Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S3 - Eps 154


__ADS_3

Max POV.


Aku segera menghubungi Igo, untuk meminta bantuannya menyelidiki kejadian di rumah mamah ini. Rasanya tidak mungkin jika ada orang yang salah alamat. Tetapi jika memang benar ditujukan untuk kami di sini, maka siapa orang itu? Dengan teganya mengirimkan hal keji itu, membuat para wanitaku takut siang ini.


"Hallo, Igo?" sapaku saat sambungan teleponku sudah mulai terhubung dengan Igo di seberang sana.


Kemudian aku menceritakan apa yang baru saja terjadi tadi kepadanya. Dan memintanya untuk menolongku, menolong keluargaku.


"Aku gak tahu. Maksud kamu?" Aku sedikit terkejut dengan cara berpikir Igo kali ini. Sebab apa yang dia katakan, ada kemungkinan terjadinya walaupun begitu tipis.


Menurut pandangan Igo, apa yang sudah terjadi di rumah mamah ini adalah ulah seseorang yang sangat dendam kepada kami. Karena tidak mungkin jika ada orang lain yang salah sasaran mengirimkan bangkau tersebut. Aku juga meminta tolong pada Igo untuk mengecek CCTV jalanan yang dapat dia retas di sekitaran rumah ini.


"Iya, warga juga tadi sempet heboh sebelum aku sampai. Gak ada yang berani bertindak sih, tapi begitu kami datang, semua pada bantuin bersihin." Aku menghela napas dengan kasar.


Setelah beberapa saat meminta pertolongan Igo untuk menyelidiki semua kejadian ini, dia juga menawarkan untuk menjaga sekitaran rumah dengan orang-orang suruhannya. Hanya menjaga rumah dari jauh, agar dapat mengenali orang-orang yang ingin berbuat jahat. Aku menerima tawaran Igo itu. Rumah ini harus aman, sebab semua wanita dan anak-anak ada di dalam rumah ini.


"Sekalian nanti sore biar Roni sama Hans yang aku kirim ke sana, buat nemenin keluarga kamu dari dalam rumah. Jadi kalau ada yang mau keluar rumah, biar Roni yang bawa. Hans tetap di rumah," titah Igo. Aku hanya bisa menyetujui usulan itu, sebab memang itulah pilihan yang terpenting sekarang ini.


Tak berapa lama setelah itu tiba-tiba saja mamah muncul di depanku, beserta dengan tatapannya yang mengintimidasiku. Segera aku akhiri sambungan teleponku dengan Igo. "Udah dulu ya, Go? Iya, nanti kabarin lagi aja. Makasih."


"Ada apa? Apa ini ada hubungannya sama orang yang mencelakai Lisa dan adik kamu?" cerca mamah padaku yang hanya bisa kujawab dengan embusan napasku, terasa berat.


Kemudian aku menggelengkan kepalaku. Pikiranku melayang, teringat akan suatu hal begitu mendengar mamah melontarkan pertanyaan itu. Ya, Dana!!


Mungkin saja semua ini perbuatannya 'kan? Bukan hal yang sulit baginya untuk bertindak seperti ini. Dan harusnya aku bisa langsung menebak, jika ini memang ulahnya. Ya, aku melupakan satu hal. Semestinya aku sudah bisa menduga dan mempersiapkan bila kejadian ini terjadi. Karena tujuan awal aku meminta mereka tinggal di rumah ini adalah untuk menghadapi ini bersama.


Aku menundukkan wajahku, merutuki ketidaksadaranku. Mestinya tadi aku dan Igo sudah bisa menebak kalau dia lah orangnya di balik semua kejadian ini. Lelaki yang saudaranya telah aku bunuh.


Otakku mulai bekerja, semakin menyusun dan menghubungkan kejadian ini dengan perbuatanku beberapa bulan yang lalu. Hingga aku mengacuhkan mamah yang ternyata sedari tadi menatapiku, saat aku kembali mengangkat wajahku.


Ingin sekali rasanya aku mengatakan pada mamah, jika kali ini, mungkin lelaki itu datang bukan untuk mengganggu Tika, tapi mungkin untuk mencariku dan membalaskan dendam saudaranya kepadaku. Entahlah, aku ragu. Sebab yang mengetahui kematian saudaranya hanya beberapa orang saja. Bahkan Tika dan Shilla saja tidak tahu.


"Gak tahu, Mah. Aku gak bisa bilang apa-apa. Barusan aku minta tolong sama Igo buat awasin rumah ini. Nanti juga bakalan ada yang jagain kalian dari dalam rumah," tuturku pelan sambil sesekali mengembuskan napasku.


"Mamah bisa jaga mere—"


"Mah, please, sekali ini aja. Aku mau lindungin kalian semua karena itu tugas aku dan Haikal sebagai anak laki-laki mamah. Mamah cukup temani mereka berdua, ya? Hanya sampai semua ini jelas, Mah?!" Aku meminta mamah untuk membiarkan anak buah Igo berjaga di dalam rumah.


Perlahan aku melangkahkan kakiku mendekati mamah. Menggenggam erat kedua tangannya lalu mengecup punggung tangannya. Baru lah setelah itu aku memeluk mamah sambil memejamkan mataku sebentar. Mencoba mencari ketenangan dalam dekapan seorang ibu.


***


Sementara Jefri tidak bisa untuk melewatkan rapat direksi yang sudah pernah ia ditunda sebelumnya. Jadilah dia harus meninggalkan kami dalam kondisi yang seperti sekarang di siang hari ini. Sedangkan aku dan Haikal terpaksa untuk tidak kembali lagi ke tempat kerja kami hingga menjelang sore hari. Mungkin aku dapat mengerti betul akan posisi Jefri di saat seperti ini, sebab aku dan dia memiliki profesi yang sama dan sejenis. Tapi nyatanya tidak untuk Tika.


Entah mengapa dia terlihat aneh. Beberapa kali aku mendengar dia menahan Jefri untuk pergi. Bahkan terdengar sayup-sayup adu mulut antara mereka berdua di lantai atas. Di mana aku dan Haikal yang berada di ruang tengah menjadi saling bertatapan, begitu mendengar suara mereka. Hingga akhirnya Jefri turun dan berpamitan padaku, juga pada Haikal.

__ADS_1


"Kalian kenapa lagi?" tanyaku saat Tika muncul di hadapanku.


Tika hanya mendelik, kemudian berlalu dan menghempaskan bokongnya untuk duduk agak jauh dari sofaku dan juga Haikal. Dari wajahnya yang ditekuk, sudah dapat aku tebak, pasti karena suaminya tadi. Tapi aku lebih memilih untuk diam dan membiarkannya saja.


Sore menjelang, matahari telah meredupkan cahayanya. Langit yang biru, kini berubah menjadi orange, melukis indah alam semesta. Semilir angin sejuk semakin memberikan rasa nyaman.


Seperti yang sudah dijanjikan oleh Igo, rekannya Roni dan Hans telah sampai dan bertemu denganku. Mereka langsung berpatroli dan menjaga baik bagian depan di dalam rumahku dan satunya lagi bagian belakang rumah.


"Apa ini gak terlalu berlebihan, Max?" bisik Haikal.


Aku dan Haikal memang sedari tadi duduk saja di ruang tengah untuk menonton televisi. Bahkan setelah Roni dan Hans datang menghadap pun, aku masih tetap duduk di tempat yang sama.


"Memang berlebihan. Tapi aku gak mau mereka kenapa-kenapa selama kita tinggal mereka kerja. Sadar gak, selama ini mereka perempuan semua di rumah ini kalau siang hari?" Aku mendelik padanya.


Kemudian aku putuskan untuk bangkit dari dudukku, kemudian melangkahkan kaki menuju anak tangga dan menaiki tangga itu. Sesampainya di lantai atas, aku berjalan mendekati area balkon teras atas, tetapi hanya sampai di depan jendela saja. Aku memandangi area sekeliling rumah, memerhatikan berapa banyak orang suruhan Igo yang dia kirimkan untuk menjaga rumah ini dari jarak jauh.


"Max ... Max! Ada Igo ini." Suara teriakan Tika terdengar dari lantai bawah, aku segera turun untuk mendatanginya.


Kulupakan sejenak beberapa beban di pundakku saat ini, bersamaan dengan datangnya bantuan dari Igo ini. Kemudian aku mengajak Igo untuk berbincang di halaman belakang.


Kemudian aku menceritakan pada Igo tentang kecurigaanku tadi siang. Bahwa bisa jadi semua ini ulah lelaki yang terobsesi dengan Tika itu. Tidak menutup kemungkinan yang ada 'kan? Lagipula lelaki itu pasti tahu alamat rumah ini.


Dan sialnya lagi, lelaki itu tergolong physco. Bukan suatu hal yang sulit baginya untuk mengirimi bangkai hewan seperti tadi. Apalagi dengan jumlah yang banyak. Benar-benar kurang ajar.


Ya, aku masih ingat betul dengan kejadian yang dulu itu. Di mana Igo dan yang lainnya mengejar Dana di pasar. Entah dia memiliki niat untuk mencelakai keluargaku atau tidak. Yang jelas, saat itu memang benar-benar membuat aku sungguh panik. Khawatir dengan kondisi keluargaku.


Dan saat ini, kekhawatiranku kembali lagi. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Sungguh!


"Gak apa-apa, Go. Mungkin ini balasannya karena sudah membunuh lelaki itu," ucapku sambil memandangi kolam renang.


Pikiranku kembali melayang, terlintas kilasan demi kilasan balik semua kejadian saat aku menarik pelatuk senjata api itu. Menancapkan timah panas tepat pada bawah dadanya, di mana jantungnya berdetak. Dan lelaki itu langsung lemah seketika di bawah tali yang mengikat kedua tangannya.


Ya, kilasan kejadian itu selalu saja kemvali teringat jika aku sedang merasa kacau ataupun tertekan seperti ini. Dan selama saudaranya itu belum tertangkap rasanya hidup aku dan keluarga tidak akan tenang.


"Bunuh? Siapa yang membunuh?" Suara Tika muncul secara tiba-tiba dari belakang, yang sontak membuat kami terkejut, terutama aku.


Aku tidak menyangka Tika tiba-tiba sudah berdiri di sana dan mendengar obrolanku dengan Igo. Sedikit atau banyaknya yang telah ia dengar, itu tidaklah penting dibandingkan dengan akhir ucapanku yang ia tangkap.


Mulutku kaku, lidahku kelu. Aku tergagu, sambil memandangi Tika yang kini berjalan pelan menghampiri kami. Aku tidak tahu harus berkata apa. Sesekali aku melirik Igo, mencoba memberi kode padanya agar membantuku untuk menjelaskan kepada Tika. Apa ini waktu yang tepat untuk aku menceritakan kejadian sebenarnya? Bahwa aku telah kehilangan lelaki physco itu, kemudian membunuh saudaranya.


Tika langsung duduk di sampingku dan menarik lenganku. "Siapa yang membunuh?" tanyanya pelan begitu aku menatap kedua bola matanya, lalu aku menarik napasku dan mengembuskannya perlahan.


"Kamu salah denger. Kata Max dia jenuh sama sikap pegawai lelakinya di kantor," jawab Igo membantuku.


Aku tersenyum garing, kembali menatap Tika dan mengangguk-anggukan kepalaku. Mencoba membenarkan ucapan Igo itu agar Tika yakin jika ia hanya salah dengar.

__ADS_1


Suasana menjadi canggung. Tika lamgsung terdiam seribu bahasa di sampingku. Duduk dengan manis tanpa berani memandang ke arahku lagi. Sedangkan aku hanya sesekali meliriknya, kemudian aku meminta Igo untuk tidak menceritakan hal ini pada Reza. Tapi ternyata permintaanku kurang cepat. Igo sudah lebih dulu bercerita dikarenakan saat dalam perjalanan menuju kemari, Reza menghubunginya.


Bahkan Reza malah menitipkan pesan pada Igo untuk disampaikan padaku, agar aku segera meneleponnya. Membuatku penasaran saja.


—————


Tika POV.


Entah apa yang aku dengar tadi, tapi rasanya tidak mungkin jika aku salah mendengar. Kini Max berdiri setelah sebelumnya meraih ponselnya yang tergeletak bebas di atas meja di depan kami. Ia menekan layar dari benda tipis itu.


'Mungkin menghubungi Reza,' batinku.


Dengan perasaan yang mencoba untuk tenang dan membiarkan Max berjalan menjauhi tempat di mana aku duduk. Dia memulai obrolannya lewat telepon pintar itu, kemudian aku menggeserkan dudukku.


Aku melirik Igo yang mulai seakan salah tingkah. Semua itu tertangkap sempurna dalam rekaman retinaku. "Tadi Max bukan bilang begitu, gua yakin bukan itu," tegasku padanya.


Ya, aku memang mengenal Igo. Terlebih lagi saat Reza sudah mulai pindah untuk menetap di London, Igo lah yang menggantikan posisi Reza untuk membantu Max, bahkan untuk melindungi perusahaan Max.


Lelaki itu terlihat canggung, dengan bahunya yang terlihat menurun dari sebelumnya. Bahkan saat ini Igo terlihat seperti ... salah tingkah, dia juga menegakkan duduknya. Mulai saat aku menggeser posisi dudukku dari awal tadi. Dan sampai detik ini, dia masih saja diam. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


Sesekali Igo mengangkat wajahnya untuk menatapku, tetapi begitu aku balas menatapnya dia membuang wajahnya. Menatap ke arah lain. Namun segera aku hiraukan tingkahnya itu. Dan entah mengapa yang tadinya aku berniat ingin bertanya-tanya padanya jadi lebih memilih untuk mengurungkan niatku itu.


"Gua permisi ke dalam dulu." Aku beranjak dari dudukku, berdiri dan pergi melangkah untuk kembali masuk ke dalam rumah.


Tiba-tiba saja aku merasakan gelagat aneh saat di sana tadi. Apakah ada suatu hal yang disembunyikan oleh Igo? Atau dia ... sudahlah, lupakan saja. Aku harus kembali ke kamarku untuk memeriksa kondisi Nathan dan juga Naila. Mungkin mereka butuh asiku.


Begitu hendak menaiki tangga menuju ke lantai atas, aku berpapasan dengan bi Mince yang berjalan dari arah ruang tamu dengan membawa sebuah nampan kosong.


"Bi, habis dari mana?" Aku mengernyitkan alisku, menghentikan langkah kakiku yang salah satunya sudah menginjak anak tangga pertama.


"Dari depan, Non. Bikinin minum buat yang jaga di depan rumah. Tadi disuruh ibu," jelas bi Mince.


Sepertinya bi Mince sudah tidak merasakan lagi rasa panik dan ketakutan beberapa jam yang lalu ia alami. Bahkan sekarang terlihat semakin santai. Baguslah kalau begitu.


"Oh iya, tolong bikinin satu lagi ya, Bi? Buat temen Max yang di belakang tuh." Aku menunjuk ke arah di mana Igo duduk. "Sama kasih dia camilan, keknya dia bakalan lama nungguin Max telponan," pintaku pada bi Mince yang mana permintaan itu segera ia lakukan begitu mendapat izin dariku. Kemudian aku kembali melanjutkan langkahku menuju ke dalam kamarku.


Bersambung ...


—————


Kasih vote poin atau koin dong 🙏


Biar aku semangat buat update 3 kali sehari 😂


#salambucin💋

__ADS_1


__ADS_2