Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S3 - Eps 151


__ADS_3

Tika POV.


Tokk tokk tokk!


Aku mengetuk pintu kamar Shilla yang terbuka lebar sejak tadi pagi. Setelah dia tenang dan mamah keluar dari kamarnya. Entah apa yang mamah katakan padanya.


"Boleh aku masuk?" tanyaku yang melihat Shilla sedang berbaring bersama Feli, anak keduanya.


Aku melangkahkan kakiku untuk masuk, setelab melihat tanda izin masuk darinya. Lalu duduk di pinggiran tempat tidurnya. Shilla merubah posisinga menjadi duduk lalu bersandar pada kepala ranjang.


Wajahnya terlihat sendu. Kedua matanya masih terlihat sembab akibat menangis yang cukup lama tadi. Bibirnya pun pucat.


"Apa aku keterlaluan?" tanyanya membuka suara padaku. Aku bingung harus menanggapinya seperti apa. Tapi aju juga tidak ingin terlalu acuh padanya. Bagaimanapun juga dia adalah kakak iparku. Aku harus bersimpati sedikit padanya.


Aku mengangkat kedua bahuku untuk menyatakan sebuah keraguanku pada pertanyaannya. "Entahlah. Aku bener-bener gak ngerti."


"Menurut kamu, saat kejadian waktu itu, apa mungkin Max sempat kembali merasakan getaran cinta itu lagi?" Shilla menatapku dengan kedua bola matanya yang tidak berkedip. Terlalu lama, hingga membuatku semakin sulit untuk menghadapinya.


"Aku gak ngerti. Tapi waktu kamu denger semua itu, kamu juga dengerkan ucapan terakhir Max?"


Shilla mengangguk. "Tapi aku gak bisa sepercaya dulu lagi sama kakak kamu itu," lirihnya kemudian menundukkan wajahnya, memandangi kedua tangannya yang bertaut.


Kedua bahu Shilla juga terlihat terangkat, mungkin dia mengembuskan napasnya dengan begitu berat.


"Aku tahu Max salah, tapi aku juga gak mau bela dia. Aku bukan mau bela siapa pun. Aku juga pernah punya salah paham sama Jefri. Akhirnya kami gak saling tegur dan sapa selama berbulan-bulan. Tapi saat kami berdua mencoba buat bicara, saling mengungkapkan isi hati. Semua terasa lebih mudah." Aku mulai bercerita pada Shilla di mana saat aku dan Jefri dulu juga memiliki sebuah masalah kesalahpahaman semata.


Tidak ada maksud aku untuk menggurui Shilla, sebab jika dilihat dari usia pernikahan, pastilah dia yang lebih memiliki banyak pengalaman dalam membina kehidupan berumah tangga. Hanya saja untuk kali ini aku tidak ingin melihat mereja seperti ini.


"Kita semua punya masa lalu dan masa itu memberikan kita pengalaman. Dari sana kita bisa bertindak untuk lebih bijaksana dalam menata masa depan. Bicaralah berdua, dari hati ke hati." Aku mengusap punggung tangan Shilla dengan lembut.


Kemudian aku berdiri dan melangkah pergi dari kamarnya. Menutup pintu kamarnya agar ia bisa berpikir lebih jernih lagi. Lalu aku kembali ke kamarku. Duduk di atas tempat tidur, di samping Jefri yang sedang tertidur. Aku menyadarkan punggungku pada kepala ranjang.


Lalu tiba-tiba saja ia terbangun, kami saling menatap lalu Jefri memindahkan kepalanya ke atas pangkuanku dengan kakinya yang mengepit kakiku. "Kamu dari mana?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Habis dari kamar Shilla. Dia shock banget kayaknya." Aku mengusap lembut kepala Jefri sambil memainkan rambutnya.


"Kalau aku ngelakuin hal yang sama kayak Max, kira-kira kamu bakalan begitu gak?" tanyanya frontal dengan mata yang masih tertutup.


Aku terperangah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu dengan begitu saja. Beberapa detik aku terdiam, sebelum akhirnya aku putuskan untuk menarik rambutnya agar menoleh padaku. "Adu-duh duh duh sakit, Yang! Aishh!" rengeknya lalu kulepaskan tarikan itu.


"Kamu ngomong apa tadi? Kamu lagi kepikiran Paula ya? Ohh atau di luaran sana kamu ketemu dia? Ayo ngaku!" semprotku tiba-tiba lalu melipatkan kedua lenganku di depan dada. Dengan kedua bola mataku yang dapat kupastikan jika saat ini sedang melotot menatapnya.


Jefri mengelus kepalanya sendiri seraya bangkit dari tidurannya lalu tertawa, lumayan nyaring.


"Kamu masih bisa cemburu ya? Aku pikir udah cinta mati sama aku?" Dengan percaya dirinya ia berucap.


Aku memukul lengannya karena masih merasa kesal dengan pertanyaannya itu. "Kamu beneran mikirin Paula ya?" tanyaku sekali lagi, untuk memastikan sekaligus menegaskan bahwa aku tidak menyukai wanita itu.


"Ngapain sih sebut-sebut nama itu? Aku udah gak merluin wanita lain lagi. Cukup kamu aja, udah bikin aku puas luar dalem." Jefri menarik tanganku saat aku kembali memukulmya pelan. Membawaku masuk ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"Iih apaan sih!" Aku malu.


—————


Max POV.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Sudah sejam lebih aku menunggu Haikal kembali pulang dari kencan makan siangnya, tidak juga dia memperlihatkan batang hidungnya.


Beberapa batang rokok juga sudah habis aku nikmati dengan sekaleng bir, di balkon samping rumahnya. Namun saat aku hendak beranjak kembali ke dapur untuk mengambil lagi sekaleng bir dari kulkasnya, aku mendengar suara mobil yang masuk ke garasi samping.


Segera aku menuju ke pintu depan rumahnya. Ternyata benar, Haikal lah yang datang. Kubukakan pintu rumah untuknya. Lalu membiarkannya masuk, berjalan setelahku.


"Hei, bukannya itu bajuku?" serunya dari belakangku.


Aku tersentak dan spontan menoleh. "Pinjam, aku perlu mandi tadi." Tak kalah tegas dengan nada suaranya.


Haikal meletakkan sebuah bungkusan di atas meja makannya, yang mana aku langsung menyambar bungkusan itu, tanpa ba-bi-bu.


"Aish, jangan-jangan dalamanku juga kamu pinjam!" celetuknya lagi.


Aku mendengar ucapannya itu seraya mengambil minuman dari dalam kulkas. "Kebetulan iya, dalaman baru yang masih bersegel itu aku kenakan." Tanpa malu aku langsung menyelonong saja menuju ke arah balkon lagi.


Makan di balkon menjadi pilihan yang tepat pada siang hari ini. Cahaya matahari tidak terlalu terik, bahkan terlihat bersahabat akibat rindangnya pepohonan yang meneduhi tempat ini. Semilir amgin sepoi-sepoi sedari tadi memang menemaniku duduk di sini.


Kulupakan ekspresi Haikal setelah selesai aku menyahuti perkataannya tadi. Sebab aku tidak terlalu memperhatikan raut wajah terakhirnya. Sampai akhirnya dia tiba-tiba muncul di ambang pintu dan melangkah mendekatiku. Menarik kursi di dekatku kemudian duduk.


"Astaga!! Beneran kamu cek?" pekikku terkejut mendengar ucapannya. Lalu menggeleng-gelengkan kepalaku, merasa tidak wajar dengan sikap adikku ini.


Lalu aku kembali disibukkan dengan makanan di hadapanku, sedangkan Haikal langsung mengambil kotak rokokku lalu menyulut sebang rokoknya. Untuk beberapa saat kami lewati dalam keheningan akan aktifitas masing-masing.


"Setelah ini lebih baik kamu pulang, Max. Kasihan Shilla sama anak-anak." Haikal mulai melontarkan kalimat demi kalimat yang memang masuk ke dalam otakku. Hingga aku berhasil menghabiskan menu makan siangku kali ini.


Setelah itu aku tidak beranjak, melainkan kembali mengambil sebatang rokok dan menyesapnya. Mencari kenikmatan akan setiap hisapan tembakau yang terbakar, sambil mengajak otakku untuk kembali bekerja. Memikirkan cara yang tepat untuk mendapatkan perhatian Shilla kembali.


Ya, aku masih mencintainya dan akan tetap mencintainya. Aku hanya kesal akan sikapnya yang mengacuhkanku. Tidak lebih.


Dan aku sadar, semestinya aku tidak membentaknya tadi pagi. Sikapku memang sungguh keterlaluan, aku pasti kembali melukai hatinya. Dalam pikiranku yang kalut itu, aku memikirkan segala macam hal kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Lalu aku harus bagaimana?


"Haaaahh!!" Aku mengembuskan napasku dengan kasar.


"Udah pulang aja kalo rindu. Romantis sedikit sama istri gak ada salahnya kok. Jangan sampai dia keburu balik ke rumah orangtuanya." Dengan cuek Haikal mengatakan semua itu.


Namun dalam perkataannya itu ada benarnya juga. Aku memang sudah merindukannya. Dan jika Shilla sampai pulang ke rumahnya, apa yang harus aku katakan pada kedua orangtuanya? Dan harus bagaimana lagi caraku untuk membujuknya?


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya aku memutuskan untuk segera pulang ke rumah mamah. Berpamitan dengan Haikal dab langsung mengambil dompet serta kunci mobilku di kamarnya.


"Makasih makan siang sama pakaiannya. Bye!" seruku sesaat sebelum melangkah keluar dari rumahnya.


Aku tidak menunggu respon darinya untuk segers berlari kecil menuju mobil. Melewati pekarangan rumahnya dengan cepat. Masuk ke dalam mobil lalu melesat pergi, menginggalkan Haikal yang entah sedang bagaimana raut wajahnya saat aku pergi dari sana.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan, aku sungguh menyesali nada suaraku yang meninggi padanya tadi pagi. Aku sungguh keterlaluan. Tidak ada henti-hentinya aku untuk merutuki kesalahan yang dengan sengaja itu.


Sesampainya di rumah, tidak ada tujuan lain yang ingin aku datangi selain kamarku sendiri. Mendatangi istriku. Aku melangkahkan kaki dengan terburu-buru kemudian membuka pintu kamar. Shilla menoleh ke arahku yang berdiri di ambang pintu.


Aku langsung mendatanginya yang berdiri di depan lemari, sudah ada beberapa baju yang tergeletak di atas kasur. Entah ia sedang melakukan apa dengan baju-bajunya itu. Kupeluk dirinya dari belakang, karena dia memang menyukai itu.


Kuletakkan wajahku di ceruk lehernya, menghirup aroma tubuhnya.


"Maaf ... Dia memang masa laluku, tapi gak akan mungkin untuk aku bawa ke dalam masa depan. Dan kamu adalah masa sekarang juga sekaligus masa depan bagiku. Aku ingin kita menua bersama. Menjalani hidup dengan segala rintangan yang ada." Aku mengatakan dengan perlahan.


Lalu aku balikkan tubuhnya untuk menghadapku. Keelus lembut pipinya. Memandangi kedua bola matanya. "Maaf kalau aku sempat menyelipkan dia di antara kita. Aku yang kurang ajar. Tapi aku janji, setelah ini gak ada yang sejenis itu lagi."


Entah mengapa, seketika aku melemahkan kedua kakiku lalu berlutut di hadapannya. Merengkuh kakinya lalu menempelkan keningku pada perutnya. Rasanya tidak sanggup jika aku harus kehilangan dirinya. Aku membutuhkannya untuk hidupku.


—————


Shilla POV.


Sedari tadi, Max mengatakan kaalimat-kalimat yang entah dari mana ia dapatkan. Membuat aku terhenyak akan semua kalimatnya itu. Ada sedikit rasa bahagia yang entah dari mana datangnya. Dan kini ia berlutut padaku untuk meminta maaf. Tanpa sadar air mataku jatuh membasahi pipi.


Benar apa ujar mamah mertuaku. Max adalah lelaki yang bertanggung jawab. Mungkin benar dia sempat memiliki hati untuk wanita itu, tapi itu dulu. Dan dia lebih memilih untuk mengubur perasaan itu, demi tanggung jawab keluarganya.


Ya, dulu aku pernah bertanya padanya, mengapa wanita itu selalu ada. Tadinya aku pikir hanya karena sahabat adiknya tp begitu Max memberitahukan perjanjian masing-masing keluarga untuk menjaga wanita itulah, akhirnya aku mengerti. Ditambah lagi tadi siang, adiknya juga mengatakan hal yang sama.


Aku memang mencintainya.


Kuraih wajahnya yang menyentuh perutku. Ia mendongakkan wajahnya menatapku. Terasa aman dan nyaman. Perlahan aku menundukkan wajahku lalu menempelkan bibirku pada bibirnya. Sekilas, kemudian kembali menatap matanya, mencoba mencari sebuah kejujuran dalam sana.


"Maaf kalau aku membuka luka lama kamu ...," ucapku pelan.


"Aku yang minta maaf buat segalanya."


Aku menariknya untuk berdiri kemudian aku memeluknya. Aku merindukan. Sehari saja tidak memeluknya rasanya duniaku akan hancur.


Entahlah aku tidak bisa lagi menggambarkan suasana hatiku saat ini. Yang jelas aku menyesali sikapku. Karena memang seharusnya aku mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Bukannya langsung acuh tak acuh padanya. Bukan pula melakukan aksi diam seribu bahasa.


"Maafin aku ya?" ucap Max sekali lagi saat menempelkan keningnya pada keningku.


Aku tersenyum melihat tingkahnya yang seperti ini. Mungkin aku memang butuh banyak waktu untuk memahami masa lalunya. Untuk mengerti kesulitan yang dihadapinya. Dan selama proses itu, aku ingin dia tetap menemaniku. Berdiri denganku, melindungi ikrar pernikahan kami, memegang teguh janji gang kami ucapkan bersama. Untuk saat ini dan untuk selamanya.


Sekali lagi bibir kami saling bertaut, menyalurkan rasa kasih sayang dan cinta yang begitu mendalam. Dan semoga saja selalu seperti ini, hingga maut memisahkan kami berdua.


Malam harinya Max mengajakku untuk makan malam berdua. Tadinya aku pikir itu terlalu berlebihan. Karena kasihan kedua anak kami jika harus ditinggalkan.


"Gak apa-apa kok, tinggal aja. Lagian mereka gak rewel," ucap Tika yang saat itu mau saja menjaga kedua anak kami. Membuatku merasa sedikit lebih lega.


Bukan, bukan sedikit. Tapi sangat lega, karena Max akhirnya mengakui kesalahannya dengan kesungguhan. Karna hanya itulah yang dibutuhkan wanita. Mungkin lelaki lebih suka untuk diakui, tetapi wanita lebih suka dihargai.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2