
Still Jefri POV.
"Mending lu yang ngalah deh, Lex!" saranku sambil berdiri mematikan putung rokok lalu meraih secangkir black Coffee milikku dan menyeruputnya.
"Trus kalo gua hubungin, gua harus ngomong apa?" sanggah Alex.
"Ya suruh dia cepet pulang ke sini. Trus baru di omongin." Aku duduk disamping Tika, lalu meletakkan kembali cangkir minumku.
Alex terlihat berpikir keras. Mencoba memikirkan bagaimana saran kami. Tika menoleh kilas padaku lalu kembali menatap Alex.
"Bentar deh, gua ambil handphone gua dulu," ucap Tika yang berdiri lalu berjalan menuju kamar tidur kami untuk mengambil ponselnya.
"Lex, selain itu lu sama Lisa gak ada masalah lain kan?" tanyaku pelan.
"Gak ada sih," jawab Alex seolah berpikir.
"Lu gak ada bikin Lisa sakit hati kan?"
"Astaga, Jeff! Lu pikir gua yang nyakitin dia? Sekarang ini gua yang ngerasa disakiti," lirihnya sambil bersemangat.
Aku menggerdikkan kedua bahuku, tanda tidak setuju dengan pernyataan yang Alex berikan. Cukup lama kami saling terdiam. Ku ambil kembali sebatang rokok dan menyulutnya. Begitu pula dengan Alex, kembali menikmati sebatang rokok yang disediakan.
"Handphonenya nggak aktif," ucap Tika saat kembali bergabung dengan kami sambil menekan-nekan layar ponselnya.
"Tuh kan, gimana gua mau ngomong kalo--"
"Kalo lu beneran sayang sama Lisa, gak akan ada alasan apa pun," sahutku memotong pembicaraan Alex.
"Sialan lu, Jeff!!" umpat Alex.
Aku tertawa cekikikan. Tika hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Setelah beberapa jam Alex dirumah dan bercerita, ia akhirnya berpamitan untuk pulang, setelah ku katakan jika aku dan Tika akan kembali ke rumah sakit lagi.
Alex tidak tersinggung, bahkan ia dapat mengerti. Kami juga menyarankan Alex untuk kembali berkunjung kesini dilain hari.
"Sebelumnya, Alex pernah gitu?" lirih Tika saat kami melambaikan tangan pada Alex yang sudah dibalik setir mobilnya.
"Enggak pernah. Dia playboy, mana mungkin bisa galau," sahutku.
"Lebih playboy kamu!!" tegas Tika sambil berbalik dan pergi, masuk ke dalam rumah meninggalkan aku yang terheran-heran dengan sahutannya.
Aku mengejarnya setelah sepersekian detik terpaku, "Sayang!! Kepala kamu masih sakit?"
"Udah mendingan. Yuk siap-siap ke rumah sakit." Tanpa menoleh, Tika terus saja berjalan menaiki tangga menuju kamar kami.
Setelah selesai bersiap kami segera menuju rumah sakit. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aku dan Tika mengendarai mobil dengan santai. Sambil berbincang, membahas tentang Alex dan Lisa.
"Lisa emang udah lama gak ada kabar. Terakhir waktu dia nyampe di Inggris," cerita Tika.
"Beneran gak ada hubungin kamu lagi?" tanyaku.
"Gak ada, yang! Aku pikir tuh mereka baik-baik aja berdua."
"Iya sih, aku pikir juga gitu. Lagian aku belum pernah liat Alex seserius itu sama cewek. Ya walaupun mereka di comblangin," sahutku.
"Tadi aku sempet kirim chat WhatsApp, nanyain kabar dia, tapi kayaknya belum terkirim deh!"
__ADS_1
"Hmm." dehamku.
Kami sama-sama terhanyut dalam pemikiran kami masing-masing hingga akhirnya kami sampai di rumah sakit. Ku parkirkan mobilku di parkiran outdoor. Kami turun kemudian langsung berjalan menuju ke ruang inap dimana Papa di rawat.
Baru ku buka perlahan pintu kamar Papa, mataku langsung mengarah pada Papa yang tertidur lelap. Tika berjalan dibelakang mengikuti langkahku. Nita dan Jordy pun juga sudah terlelap dikasur tipis yang memang disediakan oleh pihak rumah sakit. Sedangkan Mama dan Jerry masih duduk disofa sambil berbincang.
Aku menoleh kilas pada Tika di belakangku, ku raih jemarinya lalu mengajaknya mendekati Mama dan Jerry. Ku suruh ia duduk di sebelah Mama, ia menurutinya.
"Kamu kalo mau pulang gak papa, Jerr. Kasian Nita sama Jordy tuh," ucapku pada Jerry.
"Ga papa, biarin dulu aja. Kalian udah makan? Tadi gua beli nasi goreng," sahut Jerry sambil menunjuk bungkusan di atas meja dengan mulutnya.
Aku hanya menoleh sekilas, lalu kembali melihat Tika, "Kamu mau makan?"
Tika menggelengkan kepalanya. Kemudian ia bersandar pada sandaran sofa. Ku tarik kursi kecil yang ada untuk duduk. Lalu membuka bungkusan nasi itu. Ya, kami lupa makan malam karena tadi ada Alex yang datang.
"Tadi sore Dokter Farhat kesini, katanya mau bicara penting, Dul," info Jerry padaku.
Aku mengangguk sambil membuka staples bungkus nasi goreng yang ada. Tika berdiri, mengambilkan sendok makanku yang berada dimeja satunya dekat washtafel lalu memberikan sendok itu padaku.
"Oh iya, Pak Hardi juga tadi datang," tambah Jerry lagi. Kali ini kalimat yang ia lontarkan terdengar sangat hati-hati.
"Trus ngapain dia??
"Dia nyerahin beberapa dokumen penting, beberapa amplop coklat bersegel juga. Beliau minta dibacain dan dipelajari."
Seketika aku menoleh pada Jerry yang refleks juga menghentikan perkataannya. Kami saling menatap, beradu pandang, hingga akihirnya aku menunduk kembali, menyuap nasi goreng ke mulutku.
"Iya nanti aku pelajarin dulu."
Hanya kalimat itu yang mampu aku keluarkan. Aku sudah berpikir puluhan kali tentang perusahaan ini. Prinsipku memang jelas dan aku lakukan. Bahkan berkali-kali aku menolak untuk memegang perusahaan ini. Tapi setelah pembahasanku dengan istriku, dan mengetahui kondisinya yang sedang hamil, membuat prinsipku menjadi goyah.
Apalagi dengan kondisi hamilnya sekarang. Aku menginginkannya untuk berhenti bekerja, menjaga kandungannya dan bersantai dirumah, hingga akhirnya bayi kami lahir.
Namun dengan kondisi keuanganku yang seperti ini, kemungkinan akan sulit jika aku bersikeras mempertahankan prinsipku dan tetap bekerja di perusahaan orang lain. Belum lagi kondisi Papa yang memang butuh waktu lama untuk recovery. Dan selama jangka waktu itu, tidak adil rasanya jika aku tetap egois.
Tidak memikirkan kesehatan Papa, Tika serta calon bayiku. Belum lagi kesehatan Mama yang harus selalu fit untuk menjaga Papa. Untuk menemani Papa dalam masa recovery.
Aku harus memikirkan orang disekitarku. Aku harus meruntuhkan prinsipku yang terdengar sangat egois itu untuk mereka. Pikirku.
"Yang... Sayang!!"
Suara Tika membuyarkan lamunanku. Aku menoleh tersenyum padanya, "Iya, kenapa?"
Tika menatapku tajam, "Kamu denger gak Mama tadi bilang apa ke kamu?"
"Ngomong apa, Ma?" tanyaku yang lalu menatap wajah Mama.
"Ga papa, kamu selesein dulu aja makannya." Mama berdiri berjalan menuju ranjang Papa, melihat kondisinya.
Aku kembali menatap Jerry dan Tika secara bergantian, yang masih setia duduk disofa.
"Emang tadi Mama ngomong apaan sih?" tanyaku penasaran.
Tika dan Jerry saling menatap kilas, "Mama bilang kamu keliatan kecapean banget," sahut Tika.
"Masa sih?"
__ADS_1
"Iya," Jerry berucap meyakinkan.
"Udah habisin dulu gih makannya," tambah Tika lagi.
Aku mengerdikkan kedua bahuku lalu kembali makan, menghabiskan nasi gorengku.
Malam semakin larut, aku memutuskan untuk keluar dari wilayah rumah sakit setelah makan, hanya untuk menyulut rokok. Sambil memikirkan kembali keputusan yang akan ku ambil.
Aku duduk dipinggiran pembatas parkir, menikmati. Pikiranku melayang, jauh memikirkan masa depanku, masa depan keluargaku, masa depan perusahaan Papa dan seluruh karyawan yang ada disana.
"Hei ...."
Aku menoleh, ternyata suara Jerry, "Kok kesini? Tika udah tidur?"
"Enggak, dia sama Mama lagi ngobrol tadi, sambil jagain Papa," sahut Jerry yang kemudian duduk disampingku.
Jerry menyenggol lenganku, "Apa?" tanyaku.
"Minta rokok."
"Sejak kapan kamu ngerokok?" protesku sambil menyodorkan bungkus rokokku padanya.
"Udah lama, tapi kalo lagi stress ya kagak," sahutnya sambil menyulut rokoknya lalu memngembalikan lagi bungkus rokok itu padaku.
"Berarti sekarang lagi stress?"
"Enggak juga sih!" ralatnya, "eh itu beneran kamu mau ngurusin perusahaan Papa?"
"Iya, kalo bukan aku siapa lagi? Kamu? Mau kamu resign?" tanyaku.
"Ya enggaklah! Gila aja."
"Tapi kamu ntar bantuin ya?" pintaku.
"Bantuin apa?"
"Ya bantuin mikirnya!"
"Dikit-dikit aku bantuin, gak bisa bantuin semua."
"Iya ga papa, yang penting aku bisa konsultasi," pintaku lagi.
Jerry mengangguk pasti. Aku jadi semakin yakin dan menetapkan keputusanku untuk mengambil alih perusahaan Papa dan mengelolanya.
Semoga ini pilihan terbaik. Batinku.
------------------------------
Hai para readers!!!
Happy new years semuanya 🥳
Terimakasih untuk kalian yang terus mendukung aku untuk berkarya.
Bagiku kalian sangat berharga 😘
Sekali lagi terimakasih banyak 💋
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan bagikan cerita ini kepada orang-orang di sekeliling kalian.
#salamsayangbucin 💃