
Jefri POV.
Aku mengecup keningnya sebelum akhirnya aku meninggalkannya ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhku. Menarik kembali selimut yang ada untuk menutupi tubuh polosnya. Sebelum itu aku menatapnya yang kini masih terpejam dengan napas yang tersengal. Sudah lumayan lama kami tidak melakukan kewajiban ini. Rasanya energiku sungguh terkuras habis untuk sama-sama saling menikmati segalanya.
Kupandangi jam dinding yang tergantung di atas televisi. Sudah jam 6 pagi dan langit di luar sana sudah kembali cerah. Sekali lagi aku mengecup kening istriku lalu benar-benar meninggalkannya ke kamar mandi. "Aku mandi dulu, kamu istirahat aja ya. Jangan ke mana-mana dan gak usah bikin sarapan," perintahku padanya, ia hanya mengangguk pelan.
Aku tahu, dengan kondisinya yang sedang hamil seperti itu, dia pasti akan merasa cepat lelah dua kali lebih besar dibandingkan sebelumnya. Dan semua itu terbukti sekarang. Lalu aku beranjak, melangkah memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhku.
Sungguh bahagia rasanya dapat kembali harmonis bersama dengan istri sendiri. Saling memaafkan dan berusaha saling menekan ego masing-masing. Mestinya seperti ini kami bersikap beberapa bulan yang lalu, bukannya malah saling menjauh atau bahkan saling menghindar tanpa komunikasi.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian santai, aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Tika yang sedang duduk bersandar sambil memainkan ponselnya di atas ranjang. Cahaya matahari dan langit di luar sudah menerangi sudut kamar ini
"Kamu gak capek?" Aku berjalan mendekatinya, lalu duduk kembali di atas ranjang dan di dekatnya. Aku ulurkan tanganku untuk mengusap perutnya yang kini semakin membuncit. Membuatnya tampak lebih seksi di mataku.
"Aku mandi dulu," pamitnya sambil menangkap tanganku yang sedang mengelus perutnya. Aku menggelengkan kepalaku, tidak mengizinkannya untuk beranjak sedikitpun.
"Kamu nanti aja mandinya, ini masih kepagian. Lagian kamu tetap di sini aja, biar ada mamah yang nemenin. Aku gak mau kamu kenapa-napa," ucapku menaik turunkan alis.
Tika tidak membantah, ia hanya mengembangkan senyumannya untukku. Lalu aku menurunkan kepalaku ke arah perutnya, menempelkan telingaku di sana. Mendengarkan gerakan bayi kembar yang sedang berada dalam perutnya. Dia terkekeh geli melihat tingkahku.
"Kalian yang kuat di dalam sana ya? Jangan nyusahin bunda kalian," ucapku lalu mengecup perutnya.
"Bunda?" pekiknya menatapku. Aku kembali duduk bersila, menunjukkan raut wajah kesenanganku padanya.
"Aku mau kamu dipanggil bunda nanti. Dan aku dipanggil ayah sama mereka. Gimana? Mau gak?" ucapku setengah merengek. Aku memang menginginkan dipanggil seperti itu oleh anak-anakku kelak. Lebih sederhana dan tradisional. Lagi pula, aku dan Tika sama-sama memanggil kedua orangtua kami dengan sebutan sejuta umat, papa mama. Oleh karena itu, aku menginginkan hal yang berbeda untuk hidup kami.
Tika mengangguk sambil tersenyum mengulum bibirnya dan aku pun memeluknya. Sungguh bahagia yang aku rasakan saat ini. Untung saja aku sempat merasakan moment ini, walaupun sedikit terlambat.
Kemudian aku menanyakan padanya apa dia tidak merasakan mual mengidam atau sejenisnya. Dan jawaban darinya sungguh membuatku bingung. Karena biasanya kehamilan pertama malah terasa sulit dilalui oleh waniga yang akan menjadi calon ibu. Dan berbeda dengannya, Tika melalui itu dengan biasa saja. Dia juga sempat mengatakan jika ia malah bersyukur dengan segala masalah yang terjadi di antara kami, karena dapat membuatnya berhenti untuk bermanja dan bisa mandiri merawat dirinya yang sedang hamil.
"Sekali lagi aku minta maaf, seharusnya dari awal aku nemenin kamu ngelewati masa ini, bukannya menjauh. Maaf aku melupakan janji kita." Aku memeluk kembali tubuhnya dan mengecup puncak kepalanya.
Sesaat kemudian, aku berpamitan padanya untuk pulang ke rumah kami. Mengganti pakaianku laly segera menuju ke kantor untuk melakukan rapat pertama dengan seluruh karyawan perusahaan. Ia mengantarkanku hingga ke depan pintu rumah. Lalu aku kembali melakukan ritual yang sudah lama tidak kami lakukan. Yaitu mengecup bibirnya dan sesekali menyelipkan lidahku menyusuri rongga mulutnya hingga membelit lidahnya. Kami terkekeh melakukan itu.
***
Pekerjaan di perusahaan sungguh menyita waktuku. Untungnya, saat aku menemukan banyak kebingungan aku dapat menanyakannya langsung pada Max. Ia banyak membantuku sekarang. Bahkan tak jarang, adikku Jerry juga ikut membantu perusahaan Max dalam pembayaran pajak. Hingga membuatku tidak sungkan untuk bertanya padanya.
Max juga sempat mengirimkan beberapa dokumen yang harus aku pelajari untuk mengembalikan kestabilan progres perusahaan ini. Jerry juga banyak membantuku dalam cara penanganan menghadapi para karyawan yang bertanya-tanya. Dan mau tidak mau, semua itu membuat Jerry yang akhirnya mengetahui tentang kebangkrutan anak perusahaan papa. Serta membuatnya mengetahui jika yang menyebabkan semua ini adalah Max.
Bukan, bukan penyebab, tapi saingan perusahaan papa dulu adalah Max. Awalnya Jerry sempat kesal. Ia mengamuk saat bertemu denganku di kantor ini. Untungnya saat itu pintu ruanganku sudah tertutup rapat. Lalu perlahan aku menjelaskan padanya bahwa semua itu hanya ke salah pahaman.
Apalagi Max dan papa sama-sama tudak mengetahui jika mereka berselisih. Karena mereka sama-sama menurunkan anak perusahaan dan berada di balik layar yang tertutup. Untungnya lagi, Max memiliki hati yang besar. Dengan cepat ia dapat menyelidiki semuanya dan menawarkan bantuannya itu padaku.
Tuhan memang benar-benar telah mengatur semuanya. Membukakan hatiku, membuatku memilih untuk menjalankan perusahaan papa agar aku dapat mengembalikan kejayaan perusahaan ini. Dibantu dengan uluran tangan Max. Dan jika dilihat sekilas memang Max yang menjalankan proyek itu, akan tetapi semua bahan proyek, aku lah yang menyiapkannya.
Hal itu membuat pak Hardi menjadi semakin curiga dan semakin mengawasi gerak-gerikku setiap harinya. Dan aku merasa pak Hardu menjadi berubah. Sikapnya menjadi semena-mena padaku. Ia selalu saja mendesakku untuk segera mencari sekretaris hingga akirnya aku bosan mendengar kalimat itu.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Harus berapa kali saya mengatakan ini. Saya menghargai nasihat dan pendapat Bapak, tapi saya memang belum membutuhkan seorang sekretaris saat ini. Kalaupun saya akhirnya membutuhkan, saya bisa mencarinya sendiri. Tidak perlu melalui HRD atau menyebarkan lowongan pekerjaan." Dengan lantang aku mengutarakan isi hatiku. Sebenarnya kalimat yang baru saja terlontar dari mulutku itu aku anggap lumayan kasar. Karena itu sebuah penolakkan mutlak yang aku sampaikan padanya.
Dan benar saja, lagi-lagi ucapanku membuat raut wajahnya berubah kali ini. Tapi jujur saja, aku masih mencoba untuk sopan pada pak Hardi. Karena melihat dedikasinya selama ink pada papa dan keluargaku lah yang membuatku selalu saja menahan amarahku.
'Jika saja dia tidak bertahan lama dalam perusahaan ini, mungkin sejak ia menawarkan seorang sekretaris itu, aku sudah menendangnya untuk keluar dari sini,' rutukku dalam hati.
Selama seminggu lebih, pak Hardi selalu saja kembali membahas tentang sekretaris. Jika tidak, ia seakan memberi kode atau menyelipkan disetiap pembahasan tentang pentingnya memiliki seorang sekretaris. Hanya saja untuk saat ini aku tidak bisa percaya pada siapapun. Bahkan untuk urusan keuangan perusahaan saja, aku meminta bagian financial untuk mempertanggung jawabkan hasil perhitungannya langsung padaku. Tanpa melewati siapapun.
"Jadi gimana hasilnya beberapa bulan ini?" tanya Max saat kami bertemu untuk melakukan makan siang bersama. Tidak hanya kami berdua, bahkan Jerry dan Tika juga ikut serta untuk makan siang bersama.
Bukan tanpa alasan kami berempat melakukan itu, karena sebenarnya kami juga ingin membicarakan tentang beberapa proyek perusahaan. Dan sebagai penyamaran semuanya, aku dan Max berinisiatif mengajak Tika dan Jerry. Agar tidak ada oknum yang merasa curiga, karena semua yang aku lakukan untuk perusahaan masih belum diketahui oleh kedua orangtuaku saat ini.
Jadilah kami mengajak Tika dan Jerry. Lagi pula mereka berdua sudah tahu dari awal tentang masalah yang terjadi pada Great Company.
"Meningkat. Walaupun bertahap. Aku gak tahu lagi kalau gak ada kamu yang bantuin, mungkin sekarang aku cuman bisa gigit jari." Aku mengucapkan rasa terima kasihku pada Max sambil meraih tangan Tika dan menggenggamnya erat.
Kami berempat makan siang dengan damai dan membicarakan banyak hal. Salah satunya membicarakan tentang anak kembar aku dan Tika yang masih dalam kandungannya. Bahkan kami berdua saja merasa tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan memiliki bayi kembar. Padahal dalam darah keturunan kami, tidak ada satu pun yang kembar.
***
Berhari-hari aku dan Tika menginap di rumah mamah Ida. Dan aku memang sengaja menyuruhnya untuk tetap tinggal di sana. Selain ada mamahnya yang menemani, itu membuat hatiku merasa tenang dan aman walaupun aku harus bekerja seharian di kantor.
Namun tiba-tiba masalah lain kembali muncul. Secara mengejutkan, Alex menelponku dan mengatakan bahwa Lisa menghilang. Sudah beberapa hari Alex tidak bertemu dengan Lisa.
"Lu udah coba ke rumahnya??" sahutku ikut panik siang itu. Aku lepaskan semua dokumen yang sedang ada di hadapanku lalu melangkah berjalan menuju dinding kaca ruanganku yang memberikan pemandangan salah satu sudut kota Jakarta dari atas.
Tanpa berpikir panjang aku segera memutuskan sambungan telepon kami. Berbalik dan bergegas meraih kunci mobilku dan berlari keluar ruangan kerjaku menuju di mana mobilku terparkir. Kutancapkan gas untuk segera pergi ke rumah mamah Ida.
Disepanjang perjalanan, tanganku yang satunya lagi sibuk mengutak-atik ponsel. Berkali-kali mencoba menghubungi ponsep istriku sendiri. Ada perasaan berkecamuk dalam dadaku. Panik? Tentu saja.
Siapa yang tidak panik jika dihadapkan dengan situasi seperti ini. Di saat baru saja sahabatku, Alex, mengabari jika Lisa menghilang dan tidak dapat dihubungi. Lalu secara kebetulan istriku yang tidak lain juga adalah sahabat Lisa, juga mengalami hal yang serupa. Tidak bisa dihubungi. Lantas apa aku harus merasa tenang dan santai saja?
Aku bunyikan klakson disepanjang perjalanan. Tidak aku biarkan alat transportasi apapun untuk menghalangi laju mobilku saat ini. Bahkan seorang pengendara motor yang hendak menyelip saja aku klakson hingga terlihat orang tersebut seperti menyumpahiku di luar sana. Aku tidak peduli.
Tidak sanggup rasanya jika harus mendengar kabar seperti ini. Dan entah mengapa dalam otakku hanya tertuju pada lelaki sialan yang selalu saja mengganggu hidup kami. Siapa lagi kalau bukan, Dana!
Dia selalu saja hadir dan merusak kehidupan kami yang baru saja aku merasakan ketenangan setelah perselisihan di antara kami. Seakan tidak ada habis-habisnya ia untuk mencoba masuk dan merebut Tika dari tanganku. Apa lagi semenjak ia meneror Tika dengan segala macam cara busuknya. Dari cara halus hingga kasar yang membuat Tika seakan tertekan dan seperti hampir depresi dibuatnya.
Lelaki ba*jingan itu seperti tidak pernah kehabisan ide!!
Aku menyetir dengan kecepatan penuh. Menggila dalam perjalanan. Hingga akhirmya aku sampai di depan rumah. Begitu kumatikan mesin mobil, aku segera berlari masuk ke dalam rumah. Berteriak memanggil Tika, berlari menuju kamar dan sialnya lagi, aku tidak menemukannya!
Di kamar mandi, walking closet, serta balkon kamar, dia tidak ada di sana. Kemudian aku kembali keluar dari kamar, menuju ke kamar mamah Ida, membuka pintunya lalu memanggil beliau. Sama! Mamah juga tidak ada.
Aku memutari seisi rumah, mencari keberadaan kedua wanita itu. Hingga aku bertemu dengan bi Mince yang terjekut karena kegaduhanku.
"Aduh, Den Jefri, ada apa? Kenapa teriak-teriak??" Beliau muncul dari balik pintu tengah saat aku hendak berjalan menuju ke halaman belakang. Sebab Tika dan mamah Ida sering sekali menghabiskan waktu mereka untuk membaca majalah atau membaca buku di sofa yang memghadap ke kolam renang.
__ADS_1
"Tika sama mamah mana, Bi?? Bibi tau mereka ke mana?" ucapku panik sambil memcengkram kedua bahu bi Mince.
Beliau terkejut mendengar ucapanku. "Waduh bibi gak tahu, Den. Bibi habis masak tadi pagi langsung masuk kamar buat ngegosok pakaian. Sudah coba telepon?"
Aku menghela napasku dengan kasar. Lalu melepaskan cengkraman tanganku itu pada bahunya. "Sudah, Bi. Malah dari sepanjang perjalanan tadi aku coba hubungin tapi gak aktif." Aku panik dan resah sejadi-jadinya. Cemas memikirkan keselamatan kedua wanita itu, terutama keselamatan Tika yang sedang memgandung buah hati kami.
"Sudah coba telepon ibu juga, Den?" Bi Mince memberikan opsi.
Astaga! Benar juga, aku belum mencoba menelpon mertuaku sendiri!
Aku langsung merogoh saku celanaku lalu mencoba menghubungi mamah Ida. Sialnya, ponsel beliau juga tidak aktif. Membuat otakku semakin pening. Kecemasanku semakin menjadi-jadi, membuat napasku sesak. Dadaku tersengal. Hingga akhirnya lututku melemas dan terduduk di lantai.
Bi Mince juga ikut panik melihatku yang gagal menghubungi kedua wanita itu. Aku kehabisan akal, ke mana lagi aku harus mencari mereka.
Seketika mataku terasa basah. Aku menangis kesal pada diriku sendiri, menyumpahi sikap teledorku sekali lagi yang tidak bisa menjaga istriku sendiri dengan baik. Lidahku seakan membeku dan dulutku seakan terkunci rapat. Tubuhku sungguh melemah, rasanya untuk kembali berdiri di atas kakiku sendiri, aku tidak mampu sebelum aku melihat Tika yang dalam kondisi baik-baik saja.
Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku menekan nomer telepon Max. Memberitahukan jika Lisa menghilang dan secara tiba-tiba juga membuat Tika serta mamah menghilang, tidak ada di rumah. Bahkan asisten rumah tangga mereka saja tidak tahu, bahwa kedua majikannha iktu menghilang.
Max terkejut, memarahiku dan mengatakan semua sumpah serapahnya karena aku tidak bisa menjaga adiknya. Sebab saat perselisihan antara aku dan Tika selesai, Max mengerahkan orang-orangnya untuk kembali bekerja dengannya, untuk membantu kelancaran proses proyek yang kami jalani berdua.
Oleh sebab itu, aku lebih memilih tinggal kembali di rumah mamah ida. Selain untuk menemani juga untuk menjaga Tika secara tidak langsung.
Tanganku semakin melemas hingga akhirnya aku menjatuhkan ponselku yang masih terhubung dengan Max.
Dalam otakku, hanya satu tujuanku agar bisa mendapatkan kembali istriku, Lisa serta mamah ida, yaitu Dana. Ya, pasti dia dalang di balik semua ini. Tapi ... aku harus mencarinya ke mana?
Bersambung ...
—————
Ready for Give Away???
Setelah kalian selesai membaca naskah ini, aku akan segera memposting sebuah kalimat di laman Instagram-ku.
Sebuah dialog yang pernah kalian baca dalam judul Kebahagiaan Tak Sempurna ini.
Tugas dan pertanyaannya adalah temukan kalimat itu lalu Screenshoot (ss). Katakan berada dalam episode berapa. Lalu buat ss tersebut se-kreatif mungkin.
Untuk rules selanjutnya silakan membaca dengan teliti di laman Instagram ku dengan akun @bossytika 😁
Bila ada yg kurang dimengerti kalian masih dapat bertanya, tenang saja.
Hadiahnya ada pulsa, kuota, koin dan poin.
Selamat mencoba 😘
#salambucin
__ADS_1
With love, Tika 💋