Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 24


__ADS_3

Clara POV.


Namaku Clara Laura Amelia. Umurku 29 tahun. Aku telah bekerja pada salah satu perusahaan swasta dibidang Asuransi. Posisiku sebagai Manager Financial Advisor. Aku baru bekerja ± 5 tahun. Tidak mudah untuk mencapai titik karir ku saat ini.


Aku adalah anak tunggal. Ayahku seorang karyawan disalah satu perusahaan pemerintah. Sedangkan Bundaku seorang karyawan di salah satu Bank ternama di Indonesia.


Komunikasi diantara kami berjalan sangat baik hingga saat ini. Sarapan selalu bersama. Makan malam pun selalu di usahakan makan dirumah bersama, walaupun makanannya beli, bukan masakkan Bundaku.


"Claraaaaaa, sarapan!" teriak Ayahku dari dapur.


"Iya Yah, sebentar!" balasku dengan tak kalah tinggi.


Setiap pagi, jika bukan Ayah pasti Bunda ku yang berteriak, memanggilku untuk sarapan bersama. Walaupun aku sudah dewasa, tapi tetap saja dimata mereka aku adalah anak kecil.


"Bunda, ada ngeliat coat aku yang brown gak?" tanyaku saat di depan meja makan.


Bunda sedang asik merapikan kerah baju Ayah. Mereka terlalu romantis untuk pagi ini, menurutku.


"Kamu udah coba cari di lemari bawah tangga? Kan biasanya Bunda gantung disana kalo sudah di setrika." jelas Bunda santai.


Baru saja aku membalikkan badanku hendak menuju lemari bawah tangga, tiba-tiba Ayah berseru.


"Duduk! Kita sarapan dulu, setelah itu silahkan cari coatnya."


Nyaliku menciut mendengar ketegasan Ayah. Aku berbalik lagi, duduk di meja makan. Dengan sigap Bunda mengambilkan nasi serta lauk pauk ke piring Ayah dan piringku. Kami memulai sarapan pagi ini.


"Ayah, mulai hari ini aku ke kantor pake motor sendiri ya?"


"Yakin kamu udah bisa naik motor?" tegas Ayah.


"Aku sudah sehat kok." jawabku manja.


"Bener kamu ga papa? Ayah sama Bunda gak repot kok kalo mesti nganter kamu dulu setiap pagi." sahut Bunda.


"Ga papa Bunda. Aku udah sanggup bawa motor."


"Ya sudah, terserah kamu aja. Tapi kalo mulai pusing-pusing langsung telpon ya?" tegas Ayah lagi.


"Siap Yah!!" sambil begaya ala hormat pada bendera.


Selesai sarapan. Aku segera mencari coatku. Sedangkan Bunda mencuci piring bekas sarapan kami tadi. Dan Ayah sudah ke garasi untuk memanaskan mesin mobil dan motorku.


"Yakin ga papa kamu naik motor sendirian?" Bunda kembali memastikan saat kami berada di depan garasi.


"Iya ga papa Bun, udah ah, aku berangkat duluan ya." pamitku lalu menyalimi tangan Ayah dan Bundaku.


FYI, aku memang baru sembuh dari sakitku. Bukan sakit parah, hanya flu dan batuk. Bahkan itu juga bukan tergolong penyakit melainkan virus. Tapi anehnya jika flu dan batuk sudah menyerangku, aku bahkan sampai tak bisa berdiri. Biasanya langsung bedrest 2-3 hari. Setelah virus itu menghilang terbitlah kepala pusing yang bisa dengan tiba-tiba menyerangku.


Akhirnya aku sampai di parkiran motor kantorku. Seperti biasa, aku merapikan rambutku yang sedari tadi tertutup helm saat berkendara. Lalu aku berjalan menuju pintu masuk ke gedung kantorku.


Dan FYI again, kantorku berada di lantai 5 dan 6. Sedangkan lantai dasar hanya lah lobby gedung biasa dan beberapa coffee shop ada disana. Lalu lantai 2 sampai 4 adalah kantor salah satu perusahaan televisi. Lalu lantai 7 dan 8 adalah kantor perusahaan pialang.


Sekarang aku sedang berada dalam sebuah lift yang penuh akan manusia. Kebanyakkan dari mereka keluar di lantar 2, 3, dan 4. Kini tersisa aku dan seorang lelaki.


"Dia ke lantai 8 toh." batinku karena tombol angka 8 di lift masih menyala.


Ting.


Lantai 6.


Pintu lift terbuka, aku segera keluar tanpa berpamitan dengan lelaki itu.


Aku segera menuju meja kerjaku.

__ADS_1


Berbeda dengan rekan kerjaku yang lainnya. Tugasku jauh lebih berat, karena aku tidak hanya memimpin mereka dalam dunia Customer Service. Namun secara tidak langsung aku juga menjalin relasi bersama perusahaan-perusahaan lainnya yang telah mempercayakan karyawannya kepada kantorku.


"Pagi semua!" sapaku pada 4 karyawan customer service yang berada di meja depan.


"Pagi Mba!" jawab mereka serentak.


Aku langsung berjalan melewati mereka, membuka sebuah pintu di dinding belakang mereka. Ya, disanalah ruang kerjaku. Ku taruh tas ku diatas meja, kemudian ku lepaskan coatku dan menggantungnya disisi bahu kursiku.


Lalu aku kembali keluar ruangan melakukan briefing bersama 4 rekan kerja ku.


"Oke, semoga hari ini lancar. Tidak ada kendala apapun. Target harian kita tercapai dan jangan lupa selalu tersenyum. Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdoa dimulai." titahku sambil menundukkan kepala, berdoa.


"Berdoa selesai. Semangat pagi." briefing bubar.


Semua kembali ke meja masing-masing, dan mulai melakukan tugasnya masing-masing. Aku kembali ke dalam ruanganku. Mengecek beberapa laporan hasil kerja dari mereka kemarin.


Tookk..


Tookk..


Tookk..


Suara ketukan pintu ruanganku.


"Masuk." sahutku dari dalam.


"Permisi Mba, kemarin perusahaan di atas nitip amplop ini. Katanya buat pengajuan asuransi kesehatan seluruh karyawannya." ucap Rendi salah satu Financial Advisor senior.


Ku terima amplop tersebut, "Makasih ya, kalo ditanya lagi, bilang saya cek dulu, baru saya review ke atasan."


"Siap mba, permisi."


Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum tipis. Kemudian aku kembali terfokus pada beberapa kertas yang sudah berserakkan diatas mejaku.


"Rendi, kamu ke ruangan saya ya setelah itu." ucapku saat melintas melihat Rendi yang sedang menghitung beberapa polis.


"Siap Mba!" jawabnya tegas.


Aku mencoba memahami isi dokumen yang di berikan oleh perusahaan pialang di lantai atas. Dengan pintu ruangan yang masih ku biarkan terbuka.


"Permisi mba?"


"Masuk Ren. Duduk."


Rendi duduk dengan sopan dihadapanku. Aku menghentikan kegiatanku sebentar.


"Ren, saya kan ga masuk 4 hari belakangan. Kamu bisa jelasin ke saya gak kenapa performa kalian menurun selama 4 hari itu?"


"Em. Jadi gini mba, selama 4 hari itu kami stay di kantor aja. Soalnya kami bingung mau kunjungan kemana. Biasanya kan mba yang ngasih kami jadwal. Trus juga waktu itu 2 hari berturut-turut ada beberapa client yang complain tentang polis mereka." jelas Rendi.


"Complain kenapa?"


"Polis mereka sudah jalan sekitar 1 tahun lebih, dan itu setiap bulannya autodebit dari rekening yang mereka daftarkan, masalahnya jumlah yang ter-autodebit itu ga sesuai dengan info yang mereka dapat."


"Ga sesuai? Siapa yang nanganin polis mereka sebelumnya?"


"Em. FA Dita mba, beberapa ada juga dari FA Sisil." jawab Rendi agak gugup.


Aku berpikir sejenak dan menyenderkan tubuhku pada sandaran kursi.


"Trus siapa yang handle selanjutnya?"


"Saya coba bantu ke yang lain buat ngejelasin mba, karena kan mereka bertiga baru dan ini juga kasus pertama yang mereka hadapi karena kelalaian FA sebelumnya."

__ADS_1


"Iya iya, tapi mereka bertiga udah stabil lagi dong?"


"Udah kok mba, awalnya mereka emang gugup, si Reyna sampai nangis di belakang gegara di bentak client. Trus si Amar sama Gyta udah sanggup handle yang begitu kok mba."


"Oke deh kalo gitu. Sekali lagi saya minta maaf ya, kalian jadi hilang arah selama saya ga ada."


"Santai mba, kalo gitu saya balik ke depan lagi mba ya?" izin Rendi.


"Oh iya Ren, saya minta nomer telepon perusahaan di atas ini ya? Kirim lewat WhatsApp aja." ujarku sambil menunjuk amplop yang tadi diberikan Rendi.


"Siap mba!" Rendi keluar dari ruanganku dan menutup pintunya.


Tak berapa lama, ponselku berdering.


🎶


Monday


Took her for a drink on Tuesday


We were making love by Wednesday


And on Thursday and Friday and Saturday


We chilled on Sunday


I met this girl on Monday


Took her for a drink on Tuesday


We were making love by Wednesday


And on Thursday and Friday and Saturday


We chilled on Sunday


🎶


Bunda calling.


Ku geser gambar hijau dilayar ponselku.


"Kenapa Bun?"


"Tante kamu masuk rumah sakit. Kamu pulang kerja jam berapa?"


"Jam 4 Bun, nanti aku langsung pulang."


"Ya udah, Bunda sama Ayah duluan kesana. Nanti kamu pake mobil Bunda aja kesana ya? Jangan naik motor."


"Iya Bundaa. Udah?" tanyaku lagi.


"Iya."


Ku matikan sambungan telepon ku. Dan aku kembali bekerja hingga jam kerja ku selesai. Lalu aku segera pulang dan membersihkan tubuhku bersiap untuk ke rumaj sakit.


Sesampainya di rumah sakit. Ayah dan Bunda ku sudah tidak ada diruangan tante ku di rawat. Anak tante ku begitu nakal. Tiba-tiba saat melihat ku, anak itu menegejarku sambil membawa spidol dan berteriak ingin mencoret kaos ku.


Aku berlari dan bersembunyi disebuah ruangan.


Bruukk..


Brakk..

__ADS_1


"Aw!!!" seruku.


__ADS_2