Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 59


__ADS_3

Still Tika POV.


"Iya, udah aku terima. Makasih. Udah kan? Bye!" sahutku dengan ketus. Dengan segera ku matikan sambungan telepon itu.


'Andai aja gak pake unknown number, pasti sudah ku block,' pikirku.


Ya, tadi adalah Dana. Ia yang mengirimkan sepasang sepatu kerja bermerk terkenal. Entah mengapa ia mengirimkan itu. Aku langsung memundurkan kursi kerja ku lalu memperhatikan sepatu kerja ku. Baik-baik saja, tidak lecet, tidak rusak, semua masih terjaga dan masih bagus dilihat walaupun sudah setahun lebih ku gunakan.


Pikiranku langsung kacau seketika. Ku hembuskan napasku berkali-kali. Mood-ku hancur pagi ini. 'Seakan tiada bosannya dia mengganggu hidupku!' batinku.


Ku raih kembali box sepatu itu, ku buka kemudian ku ambil sepasang sepatu di dalamnya. Wangi harum aroma yang tercium begitu box itu dibuka. Aku berdiri, berjalan ke arah tangga sambil menenteng sepatu itu di tangan kananku. Menuruni tangga perlahan, berniat menuju meja receptionist dan memberikan sepatu itu pada Rossi.


"Ross, kaki lu ukuran berapa?" tanyaku tanpa basa-basi sesaat setelah sampai di meja receptionist.


Dengan raut wajah yang bingung, Rossi berkata, "Tiga sembilan, Mba. Memang kenapa?"


"Nih, buat lu. Di pake ya, awas kalo enggak." Ku berikan sepasang sepatu itu pada Rossi, dengan menaruhnya di atas meja. Kemudian tanpa mendengar jawabannya, aku langsung berbalik badan, hendak kembali menuju meja kerjaku.


"Yakin ini, Mbak?" seru Rossi sekali lagi.


"Iya, kalo gak cukup juga, kasih ke yang lain aja!" sahutku sambil melangkah menaiki tangga dan kembali ke meja kerjaku.


Ku tarik napas dalam-dalam, kemudian ku hembuskan. Ku ulangi itu berkali-kali setelah aku menduduki kursiku lagi. Mencoba memfokuskan kembali pikiranku. Rasa kesalku masih ada, hingga rasanya aku tidak mampu berpikir untuk bersikap baik lagi.


"Lu kenapa, Tik?" tanya Metta yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.


Aku terkejut melihatnya. Dengan secangkir minuman di tangannya. Masih terlihat jelas kupulan asap dari panasnya air yang ada didalam cangkir itu.


"Lu ngagetin gua deh, Met! Untung gua gak spot jantung," sewotku.


Metta tertawa terbahak-bahak sambil mengaduk isi cangkir itu dengan sendok kecilnya. Kemudian menaruh cangkirnya diatas meja kerjaku, tangan kanannya langsung dengan gesit meraih kursi kerjanya, kemudian duduk di dekatku.


"Ada apaan sih? Lu sampe bisa kaget begitu, biasanya juga santai," tanya Metta lagi.


"Ini nih, si penghancur mood gua!" sahutku yang meraih box pembungkus sepatu tadi kemudian melempar box-nya ke tong sampah. Aku memang rada kesal. Kalimat yang di katakan lelaki itu tadi di telepon sungguh mampu membuat mood-ku hancur dan membuat emosi.


Metta langsung menyodorkan secangkir minuman yang dibuatnya tadi untukku. "Minum dulu nih. Biar agak tenangan dikit. Bumil gak boleh ngomel-ngomel, gak baik." Metta setiap hari selalu saja mengingatkanku, jika aku sedang hamil dan tidak baik jika melakukan hal-hal yang dianggap kurang baik.


Aku menatapnya, Metta tersenyum kecil. "Makasih ya, elu selalu aja bisa nenangin mood gua," ucapku dengan tangan kanan yang sudah meraih secangkir kopi hitam itu lalu menyeruput dengan perlahan.


"Enak juga kalo dibikinin kopi begini tiap pagi."


"Sialan lu!!" Metta mengerucutkan ujung mulutnya hingga membuatku tertawa sekali lagi.

__ADS_1


"Ada apaan sih? Siapa yang ngasih box tadi pagi-pagi? Trus kemana isinya? Lu dikasih prank kotak kosong gitu?" cerca Metta padaku dengan beberapa pertanyaan terlontar bebas, terucap dari bibir kecil miliknya.


Aku menghembuskan napas lagi, "Ini nih si Dana, inget gak? Ngirimin sepatu, besok-besok pasti ngirimin yang lain lagi."


Aku memang sudah terlanjur untuk terlalu kesal padanya. Sebab aku masih ingat betul, saat terakhir bertemu dengannya di villa-nya saat di Bali waktu itu. Sudah sangat jelas aku katakan, bahwa aku sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya. Bahkan aku sudah menikah!


"Ya, namanya cinta buta tuh ya gitu. Mana mikir dia kalo lu udah nikah kek, udah punya anak kek, bodo amat kalo dipikirnya," sahut Metta semangat.


"Trus tadi nelpon, bilang cinta cinta cinta ... Aish!!!"


Metta tertawa terbahak-bahak, "Trus itu sepatunya mana? Kok kosong kotaknya?"


"Udah gua kasihin ke Rossi."


"Ooh ... Ya udah, kalo lagi hamil jangan terlalu kesel sama orang lain, ntar muka anak lu mirip sama muka orang yang lu keselin itu."


"Iihh ogah!!"


Metta tertawa kemudian berdiri, "Ya udah, hati-hati aja," ucapnya sambil berlalu, kembali melangkah pergi meninggalkanku, bukan untuk kembali pada mejanya. Tapi untuk kembali menuju pantries, sepertinya.


Sedangkan aku masih duduk disini, sambil sesekali menghirup kopi buatan Metta tadi, yang ia berikan padaku. Mencoba untuk kembali fokus pada pekerjaan ku lagi.


Siang harinya ...


Setelah kepergiannya saat itu ke Inggris bersama Alex untuk lamaran. Lisa seakan hilang ditelan bumi. Tak ada telepon yang ia berikan padaku, bahkan pesan singkat pun juga tak ada.


Hingga akhirnya minggu lalu Alex datang ke rumah, menceritakan tentang hubungannya dengan Lisa. Saat itu aku kaget, jujur saja. Aku tahu betul bagaimana Lisa, rasanya sudah tidak mungkin jika ia kembali pada kehidupannya yang lalu. Kehidupan yang terlalu berani dan terlalu bebas. Kehidupan yang ku yakini itu bukanlah hidup Lisa yang aku kenal.


Aku sudah menunggu Lisa untuk menjemputku. Benar saja, baru dua menit aku berdiri di depan pintu kantor, Lisa datang. Dengan mobil bermerk Mercedes Benz AMG GT berwarna kuning mengkilat. Ia membukakan kaca mobilnya untukku, agar memberitahukan ku bahwa benar itu dia di dalamnya. Aku sempat terkejut!



"Ayo!!" serunya dari dalam mobil, melalui kaca jendela yang terbuka.


Aku segera sadar dari keterkaguman ku padanya. Kemudian segera memasuki mobilnya. Wangi aroma ciri khas dari mobil ini pun, semerbak. Memasuki rongga hidungku hingga terasa sesak di dadaku. 'Sungguh ini mobil baru!' batinku.


"Mobil siapa nih?" tanyaku tanpa basa-basi.


Ya, aku dan Lisa memang seperti ini. Kami tidak suka basa-basi, kami selalu blak-blakkan. Entah itu dalam bicara ataupun bersikap. Karena kami sudah menjalin tali persahabatan ini sudah lama. Sangat lama, bahkan sampai Mamah ku juga sudah menganggapnya sebagai anak. Bukan tanpa alasan, tapi memang karena keluarga Lisa dekat dengan keluargaku. Bahkan saat ini banyak collega Max di luar negeri yang ternyata keluarga Lisa juga.


"Mobil gua lah. Masa punya orang!" jawabnya santai.


Aku langsung menoleh padanya, menatapnya tajam. Lisa menyadari jika aku sedang menatapnya sekarang, dia salah tingkah.

__ADS_1


"Ke-kenapa sih? Kok ngeliatinnya gitu amat?" jawabnya gugup sambil sesekali menoleh padaku kilas, kemudian kembali terfokus pada jalanan didepannya.


"Punya lu? Bukan pinjem?" tanyaku lagi memastikan.


"Iya punya gua. Baru beli. Di beliin. Ayo tanya apa lagi?"


"Siapa yang beliin lu mobil hedon begini??"


"Adaa ... Makanya kita makan dulu, ntar gua ceritain. Lu mau makan apa??" tanyanya yang masih sambil terfokus pada setir mobilnya.


"Terserah lu aja mau makan apa. Kan kata lu tadi pagi, lu yang mau bayarin gua makan siang kali ini?"


"Oke klo gitu. Karena lu pake baju kantor, rapi, formal, jadi kita makannya di tempat yang sesuai," jawabnya cuek.


Aku hanya mengangguk. Tidak lagi aku mengajukan pertanyaan apapun, aku sibuk memperhatikan pemandangan di luar sana. Dengan pikiran yang melayang entah kemana.


Sesaat terlintas akan masa lalu Lisa yang membuatnya kuat hingga sekarang. Ditinggalkan kedua orangtuanya bukanlah hal yang mudah. Apa lagi jika sebabnya adalah kecelakaan. Bukan sakit seperti Papahku.


Sesekali ku lirik Lisa yang duduk di sebelahku, yang terus fokus mengendarai mobilnya. Penampilannya kini berubah. Terlihat seperti seorang karyawan perusahaan besar.


Pakaiannya juga formal. Kemeja satin berwarna peach yang bertekstur lembut, seperti tissu yang sangat cocok ditubuhnya. Dipadukan dengan rok span berwarna baby brown, yang membuat lingkar pinggangnya semakin terlihat jelas. Membentuk lekukan tubuhnya. Ditangannya kirinya terbelit sebuah jam bermerk Alexander Christie keluaran terbaru. Kemudian di tangan kanannya ada sepasang gelang bermerk Cartier berwarna gold, serasi dengan warna jam tangannya tadi. Oh iya, Lisa juga menggunakan sepasang sepatu bermerk Jimmy Choo berwarna senada dengan rok spannya, baby brown.


Aku sungguh takjub melihat penampilannya kali ini. Kemudian entah mengapa aku penasaran dengan tas yang di gunakannya, perlahan aku menolehkan kepalaku pada kursi belakang. Yap gotcha!!! Tas merk Chanel seri Lambskin berwarna hitam bertengger manis disana. Kini lengkaplah sudah, dengan seketika semua yang menempel pada tubuhnya menjadi sangat bermerk, sangat mahal dan sangat bernilai tentunya.


Akhirnya kami memasuki sebuah gedung restoran ternama. Ya, dulu aku memang pernah makan disini. Sekali makan siang, saat Jefri membawaku untuk bertemu dengan kedua orangtuanya. Setelah ia melamarku.


Lisa memarkir mobilnya dengan lihai. Kemudian mengambil tasnya, lalu mengeluarkan lipstick dari dalam sana, menurunkan cermin yang ada di mobil dan memoleskan lipstick itu di bibirnya. Aku memperhatikannya.


"Sejak kapan lu jadi centil begini?" tegurku yang tidak tahan melihat perubahannya.


Lisa terkekeh mendengar pertanyaanku. "Emang elu aja yang boleh dandan cantik?"


Aku mengernyitkan alis, mendengar jawabannya, "Hah?"


"Udah udah, ayo turun, gua udah kelaperan!"


Bersambung ....


----------


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yah 😘


#salambucin💋

__ADS_1


__ADS_2