Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 68


__ADS_3

Jefri POV.


Hari telah petang, langit semakin meredup. Senja menyapa.


Kami telah sampai, kuparkir mobil ini tepat di halaman samping rumah. Kutatap Tika yang tertidur pulas di sampingku. 'Dia pasti letih,' pikirku.


Aku masih tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi padanya, yang jelas aku sempat melihat sorot mata ketakutan yang terpancar dari matanya. Tangannya yang tadi gemetar semakin membuat tebakkanku terasa benar.


Aku belum pernah melihatnya ketakutan seperti tadi hingga sampai menangis dan semacamnya. Padahal sesaat sebelumnya suaranya terdengar baik-baik saja saat aku telepon. Terdengar ceria dan masih bersemangat.


Entah mengapa rasa penasaranku lebih kuat dari perasaan lainnya yang sekarang muncul. Aku melirik handbag yang diletakkannya di sampingnya. Perlahan aku menarik gagangnya, lalu kumasukkan tanganku ke dalamnya. Merogoh sesuatu.


Yap! Ketemu!


Aku merogoh mencari ponselnya. Entah kenapa aku menjadi penasaran dengan isi ponselnya. Padahal sebelumnya kami tidak pernah saling mengecek isi ponsel. Karena jujur saja, sejak bersama, mau itu sebelum atau setelah menikah, kami berusaha untuk saling memercayai.


Baru saja aku ingin membuka kunci layarnya yang tanpa password itu. Tiba-tiba tangannya menyentuh layar ponselnya, menutupi layar dan pandanganku. Aku agak kaget dengan gerakkannya itu. Lalu perlahan aku menoleh padanya yang baru membuka mata.


"Terakhir kita telponan, semua masih kedengeran baik-baik aja. Beberapa menit kemudian, kamu jadi begini," jelasku datar tanpa ekspresi.


Aku masih dapat melihat dengan jelas raut wajahnya, dibalik remang-remang cahaya lampu yang dihasilkan dari lampu taman. Ku turunkan perlahan tanganku yang memegang ponselnya, yang di mana tangannya juga sedang menyentuh ponsel itu.


"Aku ga papa, aku cuman butuh istirahat." Tangannya kemudian terlepas dari ponselnya yang ada di tanganku ini, meraih handbag-nya lalu turun dari mobil berjalan menuju pintu rumah.


Tika terlihat lesu, raut wajahnya sudah menggambarkan segalanya. Dia seakan berjuang sendiri tanpa mau melibatkanku. Tapi aku juga tidak bisa memaksanya untuk segera menceritakan tentang apa yang telah ia lalui. 'Aku hanya perlu menenangkannya dan membiarkan dia sendiri yang akan menceritakannya,' batinku.


Aku menghela napas kasar, kemudian ikut turun dari mobil sambil mencengkram ponsel Tika, segera menyusulnya masuk ke dalam rumah.


Tadinya ku pikir Tika akan langsung ke kamar dan mandi untuk membersihkan tubuhnya, tapi ternyata tidak. Begitu aku masuk ke rumah, aku terpaku berdiri diambang pintu melihatnya yang berdiri terdiam membelakangiku. Tak jauh dari posisiku berdiri sekarang.


Segera ku tutup pintu rumah, lalu aku menguncinya dengan anak kunci milikku. Berjalan pelan mendekatinya. Ku sentuh kedua ujung bahunya dengan tanganku lalu ku peluk tubuhnya dari belakang.


Wangi rambutnya mampu menenangkan pikiranku. Tubuhnya yang gemetar masih terasa begitu jelas dalam dekapanku ini. Gemetar karena rasa takut yang masih belum siap ia bagi padaku.


Perlahan ku dengar suara rintihan tangisnya, aku tercekat. Lagi-lagi ia menangis. Ku lepas dengan cepat dekapanku lalu ku putar tubuhnya agar menghadap padaku. Kemudian ku dekap kembali.


Bukk!


Ia menjatuhkan tasnya ke lantai seraya membalas dekapanku. Erat.


Tangisnya kembali meledak, menggema menghiasi ruangan ini. Sangat erat ia memelukku. Tak banyak yang bisa aku lakukan kali ini, selain diam, mengelus kepala dan punggungnya, membiarkan dia menangis sekerasnya. Melampiaskan semua emosi yang ia rasakan.

__ADS_1


"Keluarin semuanya, sepuasnya. Tapi setelah ini kamu harus janji, jangan ada satu tetes airmata pun yang jatuh lagi," ucapku dengan tegas, walaupun sebenarnya aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Hanya saja, aku tidak mampu melihat kondisinya yang seperti ini.


"Kamu ingat gak janji aku dulu ke kamu? Aku gak mampu menjanjikan kehidupan yang tanpa masalah, tapi aku berani menjanjikan sebuah kebahagiaan yang selalu ada kamu di dalamnya," lirihku pelan sambil mencoba menenangkannya.


"Dan aku harap kamu juga begitu. Bawa aku masuk ke dalam masalah kamu, kita hadapi sama-sama biar kita bahagia pun juga bersama," sambungku lagi.


Tika mengeratkan kembali pelukkannya, perlahan isak tangisnya kian mereda hingga akhirnya ia mendongakkan kepalanya untuk menatapku. Masih dalam posisi yang saling memeluk, ku berikan sebuah senyuman padanya.


Lalu aku mengajaknya untuk segera mandi, agar merasa lebih tenang, Tika menurutinya. Kami beranjak menuju kamar. Tak lupa ku raih handbag-nya yang tergeletak di lantai, lalu memboyongnya berjalan bersama menaiki tangga.


***


"Kapan pun kamu mau cerita, aku tunggu sampai kamu siap. Aku gak akan maksa kamu buat cerita sekarang," lirihku dari belakangnya di dalam bathtub.


Kami berendam, aku membantu membersihkan rambutnya sambil sesekali memeluknya dari belakang lalu mengecup ceruk lehernya. Tika masih saja terdiam, sesekali ia melamun, memandang dalam kosong. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membawanya berbilas, lalu mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Mengangkatnya kemudian merebahkannya di atas ranjang.


Pandangannya masih saja kosong. Aku ikut berbaring di sampingnya kemudian kutarik selimut yang ada untuk menutupi tubuh kami. Aku mendekapnya dari belakang. Aku lingkarkan salah satu tanganku di bagian perutnya, lalu tanganku yang satunya lagi ku jadikan bantal untuk menopang kepalanya. Aku mengecup puncak kepalanya dari belakang.


Tak berapa lama, tiba-tiba Tika menggerakkan tubuhnya, berbalik menghadapku. Dengan bola matanya yang hitam kecoklatan itu, kami beradu pandang. Kedua tangannya bergerak menangkup kedua sisi pipiku, lalu jempolnya dengan jahil mengelus bibirku.


"Tubuh aku gak sebersih yang kamu kira," ucapnya gemetar.


Pemikiranku langsung bisa menangkap dengan jelas apa yang ia maksudkan dalam perkataannya tadi. Spontan aku memeluk tubuhnya erat. Membiarkan kepalanya terbenam dalam dada bidangku.


***


Aku terbangun dari tidurku. Tika masih berada dalam dekapanku, tertidur juga. Kulirik jam meja yang ada di buffet di bawah televisi gantung di kamar kami ini. Waktu menunjukkan pukul dua malam.


Kembali aku menatap istriku. Menyingkap helaian rambut yang menutupi wajahnya, lalu membelai pipinya. Ku pindahkan dengan perlahan kepalanya yang menindih lenganku ke atas bantal. Kukecup kilas bibirnya.


Aku keluar dari selimut, beranjak berdiri menuju lemari dan mengambil celana panjang serta kaos untuk kugunakan. Lalu merogoh saku celana kerjaku tadi, mencari sekotak bungkus rokok dan zippo milikku.


Yap, katemu!


Bahkan ponsel Tika pun masih ada di dalam saku celana kerjaku tadi. Ku letakkan ponselnya di atas buffet lalu aku beranjak menuruni tangga menuju halaman samping, halaman swimming poll. Meninggalkan Tika sendiri di kamar ini dalam selimutnya seorang diri. Aku ingin merokok.


Semilir angin malam ini yang menyambut kedatanganku terasa sangat begitu menusuk tulang. Membuaiku yang semakin larut dalam lamunan. Berkhayal memikirkan bagaimana kisah esok hari, apa yang akan terjadi dalam seminggu lagi, bahkan sampai berpikir bagaimana nasib masa depanku nanti. Masa depan istri dan anakku kelak.


Ku tarik sebilah rokok dari kotaknya, menyematkannya di antara kedua bibirku lalu menyulutnya dengan korek zippo. Menghisap tembakau yang terbakar lalu menghembuskannya bebas ke udara di sekitarku.


Aku mengkhawatirkan kondisi Tika saat ini, bukan tanpa alasan, Tika sedang mengandung anak pertama kami. Aku tidak ingin dia terlihat stress, banyak pikiran hingga akhirnya menyebabkan dirinya kurang asupan makanan dan gizi untuk si cabang bayi.

__ADS_1


------------------


Haikal POV.


Kulihat dari sini, Ranti tertidur di atas sofa di ruanganku, pulas. Sepertinya dia memang sudah kewalahan membantuku mengurus UGD.


Aku meraih ponselku yang sengaja aku letakkan di atas meja, lalu aku putuskan untuk keluar dari ruangan ini, pergi ke pantry room hanya untuk sekedar membuat secangkir kopi hitam. Aku membuka pintu dengan perlahan, keluar lalu menutup pintunya kembali dengan hati-hati. Berjalan santai sambil memainkan ponsel.


Sesampainya di pantry room, aku langsung mengarah pada lemari penyimpanan tempat kopi dan gula disimpan. Mengambil gelas bersih dan mulai meramu perpaduan yang tepat untuk minumanku ini. Sambil mengaduk aku menatap ke arah luar jendela, memperhatikan hamparan langit malam yang kian gelap, namun di taburi ribuan bintang kecil yang bersinar.


Seketika aku teringat pada seorang wanita cantik. Cantik? Tunggu dulu, ya mungkin memang benar, cantik dimataku. Wanita yang hadir beberapa minggu terakhir ini. Wanita yang mampu mengacaukan pikiranku. Wanita yang tadi siang bertemu denganku dan dengan sengaja aku meminta nomer teleponnya. Walaupun sebenarnya saat itu aku terlalu gugup untuk mengucapkan kalimat itu. Namun setelah itu semua terasa mudah. Aku yang menyapanya pertama kali melalui pesan singkat dan dia membalasnya.


Aku memejamkan mataku, masih sambil mengaduk pelan isi cangkir kopiku, aku kembali membayangkan wajah wanita itu. Wajah polosnya yang terjatuh saat memasuki gudang penyimpanan dokumen rumah sakit, tempat istirahat persembunyianku. Kemudian dengan santainya dia yang ikut tidur di sebelahku di atas dipan pasien yang kecil itu.


Tiba-tiba aku terkekeh geli, kedua sudut bibirku tertarik, tak sengaja menampilkan senyuman manis yang sudah jarang aku perlihatkan. Aku merogoh saku jas putihku, meraih ponsel yang kusimpan di dalam sana. Menekan layarnya, mencari nomer seorang wanita yang selalu membuatku tersenyum jika mengingatnya. Aku menelponnya.


"Hallo, Clara?" sapaku.


Clara menjawab sambungan teleponku kemudian membalas sapaanku. Tanpa ragu aku langsung mengajaknya untuk makan malam besok. Dan dengan cepat juga ia menyetujui ajakkanku, tanpa alasan apapun. Kemudian kusampaikan padanya untuk bersiap besok, jam tujuh malam, aku akan menjemputnya.


Kuputuskan sambungan telepon, lalu aku masukkan kembali ponselku ke dalam saku jasku. Aku kembali tersenyum.


Aku sudah berani untuk mengajaknya makan malam, yang di mana itu artinya aku telah mengajaknya untuk berkencan. Dan tanpa aku sadari sebelumnya, artinya besok saat aku menjemputnya, aku akan bertemu dengan kedua orangtuanya lagi.


"Astaga!" decakku sambil menepuk jidat kemudian mencengkram rambut atas kepalaku dan menariknya perlahan.


Terlalu gembira untuk mengajak seorang wanita berkencan, hingga melupakan bahwa wanita ini masih memiliki pelindung hidupnya.


'Lantas, apa yang harus aku katakan pada kedua orangtuanya nanti?' batinku.


Bersambung ...


-----------------------------


Holla guyss, jangan lupa like dan kasih komentar yaa 😘


Trus jangan lupa juga kasih vote poin buat judulku ini, bila berkenan 😒


Oh iya, cek juga novel terbaruku yaaa, karya collaboration bersama author kece badai FairyLychee dan JimMine yang judulnya "Three Mba Getir" 🤣


Sampai jumpa di episode selanjutnya 💃

__ADS_1


Babay!!!


#salambucin💋


__ADS_2