
Still Jefri POV.
Sesampainya dirumah Pablo, aku dan Tika segera turun dari mobil kemudian berjalan menuju pintu depan rumahnya. Melalui pekarangannya yang rapi, ku genggam jemari Tika.
Aku tau sejak tadi Tika hanya diam, tak ada sepatah katapun yang mampu ia keluarkan. Ia hanya tersenyum tipis jika sesekali mataku melihatnya. Hingga saat ini pun, kami berdiri di depan pintu rumah Pablo, ia sama sekali diam.
Teettt..
Teettt..
Teettt..
Ku tekan bel pintu rumahnya.
Tak lama, Pablo muncul dibalik pintu lalu mempersilahkan kami masuk. Tanganku masih menggenggam tangan Tika. Dapat ku rasakan, jika tangannya sama sekali tidak membalas genggamanku.
Pablo membawa kami memasuki sebuah ruangan yang tak jauh dari pintu masuk rumahnya. Aku sempat menatap wajah Tika kilas, raut wajah datar biasa saja yang ia perlihatkan.
"Jeeefffff........!!" seru Paula berdiri kemudian seketika berlari dan memelukku.
Aku terkaget-kaget, segera mendorong tubuhnya dengan sebelah tanganku. Tidak ku biarkan genggaman tanganku dengan Tika terlepas walau sedetikpun.
"Apa-apaan sih!!" seruku mendorong tubuh Paula.
Paula hampir terjatuh jika saja Pablo tidak menangkap tubuhnya dari belakang.
Ku lihat, airmata Paula sudah membasahi pipinya jauh sebelum kami datang. Makin erat ku genggam jemari Tika. Agak ku tarik tangannya agar tubuhnya lebih merapat disisiku. Ku pandangi Paula yang masih sesegukkan dengan wajah tak senang. Aku benar-benar kesal ia sempat memelukku tadi.
"Sejak kapan Paul hilang?" tegasku.
Paula masih terisak menangis dalam dekapan Pablo. Sedangkan Ibu Paula hanya bisa terduduk lemas di atas sofa berwarna coklat gelap itu.
"Gua gak tau kapan pastinya, yang jelas tadi pagi, sekitar jam sepuluh, waktu Mama masuk kamarnya, dia sudah gak ada," jelas Pablo sambil mendudukkan Paula kembali di samping Mamanya.
"Dia hanya membawa tas ransel kecilnya dan membawa ... robot mainan dari, Nak Tika," sahut Mamanya Paula.
Aku terkejut merasakan tangan Tika yang tetiba menggenggam jemariku. Spontan aku menoleh melihatnya, matanya tajam menatap Mamanya Paula dan Paula yang masih terisak.
"Sayang ...," lirihku saat menoleh pada Tika, sambil membalas genggaman tangannya.
Tika menoleh menatapku, "Ga papa," sahutnya.
"Gua udah lapor polisi, tadi mereka habis dari sini. Unit mereka juga bantu," tambah Pablo.
"Gua coba bantu kalian nyari Paul, tapi gua gak janji. Paling gua sama Tika coba datengin tempat-tempat yang sering didatengin aja," tawarku.
__ADS_1
"Makasih lu mau bantu. Tik, makasih ya?" ujar Pablo sambil menatap Tika.
Tika hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Aku memperhatikannya sejak tadi. Aku sadar, sepertinya aku melakukan kesalahan.
"Kalau gitu, kami balik dulu. Lagian kalian sudah sudah lapor polisi juga. Kami sambil cari dijalan sekeliling sini," ucapku sambil berpamitan.
Tanpa berpikir lama, begitu ku lihat anggukan kepala Pablo, aku langsung membawa Tika pergi dari sana. Pablo mengantar kami hingga sampai ke depan mobil.
"Sorry ya, kalian pasti badmood gegara sikap Paula tadi," ucap Pablo begitu Tika sudah masuk ke dalam mobil.
Aku meliriknya melihat Tika sekilas, "Gua yang minta maaf, mestinya elu sama Tika gak pantas liat itu. Gua gak ngerti, kenapa Paula begitu."
"It's ok, gua paham Paula begitu. Dia masih terlalu cinta sama elu. Selama ini aja ...,"
"Udahlah, gak usah bahas itu lagi. Makasih lu udah ngehubungin gua, sorry kalo harus begini," ku sela ucapan Pablo kemudian aku segera membuka pintu mobil dan masuk.
Ku nyalakan mesin mobil kemudian melambaikan tangan dan segera melesat pergi dari sana. Dalam perjalanan Tika hanya diam, seperti melamun. Sampai ku sentuh tangannya diatas pangkuannya. Ia terkejut.
"Kamu dari tadi diem aja, kenapa?" ucapku kilas lalu kembali memperhatikan jalanan.
"Ga papa kok,"
"Kita ke rumah sakit Haikal ya?"
"Ngapain?" tanyanya sambil menoleh padaku.
"Haikal tau?" Tika terkejut.
"Iya, tadi pagi habis ke kantor, aku nelpon dia," sahutku sambil menatapnya kilas.
"Trus apa kata Haikal?"
"Dia kaget, tapi gak mau langsung kabarin Mamah juga, katanya periksa dulu aja," sahutku pelan.
Lalu Tika menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil, menurunkan sedikit posisi sandarannya. Lalu menghirup nafas panjang, memejamkan mata dan menghembuskan nafasnya lagi dengan kasar.
Aku memperhatikannya sekilas. Lalu kembali fokus pada setir dan jalanan di depanku.
"Paul dimana ya?" lirih Tika sayup-sayup yang kemudian seperti tertidur.
Entah apa yang dirasakan Tika saat ini, entah apa yang ada dipikirannya begitu melihat Paula yang tadi dengan mudahnya melakukan itu. Sepertinya keputusanku untuk kesana memang salah. Dan harusnya aku mengacuhkan mereka untuk selama-lamanya.
Sesampainya di parkiran rumah sakit Haikal, aku lamgsung turun dari mobil dan menelpon Haikal. Dengan kondisi mobil yang sengaja masih ku nyalakan mesin dan ACnya, ku lihat Tika tertidur pulas. Mungkin tidurnya tadi malam belum cukup, pikirku.
"Hallo? Kal? Dimana?" sahutku saat teleponku diterima, "oh oke, ini udah di parkiran cuman Tika masih tidur. Oh oke oke, iya,"
__ADS_1
Ku matikan segera telpon kami, kemudian ku matikan mesin mobil perlahan. Ku belai lembut pipi mulusnya, berkali-kali hingga ia terbangun.
"Sayang...," lirihku.
"Hm," sahutnya dengan deheman kemudian membuka matanya perlahan. Ia menatapku.
"Kita udah sampai, Haikal sudah nunggu di ruangannya," lirihku lagi.
Tiba-tiba tangan kanan Tika menyentuh pipi kiriku, menangkupnya, "Kamu masih cinta Paula?" tanyanya.
Pertanyaan itu muncul begitu saja, terlontar jelas lewat bibir merahnya yang merona. Membuat aku agak sedikit tersentak dengan pertanyaan itu. Sekaligus membuatku sedikit kesal.
"Aku sudah gak ada rasa sama Paula. Aku ke sana karena Pablo dan ibunya Paula yang minta. Aku kasian sama Paul," jelasku.
Tika melepaskan tangkupan tangannya dari pipiku, menunduk melihat tangannya yang mulai menggenggam tanganku, "Seandainya nanti anak kita lahir, trus disaat yang bersamaan, anak kita dan Paul sama-sama sakit, kamu nemenin siapa?"
Tika menatapku dengan mata sayunya. Ku betulkan posisi dudukku untuk menghadapnya, "Apapun yang terjadi, anak kita lebih penting."
Tanpa basa-basi lagi, ku kecup bibirnya. Ku bungkam mulutnya dengan ciuman bibirku. Aku mencintai wanita ini, ucapku dalam hati.
Ku lepaskan sebentar, lalu ku tatap kembali bola matanya yang bersinar terang. Bola matanya yang dapat menenangkan jiwaku. Ku selipkan sebagian rambutnya yang menutupi sedikit wajahnya itu ke belakang telinganya.
Kemudian ku elus halus pipinya, ia memejamkan matanya, menikmati sentuhan jemariku dipipinya. Hingga dikedua sudut bibirnya tertarik sempurna, ia tersenyum, lalu membuka matanya, menatapku.
"I love you," lirihnya.
Aku tersentuh, kemudian ku kecup lagi bibir merahnya itu.
------------------------------
Selamat malam semuanyaa π
Maaf nih updatenya jadi tersendat dan tidak berduga. Banyak project yang harus aku selesaikan, semoga kalian bisa memaklumi itu.
Oh iya aku juga ingin memberitahukan jika untuk ke depannya, aku tidak akan mengerjakan project collaboration lagi. Semua project collaboration telah aku hentikan πββοΈ
Kemudian untuk karya pertamaku itu, iya, memang benar ada perbedaan cerita, karna naskah itu telah diresmikan.
Semoga dalam ingatan kalian selalu terkenang cerita aslinya π
Terimakasih untuk kalian yang selalu mendukung karyaku, nantikan karyaku selanjutnya yang seaslinya, yang kembali pada habitatnya suatu saat nanti.
Untuk info lebih lanjut, kalian bisa follow IG ku dengan nama akun @bossytika π
Sekali lg aku ucapkan terimakasih atas dukungan kalian π
__ADS_1
#salamsayangbucin π