
Happy reading ...
—————
Still Max POV.
Napasku terengah, jantungku masih berdetak tidak karuan. Sulit rasanya untuk mengontrol emosiku saat ini. Igo datang dengan membawakan segelas air putih untukku. Dia sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri selama ini. Dia yang sudah menjaga aku, Shilla bahkan kedua anakku dari para penjahat di luar sana.
Ya, sebenarnya banyak sekali orang-orang di luaran sana yang mengincar nyawaku atau bahkan nyawa keluargaku. Hanya karena bisnis yang aku bangun bersama Reza kini berkembang dengan begitu pesat.
"Minumlah," ucap Igo yang kemudian mengambil kursi dan duduk berhadapan denganku. Dan sebuah meja sebagai membatas di antara kami berdua.
Mungkin saat ini anak buah Igo sedang membersihkan kekacauan yang sudah aku ciptakan tanpa sengaja tadi. Tidak ada niatku untuk menarik pelatuk itu. Karena biasanya aku juga akan seperti itu jika sedang memaksa seseorang untuk membuka mulutnya.
Oleh karena itu, Igo membiarkanku untuk membawa senjata apinya lalu masuk ke dalam ruangan itu. Aku terbawa emosi, sungguh. Tapi aku juga tidak menyesal sudah menyematkan timah panas itu padanya. Lelaki seperti itu memang pantas untuk mati.
Napasku masih terengah, naik dan turun, mencoba untuk menormalkan pernapasan sekaligus menenangkan detak jatung agar kembali stabil seperti semula.
Igo hanya menatapku dengan seksama dengan kedua tangannya yang melipat di depan dada. Di saat aku meraih gelas minum lalu meneguk isinya hingga tak bersisa. Igo terus saja terdiam di tempatnya dengan kedua matanya yang terus menatapku dengan teliti.
"Ada apa?" Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya. Apa yang sudah membuatnya menatapiku dengan cara yang tidak biasa itu.
"Kali ini aku berbicara bukan sebagai bawahan kamu, tapi sebagai teman." Igo memajukan tubuhnya lalu menumpuk kedua tangannya tadi di atas meja dengan rapi.
"Aku tidak ingin tahu rasa apa yang sekarang bersemayam dalam hati kamu. Tapi perlu kamu ingat, cerita masa lalu itu hanya sebagai pembelajaran. Hanya untuk dikenang, bukan diperbaiki." Igo mengatakannya dengan penuh penekanan.
Aku mengusap wajahku dengan kedua telapak tanganku lalu meremat rambutku. Dengan pandangan mataku yang menunduk melihat ke kedua ujung sepatu yang kini aku gunakan.
"Pulanglah, istirahat. Peluk istrimu," ucap Igo seraya berlalu pergi, di saat aku mengangkat wajahku.
Tak ada lagi yang bisa aku katakan. Aku memejamkan kedua mataku sejenak, lalu kembali membukanya. Dengan langkah gontai aku berjalan menuju lift dan akhirnya masuk ke dalam mobilku.
Di dalam mobil, aku menghempaskan punggungku pada kursi kemudi. Menyandarkan kepalaku pada sandaran kepala lalu memejamkan mata. Aku benar-benar hilang kendali.
Sesaat kemudian aku langsung membuka mata lalu menyalakan mesin mobil dan bergegas melesat pergi dari tempat ini menuju rumah.
Sesampainya di rumah, aroma masakan dari dapur menyambut langkah kakiku begitu memasuki pintu depan rumah. Aku segera masuk ke dalam, di ruang tengah kulihat mamahku dan mamah mertuaku sedang asik bermain dengan kedua anakku. Kubiarkan mereka, aku hanya menyapa sambil berlalu.
Tujuan langkah kakiku langsung menuju ke dapur. Sesampainya di sana, aku melihat Shilla yang sedang menyicipi kuah soup menggunakan sendok kecil. Aku tersenyum melihatnya yang juga menoleh padaku sekilas. Aku menuju washtafel dan mencuci bersih tanganku, setelah kukeringkan, aku langsung memeluk Shilla dari belakang. Melingkarkan kedua tanganku pada pinggangnya.
"Hei, ada bi Mince, malu!" tegurnya.
Aku tidak menggubris perkataannya, malah semakin erat memeluknya. Kuhirup wangi aroma tubuhnya di ceruk lehernya.
"Sayang, bi Mince tuuh," rengeknya manja.
"Bi Mince udah biasa liat yang begini. Dulu waktu papah masih ada." Aku semakin membenamkan wajahku di sana lalu mengecup pelan.
Tidak ada perlawanan lagi dari Shilla, ia kembali dengan rutinitas memasaknya. Bergerak ke sana-kemari sekedar untuk menambahkan bumbu pada kuah soup itu. Aku tetap mengikuti langkahnya, hingga akhirnya ia menyerah.
"Kamu mandi dulu gih! Mau aku siapin?" tawarnya sambil membalikkan tubuhnya jadi menghadap padaku.
Aku memandangi wajahnya, mata hazel-nya yang membuatku jatuh hati. Hidungnya yang tidak mancung membuatku gemas setengah mati. Lalu bibirnya yang selalu membuatku bergairah, apa lagi saat dia tidak menggunakan lipstick-nya.
Aku mengangguk pelan menjawab pertanyaannya. Lalu mengecup bibirnya sekilas. Kemudian ia meminta bi Mince untuk melanjutkan memasak, mengambil alih tugasnya di dapur saat ini.
Perlahan aku melepaskan kuncian tanganku pada pinggangnya, lalu tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya. Menarikku untuk mengikuti langkahnya menuju kamar kami.
Tanpa malu ia tetap menggenggam tanganku sambil berjalan melalui ruang tengah. Hanya sedikit senyuman yang ia berikan, pada penghuni ruang tengah yang terperangah melihat kami berdua menaiki tangga, menuju lantai atas. Ke kamar kami.
Baru saja tangan Shilla menutup daun pintu kamar kami, aku sudah menarik tubuhnya untuk mendekat padaku. Kedua bola mata kami saling bertaut dengan salah satu tangan Shilla yang mengusap pipiku. Perlahan aku mengecup bibirnya lalu menyelipkan lidahku pada celah kedua bibirnya dan memasuki rongga mulutnya. Kemudian Shilla mengimbangi permainanku. Saling ******* dan saling bertukar saliva.
"Wait ... aku isiin bath tube-nya biar kamu bisa mandi." Shilla melepaskan bibirnya lalu beranjak menuju kamar mandi.
__ADS_1
Aku membiarkannya melakukan itu. Lalu aku menyusulnya ke kamar mandi sambil melepaskan pakaianku satu persatu.
Perlahan aku menutup pintu kamar mandi lalu langsung memeluk Shilla dari belakang. Menghujaninya dengan kecupan yang kuberikan di ceruk lehernya. Setelah sebelumnya aku menyibak rambutnya yang tergerai.
Salah satu tanganku mengelus pahanya dengan mudah, sebab ia menggunakan sebuah dress selutut. Membuatku bisa lebih leluasa. Sedangkan tanganku yang satunya lagi sudah menyelinap masuk ke dalam dressnya itu melalui celah kancing yang berada di bagian depan.
Kutinggalkan mengelus pahanya yang kini beralih membuka seluruh kancing pakiannya itu. Lalu memainkan pelan bagian dadanya yang masih tertutup dengan penyangga kedua bukit kembarnya itu.
Aku berhasil membuka pakaiannya lalu menjatuhkannya di lantai. Aku mengecupi pundaknya dengan sedikit permainan lidahku. Salah satu tanganku sudah menyibak penyangga dadanya, hingga tanganku bisa dengan mudah memijat dan memilin bagian itu. Lalu sebelah tanganku lagi kini sudah menyusup ke dalam celana dalamnya.
Shilla melenguh, meloloskan beberapa desahan yang menggema di dalam ruangan kamar mandi in. Yang semakin syahdu beriringan dengan suara gemerecik air yang memenuhi bath tube.
Aku merasa semakin bergairah. Begitu pun dengan Shilla, semua itu terbukti dari erangan yang ia ciptakan begitu saja saat jemariku bermain di bawah sana. Hingga tiba-tiba saja tubuhnya bergetar hebat. Membuatku semakin mempercepat tempo gerakan jemariku.
Tak puas hanya sampai sana. Aku mengangkat tubuhnya, lalu kembali membawanya keluar dari kamar mandi. Meletakkannya di atas ranjang dan menyalurkan hasrat dan gairah yang semenjak tadi kutahan. Menikmati setiap jengkal tubuhnya dengan mulutku yang berpadu dengan sentuhan tanganku.
Siang itu aku benar-benar mencurahkan segalanya untuk Shilla dan berjanji pada diriku sendiri. Bahwa aku akan setia padanya, menjaga pernikahan kami serta menyayangi anak-anakku. Seumur hidupku hingga ajal menjemput.
Setelah semua itu, aku tidak lupa untuk mengecup keningnya yang berpeluh. Lalu kembali mengangkatnya menuju kamar mandi. Membersihkan tubuh kami bersama.
Setelah kembali berpakaian, aku dan Shilla turun dari lantai atas bertepatan pada saat bi Mince selesai menata hidangan di atas meja. Semua mata tertuju pada kami berdua. Aku hanya mengedipkan sebelah mataku kepada mamahku saat aku mengambil Icel dari tangannya.
"Hallo anak daddy," ucapku sambil mengangkat anak pertamaku dan menciumi wajahnya.
Ya, aku menginginkan kedua anakku memanggilku daddy dan memanggil Shilla dengan sebutan mamah. Shilla juga mengingatkan itu.
"Ayo makan mah," ajak Shilla yang juga mengambil anak kedua kami, Feli, dari gendongan mamah mertuaku.
Kemudian kami melangkah bersama menuju ke meja makan. Aku meletakkan Icel pada kursi makannya di sampingku. Begitu pun dengan yang lainnya, langsung menarik kusi masing-masing. Aku juga menarik bi Mince, memintanya untuk duduk makan bersama kami di meja makan ini.
***
"Gimana kondisi Tika?" tanya Shilla saat kami kembali ke kamar setelah menidurkan kedua buah hati kami.
Shilla duduk di sampingku, lalu melingkarkan tangannya di atas perutku. Aku mengecup keningnya sekilas lalu mengangkat tanganku, untuk membawanya masuk dalam dekapanku. Membiarkan telinganya menempel pada dadaku. Lalu aku kembali fokus pada layar laptop-ku.
Dia sama sekali tidak menggangguku bekerja. Bahkan di saat aku kehilangan ide atau tidak mengerti dengan dokumen yang aku baca, aku kan mendaratkan sebuah kecupan pada puncak kepalanya. Hingga aku dapat kembali melanjutkan pekerjaanku.
Shilla sudah bagaikan inspirasiku. Setiap nasihat yang keluar dari mulutnya selalu mampu membuatku berpikir dengan akal sehat. Aku juga sering meminta pendapatnya untuk mengatasi beberapa karyawan dalam perusahaanku.
Dia adalah orang yang penuh dengan perhitungan, bukan dalam hal keuangan, melainkan dalam bertindak. Dia yang mengajariku bagaimana caranya untuk terlihat tegas tetapi ramah dalam waktu yang bersamaan. Hingga membuat seluruh karyawanku segan padaku dan tidak berani memberikan opini apapun pada kepribadianku.
Dia juga yang mengajariku untuk tetap tunduk kepada mamahku. Ujarnya, tanggung jawabku sebagai anak laki-laki tertua untuk menjaga mamah, tidak akan pernah pudar walaupun aku sudah memiliki beberapa anak sekalipun.
Oleh sebab itu, dia adalah orang pertama yang mengingatkanku, jika salah satu keluargaku memerlukan bantuan. Rasanya hampir tidak pernah dia memintaku untuk menolong keluarganya jika ada masalah. Katanya, lebih penting keluargaku, sebab keluarga seorang suami adalah yang pertama.
Dan semua itu lah yang membuatku semakin mencintainya. Maka dari itu, aku rasa sebuah kesetiaanku adalah harga yang paling mahal yang harus aku berikan padanya. Untuk saat ini dan untuk selamanya.
Saat kumatikan laptop-ku, pantulan wajahnya dengan mata yang terpejam, terlihat jelas pada layar kaca. Aku tersenyum melihat itu. Kututup laptop itu dan meletakkannya di nakas di samping ranjang. Lalu dengan perlahan mengangkat kepalanya, menggeser tubuhku dan meletakkannya di atas sebuah bantal. Membiarkannya tidur dengan lelap.
'Mungkin dia kelelahan,' batinku.
Namun tiba-tiba saja ponselku di atas nakas berbunyi.
🎶
My location unknown tryna find a way back home to you again
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
My location unknown tryna find a way back home to you again
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
__ADS_1
🎶
Dengan sigap aku mengambilnya lalu menekan tombol silent pada sisi benda tipis itu. Untuk meredam nada deringnya. Aku melirik Shilla yang masih tertidur, lalu kembali melirik layar ponselku. Melihat nama siapa yang tertera di layarnya, yang sudah menghubungiku. Ternyata Haikal.
Tak lama setelah itu, sambungan telepon terputus lalu sebuah pesan singkat berhasil aku terima. Pengirimnya pun sama, dari Haikal.
Isinya, Haikal mengatakan di mana tempat kami akan bertemu. Ya, aku hampir saja lupa, jika aku memiliki janji akan berbicara berdua saja dengannya. Entah apa yang akan ia bicarakan.
Dan seketika degup jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Aku takut jika ia akan membahas tentang kondisi Tika atau kondisi anak kembar mereka. Karena rasanya tidak mungkin jika ia akan membicarakan tentang pacarnya itu, di tengah situasi ini. Seperti dugaanku sebelumnya.
Tiba-tiba pikiranku melayang tidak tentu arah. Sambil menatapi wajah Shilla yang tertidur, membuat perasaanku kembali teduh. Dan saat aku selesai mengecup keningnya, mendadak ia membuka matanya lalu berkata, "Udah mau pergi lagi?"
Aku mengangguk pelan, tangannya meyentuh pipiku lalu turun mengusap pundakku. Membuatku kembali melengkungkan senyuman tipis kepadanya.
"Jangan lupa jengukin Tika lagi. Siapa tahu mereka butuh sesuatu," lirihnya padaku, lalu ku kecup bibirnya dengan lembut.
"Kamu istirahat aja, gak usah antar aku ke bawah. Aku bisa sendiri." Sekali lagi aku mengecup keningnya lalu menarikkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Setelah itu barulah aku beranjak pergi, keluar dari kamar kami.
Sesampainya di bawah, ternyata kedua wanita yang paling aku hormati sedang duduk berdya bercengkrama. Lalu bi Mince datang sambil membawakan seteko minuman hangat.
"Kamu mau pergi lagi?" tanya mamah mertuaku.
"Iya, Mah, ada urusan. Trus juga mau balik lg liatin Tika." Aku menjelaskan rute tujuanku sambil melangkah mendekati mereka.
"Kalo gitu sekalian anterin mamah pulang, bisa?" tanya beliau lagi.
Aku mengangguk. Lalu beralih menatap mamahku. "Mamah di sini aja ya? Istirahat ke kamar. Bi Mince juga, kalo mau istirahat ke kamar. Jangan pakai kamar belakang, Bi, kotor. Jangan jauh-jauh dari mamah," titahku yang menoleh pada bi Mince lalu kembali menoleh pada mamah.
"Sampein salam mamah buat Tika ya?" lirihnya. Lagi-lagi aku mengulas senyum sambil menangguk lalu memeluk beliau.
***
Setelah selesai mengantarkan mamah mertuaku pulang ke rumah beliau. Aku segera pamit dan pergi lagi.
"Mah, aku langsung aja? Salam buat papah," pamitku sopan saat membukakan pintu mobil mertuaku.
"Iya, hati-hati di jalan. Salam juga buat Tika dan keluarga kecilnya. Mungkin nanti malam mamah sama papah akan ke sana menjenguk."
"Iya, makasih, Mah," ucapku seraya mencium punggung tangannya lalu kembali masuk ke dalam mobil. Menginjak pedal gas dan melsat pergi menuju ke rumah Haikal. Tempat untuk kami bertemu dan berbicara.
Bersambung ...
—————
Lohaaaa ...
Makasih yang udah selalu baca, semoga gak bosen gegara kebanyakkan episode 😂
Jangan lupa subsrek biar aku semakin semangat menulis. Trus follow juga Instagram aku dengan nama akun @bossytika untuk lebih dekat denganku (tapi jangan buat chat minta crazy up yaa, haha)
Oke segitu dulu, aku mau lanjut nulis lagi ...
Oh iya, sekedar informasi aja, semua naskah yang aku tulis itu sifatnya on going, jadi bukan naskah yang udah jadi terus tinggal aku ketik 😂 jandi gak bakalan bisa buat langsung up berkali-kali, butuh konsentrasi khusus kalo itu 🤭
Oh iya, aku juga mau minta ide dari kalian.
Buatin nama yang cucok meong buat si twins, terdiri dari tiga suku kata. Dan bernuansa Indo-European. Satu nama buat bayi laki-laki, lalu satu nama lagi buat yang perempuan.
Tulis di kolom komentar yah 😁 tolong bantu aku 🤧🙏
Ya udah lah, sekian dulu info-nya.
Babay.
__ADS_1