
Jefri POV.
Dengan terpaksa aku harus kembali lagi menuju kantor siang ini. Meninggalkan Tika dan yang lainnya di rumah mertuaku. Ingin rasanya hati ini untuk tinggal di sana menemani istriku itu, tetapi jadwal rapat kali ini sudah tidak bisa aku tunda lagi. Sehingga aku mau tidak mau, harus dan wajib untuk mengikuti kegiatan satu ini.
Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai kembali ke kantorku. Aku bergegas menuju lift di basement gedung ini untuk menuju ke lantai empat, setelah sebelumnya berhasil memarkirkan mobilku sendiri.
Aku memasuki lift dengan hati yang gusar. Perasaan yang kacau sedari tadi terus saja menghantui setiap embusan napasku. Rasa-rasanya aku lupa bagaimana rasanya menjadi bahagia, akibat terlalu banyak masalah yang datang menghampiri.
Ting!
Pintu lift terbuka, aku telah sampai di lantai empat. Aku segera melangkahkan kakiku menuju ke ruangan kerjaku. Mengambil beberapa berkas untuk aku bawa ke ruangan meeting. Tetapi, belum selelsai aku membereskan beberapa berkas, tiba-tiba saja ponselku berbunyi.
🎶
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Talk about where we're goin'
Before we get lost
Let me out first
Can't get what we want without knowin'
I've never felt like this before
I apologize if I'm movin' too far
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Figure out where we're growin'
🎶
Aku merogoh saku celanaku, mengambil benda itu lalu melihat ke layarnya untuk mengetahui nama siapa yang tertera sedang menghubungiku. Sebuah nomer yang tidak aku kenali, tetapi terasa familiar diingatanku.
"Hallo?" jawabku. Tidak ada suara balasan dari seberang sana. Hening.
Aku putuskan sambungan telepon itu, mencoba untuk tidak mengambil pusing tentang telepon tadi. Lalu kembali memeriksa beberapa berkas yang aku perlukan nanti, di saat rapat. Namun, lagi-lagi benda tipis yang dijuluki telepon pintar itu berbunyi. Melantunkan lagu barat yang memang sengaja aku pilih.
Aku melirik ke benda itu, yang tadinya aku letakkan di atas meja. Masih nomer yang sama yang menghubungiku itu. Aku kembali meraihnya lalu menerima panggilan telepon itu.
"Hallo? Maaf saya sedang tidak punya banyak waktu, jika penting katakan sekarang. Tapi jika tidak, jangan mengganggu saya lagi. Terim—"
Suara dehaman kecil terjadi di seberang sana. Membuatku tiba-tiba menghentikan ucapanku. Kemudian terdengar suara kekehan sebuah tawa wanita. Aku terpekik kaget mendengarnya. Sempat aku jauhkan ujung speaker telepon itu dari telingaku, lalu aku rekatkan kembali.
Sayup-sayup aku mendengar suara wanita yang masih terkekeh itu. Mencoba mengenali suara tawanya. Tapi percuma, aku tidak bisa mengenalinya. Aku tidak mengatakan sepatah kata pun lagi. Aku haya membiarkannya tertawa hingga akhirnya ia mengatakan sesuatu yang membuatku terperangah tak percaya.
"Gimana kelincinya? Bagus 'kan? Hahahaa." Tawanya mengakhiri sambungan telepon itu.
Aku lepaskan ponsel itu dari tanganku. Kemudian kugeletakkan di atas meja. Perasaanku semakin tidak karuan. Mengapa wanita itu mengatakan kelinci? Bukankah kejadian di rumah mertuaku tadi juga disebabkan oleh beberapa bangkai kelinci?
__ADS_1
Tokk tokk tokk!!
Suara ketukan pintu mengejutkanku, membuatku menoleh dan melihat salah satu karyawanku sudah berada di ambang pintu. "Lima menit lagi rapatnya akan dimulai, Pak."
Aku menganggukkan kepalaku. Kemudian karyawan laki-laki itu segera melangkah pergi dari sana. Jantungku sedikit memompa darah dalam tubuhku dengan tempo tidak teratur. Aku menghela napasku. Kemudian meraih kembali berkas persiapan rapat lalu keluar dari ruanganku. Meninggalkan ponsel itu di atas meja.
Selama rapat berlangsung, aku benar-benar tidak bisa membuat pikiranku fokus. Beberapa kali aku termenung, lalu pak Hardi-lah yang menyadarkanku dengan senggolan kakinya pada kakiku.
"Ah, iya. Sampai mana tadi pembahasannya?"
Sekitar dua jam lebih, akhirnya rapat itu selesai. Aku memaksakan otakku untuk menerima semua yang telah melaporkan hasil perkembangan perusahaan, bersamaan di depan direksi lainnya.
Kemudian aku kembali menuju ke ruanganku. Rasanya kepala ini ingin meledak.
Aku mengambil napasku, mencoba untuk menenangkan otakku. Menjatuhkan tubuhku pada kursi kerjaku yang empuk lalu meregangkan otot-otot pinggangku. Setelah itu barulah aku memulai kembali, memeriksa data-data surat perjanjian kerja pada proyek-proyek yang sedang berjalan saat ini.
Tak terasa satu jam lebih aku habiskan untuk membaca semuanya. Dan saat aku melirik jam dinding di ruanganku untuk memastikan arah jarum jam itu, mataku seolah memberikan sebuah kilas balik akan kejadian di rumah tadi siang.
Tentang pintu pagar rumah mertuaku yang terdapat beberapa bangkai kelinci. Yang jika dilihat oleh mata telanjaang, bangkai itu pastilah kiriman dari orang-orang yang membenci kami. Tapi siapa? Apa itu ulah Dana?
Ya, ada kemungkinan yang melakukan ini memanglah Dana, sebab ia masih bebas berkeliaran di luar sana. Dan hanya dia yang pantas menjadi tertuduh dalam kasus ini. Tapi mengapa dia setega ini? Apa benar hanya obsesi?
Rasanya tidak mungkin ini adalah sebuah obsesi. Ditambah lagi dengan suara penelepon wanita yang juga mengatakan hal serupa tentang kelinci. Ya, telepon wanita tadi. Astaga! Aku hampir melupakan itu! Lalu siapa wanita tadi? Mengapa menghubungiku?
Aku mengembuskan napasku dengan perlahan kemudian memutuskan untuk segera memilih pulang. Aku yakin, sepulangnya ini aku pasti akan beradu mulut lagi dengan Tika. Sebab dia menjadi lebih sensitif saat ini.
Kring kring kring!
Telepon interkom di atas mejaku berbunyi, aku mengangkatnya. Ternyata dari bagian keuangan perusahaan. Mereka mengatakan jika beberapa waktu yang lalu, pak Hardi mendatangi mereka dan meminta untuk pencairan sejumlah dana.
"Ya sudah. Kalian jalankan saja tugas kalian." Aku tetap berusaha mengontrol suaraku agar tetap tenang.
Begitu sambungan telepon terputus, sejenak aku kembali berpikir. Lalu secepat kilat aku meraih ponselku, menekan nomer Nadine dan menghubunginya untuk meminta penjelasannya.
Sambil menunggu sambungan teleponku terhubung, aku dengan mengetukkan ujung jemariku pada meja secara bergantian, otakku kembali kupaksa untuk berpikir keras. Bagaimana bisa secepat ini Nadine membuat pak Hardi untuk melakukan penarikan? Masa baru kenal mereka sudah melakukan skidipapap?
"Hallo, Nadine? Lu di mana?" Begitu panggilan teleponku tersambung, aku langsung mencercai wanita itu dengan berbagai pertanyaan hingga akhirnya Nadine menyerah dan mengatakan di mana keberadaannya saat ini.
Aku tidak memintanya untuk menjelaskan melalui telepon, tapi aku malah berniat untuk mendatanginya. Aku ingin berbicara langsung padanya, face to face, empat mata.
—————
Max POV.
Telah selesai aku melakukan panggilan telepon dengan Reza. Mungkin sekitar satu jam lebih telepon itu berlangsung, entahlah, aku tidak begitu memerhatikan. Sudah aku kisahkan kembali dengannya apa yang terjadi di rumah mamah tadi siang. Banyak saran darinya yang aku dapatkan untuk mengatasi semua itu.
Kemudian aku kembali melangkahkan kakiku menuju tempat duduk di mana Igo duduk. "Mana Tika tadi?" tanyaku padanya.
"Balik ke kamarnya," sahutnya.
Kami lupakan dulu tentang bangkai kelinci itu. Lalu aku dan Igo kembali membahas tentang perusahaan dan beberapa proyek yang sedang berlangsung. Hingga tidak terasa langit kembali berubah dan berganti warna. Semilir angin sejuk kembali menghampiri kami. Satu hari lagi telah berhasil kami semua lewati. Dan entah kejadian apa lagi yang akan kami alami esok hari.
Tepat jam enam sore, semua berakhir. Aku mengajak Igo untuk ikut makan malam bersama di sini. Namun begitu kami hendak memulai makan malam, tiba-tiba saja ponselku berbunyi.
🎶
__ADS_1
My location unknown tryna find a way back home to you again
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
My location unknown tryna find a way back home to you again
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
🎶
Segera kuperiksa nama siapa yang muncul dilayarnya dan hanya angka-angka yang muncul. Aku mengernyitkan alisku, heran. Baru kali ini ada nomer yang tidak dikenal menghubungiku. Namun sudah menjadi kebiasaanku untuk tidak menerima telepon dari nomer yang tidak aku kenali, jadi aku acuhkan panggilan telepon itu. Kutekan tombol silent sementara selama panggilan berlangsung. Lalu kutinggalkan ponsel itu di dalam kamar. Agar tidak mengganggu selama makan malam berlangsung.
Semua berkumpul untuk makan malam bersama malam ini. Begitu pun dengan Haikal yang sejak tadi siang tidak kembali lagi ke rumah sakitnya.
—————
Tika POV.
Aku duduk di atas sofa di salah satu sudut kamarku. Dengan sebuah buku Sherlock Holmes yang hampir selesai aku baca. Setelah berkali-kali acara membacaku terganggu. Kali ini aku memutuskan untuk menyelesaikannya.
Kedua anakku sudah tertidur pulas setelah kuberikan asi kepada mereka. Dan suamiku kini sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Ya, dia datang bertepatan pada saat makan malam. Membuatnya tidak memiliki waktu untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Aku menghela napasku dan mulai membaca buku di tanganku ini. Kata per kata dan kalimat yang terangkai menjadi sebuah klausa yang mampu menghipnotisku. Sejenak aku hanyut ke dalam kisah yang tersaji di dalam buku ini, melupakan beberapa kejadian aneh yang terjadi dalam kehidupan nyataku.
Sudah beberapa menit berlalu, sisa satu lembar terakhir lagi bacaanku, saat ponsel Jefri tiba-tiba berdering.
Aku mencari sumber nada dering itu, sebab Jefri tidak meletakkannya di tempat biasa dia mengisi daya ponselnya. Hingga akhinya aku kembali meninggalkan Holmes-ku lagi dan segera beranjak berdiri untuk mencari ponsel Jefri.
Nada deringnya memang tidak terlalu nyaring tetapi jika dibiarkan terus-terusan, aku takut akan membuat si kembar terbangun dari tidurnya. Sudah ke sana kemari aku mencari benda terkutuk itu, tapi tetap saja berbunyi. Astaga!
"Kenapa, Sayang?" tegur Jefri yang membuatku sontak terpekik kaget.
Aku menoleh padanya yang berdiri di ambang pintu kamar mandi. Lengkap dengan handuk yang melingkar pada pinggangnya dan sebuah handuk lagi yang ia kenakan untuk menggosok bagian rambut di kepalanya.
"Hape kamu di mana sih? Itu bunyi mulu," ucapku pelan seiring dengan berhentinya nada dering dari ponselnya.
"Oh!! Sorry." Jefri langsung melangkah ke sofa tunggal yang tadi aku duduki. Mengambil jasnya yang tersangkut di sana lalu merogoh saku bagian dalam jas itu.
Walla!! Dia mendapatkan ponselnya dari dalam sana. Yang mana artinya sejak tadi benda itu sangat dekat dengan telingaku. Sialan! Aku merutuki diriku sendiri karena ketidakpekaanku.
"Siapa sih yang nelpon malam begini?" sewotku sambil berlalu duduk di sofa itu dan meraih buku detektif yang tadi sempat kulepaskan.
Aku merasa heran dengannya. Tidak seperti biasanya dia meletakkan ponselnya di dalam jasnya ketika sudah sampai di rumah. Lalu yang lebih anehnya lagi, setelah melihat layar ponselnya, raut wajahnya terlihat sedikit terkejut kemudian kembali seperti biasanya. Dia juga tidak menjawab pertanyaanku, malah berbalik lalu melangkah menuju kamar lemari baju. Aneh ...
Setelah aku selesai membaca novel Sherlock Holmes itu, perasaanku seakan lega. Namun pikiranku tentang keanehan suamiku tetap saja memenuhi ruang dalam otakku.
Lalu tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi, ia yang tadinya masih di dalam kamar lemari baju kini segera keluar untuk meraih ponselnya. Yang ternyata tadi ia letakkan di atas buffet televisi. Dan lagi-lagi aku melihat gerak-gerik anehnya. Ia tidak menerima panggilan telepon itu melainkan menekan mode senyap pada ponselnya.
"Siapa sih? Kok gak diangkat teleponnya?" Aku semakin mencurigainya.
"Aku juga gak tahu telepon dari siapa. Aku gak pernah simpan nomer ini." Dia membela dirinya sendiri.
Aku hanya menatapinya sambil menarik napas panjang. Lalu beranjak dari dudukku menuju tempat tidur. Mungkin sebaiknya aku segera tidur agar pikiranku tidak menjadi lebih curiga lagi pada suami sendiri.
Bersambung ...
__ADS_1