Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 74


__ADS_3

Still Haikal POV.


Tidak terasa akhirnya kami sampai ke restoran tujuan, aku memarkir mobil tepat disebelah mobil BMW berwarna kuning. Ya, dapat kulihat, mobil Jefri dan mobil Max sudah ada di sisi lainnya, terparkir dengan saling bersebelahan.


Aku menatap Clara di antara cahaya remang lampu jalanan yang menyelip masuk ke dalam mobil, tersenyum padanya lalu mematikan mesin mobil. Aku kembali menatapnya di saat ia hendak membuka pintunya, tanganku kiriku tiba-tiba tergerak meraih lengan kanannya. Ia terdiam kemudian menoleh menatapku.


'Clara sungguh cantik malam ini,' batinku.


Aku mereguk air liurku sendiri saat melihat paras cantiknya sedekat ini dan untuk kesekian kalinya, aku terpesona oleh wajahnya.


"Kenapa?" Suara lembutnya semakin membiusku, baru kali ini aku menyadarinya.


"Gak papa, cuman mau ngasih tau, lu hati-hati jalannya," sahutku sambil melepas cengkraman tanganku di lengannya.


Clara tersenyum kilas lalu segera kelyar dari mobil.


'Bodoh! Apa-apaan yang kuucapkan tadi?' batinku merutuki kelakuanku sendiri.


Aku keluar dari mobil kemudian berjalan bersama Clara, tapi tidak bergandengan. Memasuki restoran lalu membawa Clara menuju ke meja yang sudah kupesan. Dari kejauhan aku melihat meja itu sudah terisi. Lengkap.


"Waah! Pantesan ngajak dinner, taunya ada gandengan sekarang!" seru Max mengejekku.


'Sialan!' umpatku dalam hati.


-------------------


Clara POV.


'Astaga!' pekikku dalam hati, 'lelaki itu kan clientku?'


Aku tebarkan senyuman terbaikku pada seluruh yang ada di meja ini. Haikal mengenalkanku pada seorang wanita paruh baya yang sangat cantik, katanya itu mamahnya.


Aku meraih tangan mamahnya lalu mencium punggung tangannya, kemudian beliau mengajakku untuk berpelukkan, saling mencium pipi. Beliau sangat baik menyambutku, lalu menyuruhku untuk duduk di samping beliau.


"Dia tadi siapa?" bisikku pada Haikal yang duduk di sampingku kemudian mengarahkan mulutku menunjuk lelaki yang menyapanya diawal tadi.


"Oh, kakak gua, Max namanya. Kenapa?"


Aku menggelengkan kepala cepat lalu bergabung kembali pada mamahnya yang mengajakku untuk mengobrol. Ada beberapa orang yang sudah aku kenali seperti Tika dan suaminya Jefri, lalu Max dengan istrinya yang bertemu denganku tadi siang di mall, namun ada seorang wanita lagi yang duduk di samping Tika, aku belum pernah bertemu dengannya. Mungkin aku akan menanyakannya nanti dengan Haikal, karena wanita itu seperti sangat akrab dengan keluarga ini. 'Mungkin juga wanita itu saudara Haikal, aku tidak tahu. Aku belum sedekat itu dengan Haikal, hingga aku harus bertanya tentang keluarganya,' pikirku.


Malam ini kami semua makan malam dengan suasana yang begitu kekeluargaan. Sangat menyenangkan, walaupun awalnya aku terkejut. Tidak sesuai dengan pemikiranku yang mengira kami hanya akan makan malam berdua.


Setelah selesai makan malam dan berpamitan kepada semua anggota keluarganya, Haikal memutuskan untuk segera mengantarku pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kami meninggalkan meja makan lebih dulu dari pada yang lainnya.


Lagi-lagi tangan nakalnya menyentuh pinggangku, menggiringku berjalan keluar dari restoran ini, aku membiarkannya hingga sampai di depan pintu mobil.


"Harus ya pegang pinggang gua?" lirikku kemudian melirik padanya yang berdiri di sebelahku. Tangannya langsung terlepas dari pinggangku kemudian beralih membukakan pintu mobilnya untukku.


"Gua cuman berusaha bersikap sopan." Dia menyeringai menatapku. Kemudian aku segera masuk ke dalam mobilnya lalu ia menutup pintu dan segera memutari mobilnya dari depa, lalu menyusulku masuk ke dalam mobilnya melalui pintu kemudi.


Dia menyalakan mesin mobilnya, menekan tombol untuk menyalakan AC lalu menginjak pedal gas untuk segera melaju keluar dari halaman parkir restoran itu. Aku duduk agak sedikit menyerong, agar aku dapat memperhatikannya di sepanjang perjalanan untuk mengantarku menuju pulang.

__ADS_1


"Kenapa ngeliatin?" ucapnya tiba-tiba hingga membuatku merasa kepergok sudah memperhatikannya sejak tadi. Aku salah tingkah, otakku langsung mencari akal untuk mengelak ucapannya itu.


"Gua boleh nanya?"


"Apa?" sahutnya sambil sekilas menoleh padaku lalu kembali memfokuskan pandangannya pada setir dan jalanan.


"Cewek yang baju maroon tadi siapa? Saudara lu juga?" Akhirnya aku menanyakan ini karena terlalu merasa penasaran.


Bisa kulihat dengan jelas raut wajahnya di balik remang-remang lampu jalanan yang kami lalui. Ekspresinya terlalu datar, malah terkesan biasa saja begitu aku menanyakan hal itu. Sesekali Haikal menoleh padaku, lalu kembali melihat jalanan.


"Namanya Lisa, temen Tika. Mereka udah akrab lama banget. Jadi mamah juga udah anggap dia sebagai anaknya." Haikal menjelaskan dengan santai.


Kemudian suasana kembali menjadi hening, hanya lantunan lagu dari audio mobil yang terdengar pelan, menemani perjalanan kami. Hingga akhirnya sampai di depan rumahku. Haikal tidak mematikan mesin mobilnya. Akupun seakan enggan untuk langsung turun keluar dari mobilnya.


"Sorry kalo gua ngajak makannya bareng keluarga," ucapnya yang membuatku menoleh melihatnya.


"It's ok, gak papa kok."


"Lu pasti berharapnya makan malam cuman berdua,"


Aku tersentak mendengar ucapan lelaki yang terlalu percaya diri ini, kemudian tanpa bisa aku tahan, aku tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Haikal kebingungan melihat tingkahku.


"Lu pede banget sih! Siapa yang ngarep makan malam berduaan sama lu?" ejekku yang kemudian kembali tertawa. Kali ini tawaku lebih meledak dari yang sebelumnya.


"Ya trus ngapain lu dandan cantik begini?"


Aku kembali menatap Haikal, kali ini aku memajukan tubuhku sedikit ke arahnya. "Apa? Lu ngakuin kalo gua cantik?"


"Udah ah. Gak usah di jawab. Makasih ya bu—"


Cup!


Haikal mencium bibirku, mataku membulat kaget dengan tingakahnya yang mendadak ini. Kepalaku seakan membeku, tidak menghindar maupun tidak pula menolaknya. Caranya memotong pembicaraanku sungguh membuat aku terkejut.


Seketika jantungku langsung berdegup dengan kencangnya. Haikal melepaskan bibirnya dari bibirku. Wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter saat itu, napasnya yang memburu begitu terdengar jelas, terasa hingga bagian hidungku dapat merasakan hembusannya. Aku memberanikan mataku untuk menatap matanya, ia membalas tatapanku.


Cukup lama kami saling menatap dalam keheningan malam ini. Sedikit terlintas dipikiranku untuk sekali lagi mengecap bibir tebalnya itu, merasakan setiap belaian lidahnya hingga menikmati setiap hembus napasnya. Namun untungnya suara ponselku membuyarkan segalanya.


🎶


Monday


Took her for a drink on Tuesday


We were making love by Wednesday


And on Thursday and Friday and Saturday


We chilled on Sunday


I met this girl on Monday

__ADS_1


Took her for a drink on Tuesday


We were making love by Wednesday


And on Thursday and Friday and Saturday


We chilled on Sunday


🎶


Kami saling memundurkan tubuh, kembali duduk di posisi semula, memberi jarak di antaranya. Aku segera meraih ponselku yang ada dalam tas kecil yang sedari tadi berada di atas pangkuanku. Ayah calling.


Aku menggeser tombol hijau di layar lalu segera mendekatkan ponsel itu ke telingaku.


"Hallo? Iya ... Apa?! Aku udah di depan rumah, Yah! Iya iya." Aku panik.


Aku segera melepas heelsku lalu turun dari mobil, berlari melalui pekarangan kemudian menerobos masuk melalui pintu depan rumah. Kemudian sambil berteriak memanggil ayah, aku kembali berpari menuju kamar ayah dan bunda, namun aku tidak menemukan mereka. Aku kembali berteriak memanggil ayah dan bunda hingga akhirnya ayah menyahut seruanku.


"Kami di dapur, Clara!" teriak ayah, aku langsung berlari menuju dapur.


Bunda tergeletak di lantai tepat di samping meja makan, dengan kepala yang sudah berada di pangkuan ayah. Aku panik melihat kondisi bunda, namun bunda sudah pingsan.


Entah sejak kapan Haikal melihat kejadian itu, yang jelas ia langsung mencoba mengecek kondisi bunda, menyentuh leher bunda lalu mengatakan pada ayah untuk segera membawa bunda ke rumah sakit. Ia juga menawarkan untuk menggunakan mobilnya saja. Ayah menyetujui kemudian segera mengangkat bunda menuju ke mobilnya, aku hanya bisa mengikuti ayah mereka dari belakang.


Aku bukakan pintu belakang mobil, kemudian ayah menyuruhku untuk masuk dari pintu sisi lainnya agar kepala bunda dapat di letakkan di pangkuanku. Aku mengikuti apa kata ayah.


Haikal langsung masuk ke dalam mobil, disusul dengan ayah yang duduk di sebelahnya. Dia juga memberikan kunci rumah kami pada ayah. Ya, dia yang telah menguncikan pintu rumah kami. Kemudian dia segera melaju, membawa bunda ke rumah sakitnya.


Dalam perjalanan Haikal sibuk menyetir sambil menelpon seseorang, kemudian mengatakan agar orang itu menunggunya di depan pintu UGD siap dengan beberapa benda yang disebutkannya, aku tidak mendengarkan dengan begitu jelas. Sedangkan aku memeluk kepala bunda, mengelus pipinya sambil meneteskan airmata.


Di telepon tadi, ayah hanya mengatakan jika bunda pingsan dan ayah juga tidak tahu apa penyebabnya. Aku menatap ayah yang juga sedang menoleh menatap kami di kursi belakang. Ayah mencoba untuk tegar, tapi aku bisa melihat jelas bahwa ia juga panik, sama paniknya denganku.


Tanpa kami sadari, akhirnya kami telah sampai di depan halaman ruang Unit Gawat Darurat. Beberapa perawat sudah standby dan langsung membuka pintu mobil lalu membantu mengeluarkan bunda, meletakkan bunda di ranjang dan segera membawa bunda masuk. Ayah mendampingi mendorong ranjang bunda.


Sedangkan aku masih terdiam di dalam mobil, hingga Haikal sadar lalu melihatku di dalam mobil. "Ayo keluar, tunggu di dalam." Dengan lembut Haikal menarik lenganku, memaksaku untuk turun dari mobilnya lalu memboyongku ke ruang tunggu UGD. Dia sempat meminta seseorang untuk memarkirkan mobilnya saat aku berhasil duduk.


"Tunggu di sini, jangan kemana-mana. Bentar lagi bokap lu pasti nyari lu, oke?" titah Haikal yang berjongkok di depanku dengan telapak tangannya yang menangkup kedua pipiku.


Aku hanya bisa menunduk menatapnya tanpa menghiraukan lagi bagaimana kondisi wajahku sekarang. Airmata yang berlinang tidak bisa berhenti, malah semakin membasahi pipiku.


Sekilas ia tersenyum padaku, menghapus airmata dikedua sudut mataku, lalu berkata, "Nyokap lu pasti baik-baik aja." Dia berdiri lalu sekilas mencium keningku, kemudian meninggalkanku duduk sendiri di sini.


Tak berapa lama berselang, ayah datang duduk di sampingku dan langsung merangkulku. Aku sandarkan kepalaku dalam dekapannya. Kini airmataku kembali menetes perlahan.


Bersambung ...


---------------------------


Jangan lupa vote poin yah pembaca semuanya 🤭


Vote kalian sangat berarti bagiku, untuk semangatku dalam menulis 🤫

__ADS_1


#salambucin💋


__ADS_2