Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 87


__ADS_3

Haikal POV.


Pagi-pagi sekali aku memutuskan untuk segera bertandang ke kamar rawat inap bundanya Clara, sambil membawakan dua bungkus bubur ayam untuk sarapan. Dengan senyum simpul yang mengembang dari kedua pipiku, aku melangkah dengan cukup gembira. Bukan karena kemarin aku telah berhasil mengambil hati kedua orangtuanya, tapi karena aku sudah yakin dan akan menetapkan hatiku untuk memilikinya. Entah ia akan menerimanya atau tidak, tapi mungkin biarkan dulu hubungan seperti ini yang terjalin di antara kami. Agar aku lebih yakin, begitupun dengan dia.


Aku mengintip dari celah gorden yang menutupi jendela di pintu depan kamar. Tidak terlihat begitu jelas, lalu aku melirik jam tanganku, sudah jam tujuh pagi. Kemudian aku putuskan untuk langsung masuk saja tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Mataku hanya menangkap ayah dan bundanya Clara yang sedang berbincang, kemudian menoleh padaku yang masih berdiri di ambang pintu.


"Wah, dokter Haikal. Masuk ... masuk!" Ayah Clara mempersilakanku masuk lalu aku berjalan mendekati beliau.


"Ini, Om, buat sarapan." Aku sodorkan kantong plastik yang berisi beberapa bungkus bubur ayam tadi pada beliau.


Mataku mengedarkan pandangan, mencari sesosok wanita yang selama ini selalu muncul dalam otakku. Aku kembali tersenyum kepada kedua orangtua Clara, sebab aku tidak dapat menemukan sosok anak gadisnya itu.


"Nyari Clara?" tanya bundanya.


'Sial, ketahuan deh!' pikirku. Aku mengangguk dengan pelan sambil tersipu malu.


Bruuk!


Suara pintu kamar mandi.


"Ini pintunya sejak kapan harus dipak-sakan ditarik." ucap Clara yang keluar dari toilet dengan suara lantang kemudian terbata begitu matanya melihat adanya kehadiranku.


Aku bernapas lega begitu melihat sosoknya, lalu melemparkan senyumku padanya. Ia keluar dari sana dengan pakaian yang sangat rapi. Rasanya belum pernah aku melihatnya saat berpakaian kantoran. Anggun.


Mataku seakan terhipnotis saat itu, apalagi dengan handuk yang menggulung sempurna menutupi rambutnya. Mungkin ia berkeramas.


Aku terpesona.


Baju atasan kemeja berwarna biru muda yang ia kenakan begitu cocok dengan kulit putihnya. Rok span selutut berwarna hitam menjadi pilihan untuk bersanding dengan kemeja tadi di tubuhnya. Sangat rapi, elegan, berkelas dan ... seksi!!


"Ngapain pagi-pagi ke sini?" tanya Clara mencoba menyadarkanku dari tatapan mataku yang seakan tidak bisa berkedip begitu melihatnya.


Sekilas aku melirik kedua orangtuanya. Pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu memang sudah bisa aku prediksi sebelumnya, lebih tepatnya sebelum aku memasuki kamar ini. Dan aku sudah memiliki jawabannya.


"Nganterin sarapan." Aku menjawab dengan percaya diri.


Clara mengeryitkan alisnya. "Emang pagi ini bunda gak dapet sarapan dari pihak rumah sakit?"


"Dapet. 'Kan buat ayah kamu."


Clara berjalan mendekatiku sambil melepaskan handuk yang melilit di atas kepalanya. "Trus aku juga dapet gak?" Diliriknya aku saat jarak kami hanya kurang lebih satu meter, sambil diraihnya kantong plastik tadi dari tangan ayahnya.


Ia membuka kantong plastik itu lalu mengecek isinya. "Kok cuman dua?"


"Buat ayah sama bunda kamu. Kalo kamu 'kan bisa sarapan bareng aku di bawah, sekalian kamu pergi ke kantor," jawabku lempeng.


Sepertinya perkataanku tadi membuat raut wajahnya berubah. Benar saja, di kedua sisi pipinya kini muncul rona kemerahan. Lalu ia segera beranjak ke sofa dan meletakkan bungkusan bubur ayam itu ke atas meja di depan sofa.


"Sepertinya Clara masih malu." Colek ayahnya padaku. Sontak aku, ayahnya dan bundanya terkekeh geli.


Terkadang Clara memang pemalu, namun terkadang juga barbar. Aku masih tidak bisa menebak dengan jelas bagaimana sikap dan prilakunya. Yang jelas oleh karena itulah aku tertarik padanya. Ia selalu membuatku penasaran.


Aku kembali asyik mengobrol dengan bundanya, menanyakan kondisinya saat ini, sedangkan ayahnya sesekali menceritakan apa saja yang terjadi pada istrinya itu setelah istrinya mendapatkan suntikkan dari perawat rumah sakit ini.


Selang beberapa menit kemudian, Clara datang menghampiri kami lalu berpamitan akan pergi bekerja ke kantor. Aku yang melihat ada sedikit celah dan kesempatan, langsung tidak menyia-nyiakannya begitu saja.


"Gimana kalo aku antar?" sergahku cepat.


"Ide bagus." Bundanya menimpali. Lalu ayahnya juga mendukung itu. "Iya, bener diantar. Jadi kalo ada sesuatu atau bunda kamu boleh pulang, ayah bisa bawa bunda langsung tanpa nunggu kamu." Ayahnya semakin menimpali.

__ADS_1


Clara yang disarankan seperti itu hanya melongo terdiam.


———————————————


Clara POV.


'Mengapa ayah dan bunda jadi kompak sekali dengan lelaki ini?' pikirku semakin kacau.


Bagaimana tidak kacau , baru saja tadi aku keluar dari kamar mandi dan hampir mengolok-golok pintu toilet yang keras jika ditarik dibuka. Lalu tiba-tiba saja melihat sang dokter rumah sakit ini sudah berada di dalam ruangan dan sebagian kalimat ejekkanku tadi mungkin didengarnya. Dan sekarang? Ia kembali menawarkan untuk mengantarkanku pergi ke kantor. Sungguh sial hidupku ini!


Akibat beberapa bujukkan yang terkontaminasi dengan paksaan dari kedua orangtuaku, akhinya Haikal menang. Aku tidak dapat lagi mencari alasan untuk menolak tawarannya itu.


"Ya sudah, aku pamit ya, Bun, Yah!"


Aku salimi punggung tangan kanan ayah dan bundaku secara bergantian, lalu kuraih tas selempang dan tas kain yang memuat sepatuku di dalam sana. Aku dan Haikal beranjak keluar dari kamar bunda dan berjalan bersampingan menyusuri lorong kamar hingga masuk ke dalam lift.


Di dalam lift, kami hanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tidak ada satu katapun yang terucap. Hingga aku memasuki mobilnya. Sesekali ia melirikku, aku pun melakukan hal yang sama.


Di sepanjang perjalanan hanya suara alunan lagu dari audio mobilnya yang terdengar. Kali ini entah lagu dari siapa.


🎶


You got me stuck in your love


No I dont wanna go no


Baby I'm so in love with you


In love with you


You got me stuck in your love


No I dont wanna go no


Baby I'm so in love with you


In love with you


Dibawah sinar mentari hati kita menari


Sambut musim cinta bersemi


Kau dan aku mungkin tau cinta kita satu


🎶


Ekhem ...


Ekhem ...


Suara batuk yang dibuat-buat oleh Haikal membuat kepalaku dengan spontan menoleh padanya. Menatapnya, sedangkan ia tersenyum cengengesan.


"Kamu gak laper apa??" Haikal membuka pembicaraan.


"Bisa sih sarapan, tapi cuman ada waktu sekitar lima belas menit dan itu pun harus yang deket kantor." Aku memberika kalkulasi perhitungan waktu yang tersisa sebelum ceklok di kantorku.


Sebenarnya bisa saja aku menelpon ke kantor dan mengatakan aku izin terlambat, agar memiliki waktu yang lama untuk sarapan. Tapi kali ini aku ingin mengetesnya. Karena seperti yang sudah-sudah, dia juga pernah seperti ini padaku.


"Yah, kalo lima belas menit doang mana cukup buat sarapan. Antri nungguin dibikin udah lima menit, makan sambil ngobrol udah hampir sepuluh menit, belum lagi after makan. Mana cukup lima be—"


"Lu bawel juga ya ternyata. Perasaan dulu cool banget." Penilaianku terhadapnya tiba-tiba berubah begitu mendengarnya mengomel yang tidak jelas.

__ADS_1


"Hah?! Apa?"


"Gak papa." Aku tahu, dia pasti mendengar ucapanku tadi. Hanya saja ia ingin aku memperjelasnya.


***


Aku sedang sibuk mengerjakan beberapa laporan polis asuransi yang telah dilegalkan oleh karyawan lain. Memasukkan beberapa data baru dan mengatur jangka waktu lamanya polis itu berlaku. Hingga akhirnya mataku menangkap sebuah map berwarna biru dengan isian kertas yang banyak, mungkin mencapat ratusan lembar.


Aku menghentikan kegiatanku saat ini, sambil mencoba mengistirahatkan jari-jemariku yang sudah terlalu lama bergelut dengan tombol-tombol di papan keyboard. Kemudian aku mencoba menarik berkas dokumen itu, lalu ku singkirkan dan ku hiraukan beberapa dokumen lain yang tadinya sedang aku kerjakan.


Sebenarnya tidak ada yang aneh pada isi dokumen ini, hanya saja aku penasaran. Aku ingin mengetahui lebih jauh tentang keluarga Haikal, sebelum aku benar-benar menanggalkan hatiku hanya untuk dia. Sekaligus meyakinkan aku agar tidak salah dalam memberikan hati.


Hingga akhirnya ponselku berdering. Membuyarkan pikiranku.


🎶


Monday


Took her for a drink on Tuesday


We were making love by Wednesday


And on Thursday and Friday and Saturday


We chilled on Sunday


I met this girl on Monday


Took her for a drink on Tuesday


We were making love by Wednesday


And on Thursday and Friday and Saturday


We chilled on Sunday


🎶


Sialnya, aku melupakan di mana letak ponsel itu. Segera kuraih tas selempangku yang kugantung di sandaran kursi kerjaku. Aku merogoh isinya, tetap tidak dapat aku menemukan ponsel itu. Sedangkan suara lagunya terus saja terdengar.


Perlahan aku mengangkat satu persatu dokumen yang berserakkan di atas meja kerja ini dan akhirnya kudapatkan ponsel itu. Kulihat nama yang muncul pada layar tampilan ponselku.


Haikal calling.


Aku mengenyitkan alisku sebelum panggilan telepon itu akhirnya berhenti, menandakan panggilan telah terputus. Kemudian kuletakkan kembali ponsel itu, namun hanya beberapa detik, suara nada dering dari Craig David itu kembali berbunyi.


Haikal calling, again.


Aku menghela napas kasar dan memejamkan mataku sebentar lalu menghembuskan napas itu lagi. Berkali-kali, barulah kugeserkan tombol hijau di layar ponsel itu.


"Hallo?"


Di seberang sana terdengar suara bariton Haikal yang begitu 'greget' di telingaku. Aku menyenderkan tubuhku pada sandaran kursi sambil mendengarkan suaranya.


Haikal mengajakku untuk makan siang. Ia juga mengatakan bahwa akan menjemputku beberapa menit lagi. Aku berpikir sejenak, lalu kukatakan bahwa aku hanya memiliki waktu istirahat yang sedikit. Hanya sekitar tiga puluh menit. Lalu aku kembali mendengarkan protesan dari Haikal dengan gelak tawa yang sengaja aku tahan.


"Iya ... iya, cerewet banget deh!" sergahku padanya.


Akhirnya aku terima tawarannya setelah puas mendengarkan celotehannya yang mirip dengan emak-emak tukang gosip tingkat kabupaten. Kuputuskan sambungan telepon itu.


Aku segera bersiap-siap, membereskan beberapa file, menyimpan data yang sudah aku buat lalu mematikan komputerku. Belum lagi aku melakukan makan siang bersama dengan Haikal, tapi kedua sudut bibirku telah mengembang sempurna.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2