
Warning!!!!!
.
.
.
Konten dewasa 21+
Bijak jadi pembaca, kalo ga sanggup mending diskip aja yee, kayak skepeeee coklat enak luar biasaaa...
Hahahahaha
.
.
.
-------------------------------
Still Jefri POV.
"Apa? Hm? Kenapa?" ia bertanya dengan suara lembut namun terdengar nakal di telingaku.
Nafasku memburu begitu dia mendekatkan wajahnya pada tengkuk leherku, mengeluskan ujung hidungnya di tengkukku dan sesekali mengecup. Ku jatuhkan bathrobe-nya ke lantai. Aku terbuai.
Sentuhan ujung hidungnya membuat mulutku bungkam. Sebelah tangannya turun, menarik tali bathrobe ku dan membukanya. Aku menghela nafasku.
"Kamu nakal banget kalo udah begini, sayang," lirihku masih dengan mata terpejam menikmati.
"Hm? Nakal? Masa sih?" bisiknya pelan.
Aku mengerdikkan bahuku pelan.
"I want you," bisiknya dengan nada suara yang berat.
Nafasku mulai sesak. Ku dekap tubuh polosnya hingga melekat dengan tubuhku. Ia cekikikan.
Kemudian aku duduk di pinggiran ranjang. Lalu ia menatapku, menggigiti bibir bawahnya.
"Kenapa ngeliatinnya kayak gitu?" lirihnya dengan manja.
"Kamu selalu bikin aku nafsu. Mau pake baju ato pun enggak."
Tika terkekeh mendengar pernyataanku lalu mengecup bibirku kilas. Lama kami beradu pandang, saling mengusap membelai lembut wajah hingga tubuh.
__ADS_1
"Kamu masih ingat gak, dulu aku pernah bilang apa waktu pertama kali godain kamu?" tanyanya diiringi dengan menggigit bibirnya sendiri, berkali-kali.
Aku berpikir, sekilas memutarkan bola mataku, mencoba mengingat-ingat kembali saat pertama kali kami berkenalan.
"Yang mana?"
"Lupa?"
"Kamu terlalu banyak ngegodain aku," ku sentil ujung hidungnya lalu kembali memeluknya, "Ingetin aku sikonnya kapan?"
"Banyak. Waktu di kamar aku, trus di rumah Lisa...."
Aku berpikir sekali lagi, "Oh.. Aku inget kok. Skin to skin is more comfortable. Iya kan?"
Dia menganggukkan kepalanya, masih dengan menggigiti bibir bawahnya sendiri.
Tika tersenyum, manis. Lalu mengecup keningku.
Kemudian dia kembali menjalankan aksinya.
--------------------------------------------
Tika POV.
Aku menyukai lelaki di hadapan ku ini. Sejak pertama bertemu hingga dia sah menjadi suamiku. Tidak pernah sekalipun perasaan ini berubah, tetap menggebu bahkan semakin bertambah disetiap harinya.
Tak ku sangka dia selembut ini memperlakukanku setelah menjadi istrinya. Menjaga bahkan melindungiku disetiap nafasnya. Padahal aku sempat mengira bahwa ia hanya lelaki yang mencari kesenangan dan kenikmatan dengan siapapun yang mendekatinya. Tapi ternyata tidak!
Aku memperhatikannya, melihat raut wajahnya yang menikmati permainan ku.
"Masih cape?" tanyaku.
Jefri membuka matanya. Dia menatapku.
"Lumayan."
"Kalo gitu udahan ya? Kita tidur aja, istirahat. Besok kan mesti angkutin beberapa lagi," ajakku dengan santai kemudian menghentikan tugasku sebagai seorang istri.
"Emh.. Tega banget, Yang!" rengeknya.
Aku tersenyum sumringah dan kembali berbaring di sampingnya.
🎶
You so fuckin' precious when you smile
Hit it from the back and drive you wild
__ADS_1
Girl, I lose myself up in those eyes
I just had to let you know you're mine....
🎶
Ponselku berbunyi.
Aku kaget mendengarnya, segera aku bangun dari dekapan Jefri dan berjalan tertatih mengambil ponsel dalam tasku.
Mamah calling.
"Hallo, iya Mah?"
"Kamu dimana?" suara Mamah panik.
"Di rumah," jawabku santai.
"Di rumah mana? Tadi mertua kamu telpon Mamah, nanyain kalian. Telponnya Jefri gak aktif, telpon kamu berkali-kali gak diangkat. Mamah aja udah empat kali nelpon baru kamu angkat. Di selipin kemana sih hapenya?" sewot Mamah.
"Udah, Mah? Jadi gini, kami ada dirumah baru, tadi malem rencana mau drop barang aja, eh ternyata si Jeff kecapean, aku nya juga lumayan cape. Jadi tidur disini. Maaf ya kami gak ngabarin kalian..." dengan suara manjaku.
"Hm. Ya udah, pulang sekarang, Mamah tunggu."
Mamah memutuskan sambungan teleponnya. Ku letakkan kembali ponselku di meja. Aku tertatih kembali ke ranjang, menghempaskan tubuhku disamping suamiku lagi.
"Siapa yang nelpon?" tanya Jefri mengagetkanku.
"Mamah. Kita dikira ilang. Aku juga lupa ngabarin Mama kamu kalo kita tidur disini."
Jefri memelukku, "Ya udah habis ini kita siap-siap. Tapi seronde dulu masih bisa kan?"
Aku menoleh padanya, kaget, "Serius? Kamu gak capek?"
Jefri masih memejamkan kedua matanya lalu tersenyum, "Kalo aku sih enggak ya, kan tadi malam kamu yang kerja rodi."
"Ya udah, tapi fast ya?"
Jefri langsung membuka matanya. Dan menjalankan aksinya dengan semangat 45. Aku? Cuman tinggal menikmati. Santai..
.
.
.
Maaf ya readers aku jadi jarang update beberapa hari ini.
__ADS_1
Aku harap kalian tetap setia membaca dan menunggu updatean Tika dan Jefri.
jangan lupa ratting, like dan komen. Thanks.