Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 22


__ADS_3

Still Tika POV.


"Mah, malam ini aku balik, tapi nginep di rumah Jefri ya? Mamah baik-baik aja kan?" tanyaku saat menelpon Mamah di bandara.


Kami sudah check out dari villa Dana dan sampai kami pergi pun, Dana tidak lagi memperlihatkan batang hidungnya. Tapi supir nya tetap mengantarkan kami ke bandara.


"Iya Mamah baik-baik aja. Landing jam berapa?"


"Jam 8 Mah, ga papa kan aku nginep di rumah Jefri?"


"Ga papa kok, udah lama juga kalian ga nginep disana. Ya udah have a nice flight ya nak!"


"Iya Mah, bye." ku matikan sambungan telepon.


Tak lama setelah itu kami sampai di bandara. Pam supir itu langsung turun membukakan pintu ku. Sedangkan Jefri keluar dari pintu sebelahnya.


"Pak, saya nitip ini buat Bli Amerta ya? Kemarin saya tungguin dia gak muncul, padahal udah janjian. Trus ini buat bapak." ucapku sambil memberikan sebuah amplop coklat.


"Oh iya bu, terimakasih banyak. Semoga nanti ibu dan bapak kembali lagi ke sini. Dan ini juga ada titipan dari Pak Dana untuk ibu. Hati-hati dijalan bu." ucap beliau lalu memberikan sebuah amplop putih padaku.


Ku terima, "Makasih pak ya."


Lalu aku dan Jefri melangkah menuju pintu masuk keberangkatan dan melakukan check-in.


"Maaf Pak, ini tiket atas nama Abdul Jefri sudah di naikkan ke business class." info wanita dibalik counter check-in.


Jefri menatapku, aku mengerdikan kedua bahuku.


"Oh iya, sorry boleh saya tau kenapa bisa gitu? Soalnya saya beli tiket saya terpisah sama tiket istri saya." tanya Jefri heran.


"Iya pak, ada permintaan disini dan biaya pemindahannya sudah dibayarkan juga atas nama Villa Bungalow." info wanita itu lagi.


"Ya udah mbak, tolong diprint aja boarding pass nya. Saya mau ngopi dulu diatas." ucapku mempercepat prosesnya.


"Baik banget dia." lirih Jefri sambil menatapku.


Aku mengerdikkan bahuku sekali lagi. Setelah proses check-in selesai kami segera berjalan menuju gate. Dan duduk di salah satu coffee shop yang ada disekitar sana sambil menunggu.


"Padahal kamu udah kelewat tegas sama dia, tapi dia tetep baik aja." ucap Jefri sambil menyodorkan se-cup black coffee pesanan ku dan duduk.


"Tau deh." jawabku singkat meliriknya lalu kembali mengutik ponselku.


"Kamu ga mau buka amplop yang dia titipin tadi?"


Aku melirik Jefri lagi.


Ya! Aku lupa kalau ada amplop dari Dana.


Tapi tunggu dulu, perut ku terasa mual mencium aroma bakery dari seberang coffee shop.


"Uueeegggg!" mual yang ku tahan dengan mulut tertutup dan tangan yang menekan erat mulutku.


Aku berlari ke arah toilet di coffee shop ini. Ku tinggalkan ponselku di atas meja.


Sesampainya di washtafel, tidak ada yang keluar dari dalam rongga mulut ku, hanya angin. Mata ku agak berair. Kemudian ku basuh mulutku.


Nafasku tersengal.


Ku tatap wajahku yang setengah pucat di cermin.


Kepalaku mulai pusing, namun ku tahan. Ku ambil selembar tissu kemudian ku keringkan mulutku. Begitu selesai aku segera keluar dan kembali ke tempat duduk ku.


"Kamu kenapa? Muntah?" tanya Jefri santai.


"Enggak, kepala ku agak pusing aja. Kecapean mungkin." jawabku asal.


"Mau aku beliin aroma therapy?"


"Gak."


"Ato kamu mau makan nasi? Sarapan tadi cuman buah kan sama omelet? Trus tadi siang waktu di Beachwalk kamu cuman makan kentang." sewotnya.


"Nanti aja dipesawat." jawabku sambil menyeruput kopi ku.


Jefri berdiri lalu duduk di sampingku, tangannya langsung menyentuh jidat ku.


"Anget." ucapnya lalu melirik jam tangannya, "Kamu tunggi disini, aku beliin makan."


Belum sempat ia berdiri dan aku baru membuka mulutku, tiba-tiba dia berucap lagi, "Jangan ngebantah, kamu harus makan! Tunggu disini jangan kemana-mana!" tegasnya lagi.


Kemudian dia berdiri lalu berjalan keluar coffee shop untuk mencarikan ku makanan.


Aku teringat akan amplop yang Dana berikan lewat supirnya tadi. Perlahan ku buka ujung amplop itu, ku intip dalamnya, ada beberapa lipatan kertas. Ku ambil laly ku buka. Ada 2 lembar kertas berlipat. Di dalamnya merupakan tulisan tangan, mungkin tulisan tangan Dana. Entahlah aku lupa.


Ku baca kata demi kata, kalimat bersambung menjadi paragraph. Inti isinya adalah dia yang masih tidak menerima dengan pilihanku. Masih tidak percaya bahwa aku telah menikah. Kekesalan pada dirinya sendiri di masa lalu saat bersamaku dan banyak lagi yang sejenis itu.


Aku menghembuskan nafas ku kasar, berkali-kali, saat aku selesai membaca. Ku simpan kembali surat itu di dalam tas jinjing kami. Kembali ku seruput kopi ku lalu kembali merenung. Ternyata tidak ada gunanya aku panjang lebar bicara dengannya saat itu.


"Nih, makan sekarang." titah Jefri saat datang lalu menyodorkan sebuah kotak makam padaku.


Junkfood. Oke baiklah, batinku.

__ADS_1


Tanpa mengelak lagi aku makan perlahan, ia memperhatikan ku sambil membukakan sebotol air mineral untuk menemani ku makan. Kemudian dia asik memainkan game di ponselnya, sambil sesekali mengawasiku.


"Ga habis.." rengekku, dia menoleh lalu mengecek isi box makan.


"Soup nya abisin!" titahnya.


"Trus ini?" tanyaku menunjuk isi box yang masih ada setengah nasi, ayam dan kentang goreng.


"Nanti aku yang makan." liriknya kilas lalu matanya kembali pada ponselnya.


Aku mengambil cup soup itu dan mulai memakannya perlahan. Perutku terasa hangat, nyaman. Tak berapa lama, Jefri pun mengambil alih box makan ku dan menghabiskan isinya. Lalu ia meminta izinku untuk pergi ke ruangan smoking yang ada di pojokan coffee shop ini.


"Jangan lama ya?" masih dalam raut wajah dan suara yang merengek manja.


"Iya, sebatang aja kok, lagian bentar lagi jam nya kita masuk pesawat." ucapnya sambil berlalu.


Sesampainya di rumahnya, Mama dan Papa nya memyambuy kedatangan kami. Rupanya mereka habis makan bersama, sebab disana juga ada Jerry, Nita dan anak mereka Jordy.


"Ontyyyyyy..." seru Jordy berlari ke arahku meminta aku menggendongnya.


"Kalian sudah makan?" tanya Mama setelah kami selesai bersalaman.


"Udah, tapi lapar lagi." ucap Jefri yang masih berdiri usai memeluk Papanya.


"Ya sudah, ayo makan ke belakang, biar aku siapin." tawar Nita.


"Ga usah, biar aku aja yang siapin." ucapku menyentuh lengan Nita sambil melepaskan dekapanku pada Jordy.


"Udah-udah kalian disini aja, biar Mama yang siapin." titah Mama berdiri lalu segefa menuju dapur.


Jefri dan Papa mengikuti di belakang sambil membahas tentang rumah kami. Sedangkan aku, Nita dan Jerry asik berbincang-bincang sambil memperhatikan Jordy bermain.


--------------------------


Jefri POV.


"Jadi minggu depan aku sama Tika udah bisa tinggal disana Pa?" tanyaku memastikan.


"Udah, udah bisa kok. Kalian tinggal beli beberapa isi dapur aja lagi, paling sama tanaman karena Papa liat Tika seneng hijau, tanaman hidup, iya kan?"


"Iya Pa, ntar deh, gampang klo masalah itu. Soalnya besok aku mesti kerja rodi. Kerjaan aku masih banyak yang ke pending gegara cuti belum lagi 2 hari ini izin, bisa-bisa aku lembur terus ini sampai akhir bulan." cercaku.


"Papa mau dibikinin teh?" tawar Mama.


"Iya boleh Ma, tapi di cangkir kecil aja."


Mama segera kembali ke dapur setelah makanan untuk ku selesai di hidangkan. Aku pun segera melayani diri ku sendiri untuk makan.


"Pa, aku boleh nanya sesuatu? Mumpung inget.." ucapku.


"Papa nemuin Paula kan di rumah sakit sebelum dia keluar? Apa yang Papa bicarain sama dia?" sambil makan aku sesekali menoleh padanya.


"Oh itu, Haikal yang cerita?"


"Iya, udah lama sih ceritanya, tapi aku baru inget nya sekarang." sambil celingak celinguk, "Dan Tika belum tau tentang ini." lanjutku lagi.


Papa melakukan hal yang sama, celingak celinguk, "Dan Mama kamu juga gak tau ini. Nanti aja kita bicarain." ucap Papa di akhir kalimat cepat karena Mama muncul dari dapur memberikan pada Papa secangkir teh hangat.


"Mama ke depan dulu ya? Papa temenin Dul makan." perintah Mama.


Papa hanya mengangguk mantap kemudian Mamah berlalu pergi.


"Bicara apa Papa sama dia?" cercaku lagi.


"Papa cuman mau liat, jadi dia wanita yang sudah kamu pacari sejak lama tapi gak pernah kamu kenalkan?"


"Paa, Tika istri aku sekarang." tegasku singkat.


"Papa tau, maksud Papa, kok mau mau nya kamu bertahun-tahun terjebak disana. Dari cara dia bicara sama Papa aja, Papa udah ga respect."


"Iya terus Papa bahas apa sama dia? Trus aku denger Papa juga bayarin sebagian biaya rumah sakitnya, bener?"


"Papa cuman bikin kesepakatan sama dia."


"Apa?" tanyaku berhenti mengunyah.


"Jangan ganggu kalian berdua, sebagai imbalan Papa bayarkan sebagian biaya rumah sakit anak nya dan Papa beli rumah yang dijual oleh ibunya." jawab Papa santai.


"Jadi Papa yang beli rumahnya?"


"Iya, tapi atas nama Nita."


"Nita tau masalah ini?" tanyaku lagi tidak percaya.


"Nita ga tau, Papa pinjam nama dia biar aman. Aman dari pajak. Itu aja kok. Sisa nya sekretaris Papa yang urus."


"Mesti nya Papa ga usah ngelakuin semua itu. Aku bisa ngurus masalah aku sendiri. Kesannya aku jadi pria yang gak gentlemen."


"Papa yakin kamu bisa. Tapi apa kamu berani jamin cara kamu itu gak bakalan bikin istri kamu nangis?"


Aku tercekat dengan kalimat menohok Papa. Yah berkali-kali aku juga sudah membuat istri ku menangis gara-gara itu. Akhir-akhir ini dia memang sering menangis, entahlah, aku tidak mengerti.

__ADS_1


Aku melanjutkan makan malam ku dalam diam bersama Papa. Hingga aku selesai makan. Ku teguk beberapa tetesan air minumku di gelas kaca.


"Dul, Papa rasa udah saatnya kamu ambil alih perusahaan Papa. Papa udah merasa lumayan lelah untuk mengatur jadwal. Papa ingin istirahat di rumah dengan Mama mu dan Jordy." ucap Papa tiba-tiba dengan pandangan matanya yang kosong menatap cangkir teh didepannya.


Ku letakkan gelas minumku, "Pa, aku belum siap jadi pemimpin." lirihku.


"Kamu hanya terbiasa menjadi karyawan. Dan itu sudah terlalu lama Papa biarkan." ucap Papa lagi, kali ini sambil membalas tatapan mata ku.


"Aku masih harus banyak belajar Pa. Lagi pula...."


"Mau sampai kapan kamu gunakan alasan belajar kamu itu buat jadi karyawan diperusahaan orang? Lebih baik kamu mulai belajar di perusahaan sendiri. Jadi Papa bisa tenang kalau kamu yang memegang perusahaan." tambah Papa lagi.


Kali ini aku benar-benar tersudutkan. Dan ku lihat ada sedikit amarah yang Papa luapkan padaku.


"Mau sampai kapan kamu ingin dipandang sebelah mata oleh orang lain? Kamu malu jadi bagian dari keluarga ini?" Papa agak meninggikan suaranya.


"Bukan gitu Pa maksud aku. Aku cuman mau mandiri, berdiri di kaki aku sendiri tanpa embel-embel nama Papa. That's it!" jelasku.


"Trus apa kamu malu mengakui Papa sebagai orangtua kamu?"


"Kok Papa jadi ngomong gitu?"


"Sebelum Papa menawarkan kesepakatan dengan Paula, dia belum tau siapa Papa, dia terus meremehkan kamu, menginjak-injak harga diri kamu, menyombongkan dirinya. Lalu setelah Papa yang bicara, dia diam. Tidak ada satu kata lagi yang keluar dari mulutnya. Cuman anggukkan kepala tidak ada penolakkan dari semua tawaran Papa. Sudah cukup Dul, cukup dia saja yang seperti itu. Papa harap pertengahan tahun nanti, kamu sudah resign dari kantor kamu yang sekarang. Lalu kelola perusahaan Papa baik-baik." titah Papa berdiri lalu meninggalkan ku di meja makan dapur sendirian.


Begitulah Papa. Dan saat ini aku harus menuruti kemauannya. Aku harus mengajukan surat resign ku secepatnya. Sebelum Papa memberi pelajaran pada perusahaan dimana aku bekerja sekarang.


"Kamu kenapa?" tanya Tika saat kami telah bersiap untuk segera tidur dibawah selimut.


Aku menyurunya berbalik membelakangiku, lalu ku peluk tubuhnya dari belakang. Ku sematkan wajahku pada tengku leher nya yang sebelumnya ku angkat rambutnya ke atas.


Ku hirup aroma tubuhnya yang segar setelah mandi. Dia benci menggunakan lotion saat hendak tidur, jadi aroma ini benar-benar asli aroma tubuhnya yang bercampur dengan sabun mandi favorite nya.


"Kamu kenapa sih? Kok diem aja dari tadi?" ia mengusap lenganku yang melingkar pada pinggangnya dan berakhir mencengkram jemariku yang tersemat menopang salah satu payudaranya.


Aku menghembuskan nafasku kasar, "Kalo aku minta kamu berhenti kerja, mau?"


"Tapi kan kita belum punya anak, aku belum hamil."


Aku mengeratkan dekapanku. Tika bergerak lalu membalik tubuhnya dan menatapku dengan bantuan kedua tangannya di pipiku.


"Kenapa jadi tiba-tiba bahas ini lagi? Kan aku udah bilang, kita bisa sama-sama nabung dulu mulai sekarang. Belum lagi entar ngisi rumah kita sendiri."


"Kamu malu gak punya suami kayak aku? Cuman karyawan perusahaan kecil." lirihku lagi.


"Ngapain aku mesti malu? Lagian buat apa aku malu?"


"Apa karena kamu tau aku anak pengusaha Atta Azhari trus kami mai aku nikahin?" tanyaku pemuh hati-hati.


Tika menghembuskan nafasnya, "Aku ga tau Papa kamu pengusaha. Yang aku tau, kamu karyawan perusahaan batubara dan kamu pacar orang waktu itu. Tapi dengan nakalnya aku nyerahin tubuh aku ke kamu, trus ketagihan sama permainan kamu, bahkan berkali-kali aku yang godain kamu. Dan aku tau Papa pengusaha terkenal itu ya waktu ngeliat list undangan nikahan kita dari Papa. Itu pun Max yang nyadarin." Tika menatapku.


"Kamu kenapa sih?" cercanya lagi.


"Aku mau kamu berenti kerja." ucapku singkat.


Tika melepaskan kedua tangannya dari pipi ku. Kemudian berusaha bangkit duduk agar terlepas dari dekapan dan tatapan mataku. Dia bersandar pada sandaran ranjang di jejal dengan sebuah bantal di punggung nya. Aku agak kaget dengan pergerakkannya yang lumayan gesit itu.


Aku duduk di sebelahnya, "Aku mau kamu ngelayani aku di rumah baru kita. Khusus ngelayanin aku aja, entah itu urusan dapur atau pun ranjang. Aku mampu biayain hidup kamu, hidup kita." aku melirik kilas ke arahnya yang masih duduk dengan pandangan kosong.


"Aku mau nikmatin kamu dulu sepuas aku. Cuman kita berdua." tambahku lagi.


"Maksud kamu?" tanyanya menatapku.


"Aku butuh kamu mulai besok, dimana pun kalo aku lagi horny." ucapku frontal.


"Kamu kenapa sih? Aku ga ngerti." cercanya sekali lagi.


Tanpa menjawab pertanyaannya, ku cium bibir merahnya. Ku ***** habis bibirnya, lidah ku terselip, menjelajah lidahnya dan sesekalo ku hisap agar ia terangsang.


Ku selipkan jemariku ke dalam G-string nya. Basah. Ku mainkan jemariku, ku tusuk lalu ku biarkan bibir nakal nya mendesah liar. Ku mainkan lagi jemari ku, maju mundur, naik turun, membelok menekan masuk ke dalam hingga mencapai dindingnya. Lalu ku tambahkan jemariku yang memasuki miliknya menjadi 2 jari, ia mengerang sensual.


Ku turunkan sebelah tali baju lingerie nya, hingga payudaranya terlihat sebelah dengan sempurna lalu ku nikmati dengan bibirku. Ku jilati ujung putingnya. Ku kecup bahkan di sekitarannya sengaja ku tinggalkan bekas kemerahan.


Ku lepaskan bibirku yang menikmati tubuhnya, ku tarik jemariku dari dalam lubang miliknya. Dia merengek kaget dengan mata nakalnya, lalu menggigiti bibir bawahnya. Aku turun ke bawahnya, ku tarik betisnya pelan agar tubuhnya dapat terbaring nyaman ditengah ranjang. Dengan bantuan kedua lutut ku, ku buka pahanya lebar, lalu ku hisap cairan bening yang ku lihat keluar dari lubangnya.


Kami menikmati malam yang panjang itu dengan beberapa kali klimaks yang ku tumpahkan di dalam lubang miliknya. Dan sekali di dalam mulut liarnya yang nikmat itu.


.


.


.


.


.


Sorry seperti nya otak ku memang dilahirkan untuk mesum. Tadi nya aku mikir buat memangkas adegan terakhir, tapi ternyata tidak bisa.


Karena jujur saja, sepertinya kalo habis emosi tinggi atau lagi adu mulut, sepasang suami istri akan lebih rileks dan kembali saling mengasihi jika diakhiri dengan hubungan sexs.


Itu sih menurut ku loh ya, tau deh kalo pendapat kalian.

__ADS_1


🤭🤭🤭


Salam otak mesum!!!


__ADS_2