Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 73


__ADS_3

Still Clara POV.


Aku segera menuju ke parkiran mobil, keluar dari kawasan mall kemudian kembali pulang menuju rumah.


Sesampainya di rumah waktu menunjukkan pukul lima sore. Sebelum aku keluar dari mobil, ponselku berbunyi, notifikasi pesan singkat dari whatsapp.


Ting ...


Aku membuka tasku lalu merogohnya, mencari-cari ponselku. Kutatap layar ponsel, ternyata pesan dari Haikal.


"Gua jemput jam tujuh tepat," gumamku membaca isi pesannya.


Lagi-lagi aku menyeringai sekilas membaca isi chatnya, aku tidak menjawab chat itu, hanya membacanya. Lalu aku segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Ayah dan bunda masih tidak beranjak dari posisi duduknya sejak aku pergi meninggalkan mereka.


"Gak capek apa duduk nonton tipi mulu?" sewotku sambil meletakkan kembali kunci mobil di samping meja televisi.


"Bilang aja ngiri ayah sama bunda terlihat mesra, iya 'kan?!" Ayah mulai mengejekku.


"Makanya cepetan cari pacar, biar gak panas hawanya kalo liat ayah sama bunda lagi santai berdua." Bunda ikut menimpali kalimat ayah.


Aku mengerucutkan mulutku, cemberut. "Awas aja, malam ini aku juga mau nge-date. Huh!" Aku langsung berlalu menaiki tangga menuju ke kamar, meninggalkan ayah dan bunda.


Aku memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil memainkan Instagram, melihat-lihat perkembangan media sosial satu ini, hingga akhirnya aku keterusan dan baru menyadari jika waktu berjalan dengan sangat cepat.


***


Setelah aku siap dengan dandananku di jam yang tepat 18.30, aku keluar dari kamarku, menuruni tangga dengan perlahan. Membawa serta heels dan tas kecilku.


Bunda terkejut saat keluar dari dapur, mendapati diriku yang telah berdandan maksimal di ambang anak tangga terakhir. Matanya membulat sempurna, mulutnya menganga dengan kedua tangan yang menutupinya. Terpukau dengan apa yang dilihatnya. Aku hanya tersenyum melihat ekspresi bunda.


"Kamu mau kemana dandan begini?" seru bunda histeris, membuat ayah ikut keluar dari dapur dan mendekati kami.


Ayah sama terkejutnya melihatku. Bahkan ayah berkali-kali memutar-mutarkan tubuhku, hanya untuk melihat penampilanku dari segala sisi. Tiba-tiba bunda memeluk ayah, menempelkan telinganya di bagian dada bidang ayah, ayah membalas pelukkan bunda dengan erat.


Mereka mengucapkan pujian berkali-kali untukku, mengatakan bahwa betapa beruntungnya mereka memiliki anak perempuan sepertiku. Akupun memeluk mereka berdua. Lalu mereka menanyakan mengapa aku sampai berdandan seperti ini, apakah di kantorku sedang ada acara atau aku hanya akan menghadiri pesta ilang tahun temanku.


"Kan sudah aku bilang, aku mau kencan!" lirihku kepada kedua orangtuaku ini. Mereka sungguh terlihat bahagia saat aku mengatakan itu.


Teeettt ...


Teeettt ...


Suara bel dari pintu rumah berbunyi, membuat perhatianku teralihkan. Jantungku tiba-tiba berdegup dengan kencangnya, pikiranku lamgsung kacau tak menentu.


'Apa tanggapannya saat melihat penampilanku yang seperti ini?' pikirku penasaran.

__ADS_1


Ayah menahan langkahku untuk membukakan pintu, seakan memberi isyarat untuk membiarkan dirinya saja yang membuka pintu dan melihat pertama kali tampilan lelaki yang mengajakku berkencan. Ya, ini juga merupakan kencan resmiku yang pertama kali.


Bukannya dulu tidak pernah, hanya saja dulu jika berkencan aku tidak pernah menggunakan pakaian se-formal ini, dengan dress dan heels. Pakaian seperti ini hanya aku gunakan saat menghadiri perkawinan teman ataupun perjamuan acara kantor.


Ayah membuka pintu perlahan, sedangkan aku dan bunda berdiri tak jauh dari belakang pintu itu. Aku segera mengenakan heels yang dari tadi aku pegang. Dari posisi tempatku dengan bunda, aku dapat melihat jelas ekspresi yang ayah perlihatkan untuk menyambut kedatangan Haikal. Aku membeku.


----------------------


Haikal POV.


Aku sampai di depan rumah Clara. Jantungku berdebar dengan sangat kencang. Berkali-kali aku menghirup napas kemudian menghembuskannya perlahan, berharap agar detak jantungku bisa kembali normal. Namun usahaku ternyata nihil.


'Mungkin oksigen di dalam mobil ini sudah habis aku hirup,' pikirku.


Segera aku matikan mesin mobil lalu keluar, bukan karena tidak sabar ingin segera melihat Clara namun berharap udara bebas di luar mobil dapat menormalkan kondisiku saat ini. Bulir air mulai bermunculan di keningku, gugup. Sekali lagi, bukan gugup karena ingin bertemu dengan Clara, tapi aku gugup jika harus bertemu dengan kedua orangtuanya.


Dan satu lagi yang aku takutkan, yaitu Clara sengaja memperlambat dirinya untuk bersiap-siap, agar kedua orangtuanya bisa dengan bebas mengintimidasiku dengan berbagai pertanyaan konyol. Aku berloncat berkali-kali, lalu mengambil napas, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk beranjak berjalan menuju pintu rumahnya.


Di depan pintu, aku kembali mengambil napas. Mencoba mengacuhkan beberapa pemikiran yang semakin membuatku gugup. Mengepinggirkan segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi nanti. Entah itu diajak mengobrol oleh kedua orangtuanya atau malah tidak diizinkan mengajak anak gadis mereka untuk makan malam denganku.


Aku memejamkan mata, mengambil napas lagi dengan semakin berat lalu berdoa sebentar. Kemudian dengan gagahnya aku menekan bel pintu.


Pintu bergerak terbuka, muncul seorang lelaki paruh baya yang berdiri tegap di balik pintu. Aku mencoba untuk tersenyum kepada beliau, namun raut wajah beliau seakan menggambarkan ketidaksenangan akan suatu hal.


"Selamat malam, Om." Aku menyodorkan tangan kananku untuk bersalaman dengan beliau. Aku dapat menebak, pria paruh baya ini pasti orangtuanya Clara. 'Matilah aku!' batinku kuat.


Beliau menyambut sodoran tanganku lalu menggenggam erat, tanpa ekspresi ramah apalagi tersenyum. Aku memakluminya. Dengan mantap beliat menjabat tanganku.


"Saya ke sini berniat untuk menjemput Clara, mengajaknya untuk makan malam. Itupun jika mendapat izin dari Om." Aku berusaha sesopan mungkin berucap dengan kalimat yang sudah sedari perjalanan tadi aku pikirkan dan aku rangkai.


Tanpa berkata apa-apa, beliau langsung memundurkan langkah kemudian seakan memberi kode dengan gerakkan tangannya. Aku menunggu beberapa detik hingga Clara muncul di balik daun pintu.


Aku terpesona.


Wajahnya begitu cantik berpoleskan make-up sederhana yang semakin membuat wajahnya terlihat fresh dan lebih natural. Rambutnya yang sengaja digerai dengan sebuah semat jepit kecil disalah satu sisi telinganya, membuat aku semakin menganga. Dress berwarna biru tua yang menutupi keindahan tubuhnya sangat terlihat elegan dengan paduan kain menerawang yang masih bisa memancarkan kulitnya yang halus. Dress itu tetap membuat lekuk tubuhnya sempurna dan seksi. Lalu kaki jenjangnya menggunakan sebuah heels yang berwarna senada. Di tangannya, dia memegang sebuah tas kecil, mungkin untuk menyimpan ponselnya di sana.


Wajahnya merona, Clara tersenyum malu melihatku. Ia lebih banyak melihat ke arah bawah. 'Sebelumnya dia tidak seperti ini,' batinku.


Aku masih saja menatapnya, namun kali ini kedua bola mataku tertuju untuk melihat bola matanya yang dari tadi ia sembunyikan. Dan aku sadar, aku masih terpesona melihatnya, mulutku masih sedikit menganga sampai seorang wanita paruh baya muncul tiba-tiba di belakangnya dan menegurku.


"Mau sampai kapan ini lihat-lihatan? Nanti keburu tempat makannya tutup," pekik beliau. Aku tersadar kemudian tersenyum, menatap Clara dan kedua orangtuanya bergantian.


Tanpa berbasa-basi lagi, aku kembali meminta izin kepada kedua orangtuanya untuk membawa anak mereka pergi untuk makan malam, mereka mengizinkannya. Kami berpamitan. Clara mencium kedua pipi dari kedua orangtuanya dan mencium punggung tangan mereka. Aku juga melakukan hal yang sama, mencium punggung tangan kanan, kedua orangtuanya. Lalu berjalan bersama Clara berdampingan, menuju mobil.


Entah mengapa malam ini aku terbawa suasana, hingga saat berjalan tanganku menyentuh pinggang belakang tubuhnya, responnya pun biasa saja, sampai akhirnya aku membukakan pintu mobil untuknya.

__ADS_1


Mataku sempat menoleh ke arah pintu rumahnya, kedua orangtuanya masih setia berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan kami, hingga aku juga ikut masuk ke dalam mobil.


Wangi semerbak vanilla dari parfum yang digunakan Clara, berhasil membuat detak jantungku kembali normal. Sebelum melaju menginjak pedal gas, sekali lagi aku memastikan untuk menoleh melihat wajah Clara, dia juga menoleh melihatku. Mata kami saling menatap hingga bunyi ponselku berdering.


🎶


So don't call me baby


Unless you mean it


Don't tell me you need me


If you don't believe it


So let me know the truth


Before I dive right into you


🎶


Aku meraih ponselku yang daritadi memang aku letakkan di dashboard tengah. Melihat layarnya, Max calling. Aku menjawab sambungan teleppon itu.


"Hallo? Iya ... Oh udah? Oke." Aku kembali memutuskan sambungan telepon itu lalu dengan santai aku meletakkan kembali ponselku, menginjak pedal gas untuk langsung melaju menuju restoran yang sudah aku pesan.


Tak banyak yang kami bicarakan selama di jalan, karna Clara yang sekarang sepertinya sedang menjadi pribadi yang pemalu. Hingga aku mencoba meluluhkan suasana.


"Dressnya baru beli ya?" Aku menoleh padanya kilas, ia terkejut. Raut wajah kaget itu terlihat begitu jelas. Aku tertawa melihatnya. Lalu kuucapkan maaf karena perkataanku tadi hanya bercanda agar suasana tidak terlalu tegang.


Setelah itu, kami mulai mengobrol dengan santai. Saling bertanya apa saja yang dikerjakan seharian tadi dan bagaimana cara masing-masing untuk meng-handle para costumers. Saling bertukar pendapat.


Bersambung ...


---------------------------


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak kissmark di kolom komentar yaaa dan jangan lupa untuk mulai vote kembali judul ini agar masuk ke dalam vote rangking dari aplikasi MangaToon maupun NovelToon.


Mau tau cara vote??? Silahkan follow Instagram-ku dengan nama akun @bossytika


Trus buat yang mau tau gimana caranya biar bisa gabung masuk ke dalam fitur grup di aplikasi NovelToon, juga bisa langsung tanya aja via Instagram itu.


Thanks kalian selalu mendukungku dalam berkarya.


I love u all 😘


#salambucin💋

__ADS_1


__ADS_2