Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 204


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Haikal POV.


Selesai makan siang, kami kembali ke rumah sakit dan aku langsung mengantarkannya ke ruangan dokter Brian. Di mana dia sudah menunggu. Clara mengganti pakaiannya lalu mengikuti dokter Brian ke ruangan periksa CT scan, aku mendampingi.


Lalu setelah itu selesai, Clara kembali berpakaian dan kembali ke ruangan dokter Brian dan aku masih ikut mendampinginya. Begitu di ruangan, dokter Brian masih harus melakukan pemeriksaan lain bernama spirometri. Menggunakan alatnya yang bernama spirometer, mesin kecil yang dipasang dengan kabel ke mulut. Alat ini akan mencatat jumlah udara yang masuk dan keluar, serta kecepatan napas seseorang.


Pemeriksaan spirometri dilakukan untuk mendiagnosis dan memantau fungsi paru-paru pada seseorang. Pemeriksaan ini berfungsi untuk mengukur aliran udara yang masuk dan keluar dari paru-paru.


“Tadi makannya masih di batasi, 'kan?” tanya dokter Brian menoleh padaku.


“Oh iya ... masih wajar kok.” Aku memang memerhatikan batasan makan Clara jika dia sedang bersamaku. Selebihnya dia mengatur sendiri pola makannya.


Tok tok tok!


“Maaf permisi,” tegur dokter Ranti yang menyembukkan kepalanya, mengingatkanku dengan janji meeting padanya.


“Ah, iya. Sebentar.” Lalu aku berpamitan pada dokter Brian dan juga Clara untuk meninggalkannya. Dia mengizinkannya.


Segera aku kembali ke ruanganku bersama dengan dokter Ranti sambil mendengarkannya yang menjelaskan beberapa masalah yang terjadi. Namun, tiba-tiba saja seseorang keluar dari salah satu pintu tanpa melihat aku yang melintas di depannya. Begitu pula aku yang sedang memandangi dokter Ranti. Hingga akhirnya kami bertabrakan dan salah satu dari kami terjatuh.


Bruk!!


Tentu saja bukan aku yang terjatuh, melainkan dia yang menabrakku dan orang itu adalah Jovanka. Anak magang yang baru beberapa hari bekerja di rumah sakit ini.


“Astaga! Maaf, Dokter, kami gak lihat,” ucap salah seorang temannya yang berdiri di ambang pintu.


Sedangkan Jovanka yang jatuh terduduk di lantai di depan mataku hanya membalas memandangiku. Aku menoleh menatap pada dokter Ranti yang kemudian langsung mengerti dengan kode tatapan yang aku berikan.


“Ah, makanya kalau keluar ruangan itu hati-hati. Jangan jalan mundur, jadinya mata gak digunain sesuai fungsinya, 'kan?” Dokter Ranti langsung meraih tangan wanita itu lalu menariknya untuk segera berdiri. Dia menepuk-nepuk bagian bokongnya.


Sebenarnya aku juga salah karena tidak memerhatikan jalanan di depanku, hanya saja aku malas untuk meladeni wanita semacam dia. “Ayo Dokter Ranti, kita masih punya urusan yang lebih penting.” Kemudian kami berdua berlalu pergi dari situasi itu.


Sesampainya di dalam ruangan kerja, aku langsung menjatuhkan diri ke kursi kerjaku dan mengucapkan rasa terima kasihku, karena tadi dokter Ranti membantuku. “Makasih ya?”


“Iya sama2. Mungkin kita memang harus bersabar dengan wanita itu.” Doter Ranti mengambil kursi dan duduk. “Kalau bukan karena otaknya itu ... aku pasti sudah keluarin dia,” tambahnya lagi.


“Nilai ujian boleh tinggi, tapi kita gak akan tahu bagaimana situasi di lapangan. Karena sudah banyak kasus yang terjadi, mereka berhenti saat tidak tahan menghadapi situasi di lapangan, 'kan?”


Dokter Ranti mengangguk. Setelah perbincangan itu aku langsung membuka komputerku dan mencoba menghubungi pimpinan pemilik rumah sakit ini dan mengenalkan dokter Ranti pada beliau.


**


Langit di luar mulai meredup, keemasan langit mulai berganti dengan kelabunya. Bukan hanya karena malam ingin menyapa, melainkan juga karena langit seakan ingin menumpahkan airnya. Semua terlihat jelas dari dahan pepohonan yang terlihat bergoyang dengan gemuruh. Angin begitu kencang berhembus dan sepertinya akan turun hujan sebentar lagi.


Aku menghela napas saat memandangi semua yang terjadi di luar jendela ruang kerjaku itu. Dan tiba-tiba saja sepasang tangan melingkari perutku hingga membuatku terpekik kaget lalu menoleh. Untung saja pemilik sepasang tangan itu adalah Clara.


“Meeting-nya udah kelar?” Clara melepaskan belitan tangannya lalu aku berpaling menghadapnya.


“Udah ... sejam yang lalu.” Aku memandanginya dan merangkulnya kembali lalu mendadak aku melihat Jovanka yang melintas lalu berhenti tepat di depan jendela ruanganku.

__ADS_1


Dan entah mengapa, saat melihatnya memandangiku itu memunculkan sebuah ide dalam otakku. Cepat-cepat aku kembali memandangi Clara lalu mengecup keningnya.


Pelan-pelan aku melirik wanita di balik jendela itu, di wajahnya terlihat kesal lalu ia segera pergi berlalu dari hadapanku. Mungkin dengan begini dia tahu diri untuk tidak mencari masalah denganku. Ya, setidaknya hanya denganku.


“Kamu kenapa sih? Lagi banyak pikiran?” Clara melontarkan pertanyaan hingga membuatku melepaskan kecupan itu dan kembali menatapnya.


“Aku antar kamu pulang ya? Di luar sudah gelap dan kayaknya sebentar lagi hujan turun.” Clara mengangguk dan aku segera mengganti pakaian.


**


Sebelum mengantarkannya pulang, aku berinisiatif untuk mampir ke suatu tempat terlebih dahulu. Sebuah warung pedagang kaki lima.


“Kamu tunggu di sini ya, aku beli sup buntut dulu.” Aku biarkan mesin mobilnya menyala.


“Tapi di luar hujan deras, kamu gak punya payung di mobil ini?”


Aku tersenyum lalu menggelengkan kepala. “Bentar aja, lagian deket, lima langkah bisa teduhan di bawah tenda bapaknya.”


Clara tidak berkata apa-apa lagi dan membiarkanku turun mengenakan jaket sebagai penutup kepala. Warung sup buntut itu memang langgananku, dulu saat Max sering ke rumah, aku selalu membawakannya menu ini untuk mengimbangi bir yang diminumnya. Sekaligus untuk mengisi perutnya yang penuh dengan minuman lain.


Namun, setelah beberapa kejadian dan waktuku yang semakin sibuk di rumah sakit, membuatku menjadi jarang untuk mampir membeli makanan ini. Sang bapak penjualnya pun telah hafal betul bagaimana seleraku yang tidak begitu menyukai daun bawang. Sehingga beliau tidak pernah mencampurkan satu jenis itu ke dalam kuah supku.


Hanya menunggu sekitar lima menit, beliau sudah selesai membungkuskan pesananku. “Ini, Mas. Jarang ke sini ya sekarang?” ucap beliau seraya menyodorkan pesananku dan aku memberikan uangnya.


“Iya, Pak. Banyak kerjaan. Udah itu kembalikannya buat Bapak aja, buat uang jajan adeknya.”


Adeknya yang aku sebutkan itu bukanlah adik si Bapak, melainkan anak perempuan dari bapaknya yang dulu sering membantu beliau dan saat ini aku tidak melihatnya.


“Sama-sama, Pak, mari ....” Bergegas aku kembali ke dalam mobil dan Clara segera mengambil bungkusan sup itu, begitu aku menyodorkan padanya.


Jaket yang tadi aku kenakan sebagai penutup kepala, langsung aku lemparkan begitu saja ke jok belakang. Lumayan basah, pakaianku juga basah karena hujannya memang begitu deras.


“Tuh 'kan ... apa aku bilang? Pasti basah,” celetuk Clara setelah meletakkan sup tadi dengan pelan ke gantungan yang terpasang di belakang kursi jokku.


“Basah dikit aja,” sangkalku.


Kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya. Hujannya benar-benar deras hingga membuat jalanan di depan mobil tidak terlalu jelas. Memaksaku untuk mengendarai mobil ini dengan kecepatan yang begitu rendah.


Butuh waktu sekitar satu jam lebih, untuk sampai ke rumah Clara dari jarak pedangan sup tadi. Padahal jika tidak hujan sederas ini, hanya memerlukan waktu sekitar lima sampai tujuh menit saja.


Dan sialnya lagi, tetap saja Clara akan basah kuyup, walaupun lari menuju ke pintu rumahnya itu. Padahal aku sudah berhenti tepat di depan garasi ayahnya, jarak terdekat mencapai pintu depan rumah.


“Gak apa-apa, biar aku lari aja dari sini. Kamu hati-hati di jalan ya? Jangan ngebut.” Clara berpesan.


Aku langsung spontan meraih jaket yang lumayan basah tadi lalu memberikan padanya. “Pakai ini, seenggaknya buat nutupin kepala kamu. Ya ... walaupun ini basah juga.”


Clara tersenyum lalu menerimanya. Setelah itu dia membuka pintu dan berlari menuju ke depan rumahnya. Dari mobil aku dapat melihatnya yang tetap saja kehujanan. Celana jeans yang dikenakannya berubah warna menjadi lebih gelap di bawah temaram cahaya dari pantulan lampu mobilku.


Clara segera masuk ke dalam rumah lalu ponselku berbunyi.


🎶


So don't call me baby

__ADS_1


Unless you mean it


Don't tell me you need me


If you don't believe it


So let me know the truth


Before I dive right into you


🎶


Lantunan lagu Dive dari penyanyi Ed Sheeran mengalun indah menghiasi ruang dalam mobilku. Aku meraih ponsel itu dan menemukan nama Clara di layar depan. Segera aku menerima panggilan itu.


“Jangan lupa menyalakan lampu depan dan lampu taman,” ucapku begitu saja, tak berapa lama kemudian lampu di depan pintu rumah dan juga lampu taman menyala. Begitu pula dengan kedua lampu yang berada di kedua sisi depan pintu garasi.


“Ya sudah, jangan lupa makan dan—” Seketika aku menoleh, tanganku meraba gantungan di belakang kursiku dan ... astaga!!


Clara meninggalkan bungkusan sup ini dan dengan refleks aku memutuskan sambungan teleponnya. Melemparkan ponsel itu ke dalam dashboard tengah, mengambil bungkusan sup lalu mematikan mesin mobil dan menarik lepas kuncinya.


Aku keluar dari mobil dan berlari menuju ke depan pintu rumahnya. Basah kuyup. Semua pakaianku basah tetapi untung saja, aku memegangi dengan erat bungkusan sup tadi.


Tok tok tok!


Aku mengetuk pintu rumahnya sambil menyerukan namanya, “Clara ... Clara ....”


Pintu terbuka dan Clara muncul di balik pintu. “Astaga!! Kamu ngapain turun?” Dia terpekik melihatku.


Tidak ada kata yang aku lontarkan, hanya sebelah tanganku yang mengangkat bungkusan sup buntut tadi. Lalu mengarahkan kepadanya. “Buat aku?”


Aku mengangguk cepat. Mulutku mulai gemetar dan sepertinya aku menggigil. Hawanya memang begitu dingin dan ditambah dengan desau angin yang begitu kencang.


Begitu Clara menerima bungkusan itu aku langsung berbalik dan bersiap hendak berlari kembali menuju ke mobil. Tetapi tiba-tiba saja tangannya mencengkeram lenganku, aku menoleh padanya.


“Em ... gimana kalau ... masuk ke dalam dulu. Tunggu hujannya reda sambil temani aku makan?” ucapnya seolah tidak yakin dengan perkataannya sendiri.


Untuk beberapa detik aku memikirkan tawarannya itu. Tetapi tubuhku yang menggigil sepertinya memang sudah tidak sanggup jika harus kembali ke mobil dengan menerjang hujan lagi. Aku mengangguk dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Bersambung ...


——————————


Hayoo coba tebak setelah ini bagaimana ceritanyaaaa??? Jawab di kolom komentar 🤭


Tembus 20 komen aku terusin hari ini ceritanya 😂


Jangan lupa juga buat vote 😂


#salambucin


Babay ...


@bossytika 💋

__ADS_1


__ADS_2