Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 44


__ADS_3

Tika POV.


Aku tidak tau apa yang akan dibicarakan oleh Jefri. Raut wajahnya terlihat begitu serius. Ia membelai pipiku lembut kemudian meraih kedua tanganku. Di genggamnya.


"Mau ngomong apa sih?" desakku.


Kulihat berkali-kali ia menghembuskan nafasnya. Memejamkan matanya, lalu mengambil nafas lagi. Membuka mata kemudian menatapku dalam-dalam. Kali ini ku lihat mata sendunya.


"Sayang, dua hari yang lalu, waktu kamu balik dari ngantar Mama, kamu ngerokok ya?" lirihnya pelan.


Aku tersentak, bibirku kelu. Tertutup rapat bagaikan di rekatkan seperti perekat kertas.


"Aku gak marah kalo kamu ngerokok lagi, aku cuman mau tau alasannya kenapa?" tambahnya lagi.


Aku tergagu, "Ng-gak papa, kemaren lagi pingin aja."


"Kamu kalo ada masalah bilang dong, kan kita udah janji buat saling terbuka?"


Aku menghembuskan nafas, lalu ku lepas genggaman tangannya, "I need hug."


Jefri memajukan duduknya lalu merengkuh tubuhku. Memelukku dalam dekapan hangatnya. Dapat ku hirup kembali aroma maskulin tubuhnya. Membuat pikiranku menjadi lebih rileks. Ku pejamkan mataku sebentar.


"Waktu itu aku lagi kepingin ngerokok aja, tapi males beli, jadi aku minta rokoknya Haikal," ucapku yang masih dalam dekapannya.


"Bohong! Aku tau kalo kamu lagi bohong. Dari sebelum kita nikah, kamu udah gak ngerokok lagi."


"Aku cuman kepikiran Papa."


Seketika Jefri melepaskan dekapannya, memegangi kedua lengan atasku lalu mendorong tubuhku pelan, agar ada jarak untuknya menatapku.


"Kenapa sama Papa? Papa ada ngomong apa ke kamu?"


"Banyak."


"Apa?" tanyanya tegas.


Lagi-lagi aku menghembuskan nafasku, memejamkan mataku kilas lalu kembali menatapnya.


"Papa maunya, kamu gantiin urusan kantornya."


"Trus?"


"Itu aja."


"Papa nyuruh kamu buat bujuk aku?" tegasnya lagi.


"Cuman nyampein aja. Jangan marah gitu dong!"


"Kamu kan tau, kalo aku pasti gak mau." tolaknya mentah-mentah.


"Iya, aku tau kok! Tapi kalo liat kondisi Papa yang begitu, proses recovery-nya lama. Trus siapa yang jalanin perusahaan? Pak Hardi?"


Jefri merubah kembali posisi duduknya, menyenderkan punggungnya pada senderan sofa.


"Kalo aku handle perusahaan Papa, secara otomatis aku harus resign. Dan aku gak mau resign!" ucapnya bersikeras.


Begitulah Jefri, dia tidak mau jika harus berdiri dikaku orang lain. Dia tidak ingin jika hidupnya bergantung pada perusahaan Papanya. Menurutnya sudah cukup, jika ia harus selalu berada dalam bayang-bayang nama seorang pengusaha.


Aku berdiri dari dudukku. Jefri masih kuat pada pendiriannya. Aku berbalik kemudian ku langkahkan kaki ku menuju kamar kami. Jefri membiarkanku, dia sama sekali tidak memanggilku atau bahkan mengejarku. Ku tinggalkan ia yang masih saja keras kepala. Duduk sendirian disana mencoba memikirkan jalan yang harus dia ambil.


Aku masuk ke dalam kamar mandi, ku nyalakan air kran di bathup. Aku harus berendam sebentar, otakku harus rileks. Pikirku.


Saat berendam, aku kembali memikirkan tentang akuisisi perusahaan. Bagaimana caraku membujuknya? Jika tadi saja sudah hampir membuatnya meledak. Padahal ku pikir tadinya itu adalah timing yang pas, tapi ternyata aku salah.


Tiba-tiba pintu toilet terbuka, aku memang tidak pernah mengunci pintunya sejak kami pindah kesini. Lagi pula di rumah ini kami hanya berdua. Ku lihat Jefri yang berdiri lesu memandangku dengan mata sendunya, masuk ke dalam dan duduk di pinggiran bathup. Menatapku, mata kami saling beradu.


"Aku gak ada maksud buat bentak kamu tadi. Aku cuma ...," ia menghembuskan nafasnya, "aku cuma bingung."


Ku raih tangannya, lalu ku cium punggung tangannya, "Kamu harus mikirin Papa sama Mama, kamu jangan egois, sayang! Aku paham prinsip kamu, tapi sekarang kondisinya beda, mereka butuh kamu."


Lagi-lagi Jefri mengambil nafas dalam, kemudian menghembuskannya kasar.

__ADS_1


"Kamu gak malu?" tanyanya.


"Malu kenapa? Kamu yang tiba-tiba merubah prinsip?"


Jefri mengangguk.


"Aku lebih malu lagi kalo kamu gak mau bantuin orangtua kamu sendiri. Jerry gak mungkin resign dari kantornya. Dia punya jabatan penting," tambahku.


"Aku bilas dulu, habis itu aku mau ngomong sama kamu, ya?" tanyaku lagi.


Lagi-lagi ia hanya menganggukan kepalanya, beranjak dari duduknya kemudian menungguku diluar kamar mandi. Aku membersihkan tubuhku.


Setelah selesai, ku gunakan bathrobe-ku, lalu ku buka pintu kamar mandi, terlihat ia sedang duduk di bibir ranjang, kedua tangannya menyangga kepalanya sendiri. Di tanganku sudah ku pegang test pack bergaris merah dua yang ku gunakan tadi pagi. Mungkin ini saatnya aku memberitahukannya, batinku.


Ku dekati ia lalu berdiri dihadapannya. Ku belai lembut rambutnya, ia kaget lalu menengadahkan kepalanya menatapku. Ia memeluk ku spontan, kepala dan pipinya menempel pada perutku. Aku yang masih berdiri kini merengkuhnya, mengusap kepalanya lembut.


Ku biarkan itu berlangsung lama, sedangkan tanganku yang satunya masih memegang benda bahagia itu. Lalu perlahan ku raih dagunya dengan tangan kananku, ku arahkan wajahnya agar menatapku.


"Kenapa?" tanyanya. Masih dengan matanya yang sendu.


"Aku hamil." lirihku dengan perasaan yang berkecamuk.


Tak ku sangka kini mataku seakan berair, Jefri melonggarkan dekapannya, mulutnya agak sedikit menganga, mungkin tak percaya. Lalu ku perlihatkan benda kecil yang sedari tadi ku pegang ditangan kiriku. Ia meraih benda itu perlahan.


"Sejak kapan?" tanyanya.


"Tadi pagi aku pakai itu."


Ia terkekeh pelan, berdiri lalu langsung mendekapku. Mencium keningku, sedangkan mataku kini sudah dipenuhi dengan butiran air hingga tumpah ruah ke pipiku.


"Kenapa gak bilang dari tadi? Hah!" serunya sambil terkekeh. Aku balas memeluknya.


Jefri mengangkat sedikit tubuhku, membawaku dalam dekapan yang sengaja di putar layaknya berdansa. Kini ia terlihat bahagia. Berkali-kali dia mengecup keningku. Mencium bibirku. Lalu berteriak kecil, mengungkapkan rasa bahagianya.


"Aku jadi Ayah!!! Aku punya anak!!"


-------------------------------


Aku membuka pintu kamar Papa, datang bersama Nita dan anakku, Jordy.


"Kakeeekkkk!!" teriak Jordy berlari saat pintu terbuka, langsung menghampiri Kakeknya.


Mama mengangkat Jordy untuk duduk di pangkuannya.


"Kakek udah nyaman?" tanya Jordy.


"I-ya," jawab Papa.


"Kakek kapan pulang? Jordy bosan sendirian," rengeknya.


"Kakek pasti cepet pulang, asal Jordy gak nakal lagi," sahut Nita.


"Memang Jordy nakal, Nek?" tanyanya polos pada Mama.


Mama hanya tertawa lalu menggelengkan kepala.


"Udah lama Dul pulang, Ma?" tanyaku.


"Udah lumayan."


Nita mengajak Jordy untuk duduk disofa sambil bermain dengan mainan mobil-mobilannya yang baru. Agar aku dapat berbicara dengan Mama dan Papa.


"Papa udah enakkan?" tanyaku sambil menyentuh ujung kaki Papa, dimana aku berdiri sekarang.


Papa hanya menganggukan pelan kepalanya.


"Trus gimana perkembangan Papa, Ma?"


"Dokter bilang, tunggu hasil tesnya tadi pagi. Kalau memungkinkan, Papa boleh pulang dan rawat jalan."


Aku mengangguk pelan, sekilas ku lihat Jordy yang sedang asik bermain dengan istriku.

__ADS_1


"Mama udah coba ngomong lagi ke Dul?"


Mama hanya menggelengkan kepala.


"Tadi pagi Pak Hardi datang ke rumah, ngasih beberapa amplop yang harus Papa tanda tangani. Maaf kalau aku baca isinya, Pa!" ucapku tegas.


Papa hanya merespon ucapanku dengan santai, padahal aku tau jelas apa isi yang tertulis dikertas itu.


"Ka-sih-kan sam-a Dul," titah Papa terbata.


Aku mengangguk, "Iya, Pa. Nanti aku kasihin ke Dul. Papa jangan terlalu banyak pikiran dulu."


Kini pandanganku terarah pada Mama, "Maa.."


"Iya?" tanya Mama yang ternyata tidak melamun dan langsung merespon menatapku.


"Mama istirahat gih, biar aku yang jagain Papa."


"Mama gak papa kok! Tadi malam Tika yang jagain Papa kamu." Mama tersenyum.


Lalu aku berjalan menghampiri Jordy dan bermain dengannya. Sesekali Jordy berlari ke arah Mama, lalu kembali lagi, sambil membawa mainan mobilnya. Itu dilakukannya berulang kali.


Tak lama kemudian, ada suara pintu diketuk. Alu berdiri lalu membukakan pintu itu, ternyata Dokter Farhat.


"Selamat siang, maaf saya mengganggu. Gimana keadaannya Pak Atta?" tanya Dokter Farhat masuk sambil berjalan mendekati Papa.


"Ba-ik. Ha-nya su-sah me-ngam-bil na-fas," jawab Papa yang saat itu aku sudah berdiri kembali di dekat ujung kaki Papa.


Mama segera berdiri dari kursinya, namun dibantah sopan oleh Dokter Farhat.


"Gak apa-apa, Bu! Duduk aja. Saya cuman mau cek sekali lagi kondisi detak jantungnya Pak Atta."


Dokter Farhat dengan segera langsung menyiapkan alat steteskop-nya lalu memeriksa Papa dengan cermat. Setelah selesai Dokter Farhat hanya tersenyum.


"Bapak Jefrinya dimana?" tanya beliau.


"Oh, dia pulang, Dok. Nanti balik lagi," sahutku.


"Jadi ini hasil pemeriksaan kondisi Pak Atta tadi pagi, sudah dinyatakan boleh pulang besok, tapi juga harus dikontrol segala sesuatunya. Entah itu pola makan dan menunya, pemikirannya juga jangan terlalu diporsir. Dan tentu saja harus tetap di bawa ke sini minimal dua hari sekali untuk mempercepat proses penyembuhannya," jelas beliau.


Setelah sedikit berbincang dengan Dokter Farhat, beliau akhirnya memutuskan untuk segera pamit karena memang harus mengunjungi pasien lainnya. Aku mengantarkan beliau hingga keluar kamar.


"Saya boleh titip pesan?" ujar Dokter Farhat saat kami sudah berada di luar kamar Papa.


"Boleh, Dok!"


"Jika nanti Pak Jefri sudah kembali, tolong katakan jika saya ingin mengobrol sebentar dengan beliau."


"Maaf, kalau boleh tau ada apa, Dok? Papa saya baik-baik saja kan, Dok?"


"Iya baik-baik saja, kalau begitu saya permisi. Mari."


Dokter Farhat berlalu. Sedangkan aku terdiam berdiru mematung disini. Pikiranku melayang entah kemana. Ada apa dengan Papa?


----------------------------------


Holla hallo semua para readers kuuuh 😁


Pertama2 aku mengucapkan "Merry Christmas" bagi kalian yang merayakannya πŸŽ„ Semoga damai dan kasih sayang selalu menyertai kalian β˜ƒοΈπŸŽ‰


Lalu aku juga ingin mengucapkan terimakasih untuk kalian yang kemarin sudag menyumbangkan poin serta koin nya untuk mendukung cerita ini 😘 berkat poin dan koin kalian, aku menjadi juara ke 17 lohh 😊


Hari ini aku ingin melakukan hal yang sama, kita akan bermain poin!! Jika kalian mampu membuat jumlah poin dan koin di cerita ini mencapai batas 50k dalam waktu 8 jam, maka nanti malam tepat jam 10 aku kan memberikan episode lanjutannya 😊


Mudah bukan??


Tapi jika kalian tidak rela memberikan koin atau poin itu untuk cerita ini, aku tidak memaksa, sekali lagi aku tekankan, aku tidak memaksa 😏


Hanya saja bagi kalian yang memberikan poin atau koin, aku jadi semakin tau bahwa kalian sangat mencintai karyaku, dan aku jd bisa mengenal kalian 😍


Oleh karena itu, bantu aku nya jangan setengah2 ya?? πŸ˜’

__ADS_1


#SalamSayangBucin πŸ˜”


__ADS_2