Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 64


__ADS_3

Tika POV.


"Idup lu udah mulai membaik waktu Alex dateng. Gua berharap banyak sama hubungan kalian, Lis," lirihku sambil menatapnya dalam-dalam.


"Trus gua salahnya dimana?" tanya Lisa dengan nada yang sedikit menaik.


Aku mulai jengah melihat sahabatku satu-satunya ini. Semenjak dia kehilangan orangtuanya, entah mengapa Lisa menjadi tidak bisa mengontrol sikapnya sendiri. Apalagi saat dirinya berada di luar negeri. Kuliah di sana dan hidup sendiri, jauh dari saudara orangtuanya, membuat dia merasa bebas melakukan apapun yang ingin ia lakukan.


Hampir setiap malam party, mabuk-mabukkan bahkan melakukan 'one stand night' dengan mudahnya. Belum lagi tinggal bersama lelaki lain berminggu-minggu. Aku mengetahui semuanya karena dia sendiri juga yang memceritakannya padaku.


Walaupun kami terpisah negara, tapi Lisa selalu menyempatkan untuk menelponku. Entah itu keadaan senang ataupun sedih, kami selalu berbagi cerita. Sedikit banyaknya aku juga menjadi penasaran dengan gaya hidupnya yang seperti itu, hingga aku berani melakukannya dengan Jefri di awal perkenalan kami.


Tapi bukan tanpa alasan, aku memang tertarik pada Jefri di awal. Berbeda dengan Lisa yang memang hanya sekedar 'ingin'. Hingga saat Alex datang dalam hidupnya. Aku melihat perubahan besar pada Lisa. Hidupnya menjadi lebih terkendali karena ada lelaki yang menyayanginya. Dan tanpa aku pungkiri, kehidupan Alex pun tak jauh berbeda dengan Lisa. Namun keduanya terlihat lebih saling melengkapi saat berdua.


Hingga aku mendengar penuturan Alex beberapa minggu yang lalu, saat ia ke sini untuk sekedar menceritakan perubahan sikap Lisa. Aku melihat guratan kekecewaan mendalam pada Alex, dia terlihat sungguh-sungguh mencintai Lisa.


Benar saja, jika tidak sungguh-sungguh, buat apa Alex memiliki niatan untuk menikahi Lisa? Sampai ia harus rela pergi jauh ke Inggris hanya sekedar untuk melamar Lisa di depan seluruh keluarganya disana. Namun sepertinya dugaanku salah, Lisa belum menjadi lebih baik.


"Lu marah sama gua gegara gua kasih info tentang lu ke Dana?" tanya Lisa lagi.


Kali ini Lisa benar-benar tidak bisa memahami maksudku. Dan baru kali ini dia tidak sepemikiran denganku.


Plak!!!


Aku menampar pipi Lisa dengan telapak tangan kananku. Lisa meringis kesakitan lalu menatapku dengan amarah yang terlihat jelas dari bola matanya. Sedangkan aku, menatap dirinya dengan penuh kekecewaan.

__ADS_1


"Udah sadar?" tanyaku santai.


Lisa menganga, menunjukkan raut wajahnya yang kebingungan. "Apa sih yang ada diotak lu?" ucapku lagi.


Setelah itu aku tidak bisa lagi mengucapkan sepatah katapun. Bukan karena Lisa telah memberikan informasi tentang ku pada Dana, tapi lebih karena mengapa dia harus melakukan 'week stand night' kembali dengan mudahnya.


Aku kecewa dengan itu.


"Trus kenapa lu nampar gua?" tanya Lisa


"Semudah itu lu kasih nafsu lu sama cowok yang gak lu kenal?? Cuman demi materi? Demi duit dan demi mobil yang lu taruh di halaman rumah gua??"


Seketika Lisa menangis, menangkupkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tersedu tanpa suara. Dan seketika itu pula hatiku terenyuh melihatnya.


Ku majukan posisi dudukku, lalu meraih tubuhnya yang melemah, membawanya dalam dekapanku. Tangis Lisa pecah dan semakin menjadi. Ku usap pucuk kepalanya yang bersangga pada lenganku.


"Maaf kalo gua harus nampar lu. Itu sebagai tanda sayang gua sama lu, kalo bukan gua yang nyadarin lu, trus siapa lagi? Apa gua harus kehilangan seorang Lisa yang gua kenal selama ini hanya demi materi?" Ku berikan ia penjelasan singkat.


Ku dekap Lisa semakin erat. Ku coba untuk menenangkannya. Dia masih sesegukkan sambil merutuki apa yang telah ia perbuat, bahkan berkali-kali mengucapkan permohonan maaf padaku. Hingga akhirnya Jefri kembali masuk ke dalam rumah dan menghampiri kami.


Jefri hanya berdiri melihat kami, lalu memberikan kode padaku, semacam menanyakan apa yang telah terjadi. Ku jawab hanya dengan menggelengkan kepalaku pelan. Kemudian ia berlalu menuju dapur, kembali menghampiri dengan memberikan segelas air putih untuk Lisa, lalu beranjak ke arah tangga kamar setelah menghela napas, meninggalkan kami berdua.


Tanpa kata-kata, aku hanya mendekap Lisa, mencoba menenangkannya. Sambil sesekali mengatakan padanya bahwa aku telah memaafkan sikapnya yang luar akal sehat itu. Kemudian ku renggangkan dekapan kami, ku raih sekotak tissu di atas meja untuk mengusap airmata yang telah membasahi wajah Lisa lalu menatapnya.


Memastikan jika ia benar-benar sadar dan menyesali perbuatannya yang tidak bisa menahan nafsunya. "Lu tau, beberapa hari yang lalu Alex ke sini. Dia keliatan khawatir sama elu. Keliatan jelas dari wajahnya, kalo dia sayang sama lu dan dia gak main-main mau nikahin lu."

__ADS_1


Lisa menatapku sambil sesekali mengusap kembali airmatanya yang masih saja mengalir. Matanya sembab, napasnya tersengal dan masih ada sesegukkan akibat tangisnya yang tadi meledak. Ku tatap wajahnya lekat. Sekali lagi ku katakan padanya bahwa aku menyayanginya layaknya seorang saudara. Bukan hanya sebagai seorang sahabat.


Bahkan jauh lebih dalam lagi, ku katakan bahwa aku menginginkan kehidupannya yang jauh lebih baik dari pada kehidupanku saat ini. Kami memang sama-sama sudah tahu bagaimana suramnya kehidupan kami dulu. Ya, aku memang terdengar sangat egois saat aku mengatakan bahwa Alex telah berubah dan aku menginginkan Lisa hidup dengan Alex, menata masa depannya berdua dengan Alex.


Bukan tanpa alasan, disatu sisi Alex temanku dan disisi lain Alex juga teman Jefri, jadi kami berdua tahu betul bagaimana perubahan sifat Alex sekarang setelah bersama Lisa. Hanya saja aku yang tidak mengira, jika Lisa, sahabatku ini yang ternyata belum berubah.


Lisa kembali memelukku, kini bahuku menjadi sandaran dagunya. Ia mengucapkan permintaan maafnya berulang kali dan aku pun berkali-kali pula mengatakan bahwa aku memaafkannya. Menyarankan padanya agar segera meminta maaf pada Alex dan mulai bersungguh-sungguh untuk menjalin masa depan bersama Alex, ia menyanggupinya.


Ku renggangkan kembali pelukkannya, lalu meraih segelas air yang tadi disodorkan oleh Jefri untuk Lisa, ia meneguknya perlahan. Kini tatapannya terlihat kosong.


"Lu udah makan?" tanyaku pada Lisa. Ia menggelengkan kepalanya. Aku hanya menghembuskan napas melihat jawabannya.


Aku menyuruhnya untuk tetap duduk di sofa itu, kemudian aku beranjak menuju kamarku, membuka lemari dan mengambilkan selembar piyama untuknya. Ku sarankan ia untuk mandi, menyegarkan badannya. Namun Lisa menolak, lalu mengatakan jika ia ingin segera pulang saja. Aku menahannya.


Ku paksa ia untuk menginap di sini saja, menenangkan pikirannya. Lagi pula aku khawatir jika ia pulang dengan kondisi seperti ini, menyetir mobil sendiri. Lisa menyetujuinya lalu kami beranjak dari sana menuju kamar tidur di samping kolam renang. Aku menyuruhnya untuk beristirahat disana, sementara aku memasak, menyiapkan makanan untuknya.



Masakkanku hampir selesai saat Jefri datang menghampiri ku di dapur. Ia memeluk tubuhku dari belakang lalu mengecup tengkuk leherku. Lalu membisikkan sebuah kalimat tentang betapa terpesonanya melihatku mampu menyadarkan Lisa dan membuat Lisa patuh padaku. Aku hanya terkekeh geli.


"Boleh kan malam ini Lisa nginap di sini?" izinku padanya saat aku menyajikan makanan di atas meja kitchen.


"Iya, boleh." Jefri mengabulkan permintaan ku ini. Lalu aku segera membalikkan badanku, mengalungkan kedua tanganku di pundaknya dan tersenyum. Ia membalas senyumanku.


Aku segera mengecap bibirnya lembut dan Jefri membalasnya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2