
Jangan lupa TAP jempolnya sebelum membaca, trus kasih komen setelah membaca.
Selamat membaca ...
—————
Still Jefri POV.
"Aku mau kita pulang ke rumah kita sendiri, lagian aku sudah bisa jaga Nathan dan Naila," ucap Tika saat kami dalam perjalanan pulang ke rumah mamah mertuaku.
Aku langsung menanggapi ucapannya, "Aku kelarin urusan aku di kantor dulu ya. Biar aku bisa punya sedikit waktu longgar." Sesekali aku memandanginya yang sedang menatapku lalu tersenyum. Kemudian aku kembali fokus pada jalanan yang ada di depanku.
Dalam hati, sejujurnya aku pun ingin segera kembali ke rumah kami. Tinggal bersama dengan keluarga kecilku. Bukan karena aku tidak suka tinggal di rumah mamah mertuaku, hanya saja aku malu kepada Max, jika aku tidak bisa melindungi adiknya.
Tapi mungkin, aku akan segera membawa keluargaku kembali ke rumah kami. P*rsetan dengan lelaki physco itu, aku bisa menjaga Tika dan juga kedua anakku setelah masalah di kantor selesai. Ya, aku bisa melakukan itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, saat kami sampai di depan pintu rumah mamah mertuaku. Tika langsung masuk dan mencari keberadaan kedua buah hati kami yang ternyata sedang berjemur di halaman belakang bersama mamah dan juga Shilla. Sedangkan Max tiba-tiba saja sedang duduk di ruang tengah. Membaca koran dengan televisi yang menyala.
Aku memutuskan untuk menghampiri Max, duduk di sampingnya. "Nonton?" tanyaku padanya yang dijawab dengan menggelengkan kepala. Kemudian aku langsung meraih remote dan mengganti saluran televisinya.
"Mulai jam berapa tadi malam?" Suara tanya Max di balik lembaran koran yang menutupi wajahnya. Aku tidak mengerti dengan apa yang ia maksudkan itu.
"Mulai apanya?"
"Oh, come on, Bro. Haikal udah kasih hadiahnya 'kan?"
Sejenak aku terdiam, mencoba mencerna kalimat yang dimaksudkan oleh Max, yang beberapa detik kemudian aku mengerti apa makna dari pertanyaan itu. "Oh, itu. Aku gak pake begituan, Max," sanggahku cepat yang membuat Max tertawa terbahak-bahak dan menghentikan membaca korannya.
Akibat tertawanya itu, aku merasa malu. Ternyata Max dan Haikal memang sangat cocok. Kombinasi sempurna antara usil dan jahil. Aku tidak habis pikir dibuatnya.
Kemudian aku menanyakan padanya, mengapa alasannya tidak pergi ke kantor hari ini. Ternyata alasannya tidak jauh beda denganku. Dan berkaca pada kehidupan Max dalam mengurusi perusahaannya, banyak pelajaran yang dapat aku ambil. Mungkin suatu saat nanti aku akan belajar pada Max tentang perusahaan.
Aku ingin seperti dirinya saat memimpin perusahaan. Terlihat bijaksana, tetapi berani, terlihat banyak memiliki waktu untuk keluarga. Dan terlihat begitu sangat melindungi. Ya, setidaknya itu yang terlihat dalam mataku tentangnya.
—————
Tika POV.
Aku langsung berjalan menuju halaman belakang untuk menemui kedua buah hatiku yang sedang asik berjemur bersama yang lainnya. Mereka berdua terlihat masih tertidur lelap.
"Kalian sudah sarapan?" tanya mamah mengejutkanku.
Kemudian aku menjawab, "Udah, Mah, aku bikin omelet nasi goreng tadi buat dia."
Setelah itu aku dan Shilla berbincang-bincang tentang kejadian kemarin, bagaimana cara Jefri membuat semua kejutan itu untukku. Membicarakan tentang bagaimana acting mereka semua dalam memperdayaku.
Kemudian kami kembali masuk ke dalam rumah begitu cahaya matahari sudah mulai semakin terik. Mamah juga sudah kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Dan di saat yang bersamaan aku melihat Jefri yang naik menuju kamar kami. Aku segera menyusulnya dan membawa serta kedua anak kami dalam keretanya.
"Kamu kenapa?" tanyaku menghadapi Jefri saat ia membuka lemari pakaian.
Wajahnya terlihat bingung saat aku melontarkan pertanyaan itu. "Aku gak apa-apa," jawabnya yang kemudian mengecup bibirku.
"Kamu harus cium aku lebih sering setiap harinya." Aku mengatakannya dengan sembarangan yang membuatnya tertawa.
"Kenapa gitu?"
"Biar mood kamu selalu bagus." Aku menarik bajunya lalu mengecupnya kembali.
Setelah itu kami mengganti pakaian kami dengan pakaian khusus di rumah saja. Tadinya, aku berniat untuk kembali ke bawah, menemui Max. Ya, aku ingin mengatakan pada Max jika aku ingin kembali ke rumah kami. Tetapi niat itu tidak jadi aku lakukan sebab Jefri tiba-tiba memintaku untuk menemaninya memeriksa email pekerjaan di atas tempat tidur. Dan aku pun mengabulkan permintaannya itu.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, aku terbangun dari tidurku akibat nada dering ponsel Jefri yang seketika berbunyi sangat nyaring.
🎶
Can't we just talk?
__ADS_1
Can't we just talk?
Talk about where we're goin'
Before we get lost
Let me out first
Can't get what we want without knowin'
I've never felt like this before
I apologize if I'm movin' too far
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Figure out where we're growin'
🎶
Aku mengerjabkan kedua mataku di saat Jefri berhasil berdiri dan meraih ponselnya dari meja riasku. Dan diiringi dengan suara tangis Naila dan Nathan yang sepertinya juga terkejut. Aku segera berdiri dan berusaha menenangkan mereka kembali.
Sekilas mataku memandang ke arah Jefri yang masih menatap layar ponselnya. Dengan raut wajah yang Jefri tampilkan tidak begitu bisa aku deskripsikan, hanya saja ada sebuah lipatan di keningnya, mungkin.
Aku tinggalkan kedua buah hati kami begitu mereka kembali terlelap dan aku melangkahkan kakiku mendekati Jefri. Lalu menanyakan padanya siapa yang meneleponnya. "Apa semuanya baik-baik aja? Siapa yang nelpon?"
Jefri mengangkat wajahnya menatapku, "Unknown number," lirihnya bertepatan dengan suara ketukan pintu kamar.
Tok tok tok!
"Tik ... Jeff ... ayo makan siang," seru suara Shilla dari balik pintu kamar. Aku menyahutinya.
Lalu kembali lagi menoleh pada Jefri yang kini meletakkan ponselnya di atas meja, "Mode silent. Ayo turun, aku lapar." Dia langsung menghampiriku lalu menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya, meninggalkan ponselnya di sana.
Namun, lidahku terasa kelu, aku ragu-ragu ingin mengatakan itu pada mereka saat ini. Semua masih tampak gembira, tampak ceria. Aku menghela napasku lalu kembali melanjutkan makan siangku.
—————
Jefri POV.
Sebenarnya pikiranku masih tertinggal di dalam kamar, akibat telepon yang tidak dikenal tadi. Tetapi aku mencoba untuk melupakan itu, karena bagiku saat ini yang terpenting tetaplah sama, prioritasku untuk membuat istri dan anak-anakku bahagia serta hidup berkecukupan. Namun jika tinggal di sini terus, aku merasa tidak bisa melindungi dan menafkahi keluargaku sepenuhnya.
Selesai makan siang, aku menghampiri Max yang sedang menyulut rokoknya di halaman belakang rumah. Lalu aku menceritakan maksud hatiku padanya.
"Aku gak bisa larang keinginan kamu ataupun Tika tapi aku cuman mengusulkan, tinggallah dulu sementara waktu di sini, Jeff." Max memberi saran.
"Mau sampai kapan Max? Aku juga harus ngasih tahu Tika kalau lelaki itu masih berkeliaran di luaran sana. Kita harus terus terang sama dia. Bagaimanapun kondisinya. Biar dia gak salah langkah dan gak gegabah lagi kayak dulu."
"Ya, aku paham. Aku juga sudah berkali-kali memikirkan ini. Memang mungkin lebih baik jika Tika tahu semuanya. Tapi tidak untuk apa yang telah aku lakukan."
"Kalau bagian itu, semua keputusan ada di tangan kamu."
Banyak yang aku bicarakan dengan Max siang itu, mulai dari persoalan Dana, teror yang kami curigai sama sumbernya, tentang perusahaanku, bahkan tentang cara Max mengelola perusahaannya. Banyak yang ia ajarkan padaku.
Hingga tak terasa, sinar matahari perlahan mulai turun dari posisi asalnya. Semakin meredup dengan ditemani oleh semilir angin sejuk sebagai sebuah tanda bahwa sehari lagi telah berlalu.
Terus seperti itu kami menjalani hari demi hari. Melakukan rutinitas seperti biasanya. Tanpa bosan dan tanpa keluhan, karena tanpa sadar hanya itu yang dapat kami lakukan saat ini.
Begitu pula dengan masalahku di kantor. Hari-hari berlalu, tidak ada kemajuan tentang permasalahan pak Hardi hingga hari ini aku mendapatkan sebuah pesan dari nomer yang tidak aku kenal. Isinya mengatakan bahwa dia melihat pak Hardi sedang duduk di salah satu restoran ternama di kota ini, seperti sedang menunggu seseorang.
Tak berapa lama, nomer tersebut kembali mengirimkanku sebuah alamat dan sebuah foto, yang mana isi foto tersebut menampilkan sosok pak Hardi dan seorang wanita yang tampak dari belakang. Sekali lagi aku memerhatikan alamat yag dikirimkan. Dan benar saja, alamat itu tidak jauh dari kantorku ini.
Tok tok tok!
__ADS_1
Suara ketukan dari pintu ruanganku, membuatku segera menoleh dan mendapati sosok Brandy berdiri di ambang pintu. "Can i come in?"
Aku langsung berdiri dari kursiku dan meraih kembali ponselku yang tadi sempat kulepaskan dari genggamanku. Kemudian dengan isyarat tanganku, aku menyuruh Brandy untuk masuk dan kusodorkan layar ponselku padanya.
"Ini nomer anak buah lu bukan?" tanyaku yang saat itu dia mencoba mengambil ponselnya dan mencocokkannya.
"Iya, ini nomernya."
"Temenin gua ke alamat itu, sekarang. Pakai mobil lu aja," ucapku yang terlanjur merasa sedikit emosi. Brandy menyetujui kemudian kami sama-sama beranjak, melangkah menuju lift untuk pergk ke tempat itu.
Brandy tidak mengizinkanku untuk mengendarai mobilnya saat kondisiku seperti ini. Aku benar-benar sudah mencapai batas. Bagaimana tidak? Mendapati karyawan kepercayaan papaku berkhianat padanya dan sekarang dia dengan teganya menarik sejumlah uang untuk kepentingan pribadinya. Siapa yang tidak akan tersulut amarah?
Dengan kecepatan laju mobil yang lumayan tinggi, Brandy membawaku sampai pada restoran itu hanya dengan waktu tujuh menit. Kami sengaja tidak turun dari mobil, sebab Brandy yang melarangku untuk langsung mendatangi tua bangka itu.
Brandy terlihat merogoh saku jasnya, kemudian ia mengambil ponselnya dari sana. Menekan layar ponselnya hingga menempelkan benda penting itu di telinganya. Menelepon seseorang.
"Di mana? Iya, kami di sekitar sini. Bisa tolong dekati dan ambilkan foto untuk kami? Tidak, kami hanya ingin melihat wajah wanitanya. Iya, baik." Kemudian Brandy melepaskan ponselnya pada telinganya dan mengakhiri sambungan teleponnya.
Dari kalimat yang ia ucapkan, aku sudah bisa menebak, jika sambungan telepon yang ia lakukan tadi adalah dengan anak buahnya yang mengirimiku informasi penting ini. Pikiranku sungguh bertanya-tanya. Apalagi yang dilakukan si tua bangka itu. Lalu, apakah wanita ini adalah wanita yang sama, yang pernah berpapasan dengan Nadine?
Dari kejauhan, lebih tepatnya di luar dari restoran itu, aku dan Brandy masih berkutat duduk di dalam mobil. Sambil memerhatikan pintu masuk yang juga sekaligus merupakan pintu keluar dari restoran itu. Hingga akhirnya nada dering pendek dari ponsel Brandy tiba-tiba berbunyi.
"Sial!" rutuk Brandy yang kemudian memperlihatkan layar ponselnya padaku.
"Iya, 'kan dia tadi duduk di pojokan." Aku segera mengambil ponselku dan menunjukkan foto sebelumnya yang dikirimkan padaku. Di sana sudah terlihat jelas jika pak Hardi duduk di salah satu sudut restoran itu. Dan niatnya sangat jelas, agar tidak ada satu orang pun yang berjalan melewati mereka.
"Gua mesti turun, gua mesti liat pake mata kepala gua sendiri," tegasku kali ini.
"Jangan! Ini katanya, mereka sudah berdiri dan dia juga gak liat bapak itu menyerahkan sesuatu sama cewek itu. Kita tunggu mereka keluar." Brandy menahanku dengan matanya yang masih menatap layar ponselnya. Kalimat yang dilontarkannya barusan juga ada benarnya menurutku.
'Baiklah! Kali ini aku akan mengikuti saran Brandy,' pikirku.
Tak berapa lama pak Hardi keluar dari balik pintu restoran itu. Sendirian. Tidak ada satu orang pun wanita yang bersamanya, kemudian tiba-tiba ponsel Brandy berdering, ia langsung menerimanya. Entah siapa yang menghubunginya dan entah apa yang dikatakan oleh orang yang menghubunginya itu, aku mengacuhkannya.
Mataku terus saja memerhatikan gerak-gerik pak Hardi hingga akhinya beliau masuk ke dalam mobilnya.
"Wanita itu keluar lewat jalan belakang," ucap Brandy tiba-tiba dan membuatku sontak terperangah. Tidak percaya dengan apa yang telah aku dengar.
'Buat apa wanita itu lewat jalan belakang? Apa yang dia hindari?' batinku.
Seketika pikiranku kacau, aku semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. Niatku yang tadinya hanya ingin memata-matai gerak-gerik pak Hardi dan ke mana larinya uang perusahaan kini malah membuatku semakin penasaran dengan kehidupan pribadi beliau.
Aku mengembuskan napasku dengan berat sambil mencengkeram rambut kepalaku.
"Lu bisa bantuin gua sekali lagi?" tanyaku pada Brandy sambil menoleh kepadanya.
"Semampu gua."
"Suruh anak buah lu buat selidiki latar belakang si tua bangka ini. Soalnya gak mungkin kalau gua tanya bokap atau minta data ke karyawan HRD. Gua gak mau ada satu pun yang tahu, kalau gua curiga sama dia," ucapku santai sambil melihat mobil pak Hardi yang berlalu dari hadapan kami. Lalu aku kembali menoleh pada Brandy. "Bisa?"
Brandy menganggukkan kepalanya. Menyetujui permintaanku.
"Oh iya, lu tadi ada perlu apa jadi sampai nyamperin gua ke kantor?" tanyaku saat kami dalam perjalanan kembali menuju ke kantorku.
Kemudian Brandy mengatakan jika dirinya mulai tertarik dengan posisi pekerjaan yang aku tawarkan padanya. Sebab aku sudah lama tahu jika sebenarnya dia sangat menginginkan untuk keluar dari pekerjaannya sekarang. Karena makin ia jalani, peraturan perusahaan itu mulai berubah.
"Jadi ini kalo gak ada sekretaris, siapa yang aturin jadwal janji temu lu?" Kami telah sampai kembali ke kantor dan kini sudah duduk di dalam ruanganku.
"Gak ada, lagian gua belum sepenting itu buat ditemui. Trus lu udah resmi resign dari sana?"
"Belum, masih ada sisa masa kerja gua dua minggu lagi."
Aku menarik napas lega begitu mendengar kabar dari Brandy itu. Akhirnya aku memiliki orang yang dapat aku percayakan untuk membantuku. Aku dan Brandy sudah berteman begitu lama, masing-masing dari kami tahu betul sifat dan sikap keduanya. Jadi aku rasa, tipis kemungkinan jika suatu saat dia akan mengkhianatiku. Semoga saja tidak.
Aku langsung berputar, mengambil beberapa berkas dari dalam lemari kecil di belakang kursiku, lalu menyerahkan padanya. Aku langsung menugaskannya untuk mempelajari beberapa isi dari laporan itu. Brandy menyanggupinya.
__ADS_1
Bersambung ...