
Lisa POV.
Setelah lelaki di depanku ini selesai dengan kegiatan masak-memasaknya, ia menyajikan sepanci mie rebus yang telah dibuatnya ke dalam sebuah mangkuk yang lumayan besar. Lalu menyodorkannya di hadapanku, diikuti dengan memberikan sepasang sendok dan garpu. Dari posisinya berdiri, ia memajukan tubuhnya yang terhalang top table dari kitchen set sederhana mengarah padaku sambil berkata, "Makan!"
Seketika meremang bulu romaku saat melihat tatapan matanya itu. Tidak ada lagi kehangatan dari sorot tajam matanya. Salah satu bagian tubuhnya yang dulu sempat aku kagumi. Bahkan senyuman yang mengembang di kedua sudut bibirnya pun, kini sudah tidak semanis saat pertama kali aku mengenalnya. Yang ada hanya ketakutan semata.
Bull*shit jika kukatakan bahwa saat ini aku tidak merasakan ketakutan. Sebab sedari tadi aku melihat Dana yang menggunakan pisau tajam, untuk membuka bungkusan mie instan beserta bumbunya. Dan sekarang ia sedang mengusap bagian mata pisau itu dengan sehelai kain, membersihkan sisa-sisa kotoran yang menempel di sana. Sambil menatapiku.
Mau tidak mau, aku meraih sepasang alat makan yang ia sodorkan tadi di samping mangkuk. Lalu ku menundukkan sedikit kepalaku dengan pandangan mata yang kini menatapi isi mangkuk. Menyendok mie itu dengan tangan yang kini gemetar, lalu menyuapinya masuk ke mulutku sendiri. Dengan napas yang terputus, aku mencoba untuk tetap tenang dan menormalkan kembali detak jantungku.
Aku mengunyah mie itu dengan perlahan tanpa ada suara. Sebab aku takut, jika salah satu tingkah laku perbuatanku mengundang emosinya. Rasanya mataku ini sudah mulai kembali berkaca-kaca. Bersiap untuk meneteskan air mata lebih banyak dari sebelumnya. Tidak lagi aku memerhatikannya, mataku sibuk menatap semangkuk mie itu di hadapanku.
"Gimana?" Suaranya tepat di depan telingaku membuat aku terkejut setengah mati. Lagi-lagi ia memberikan sport jantung padaku. "Enak?" tanyanya sekali lagi setelah kudapati dirinya yang sedamg berdiri tepat di belakangku. Aku hanya menjawabnya dengan sekali anggukan kepala.
Tanpa aku duga, bulir air mata yang sedari tadi aku tahan, kini mulai berjatuhan. Kembali membasahi kedua pipiku. Serangkaian kisah masa laluku kini terlintas perlahan dalam memori otak ini. Semua yang aku alami tidak seharusnya terjadi jika aku tidak mengenal Tika dan tidak memilihnya sebagai sahabatku.
Dan mengapa aku harus mengenal lelaki ini?
Mengapa harus bertemu dengannya setelah ia menjalin kasih dengan Tika? Hingga membuat diri ini merasa bersalah padanya.
Lalu setelah sekian lama menghilang, mengapa aku harus ditakdirkan kembali bertemu dengan dia, Tuhan?
Aku menahan diri, agar tangisku tidak meledak. Tapi tiba-tiba saja kedua tangan Dana melingkar di perutku dengan dagunya yang sengaja ia letakkan pada pundakku. Membuat aku tidak bisa lagi menahan semua rasa takut dalam diriku. Aku menangis sejadi-jadinya. Apa lagi saat dia mencoba menghirup napasnya di balik rambut yang menutupi tengkuk leherku. Aku mengepalkan jemariku di atas meja.
Kegetiran yang aku alami selama ini rasanya sudah terlalu banyak. Semua aku hadapi sendirian, bahkan kali ini pun, aku harus sendiri.
Perlahan Dana melepaskan salah satu tangannya dari pinggangku, bukan untuk mengambil benda tajam atau pisau yang tadi sempat ia bersihkan, saat terakhir kali aku menatapnya. Tapi tangan itu ia gunakan untuk membelai punggungku. Aku menahan rasa geli dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.
"Kamu tahu? Tika paling seneng kalo dia di beginiin. Dielus, dibelai. Merasa disayangi katanya." Dana mengakhiri kalimatnya itu dengan mengecup pundakku, lalu jemarinya secara tiba-tiba saja menjambak rambutku dengan kasar hingga kepalaku mendongak ke atas dan aku meringis. Ia menempelkan bibirnya tepat di telingaku lalu berkata, "Habiskan makanannya! Setelah itu, kita keluar dari sini!" ucapnya penuh penekanan.
__ADS_1
Sekujur tubuhku gemetar, kali ini aku benar-benar merasa jika aku sudah tidak ada artinya lagi. Bahkan lelaki ini menakut-nakutiku hanya untuk mempermainkan tubuhku. Menganggapku sebagai mainannya untuk mendapatkan seorang Tika.
Perlahan aku menolehkan kepalaku, melihat Dana yang melangkah masuk ke dalam sebuah kamar yang tepat ada di belakangku. Dengan tubuh yang gemetar aku mengendap-ngendap, membuka sebuah laci di lemari kitchen set. Mengambil sebuah pisau kecil lalu menyelipkannya ke bagian tengah bukit kembarnya. Dengan bagian tajam ke arah bawah dan gagangnya sengaja tersangkut pada celah bra-ku.
"Ngapain lu?!" hardik Dana di belakang sana, untung saja aku sudah menutup laci ini. Aku memaksa otakku untuk berpikir keras, jawaban apa yang akan aku katakan saat aku membalikkan badan? Seketika mataku mendapati sebuah botol jus yang tadi ia ambil dari kulkas. Segera tanganku meraih botol itu sekaligus berbalik dan menghadapinya.
Aku ayunkan tanganku untuk menunjukkan botol jus itu. "Aku haus," ucapku seraya melangkah kembali duduk ke tempat semula. Sungguh saat ini detak jantungku berdegup dengan begitu kencangnya. Aku takut ketahuan menyembunyikan sebilah pisau ini. Apa lagi saat Dana mendekatiku, menyentuh pundakku dengan jemarinya sambil menengok menatapi wajahku. Demi pisau itu, aku mencoba untuk rileks, tetapi tetap tidak bisa.
'Mungkin inilah akhir perjalanan hidupku,' batinku. Dengan pasrah aku meliriknya, menatapinya yang kini juga sedang memperhatikanku. Lalu ia mencengkram erat tangannya yang sudah menyentuh pundakku sedari tadi. Aku meringis kesakitan, sebab cengkramannya begitu kuat.
"Jangan coba-coba melarikan diri. Atau kamu gak akan pernah bisa liat siapapun lagi." Dana mengancamku dengan suaranya yang sengaja dibuat pelan. Secara tersirat ia mengatakan bahwa ingin membunuhku jika aku mencoba untuk kabur darinya saat ini. Ia melepaskan tangannya dari pundakku lalu dengan kasar meraih kedua lenganku. Kemudian mengikatnya menggunakan kabel tie. Sebuah kabel yang biasanya digunakan untuk mengikat sekumpulan kabel lainnya agar telihat rapi dan biasa juga digunakan untuk mengikat benda berbahan logam.
Dana mengikat pergelangan tanganku tepat dibelakang tubuhku. Ikatan itu terasa begitu kencang dan kuat. Dia menarikku turun dari kursi, hampir saja aku terjatuh, jika itu sampai terjadi kemungkinan ujung pisau yang ada di dadaku akan menggores permukaan perutku.
Dia menyeretku ke arah pintu garasi lalu memaksaku untuk masuk ke dalam mobilnya di bagian kursi belakang. Dan sekali lagi ia mengancamku, hingga aku harus mengikuti semua ucapannya jika aku tidak ingin kembali dibius.
Sebelum ia menutup pintu mobil, tangannya yang kuat itu mendorong tubuhku, hingga aku terbaring pada kursi mobil. Aku dapat merasakan ujung pisau di dadaku ini menggores sedikit permukaan kulitku di dalam sana. Tanpa sempat untuk meringis, aku segera merapatkan daguku pada bagian depan blouse yang kugunakan, agar Dana tidak menyadari jika aku sedang menyembunyikan sebilah pisau di dalam sana.
(Untuk mengetahui bagaimana bentuk kabel tie, author akan membagikan gambarnya pada laman akun Instagram author, follow @bossytika dan jangan sungkan untuk memberikan komentar kalian disana, oke? Terima kasih.)
"Awas kaki lu!!" bentaknya padaku yang terbaring menyamping. Aku segera menarik kakiku, melipatnya agar ia bisa menutup pintu mobil itu.
Brak!!
Terdengar suara kap mesin depan dari mobil ini yang sengaja ditutup. Lalu pintu disamping kemudi yang dibuka. Aku melihatnya yang meletakkan sebuah tas hitam di kursi itu, mengambil sesuatu dari dalam sana lalu membuka pintu di atas kepalaku, tangannya dengan paksa menjambak rambutku membuat kepalaku mendongak ke arahnya. Lalu ia menempelkan sebuah potongan duct tape atau yang biasa disebut dengan lakban, di mulutku yang sedari tadi sudah dalam cengkramannya.
Segala erangan, rintihan dan juga teriakan sudah aku lakukan selama semua proses itu terjadi. Hingga tidak jarang aku merasakan perih yang luar biasa akibat goresan pisau yang aku sembunyikan di dalam blouse hitamku ini. Tapi sepertinya Dana tidak menyadari jika aku sudah menyelipkan sebilah pisau itu di sana. Kemudian ia kembali menutup semua pintu mobil, membuka pintu garasi lalu masuk ke dalam mobil. Duduk di balik setir kemudi lalu menjalankan mobilnya.
Entah ia akan membawaku ke mana.
__ADS_1
Aku benar-benar merasa lemah, merasa seperti wanita yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri. 'Kini habislah sudah hidupku,' pikirku.
Dalam kondisi seperti ini, tidak ada siapapun yang bisa aku harapkan. Aku benar-benar merasa sendiri hidup di dunia ini. Tidak ada satu orang pun yang akan merasa jika aku menghilang. Bahkan jika aku mati sekalipun, tidak akan ada orang yang menangisi kematianku.
Aku sudah layaknya bagai seekor kelinci percobaan bagi lelaki ba*jingan ini. Ia berhasil membuatku ketakutan, membuatku bagai bonekanya untuk mendapatkan kepuasan dalam hidupnya. Lalu sekarang, aku merasa seperti seekor tikus. Yang jika aku mati atau bahkan terkoyak tergeletak di tengah jalan, tidak akan ada satupun manusia yang akan memungut bangkaiku. Menguburkan tubuhku seperti layaknya seorang manusia yang bermoral.
Sekotor itu tubuhku saat ini. Jangankan untuk memungutku, melihatku dari kejauhan saja mungkin akan membuat semua orang membelokkan arahnya. Berjalan ke arah sebaliknya agar tidak bertemu denganku.
Aku kembali menangis, merutuki semua yang sudah aku perbuat. Tapi kini yang terlintas malah sosok sahabatku itu, Tika. Jika saja bukan gara-gara obsesi Dana pada wanita itu, hidupku pasti tidak akan sesial ini!! Semua ini salah Tika, bukan salahku!
Bersambung ...
—————
Loha para pembaca 😁🖐️
Aku gak tahu harus gimana lagi menanggapi antusias kalian, yang jelas aku ucapkan terima kasih banyak. Udah gitu aja 🤭
Jangan lupa follow IG akuh juga @bossytika untuk melihat kabar-kabar terbaru dari karyaku. Semoga dapat menghibur kalian yang lagi santai di rumah aja untuk menghindari beberapa virus di luaran sana.
Dan jangan lupa untuk melindungi hati kalian, sebab ada penyakit yang lebih berbahaya lagi dari beberapa penyakit yang ada, yaitu penyakit hati 🤪
Kalau sudah hati tersakiti, akan sulit sembuhnya dan tidak akan kembali utuh seperti semula. Seperti sebuah pepatah, karena nila setitik rusak su*su sebelanga.
Oke? Jagalah hati kalian 😙
Stay safe and keep healthy.
With love, Tika.
__ADS_1
#salambucin 💋