Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 184


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Haikal POV.


Setelah semua mereda, aku membawa Clara dan ayahnya untuk menunggu di ruanganku. Menunggu bundanya dibersihkan dan siap untuk dibawa pulang. Aku juga sudah menyediakan sebuah ambulance dari rumah sakit ini untuk membawanya.


“Fishel, tolong katakan pada OB untuk segera membuatkan teh hangat dua cangkir dan berikan pada orang yang ada di ruanganku. Sebab aku harus kembali ke ruang operasi,” titahku pada salah satu perawat yang sering membantuku untuk menangani dokumen penting di rumah sakit ini.


“Baik, Dok, biar saya sendiri yang melakukannya.” Dia menawarkan dirinya.


“Ok, terima kasih.” Kemudian aku bergegas pergi dari sana, melangkahkan kaki menuju ke ruang kerja Dokter Brian.


Sesampainya di sana, Dokter Brian tidak ada dalam ruangannya. Kemudian aku berinisiatif untuk mencarinya ke ruang operasi nomer tujuh dan ternyata benar, dia masih berada di sana. Di ruang operasi di mana bunda Clara kehilangan pernapasannya.


“Ah, Dokter Haikal,” sapanya begitu melihatku membuka pintu, “maaf, aku sudah berusaha semampuku. Beliau—”


Aku menepuk pundaknya pelan. “Aku mengerti. Memang beliau melewatkan beberapa kali jadwal periksanya selama beberapa bulan terakhir. Hingga kita tidak bisa memastikan dan melakukan penanganan lebih lanjut.” Aku menghela napas.


“Beliau saat ini sedang dibersihkan. Mungkin membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih.” Dokter Brian menambahkan.


“Sebenarnya aku ke sini memiliki niat lain,” ucapku pelan.


Dokter Brian memandangiku dengan curiga lalu memutar tubuhnya menghadap kepadaku. “Apa itu?” tanyanya penasaran.


Aku ikut memutar tubuhku dan membalas untuk menghadap kepadanya. Menatapnya dengan sebuah harapan. “Aku tahu ini seperti bukan diriku dan rasanya tidak pantas jika aku menggunakan posisiku di rumah sakit ini untuk meminta satu perihal padamu.”


“Katakan,” sahutnya.


“Clara, dia mengalami gejala yang serupa. Hanya saja belum terjadi secara terus-menerus. Apa kamu bisa memeriksa dan memprioritaskannya? Aku tahu ini tidak profesional dan seharusnya aku mendaftarkan Clara terlebih dahulu untuk mengikuti konsul—”


“Di mana dia sekarang? Biar aku coba untuk menjelaskan padanya. Aku takut terlambat.” Dokter Brian menyela ucapanku.


Mendengar dia mengatakan itu, aku langsung membawanya menuju ke ruanganku. Di mana Clara dan ayahnya sedang menunggu di sana. Sepanjang kaki kami melangkah, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut kami. Sama-sama bungkam.

__ADS_1


Yang jelas, pikiranku saat ini hanya terfokus pada Clara, pada penyakit serupa dengan bundanya yang dia derita.


Sesampainya di ruanganku, Clara dan ayahnya terkejut dengan kehadiran Dokter Brian yang datang bersamaku. Terlihat jelas gelagat kebingungan dari wajah mereka berdua.


“Maaf, saya baru saja mendengar dari Dokter Haikal, jika Anda juga mengalami hal serupa seperti ibu Anda, apa benar?” Dokter Brian dengan sopan menanyakan itu. Sedangkan aku hanya berdiri terdiam di depan pintu.


Clara memandangiku. “Asma. Aku hanya asma bukan seperti bunda,” ucap Clara tegas yang bergeming menatapku dengan tajam.


“Iya betul, gejala awal memang asma. Namun, jika Anda tidak keberatan, bagaimana jika Anda memeriksakan diri? Karena jika disepelekan saya takut itu akan—” ucap Dokter Brian terputus akibat reaksi yang Clara berikan.


Bluuk!


Clara berdiri dari duduknya lalu melemparkan sebuah mantel yang sebelumnya aku sematkan pada tubuhnya. Untuk menghangatkannya saat dia mengatakan kedinginan.


Tidak hanya Dokter Brian yang terkejut melihat reaksi dari Clara itu, aku dan ayahnya pun sama terkejutnya.


“Bunda baru saja meninggal dan kamu malah menyarankan aku untuk memeriksakan diri saat ini. Kamu mengharapkan aku bernasib serupa sama kayak bunda? Aku sedang berduka!” hardiknya mendadak membuatku terhenyak.


Aku tidak bisa berkata apa-apa saat ini. Tidak menyangka jika dia akan memberikan reaksi seperti ini padaku. Padahal, aku hanya mengkhawatirkan keadaannya, kondisinya untuk di masa mendatang. Hari demi hari yang nantinya akan dia lewati dan itu bersamaku.


“Clara, maksud Haikal itu benar. Tidak ada salahnya kamu memeriksakan diri. Jangan mengambil keputusan bodoh seperti yang bunda kamu lakukan,” tegur ayahnya pelan sembari menyentuh salah satu pergelangan tangan anaknya.


Setelah itu ayah Clara berdiri, meminta maaf pada Dokter Brian atas sikap anaknya, Dokter Brian memaklumi. Kemudian beliau melangkah menghampiriku. Menyentuh pundakku.


“Ayah mengerti maksud dan tujuan kamu. Ayah juga akan melakukan itu jika berada di posisi kamu saat ini. Dan mungkin, Clara tidak memahami itu. Dia sedang dalam kondisi tidak stabil. Bahkan dari tadi dia hanya diam saat ayah mengajaknya mengobrol.” Ayah Clara menjelaskan.


Aku menatap beliau, sama seperti aku menatap papahku 12 tahun yang lalu. Semenjak dengan Clara, aku seakan merasakan kembali memiliki seorang papah. Berkat dirinya pula, aku merasakan hariku yang lebih berwarna. Oleh karena itu, aku lebih memilih untuk tidak mengejarnya. Aku mencoba menghormati ayahnya yang tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja.


“Aku memang salah, Yah. Mungkin seharusnya aku bisa lebih menahan diri lagi. Tidak terburu-buru seperti ini,” lirihku yang diiringi dengan tepukan pelan tangannya pada lengan atasku.


“Sudah, biar ayah yang menenangkannya. Mungkin kamu bisa membantu ayah untuk mengatakan alamat rumah kami pada pihak ambulance, agar mengantarkan bunda ke rumah?” pinta beliau.


Aku mengangguk sembari tersenyum tipis pada beliau. Kemudian beliau berpamitan untuk segera pulang dan mempersiapkan kondisi rumah serta mengabari sanak-saudara atas kematian istrinya.


Helaan napas berkali-kali aku lakukan, setelah kepulangan Clara dan ayahnya. Kemudian aku langsung melangkah menuju kursi kerjaku dan menghempaskan tubuhku di sana.

__ADS_1


“Apa ada ucapanku yang salah tadi?” tanya Dokter Brian pelan sembari duduk pada kursi di depan meja kerjaku ini.


“Gak ada. Semua sudah sesuai prosedur. Aku yang salah, sebab meminta kamu langsung ke sini.”


“Aku yang menanyakan keberadaannya di mana, itu artinya aku yang salah. Aku ingin memastikan dan tidak ingin kejadian terulang,” sungut Dokter Brian.


Tiba-tiba Dokter Ranti kembali datang, langsung masuk ke ruanganku karena pintu ruangan ini memang masih sengaja aku bukakan. “Aku ketemu Clara tadi di depan lift, aku turut berduka, Kal. Tapi dia kenapa terlihat emosi? Gak terima?” tanya Dokter Ranti.


“Kami menyarankan dia untuk periksa lebih lanjut. Takutnya dia mengidap hal serupa seperti ibunya,” tutur Dokter Brian, lalu Dokter Ranti duduk di kursi yang satunya lagi.


Aku mengusap wajahku dengan kasar, tidak sanggup lagi untuk berkata apa-apa. Kemudian Dokter Brian yang menceritakan semua kejadian yang baru saja kami alami tadi.


“Bukannya dulu Clara udah pernah periksa lengkap juga? Inget gak? Waktu ibunya juga masuk rumah sakit karena asmanya.” Dokter Ranti mengingatkan.


“Dan kita gak tahu, apa dia meminum obatnya sampai habis atau tidak. Sebab ibunya saja mangkir dari jadwal periksa beberapa bulan terakhir. Kalau sudah seperti ini, kita tidak bisa mengontrol kondisi tubuh pasien. Sedangkan pengakit asma itu berkembang,” jelas Dokter Brian.


“Tapi masih bisa disembuhkan dong?” tambah Dokter Ranti lagi.


“Bisa, jika gejala tidak meningkat dan pasien mengikuti semua rangkaian pengobatan dan terapi fisik. Dalam catatan, pasien hanya asma biasa, bukan masuk ke dalam kondisi penyakit stenosis.” Dokter Brian terus menjelaskan segala kemungkinan bahkan cara pencegahan serta penanganannya. Sebab yang terjadi pada Clara, dilihat dari riwayatnya, semua ini murni karena genetik.


“Ya kalau pasien membandel, kita sebagai dokter bisa apa? Masa iya kita harus datang ke rumah masyarakat satu per satu buat periksa mereka?” sungut Dokter Ranti.


“Itulah, terkadang sebagian manusia menyepelekan sebuah penyakit. Padahal di rumah sakit kita ini sudah menyediakan sistem konsultasi gratis tanpa biaya. 'Kan tidak semua rumah sakit memiliki kebijakan seperti ini.“ Dokter Brian menyayangkan.


Aku hanya terdiam duduk dan mendengarkan serta menyimak Dokter Brian menjelaskan. Dengan beberapa pertanyaan yang Dokter Ranti lontarkan.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Jika ingin vote silakan ke judul baru ya, The Hand of Death.

__ADS_1


Terima kasih 💋


@bossytika


__ADS_2