Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 133


__ADS_3

Happy reading ...


Stay safe, di rumah aja ya 😘


—————


Haikal POV.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore saat aku selesai mengecek data di dalam ruangan UGD. Lalu memeriksa kondisi Tika yang semakin lama semakin memburuk. Yang disebabkan oleh luka bekas tempat timah panas bersarang di tubuhnya.


Setiap beberapa jam perban harus terus diganti. Dan hal itu mulai terjadi setelah beberapa jam Tika mengonsumsi makanannya serta meminum obat tablet yang pihak rumah sakit berikan. Membuat aku harus turun tangan untuk memeriksanya sendiri.


Di saat aku sedang memeriksa keadaannya dan mengganti perban yang meliliti tubuhnya, tiba-tiba ponsel Jefri berbunyi. Lalu ia segera menerima panggilan telepon itu tanpa beranjak dari hadapan Tika.


Diam-diam aku menyembunyikan senyumanku melihat hal itu. Sebab dari sikap Jefri itu terlihat jelas, bahwa ia sangat jujur dan tidak ingin menutupi apapun dari Tika. Dia tidak ingin membuat istrinya menaruh rasa curiga padanya hanya karena sebuah panggilan telepon.


"Siapa?" tanya Tika di saat Jefri sudah kembali memutuskan sambungan teleponnya.


"Papah. Mereka mau ke sini, makanya aku bilang kalo kamu lagi di sini. Mereka kaget liat ruangan tadi malam kosong." Jefri menjelaskan sambil kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.


Aku dan beberapa perawat terus melanjutkan pekerjaan kami sampai selesai. "Kita liat dulu berapa jam perban ini bisa bertahan. Dan untuk sementara kamu minum air putih aja, jangan yang manis-manis."


Tika mengangguk mendengarkan penjelasanku. Lalu tiba-tiba saja ia menyanyakan tentang kedua bayi kembarnya padaku.


"Gimana kondisi anakku?" tanyanya yang masih terduduk tegap dengan selang oksigen yang masih menancap di kedua lubang hidungnya itu.


"Mereka baik-baik aja. Dan masih tetap harus melakukan serangkaian perawatan intensif. Kamu harus cepet sembuh, biar bisa liat dia," ucapku pelan saat duduk di tepi ranjangnya dan mengelus pipinya.


"Nanti aku ke sana trus aku video-in buat kamu." Jefri memberi usul.


"Nah bener, sekarang kamu harus fokus sama kesembuhan kamu. Oke?"


Tika menganggukkan kepalanya lagi dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Seperti itu lah Tika jika sudah berbicara denganku dari hati ke hati. Atau pun dengan Max. Entah apa yang ada dalam hatinya, hingga bisa membuatnya seperti itu pada kami. Aku tidak pernah menanyakannya.


Aku kembali melirik jam tanganku dan mendapati bahwa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore lewat lima belas menit. Aku segera merogoh saku celanaku untuk menghubungi Max, tetapi ia tidak menjawab teleponku.


"Kal, keluarga aku boleh masuk?" tanya Jefri meminta izin padaku.


"Boleh kok, ini udah masuk jam besuk. Tapi maksimal empat orang."


"Makasih. Aku keluar bentar ya?" ucap Jefri yang juga meminta izin pada Tika, yang di jawab dengan sebuah anggukan kepalanya.


Jefri segera pergi berlalu, keluar ruangan untuk menjemput keluarganya. Di saat aku sedang mengirimkan pesan singkat pada Max. Lalu begitu Jefri sudah tidak terlihat lagi, aku kembali mengarahkan pandangan mataku pada adikku. Menatapnya dengan intens.


"Kenapa?" tanyanya.


"Jangan sia-sia kan suami yang begitu. Ingat saat ini kamu sudah menikah dan memiliki anak. Apapun yang terjadi sama kamu, itu tanggung jawab dia. Kamu mau kalo sesuatu terjadi sama kamu ato sama anak kamu, dia yang disalahkan. Kamu mau dia dipojokkan dan dituduh sebagai suami yang gak bertanggung jawab?"


Tika menggelengkan kepalanya dengan cepat dan raut wajahnya yang berubah menjadi ketakutan.


"Ya sudah, pokoknya setiap akan bertindak ingat lagi posisi kamu. Jangan gegabah hanya karena mikirin perasaan kamu sendiri," tambahku lagi.


Tak lama berselang keluarga Jefri datang menghampiri kami. Kedua orangtua Jefri langsung menyapa dan memeluk Tika secara bergantian. Mereka berdua terlihat sehat dan bugar, apa lagi papa-nya. Beliau sudah terlihat jauh lebih sehat dari beberapa bulan yang lalu.


Setelah saling menyapa dan mengobrol sebentar, aku memutuskan untuk undur diri. Dan membiarkan mereka untuk bercengkrama. Lalu aku langsung melangkah pergi menuju parkiran mobilku dan meninggalkan gedung rumah sakit. Aku bergegas pulang ke rumahku untuk bertemu dengan Max. Membicarakan suatu hal yang menurutku sangat penting.


***


Baru saja aku masuk ke dalam rumahku dan melangkah menuju kamar tidurku, untuk mengambil sekotak rokok yang aku simpan dalam laci. Masih baru dan bersegel. Lalu tiba-tiba suara alarm mobil terdengar sampai ke telinga dan dari depan rumahku.


'Pasti itu Max,' batinku.


Aku kemvali melangkah menuju pintu depan dan langsung membukanya, benar saja terlihat dari kejauhan Max sedang turun dari mobilnya lalu membawa sebuah jinjingan putih di tangan kanannya. Dan aku bisa menebak apa yang ia bawa itu. Pasti beberapa camilan dan beberapa botol minuman.

__ADS_1


Itu lah kebiasaan Max jika bertemu denganku. Selalu menganggapku seperti anak-anak yang tidak bisa menyediakan makanan atau minuman saat memintanya datang untuk mengobrol denganku.


"Aku punya beberapa botol minuman di dalam kulkas," seruku saat Max sudah mulai mendekat.


"Ya ya ya, tapi sudah berapa bulan itu bertengger di sana? Kamu aja jarang pulang." Ucapan Max itu terdengar menohok di telingaku. Tapi juga ada benarnya. Aku mencibir setelah ia berlalu dari hadapanku. Ingin sekali rasanya aku melemparkan sebungkus kotak rokokku ini ke kepalanya.


Aku langsung menutup pintu dan memasang gerendel pintunya lalu mengikutinya berjalan, melangkah menuju beranda di samping rumahku. Tempat favorite kedua ku dari rumah ini setelah tempat tidurku sendiri.


Max langsung meletakkan jinjingan yang ia bawa tadi di atas meja lalu mengambil sekaleng minuman bir dari dalam sana. Aku memerhatikannya yang membuka kaleng itu lalu meminum isinya sambil menarik sebuah kursi.


Jika Max sudah meminum bir, itu artinya pikirannya sedang kalut. Lalu apa aku harus mencercanya dengan semua pertanyaan yang ada dalam otakku??


Aku menghela napasku saat melihatnya yang berhasil menghabiskan sekaleng bir dengan sekali angkat. Sambil aku membuka bungkus kotak rokokku dan mengambil sebatang untuk menyulutnya. Menyelipkan di sela bibirku dan menikmatinya.


"Kamu mau ngomongin apaan?" ucap Max memecah keheningan di antara kami.


Aku menyandarkan bokongku pada pagar kayu yang mengelilingi beranda ini. Lalu mengembuskan asap rokokku dan menoleh padanya.


"Sebelum aku bicara, kamu yang kayaknya ada masalah. Gak mau cerita lebih dulu?" godaku dengan sengaja.


Ia mengernyitkan sebelah alisnya lalu menatapku. Dan menggerakkan tangannya yang seolah memberikan isyarat padaku untuk membagi rokokku padanya. Kulemparkan bungkus rokok itu ke atas meja, beserta dengan pemantiknya.


"Masalah yang aku alami gak terlalu penting," ucapnya sambil menyulut rokok yang sudah terselip pada bibirnya.


"Kalo gak penting, gak mungkin sampe beli bir segini banyak," tebakku tegas padanya lalu menarik kursi di sampingnya dan menjatuhkan bokongku di sana.


Max menoleh menatapku lalu kembali memerhatikan batang rokok yang sekarang ada di tangannya. "Gua belum tidur dari kemaren. Jadi ini cuman kebutuhan," sanggahnya.


Aku menggelengkan kepalaku lalu berkata, "Gak sehat, Max."


"Rokok juga gak sehat!"


"Oke fine! Kenapa kita jadi berdebat sih?!" Aku akhirnya meninggikan suaraku. Lalu mengambil minuman soda dari dalam bungkusan yang ia bawa tadi. Dan meminumnya.


"Aku cuman mau nanya sesuatu sama kamu." Aku menarik napasku lalu mengembuskannya, berkali-kali aku ulangi sambil menikmati rokokku.


Dengan sulit aku meneguk saliva-ku untuk memberanikan diri, mengeluarkan pertanyaan yang ada di otakku melalui mulutku ini. "Kamu ada hubungan apa sama Lisa?" Akhirnya kalimat itu berhasil aku ucapkan pada kakakku ini.


Aku tahu, pertanyaan ini seharusnya tidak aku lontarkan. Sebab Max sangat tidak suka jika ada orang yang mencoba ikut campur dalam kehidupan pribadinya. Kecuali ia memang meminta bantuan pada orang lain. Dan itu hal lain baginya.


Seketika aku melihat raut wajah Max yang berubah, bukan marah ataupun geram karena emosi, melainkan raut wajahnya yang kebingungan. Terlihat seperti salah tingkah. Layaknya seorang anak kecil yang sudah ketahuan menyontek jawaban temannya.


Semua itu dapat aku lihat dengan sangat jelas.


"Maksud kamu apaan?" jawab Max dengan terbata, gugup.


Sekali lagi aku menatapnya dengan cermat, tapi sayangnya Max mengalihkan pandangan matanya padaku. Menyembunyikan bola matanya dari tatapanku.


"Jangan pura-pura gak paham. Lisa pingsan setelah selesai operasi. Dan dia manggil nama kamu dalam alam bawah sadarnya. Aku yakin Ranti udah ceritain semuanya. Tapi kenapa kamu malah nyuruh bi Mince buat ngeliatin dia? Bukan kamu?" cercaku lancar. Meloloskan kalimat demi kalimat yang bisa saja membuat Max terasa terpojok.


"A—aku ...." Max mulai terbata sempurna.


"Aku gak tahu apa setelah bi Mince datang, Lisa masih nyebutin nama kamu atau enggak. Yang jelas, apa pun yang sudah pernah terjadi antara kalian, selesaikan. Saat ini ada Alex yang begitu mencintainya. 'Kan kamu tahu itu?!" ucapku dan kali ini penuh penekanan.


"Apapun yang terjadi sama kalian berdua, aku gak mau tahu. Dan aku gak akan cari tahu. Yang jelas, selesaikan." Aku menekan rokokku yang sisa sedikit di dalam asbak di atas meja. Lalu berdiri, melangkah masuk ke dalam rumah menuju kamar mandi. Otakku terasa panas sudah mengatakan kalimat seperti itu pada Max.


Dan jika Max hanya terdiam dengan segala ucapanku, tanpa ada sanggahan ataupun sejenisnya, itu artinya benar. Max memang memiliki hubungan dengan Lisa. Entah itu sekarang masih terjalin atau tidak, rasanya aku tidak sanggup untuk memikirkannya.


Aku tinggalkan dia yang masih menikmati rokoknya dan berkaleng-kaleng bir yang ia beli sebelumnya. Aku harus segera mendinginkan otakku.


—————


Max POV.

__ADS_1


Semua perkataan yang keluar dari mulut Haikal terasa menghujam jantungku dengan sekali tusukkan. Tebakannya tepat di tengah sasaran. Hanya karena Lisa yang mengigau menyebutkan namaku.


Dan saat ini aku baru menyadari kecerobohanku. Mengapa aku meminta bi Mince yang memeriksa keadaannya. Benar ujar Haikal, jika saat bi Mince di sana dan Lisa menyebutkan namaku lagi bagaimana? Apa yang harus aku lakukan saat ini?


Aku meremat rambutku dengan tanganku yang bersangga pada ujung lututku. Setelah sebelumnya mematikan rokok yang ku nikmati di dalam asbak yang tersedia di atas meja.


Lagi-lagi aku mengambil sekaleng bir dan kembali menghabiskannya. Napasku yang mulai terasa ngos-ngosan menghampiriku lagi. Aku baru saja merasakan arti ketenangan walaupun sebelumnya aku telah menembak mati lelaki sialan itu.


Tapi mengapa masalah ini seakan tidak pernah kunjung selesai?


Tak lama kemudian Haikal kembali muncul setelah cukup lama aku berdistraksi dengan diriku sendiri. Ia sudah terlihat segar dan kembali rapi.


"Kalo kamu mau tetap di sini, aku titip kunci rumah. Aku mau kembali ke rumah sakit," ucapnya berusaha lembut padaku.


"Aku ikut ke rumah sakit, aku mau bicara sama Lisa," jawabku mantap setelah tiga kaleng bir aku habiskan. Aku harus berbicara padanya.


"Lisa sudah aku tempatkan sekamar dengan Alex. Dan aku juga gak tahu, apa Lisa masih mengigau atau enggak."


Aku menundukkan wajahku, menatap kedua lututku. Lalu perlahan aku menceritakan semuanya pada Haikal. Tentang perasaanku pada Lisa sekitar sebelas tahun yang lalu. Saat wanita itu kehilangan kedua orangtuanya. Di saat pertama kali aku merasa kasihan padanya.


Dan tanpa aku sadari, ternyata rasa kasihan itu bisa berubah menjadi sebuah rasa sayang lalu cinta. Seperti sebuah jalur lingkaran yang sama, berjalan seiring tanpa ada ujung. Selalu berputar. Perbedaannya terlalu tipis.


"Dan aku gak tahu kalau saat ini dia masih—"


"Iya Max. Jika dalam ketidaksadaran seseorang dia menyebutkan sebuah nama, itu artinya orang yang terpenting dalam hidupnya." Haikal menyelaku.


"Sekarang aku tanya sama kamu. Andai Shilla gak ada, apa kamu memilihnya?" Haikal mengajukan sebuah pertanyaan yang menurutku sangat sulit untuk aku jawab.


"Kalau kamu gak tahu jawabannya, itu artinya masih ada keraguan di hati kamu. Jangan kamu kira dengan pengalaman pacaranku yang gak lama, lantas aku gak ngerti tentang cinta," ucapnya lagi.


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya memejamkan mata di balik telapak tanganku yang kini memijat bagian pelipis mataku. Aku semakin kacau.


Setelah perdebatan alotku bersama dengan Haikal, aku tetap bersikeras untuk ikut ke rumah sakit dengannya. Tapi tidak pergi menggunakan mobil masing-masing, melainkan menggunakan mobilku.


Sebab Haikal tidak percaya jika aku masih bisa menyetir dengan benar. Setelah berhasil tidak tidur selama dua puluh empat jam dan menghabiskan tiga kaleng bir.


Dan aku memang sengaja tidak memberitahukan pada Haikal tentang kejadian tadi siang yang aku alami. Biarlah itu menjadi rahasiaku dengan Igo serta beberapa karyawan lainnya di gedung kelam itu.


***


Haikal meminta izinku untuk mampir sebentar ke rumah pacarnya, Clara. Bukan, bukan pacarnya, tapi tunangannya. Untuk memberikan sebuah obat. Sebelum akhirnya kami menuju ke rumah sakit. Dan selama perjalanan itu pula ia menyuruhku untuk memejamkan mata. Mencoba tidur dan beristirahat sejenak. Aku menurutinya.


Sesampainya di parkiran rumah sakit, Haikal membangunkanku. Namun aku malah memintanya untuk meninggalkan aku sendiri di sini. Di dalam mobil ini.


Aku hanya ingin kembali berpikir sejenak. Karena jujur saja, cara kerja logikaku saat ini sangat tidak sejalan dengan cara kerja hatiku.


Dengan keadaan yang sudah kacau ini, aku sadar akan satu hal. Perkataanku kemarin malam saat bertemu dengannya di lorong rumah sakit memang terlalu jahat. Belum lagi setiap kalimat yang aku tuduhkan padanya, begitu tidak beralasan. Iya kan?


Mungkin karena perkataanku itu yang membuatnya berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Dengan kondisi tubuhnya yang seperti itu, seperti kata Dave.


Entahlah.


Semakin aku mencari tahu, rasanya semakin jatuh pula diriku ke dalam perasaan hatiku yang terdalam dan aku tidak menginginkan itu.


Hari semakin cepat berlalu. Kini langit sudah mulai kembali menggelap, setelah sebelumnya melukiskan indahnya sebuah senja pada ufuk timur. Di saat aku keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit.


Aku sempat menatap sebuah meja besar yang berada di tengah lobby, saat aku melangkah melewatinya. Dan tiba-tiba saja langkah kakiku terhenti. Lalu kembali menuju ke bagian depan meja besar itu yang tidak lain adalah meja resepsionis.


"Maaf, boleh tahu di mana kamar pasien atas nama Lalisa Florencia?" Jantungku berdegup kencang saat menanyakan itu. Bagaimanapun juga, mamah pernah berjanji akan menjaganya di saat dulu kedua orantuanya pergi untuk melakukan tugas dari perusahaan yang sekarang aku pegang. Yang kini menjadi tanggung jawabku.


Setelah pegawai rumah sakit itu memberitahukan letak kamar Lisa, aku segera mengucapkan terima kasih dan pergi berlalu dari sana. Langsung melangkah menuju kamar Lisa.


Dari jendela kaca di depan pintu kamar yang Lisa tempati, aku dapat melihatnya terbaring tak berdaya. Dengan ranjang berjarak bersama dengan Alex di sana.

__ADS_1


Kali ini bukan perasaan sakit yang aku rasakan. Aku bahagia, melihat Alex yang memang betul mencintainya. Bukan hanya mencintai tubuhnya seperti lelaki lain. Bukan seperti Dave yang memujanya tapi tega melakukan perbuatan keji. Dan bukan pula seperti Dana yang hanya memanfaatkannya. Dan bukan seperti teman Dana, yang ia temui di Bali yang saling menikmati hanya untuk kesenangan sesaat.


Aku mengurungkan niatku untuk menemuinya. Mungkin suatu hari nanti akan datang sebuah waktu yang tepat. Untuk aku dan Lisa, duduk berdua, membicarakan tentang semua ini. Dari hati ke hati, tapi bukan untuk saling menyakiti, bukan pula untuk saling menangisi. Hanya sekedar untuk mencari sebuah solusi. Agar kami berdua dapat menjalani kehidupan masing-masing yang menanti.


__ADS_2