentang wanita itu tanpa aku minta. Sepertinya dia sudah paham jika aku sedang cemburu.
"Trus ngapain godain pak Hardi?" Aku masih tidak mengerti apa maksudnya.
"Aku kan pernah cerita sama kamu, kalo pak Hardi yang ambil duit perusahaan tiap bulan. Kalo duda, uang sebanyak itu buat apa?"
Aku berpikir sejenak, kemudian Jefri kembali menceritakan tentang idenya untuk menjebak pa Hardi bersama dengan Nadine yang menjadi umpannya. Aku hanya bisa mendengarkannya saja dalam merancang semua rencananya. Dan semoga saja semua itu berhasil agar Jefri visa demgan tenang mengembalikan keterpurukan dari perusahaan itu.
***
Setelah kepergian Jefri ke kantornya, aku menjalani hariku seperti biasanya di rumah. Tidak ada yang spesial. Hanya saja melihat perkembangan kedua anakku rasanya begitu membahagiakan. Menemaninya tidur, memberikan mereka asi, menggantikan popok serta mencoba mencari tahu tentang serba-serbi balita sangat membuatku tidak merasa bosan selalu berada di rumah.
Ditambah lagi dengan adanya mamah dan Shilla saat ini, semakin membuatku bersemangat menjalani keseharianku. Belum lagi saat aku bisa berbagi asi untuk Feli. Rasanya bahagia sekali, sebab Felli selalu saja meminum susu formula. Sedangkan Shilla sudah tidak bisa lagi memproduksi asi.
Berminggu-minggu berlalu dengan tenang, bahkan dengan terkesan damai. Tidak ada masalah serius yang menghampiri keluarga besarku. Hingga di suatu siang, terdengar suara teriakan bi Mince dari luar rumah. Beliau baru datang dari pasar sendirian menggunakan kendaraan bermotor.
"Aaaaaaaakkkk!!" teriak bi Mince sambil berlari dengan membawa bakul belanjanya.
Aku dan Shilla yang sedang duduk di ruang tengah spontan terpekik kaget mendengar suara jeritan yang khas ala bi Mince itu. Shilla berdiri begitu melihat bi Mince lalu mencegatnya. "Loh, kenapa, Bi? Ada apa kok teriak-teriak?"
"Ada apa kok ribut-ribut?" seru mamah dari lantai atas.
__ADS_1
"Gak tahu ini, Mah, bi Mince. Kenapa, Bi?" tanya Lisa pelan sambil mengelus pundak bi Mince. Sedang aku masih menggendong Nathan, memberikan asiku padanya.
"Di depan, Non. Itu di depan ada bangkai hewan. Gak tau apa, bibi takut!" Dengan napasnya yang terputus-putus sambil mengelus dadanya sendiri.
Mamah mulai menuruni anak tangga lalu mendekati bi Mince. "Bangkai hewan apa? Di mana?" tanya mamah.
Aku yang tadinya duduk, kini berdiri. Mulai merasa ada yang tidak beres. Sementara mamah menenangkan bi Mince, menyuruh beliau duduk, lalu Shilla segera mengambilkan segelas air putih untuk bi Mince. Kuletakkan Natha. Di dalam keretanya bersama dengan Naila yang sudah tertidur pulas lebih dahulu.
Tiba-tiba aku merasa gelisah. Lalu perlahan aku melangkahkan kaki menuju ke depan rumah, tetapi dicegah oleh mamah. "Kamu mau ke mana? Enggak ada yang boleh keluar. Duduk," tegas mamah, yang kemudian mamah melangkah ke pintu depan dan menguncinya.
Lalu mamah juga berjalan menuju dapur, yang kemungkinan ke pintu belakang. Yang tersambung pada garasi mobil. Sedangkan pintu kecil di samping taman kolan renang juga tak luput dari sasaran mamah untuk menguncinya.
Zreeekk!!
Bunyi pintu geser yang menjadi penghubung antara bagian dalam rumah ke teras halaman belakang, yang juga mulai ditutup dan dikunci oleh mamah. Tetapi mamah tetap membiarkan tirainya tertutup. Seluruh akses masuk ke dalam rumah telah berhasil mamah tutup dengan cepat, hingga membuat aku merasakan semakin takut.
"Sekarang jelasin, apa yang bibi lihat di depan rumah? Di mana letak detailnya?" Mamah demgan pelan bertanya dengan bi Mince, setelah menarik sebuah kursi bulat di dekatku duduk.
Kemudian bi Mince menjelaskan apa yang barusan saja ia lihat tergeletak di depan rumah. Bahwa bi Mince melihat sebuah hewan kecil berbulu halus yang lehernya terpenggal, lengkap dengan darah yang terhambur di sekitaran hewan itu. Dan hewan itu adalah kelinci.
Kami semua sontak terkejut dengan penuturan bi Mince. Ada rasa kesal sekaligus rasa ngeri yang menjalar diseluruh tubuhku. Hingga membuat bulu kudukku berdiri dengan begitu hebatnya.
"Gak cuman ada satu, Bu, tapi beberapa." Bi Mince masih mengatakannya dengan napasnya yang terputus.
Aku, Shilla dan mamah saling berpandangan, kemudian mamah langsung menyuruh Shilla untuk menghubungi Max dan menyuruhku untuk menghubungi Jefri. Sedangkan mamah menghubungi Haikal. Ya, kami semua mencoba memberikan kabar pada lelaki yang kami miliki.
Lumayan lama kami menunggu di dalam rumah. Hingga napas bi Mince sudah kembali normal dan mamah yang sedari tadi hanya berdiri mondar-mandir di hadapan kami. Mamah terlihat berpikir keras.
Tingtong!
"Mah, buka, ini Haikal!" Suara teriakan Haikal dari luar pintu depan, membuat aku merasa lega dan tenang.
Mamah segera melangkah menuju pintu depan dan membukakan pintu itu. Dari kejauhan aku melihat mamah yang langsung memeluk Haikal dan entah apa yang mereka berbicarakan, aku tidak dapat mendengarnya.
Tak berapa lama Max dan Jefri juga muncul. Kemudian masuk dan menghampiri kami di ruang tengah. Shilla langsung berdiri dari duduknya dan memeluk Max. Sedangkan Jefri berlutut di depanku menanyakan keadaanku dan anak-anak.
"Kamu gak apa-apa, 'kan?" lirihnya sambil menggenggam kedua tanganku. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"Ada apa di depan?" tanya mamah pada Haikal.
Sedangkan Haikal sempat menatap Max dan Jefri dulu sebelum akhirnya kembali menatap mamah dan menjawab pertanyaan mamah. "Ada beberapa kelinci mati yang sengaja dilemparin ke depan pintu pagar, Mah."
"Sudah dibersihin tadi," tambah Jefri.
Kemudian Max melepaskan pelukannya pada Shilla dan menyuruh istrinya itu untuk kembali duduk di sofa. Lalu Max melangkah menuju dapur sambil menekan ponselnya, mungkin hendak menghubungi seseorang. Aku tidak tahu.
Kami semua berkumpul di ruang tengah, lengkap dengan anak-anak yang memang sedang tidur siang dan hanya Icel yang bangun, sedang bermain dengan beberapa permainan dokter dan juga bonekanya.
Mamah berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju dapur, mendatangi Max yang sedari tadi sudah ke sana. Jujur saja, sebenarnya aku penasaran dengan apa yang terjadi ini. Mengapa sampai bisa ada beberapa kelinci mati yang dilemparkan ke depan pagar rumah mamah? Siapa orang yang tega melakukan itu? Rasa-rasanya, selama aku hidup, aku tidak pernah mendapati hal seperti ini.
Hatiku terasa kacau, sama seperti pikiranku yang terasa tidak kalah kacaunya. Bingung dengan semua kejadian yang begitu mendadak ini.
Apa salah kami semua jadi mendapatkan perlakuan seperti ini?
Bersambung ...
—————
Setiap habis up, gak ada bosen-bosennya aku buat bilang ke kalian semua para pembaca KTS. Jangan lupa buat arahin jempol kalian buat tekan tanda like di akhir bab. Atau sebelum baca tekan dulu like-nya, baru baca. Habis lelar baca, kasih komen. Entah itu kritik ataupun saran, sebab aku membutuhkan itu 🤭
Atau ada yang mau berbagi idenya untuk cerita KTS ini? Boleh, sangat boleh, tulis aja di kolom komentar, aku tunggu 😁
Trus jangan lupa kasih POIN atau KOIN-nya, sebagai tanda mendukung cerita ini agar penulis lebih bersemangat 🤣
Udah ah, kebanyakan maunya ini author-nya 😜
Babay,
#salambucin💋
__ADS_1