
Haikal POV.
Saat sedang asik aku dan kedua orangtua Clara mengobrol, tiba-tiba bundanya memanggil Clara, ternyata ia sudah datang dan sudah berada di ambang pintu kamar. Aku agak sedikit terkejut melihat kehadirannya yang sunyi tanpa suara sama sekali. Kucoba untuk kembali melemparkan senyumku, lalu perlahan aku mencoba bangkit dari dudukku.
"Kalo gitu saya pamit dulu, Om, Tante, soalnya saya harus balik lagi ke UGD. Clara juga udah dateng jadi ada yang nemenin."
"Justru karena Clara udah dateng ini mestinya kamu tetep di sini. Temenin kami," pinta ayah Clara.
Aku berpikir sejenak.
Sebenarnya bisa saja aku menemani mereka, karena jam kerjaku juga sudah selesai sejak tadi. Hanya saja aku terlalu ragu. Takut jika menemani mereka terlalu lama, maka aku akan terjebak dalam perasaanku ini sendiri. Padahal aku masih ingin mencari tahu tentang latar belakangnya.
Namun pandangan Clara padaku seolah menyiratkan bahwa ia tidak menginginkan adanya kehadiranku di antara mereka sekeluarga. Walaupun ayah dan bundanya sudah 'very welcome' denganku. Tapi tetap saja, pandangan Clara berubah, tidak seperti sebelumnya yang selalu menghangatkanku, selalu membuat aku merasa teduh jika memandangi kedua bola matanya.
Aku kembali memandang kedua orangtua Clara sambil tersenyum, lalu mengucapkan permohonan maafku sekali lagi karena tidak bisa menemani mereka namun aku menjanjikan lain waktu untuk itu. Sebelum keluar aku sempat menatap wajah Clara yang sekilas. Ia tidak melirik ke arahku, tidak pula mengantarkanku sampai ke ambang pintu. Hingga akhirnya aku tutup kembali pintu ruangan itu.
Tanganku masih melekat pada knop pintu, mataku masih memandangi dinding pintu dengan penuh harapan, pikiranku melayang mencoba menebak-nebak akan sikap Clara tadi.
'Apa sebelumnya aku melakukan kesalahan?' batinku meronta keras mencari jawaban.
Helaan napas yang berat terus saja kuhembuskan. Hati ini terasa sesak dan sakit. Pasalnya, saat dimana aku mencoba untuk meyakinkan hatiku, Clara malah bersikap acuh.
Aku berjalan melayangkan kakiku menyusuri lorong ruangan, memasuki lift dan mencoba untuk kembali ke ruang kerjaku. Otakku saat ini penuh, hanya memikirkan Clara. Hingga akhirnya aku sampai ke ruanganku lalu kuhempaskan bokongku secara kasar ke kursi kerjaku. Aku mencoba untuk memejamkan mataku kembali, sambil menenangkan pikiran.
Tokk ...
Tokk ...
Suara ketukkan pintu memaksaku kembali untuk membuka mata, padahal rasanya baru saja aku terlelap. Kali ini aku langsung beranjak untuk membuka pintu dan melihat sendiri siapa yang sudah mengganggu waktu istirahatku lagi.
Aku membukakan pintu, kemudian kudapati seorang sosok wanita yang sangat aku kenali. Siapa lagi kalau bukan adikku yang cerewet, Tika. Begitu pintu terbuka, dia langsung menyelipkan tubuhnya agar bisa masuk ke ruanganku. Tika sendirian mendatangiku.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyaku saat berbalik mengikuti langkah kakinya yang ingin duduk di sofa.
Tika duduk di sofa kemudian menceritakan kejujuran Lisa. Tentang Lisa yang liburan di Bali, tentang Lisa yang melampiaskan napsunya dan berani menjual informasi tentang Tika kepada Dana. Kemudian Tika juga menceritakan bagaimana watak orang yang bernama Dana itu padaku.
Hanya satu saran yang akan aku berikan pada adikku ini, untuk sementara jangan terlalu memikirkan orang picik dan licik seperti Dana, sebab itu berpengaruh kepada masa kehamilannya. Berpengaruh pada kondisi kesehatan sang cabang bayi. Lagi pula selama Tika dan Jefri baik-baik saja, siapapun tidak akan bisa mencari celah di antara mereka berdua.
————————————————————
Lisa POV.
Aku istrirahat beberapa jam setelah kesadaranku kembali pulih, lalu menceritakan semua yang aku alami tadi malam pada Tika, di saat keluarga Tika sudah kembali pulang.
Dana mendatangiku, setelah dua hari yang lalu aku mem-block nomernya. Padahal sebelumnya Dana tidak tau dimana alamat rumahku. Ya, hubunganku dengan Dana memang terlalu rumit, sebab di awal perkenalan aku memiliki hati untuknya, namun setelahnya menjadi berubah. Sebab aku yang dulu terlalu banyak obsesi dan impian. Hingga akhirnya aku melupakan perasaanku.
Begitu pula yang terjadi kemarin malam. Dana berhasil menemukan keberadaanku. Menanyakan beberapa pertanyaan tentang Tika yang tidak mampu aku jawab. Lagi pula aku tidak bisa membiarkan Dana menghancurkan kehidupan bahagia Tika dan Jefri. Sahabatku satu-satunya.
"Trus kamu ga sadar lagi setelah jatuh itu?" Tika dengan semangat menanyaiku.
Aku terperanjat!!
Alex datang menemuiku sore ini. Raut wajahnya tidak berubah, padahal sudah hampir dua minggu kami tidak bertemu. Namun tidak pancaran emosi atau amarah lainnya dari rait wajah itu, kemungkinan Alex belum tau apapun tentangku.
Sebelum Alex mendekat, Tika sempat berdiri dan menggenggam tanganku, lalu mengisyaratkan agar aku lebih tenang dan santai menghadapi semuanya. Kemudian, Tika dan Jefri berlalu pergi meninggalkanku berdua dengan Alex dalam kamar ini.
Pikiranku menjadi kacau kembali. Di satu sisi aku merasa tidak pantas lagi untuk menjadi seorang istri dari pria baik seperti Alex, karena tubuhku tak sebersih sebelumnya, walaupun seluruh hasil dari rumah sakit menyatakan aku baik-baik saja. Namun di sisi lain, hatiku seakan meronta, merindukan kasih sayangnya, merindukan perhatiannya dan merindukan setiap detik kebersamaan yang pernah kami lewati berdua.
Sementara pikiranku berkutat dengan semua itu, Alex dengan tenangnya melangkah berjalan mendekatiku. Lalu duduk di kursi yang semula di tempati oleh Tika, tanpa meminta izin ia meraih jemari tanganku lalu mengecup punggung tanganku kilas dan kembali menatapku.
Aku masih terbaring lemah, kami saling beradu pandang hingga akhirnya Alex menghela napasnya.
"Kita lupain masalah yang kemarin ya?" Alex memecah keheningan di antara kami. Dengan tatapan matanya yang aku rindukan, sudut mataku seolah sedang memproduksi bulir airmata yang akhirnya tertumpah di kedua sisi pipiku. Lidahku seakan kelu, tidak mampu berkata apa-apa lagi begitu mendengar ucapannya.
__ADS_1
Betapa bodohnya aku yang kemarin. Hanya karena emosi sesaat aku sampai menghianatinya, menduakannya hanya untuk melampiaskan kekesalanku. Dan bodohnya aku menikmati semua kesalahan yang aku lakukan.
Aku mencoba untuk duduk, Alex membantu hingga ia menemani aku. Tidak banyak yang bisa aku katakan pada Alex, karena memang aku belum sanggup untuk semuanya. Bahkan setelah Alex memintaku untuk melupakan kejadian yang lalupun, aku rasa aku belum bisa. Bukan tentang masalah kami, tapi tentang masalahku.
Dan lagi, terlalu cepat untukku mengambil sebuah keputusan kembali bersama Alex. Bukan karena tidak mau, tapi karena aku ingin meyakinkan diriku terlebih dahulu, agar aku tidak melakukan kesalahan yang sama. Agar aku tidak menyakiti hatinya berkali-kali.
Tak terasa malam menjelang. Alex masih di sini menemaniku. Bahkan beberapa kawannya juga datang untuk menjengukku. Kawannya yang juga aku kenali pada saat tahun baru di rumahku, sebelum Tika dan Jefri menikah. Suasana semakin mulai mencair antara aku dan Alex, apalagi saat kedatangan beberapa keluarga Alex.
Saat kutanya, ternyata memang benar, Alex yang mengabarkan kepada keluarganya jika aku masuk rumah sakit. Dan memang benar, sebagian dari keluarganya sudah aku kenali. Sebab saat bersama dulu, sudah beberapa kali aku diajaknya masuk ke dalam acara keluarganya. Entah itu sekedar makan malam ataupun saat acara arisan keluarga.
Dari sikap Alex ini, ia seperti sedang mencoba merebut hatiku kembali. Mencoba untuk meyakinkan aku kembali akan kesungguhannya. Dan untuk kesekian kalinya, airmataku menetes merasakan semua ini. Dan berkali-kali pula aku mencoba menghapus kasar airmataku.
"Loh kenapa?" tegur Alex disela keramaian keluarganya yang mengobrol.
Kuberikan Alex sebuah senyuman lalu berkata, "Makasih kamu masih mau nungguin aku, maafin aku, bahkan nemenin aku di sini ... udah lama aku enggak ngerasain kehangatan sebuah keluarga." Airmataku kembali mengalir di kedua sudut mataku yang sudah sembab sebelumnya.
Alex menangkupkan telapak tangan kanannya di sisi pipi sebelah kiriku, jempolnya mencoba menghapus airmataku bahkan ia tersenyum manis.
"Aku bisa kasih keluarga aku buat kamu. Dan aku bisa kasih kamu ... kebahagiaan untuk hari esok dan seterusnya. Dan itu bisa kamu buktikan kalau kamu mau hidup sama aku, menghabiskan umur berdua sama aku." Mata Alex berkaca-kaca saat mengucapkan itu.
Hatiku sungguh terenyuh.
----------------------
Holaaaaa lohaaaa? 💃
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar, kemudian klik 'thumbs up' dan jangan lupa klik 'love' biar uptodate kalo ada episode terbaru 😘
Oh iya, entah judul ini masuk ranking 20 besar atau tidak, kita belum tahu sebab belum di umumkan oleh pihak aplikasi platform ini 😜
Tapi karena aku sudah berjanji akan memberikan 'hottest extra part' untuk kalian (jika masuk ranking 20 besar) makaaa ...
__ADS_1
Sudah siapkah kalian dengan vote poin kembali??? 🤭